Setelah sampai di sebuah pasar, Jayeng Rono menjual perhiasan yang di ambil dari Jaya Sanjaya, mereka lalu membeli beberapa pakaian, makanan dan dua ekor kuda, karena Pelangi tak bisa menaiki kuda tunggangan mereka hanya membeli dua.
"Kita bungkus saja makanan ini, nanti kita makan jika sudah benar benar lapar," kata Jayeng Rono sambil menuntun kuda meninggalkan lokasi pasar, begitupun dengan Jaya Sanjaya yang juga sudah menuntun seekor kuda.
Tanpa menjawab Jaya menaikkan Pelangi di punggung kuda, lalu menuntun nya, sebelum nanti menaiki kudanya jika sudah di ujung desa.
Pelangi satu kuda dengan Jaya Sanjaya karena kudanya yang lebih kuat dan besar.
"Waah ternyata satu perhiasan saja bisa membeli beberapa barang ya kek," kata Jaya Sanjaya dengan terkagum kagum.
"Ya . begitulah.., bahkan ini masih ada sisa bisa buat membeli makanan nantinya," kata Jayeng Rono.
Mereka sudah berkuda menuju ke arah Padepokan Bale Rupa yang berada sedikit ke arah kaki bukit di gunung Pancawarna.
Kuda melaju dengan kecepatan sedang, karena tak ada yang di kejar mereka berkuda dengan santai.
"Berhenti...!!," sebuah teriakan menghentikan perjalanan ketiganya, ketika melewati belokan jalanan yang cukup sepi.
Tiba tiba di pertengahan perjalanan mereka di hadang serombongan orang.
"Ada apa kisanak menghentikan kami..?!?!."
Laki laki yang kini menghadang rombongan Jaya Sanjaya menatap menelisik.
"Serahkan harta benda kalian jika masih ingin bernafas..!." teriak salah satu penghadang itu.
Jaya meloncat turun dari kudanya, entah mengapa setelah bertarung kemarin membuat adrenalin nya seakan terpacu, menikmati sensasi dari sebuah pertarungan.
"Kenapa kami harus menyerahkan harta kami..?, memang sehebat apa kalian mau mengentikan nafas kami..!!."
"Cck..tak usah banyak cakap..!, harta apa nyawa..!," teriak orang tersebut sudah mencabut pedangnya.
"Bagaimana jika aku memilih beradu nyawa dengan kalian..??!."
"Seraaang...!!."
Nampak nya orang tersebut sudah tak sabar lagi beradu mulut.
Sriiing...! sriiiing....!!
Pedang beberapa orang itu langsung menyambar ke arah badan Jaya Sanjaya.
Kali ini Jaya Sanjaya sudah mulai beradaptasi dengan gerakan dan serangan lawan.
Kini dengan mudah dia menepis, menghindar dan menangkis serangan lawan lawan nya.
Wuuss..!!
Traang...!!
Jaya yang belum menggunakan senjata, melawan musuh musuhnya dengan memanfaatkan senjata lawan untuk menangkis serangan yang lainnya.
Wwuut..!! wuuutt...!!
Serangan serangan itu selalu kandas, selain di hindari juga di tepis dan di tangkis dengan senjata dari rekan mereka sendiri.
Plaaaakk...!! bouugh ...!!
Bahkan beberapa kali hantaman dan tendangan Jaya Sanjaya menghampiri tubuh tubuh dari para penyerangnya yang tingkat kependekaran nya ada di kisaran Prajurit Perak dan prajurit perunggu.
"Kemampuan seperti ini berani menjadi perampok..?!?!." seru Jaya Sanjaya sambil menghantam, menampar, menendang lawan lawanya.
Lawan yang berkisar belasan orang itu nampak terpental, terdorong dan terlempar setelah terkena serangan Jaya Sanjaya.
Jayeng Rono dan Pelangi hanya menatap tak percaya dengan kemampuan bertarung Jaya Sanjaya, yang menurut mereka baru beberapa waktu saja belajar jurus Manggar Pecah, namun mampu mengembangkan jurus jurus tersebut sedemikian rupa.
"A..a-ampuni.. kami..t-tuan.." rintih para penghadang yang kini sudah pada terkapar berserakan di dekat kaki Jaya Sanjaya yang masih tegar berdiri.
"Kalian masih aku ampuni.., tapi jika masih ku temukan kalian melakukan pekerjaan seperti ini lagi, maka nyawa kalian yang akan melayang..!," bentak Jaya Sanjaya mengusir orang orang tersebut menyingkir dari hadapannya.
**
"Apa sudah ada berita mengenai senjata yang di temukan di gunung Wilujengan..?." tanya seorang pria dengan aura penuh wibawa.
"Ampun Dewa api.., utusan kita sudah berangkat semenjak sepekan yang lalu, namun hingga kini belum juga menunjukakan ada berita apapun."
"Hmm..apa perlu aku turun tangan sendiri..," ucap geram Dewa Api.
Dewa Api adalah pemimpin tertinggi dari kelompok elemen pengguna Api.
Meskipun bukan seorang raja namun kekuasaan Dewa Api di anggap setara dengan Raja Agung penguasa lima kerajaan Agung Panca Buana.
"Hamba kira kekuatan Ki Wereng Ireng berserta anak buahnya akan mampu membawa pusaka tersebut ke hadapan Dewa Api," sahut tangan kanan petinggi elemen api tersebut.
"Ya..semoga aku tak perlu langsung turun tangan hanya untuk mendapatkan pusaka tersebut."
"Hamba yakin akan hal itu Dewa Api, karena sebelum anda turun tangan pasti hamba yang akan bergerak terlebih dahulu." Kata Si tangan Kanan yang bergelar Tapak Setan.
Tapak Setan adalah salah satu anak buah dari Dewa Api yang cukup di segani di dunia persilatan, bersama pasukannya yang bernama pasukan Darah Api kelompok ini mampu membawa pengguna element Api sangat di takuti.
Ramai nya berita yang mengatakan di temukan banyak pusaka hebat makin menyeruak, sehingga tiap tiap kelompok dan golongan saling berlomba untuk mengejar mendapatkan nya.
Mereka berharap mendapatkan pusaka tersebut dengan harapan agar kelompok dan golongan nya bisa menguasai dunia.
**
Begitu sampai di lokasi yang menurut Jayeng Rono padepokan Bale Rupa, kakek itu sangat terkejut.
Karena kini tempat tersebut sudah rata dengan tanah, hanya tinggal puing puing yang berserakan, bahkan kebun dan sawah tempat dulu bercocok tanam bagi para murid cantrik nya kini sudah berubah menjadi hutan kecil dan ladang liar.
"Haah..??." hanya itu yang mampu di ucapkan Jayeng Rono kemudian pria sepuh itu menangis tersedu-sedu, tak bisa menahan rasa sedih.
Pelangi mengusap lembut punggung orang tua yang sudah di anggap sebagai orang tua nya tersebut sambil berkaca kaca, dia tau pasti seluruh anggota Padepokan itu sudah di musnahkan oleh orang orang jahat kala itu.
Jaya Sanjaya yang melihat itu tak bisa menutupi kesedihannya, ikut merasa sedih melihat pemandangan di depannya.
"Aku harus membalas orang orang yang telah menyakiti orang yang sudah menolong dan menerimaku di kehidupan ini dan aku akan mengantar pelangi dan mengawalnya untuk menemukan keluarga nya kembali..aku janji itu." gumam Jaya Sanjaya pelan.
Bekas bekas bangunan yang masih tersisa hanya yang terbuat dari bebatuan, dan kini masih tegar berdiri hanyalah dua banguan saja, seperti bekas aula utama maupun kamar mandi umum untuk para murid cantrik, lainnya sudah tak berbekas hanya rumput dan ilalang yang menjadi ganti nya.
"Sebaiknya kita membersihkan diri saja dan berganti pakaian, lalu kita makan bekal yang kita beli tadi di pasar," kata Jayeng Rono setelah kesedihan nya menghilang.
"Apa rencana kakek selanjutnya..?," tanya Jaya Sanjaya.
"Kita menuju kota raja, kita cari berita di sana..!."
Jaya Sanjaya dan Pelangi hanya mengangguk saja, keduanya masih bingung tak tau apapun tentang dunia luar ini.
Jaya Sanjaya yang benar benar tak tau alam ini banyak bertanya kepada Jayeng Rono, dan dengan senang hati Jayeng Rono menjelaskan apapun yang di ketahui nya, dari masalah dunia persilatan maupun dunia ketatanegaraan.
Menceritakan betapa hebatnya anggota Panca Buana yang terdiri dari lima Kerajaan Agung yang menaungi kerajaan kecil, juga menceritakan dua kelompok element pengguna Api dan Air yang sangat kuat mencengkeram dunia persilatan dengan ilmu Kanuragan nya.
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Elmo Damarkaca
Kanteb ini thor ... lanjut geh ...
2022-07-29
4
𓂸ᶦᶰᵈ᭄🇪🇱❃ꨄ𝓪𝓢𝓲𝓪𝓱࿐
╔══════════════╗ Assalamualaikum wr.wb ╚══════════════╝
┎┈┈┈┈┈┈┈୨ ♡ ୧┈┈┈┈┈┈┈┒
̲ Ijin Promosi🤚:
Jgan Lupa Mampir Di Novel Saya👀,Yg Berjudul🤫...
Wanita Raja Hantu😍👌
Jgan lupa tingalkan
like👍
Komentar💬
Faforit nya📍
Dan jgan lupa tingalkan jejak👣
Di-Novel “Wanita Raja Hantu 😍👌”
Saya tunggu✨ kehadiran nya🖤
Skian trimakasih👋
̲┖┈┈┈┈┈┈┈୨ ♡ ୧┈┈┈┈┈┈┈┚.
2022-02-24
2
Habib Alexsandra
asik baca nya mantap
2021-12-30
1