Setelah merasa tak ada yang mengikutinya, Senopati Kidang Semeleh melanjutkan perjalanan nya menuju ke gunung Pancawarna atau ada juga yang menyebut gunung Pancarupa, sebuah gunung yang terletak di sebelah selatan kerajaan Ngarsopuro.
Perjalanan sedikit lancar karena para penguntit nya masih mengejar kelompok lima belas Gardaraja yang berkuda ke arah yang berlawanan.
"Cepatlah sedikit Bejo...!, jangan sampai kita terkejar musuh..!," teriak Kidang Semeleh yang melihat salah satu anak buahnya bernama Bejo Urip sedikit melambat hewan tunggangannya.
"Sendiko dawuh Senopati..!." Sahut Bejo Urip langsung mencambuk hewan tunggangan nya.
Mendekati dini hari barulah rombongan lima orang itu sampai di padepokan Bale Rupa dimana tempat Guru Benowo salah satu sahabat dari prabu Danar Kencono berada.
Tok..! tok..!!
"Nuwun Guru...permisi..!."
Guru Benowo dan adik serguruan nya Jayeng Rono yang tengah melatih para murid di padepokan Bale Rupa dengan berbagai olah Kanuragan ilmu silat dan pengobatan sangat kaget, malam malam mendekati fajar ada tamu di padepokan nya.
"Loh bukankah tuan ini adalah Senopati Kidang Semeleh..?." guru Benowo sedikit tersentak kaget.
"Benar guru..," sahut Kidang Semeleh sedikit mengangguk dan menjura.
"Ayo masuk .. cepat," ajak guru Benowo mempersilahkan tamunya memasuki padepokan nya.
Tampak raut penasaran dari wajah sang guru melihat tampilan dari sang Senopati yang terlihat tak seperti biasanya.
Begitu sampai di dalam mereka langsung berbincang, Senopati Kidang Semeleh tak berbasa basi langsung menceritakan apa yang terjadi.
Guru Benowo mengangguk, "Ya aku tau..tentang ramalan yang di bicarakan orang orang, tapi aku tak tertarik akan hal itu," kata Guru Benowo yang di angguki adik seperguruan nya Jeyeng Rono.
"Kami tak tertarik dengan semua kemewahan dan kehebatan ilmu Kanuragan jika itu mengorbankan rasa kemanusiaan..," Jayeng Rono menegaskan prinsip hidup kedua tokoh di padepokan Bale Rupa tersebut.
"Maka dari itu Yang Mulia Danar Kencono mempercayakan putri jabang bayi ini kepada panjenengan berdua, untuk di lindungi dan di didik." Kidang Semeleh berkata sambil meletakkan jabang bayi yang tengah tertidur pulas, sebuah keanehan melihat bayi mungil berusia belum genap hitungan hari namun nampak pulas tertidur nyaman tanpa rewel, padahal suasana dan situasi sangat jauh dari kata nyaman.
Jika di lihat seksama seakan bayi itu di lingkupi semacam sinar kuning yang tipis mungkin itulah yang menjaga dan melindungi dari bermacam benturan, maupun segala sesuatu yang mengganggunya selama di perjalanan dan lainnya.
"Jagat Dewa Batara..kenapa bisa jadi seperti ini jalan takdir mu cah ayu..," gumam Jayeng Rono yang menyambut bayi itu dan di gendongnya, tangannya gemetar saat menimang bayi malang tersebut.
Dalam sesaat semua yang ada di sana terlihat trenyuh memikirkan nasib sang putri raja, yang harusnya penuh kemewahan dan kenyamanan, tapi ini malah sebaliknya.
Setelah dirasa cukup berbincang, Senopati Kidang Semeleh langsung pamit undur diri, tak ingin keberadaannya di endus oleh musuh yang mengejar nya, karena itu sama saja membahayakan keselamatan putri raja. Dia ingin mengaburkan keberadaannya dengan mengecoh para pengejar nya.
**
Guru Benowo dan Jayeng Rono masih mengamati jabang bayi yang nampak lelap tersebut.
"Siapa tadi nama bocah ayu ini Dimas..?," tanya Benowo, mencoba mengingat ingat.
"Weleh..aku juga lupa menanyakan hal itu tadi kakang.." Sahut Jayeng Rono, sambil menatap kakak seperguruan nya, keduanya merasa tampak menjadi orang bodoh.
"Loh piye to ..kok kita malah melupakan hal penting seperti ini." gumam Benowo menyalahkan diri nya sendiri.
Keduanya menatap sang bayi lagi yang saat itu di beri kalung warna warni, kalung yang terlihat bisa melebar dan mengecil sesuai dengan leher sang bayi itu terlihat sangat indah.
"Bagaimana jika kita kasih nama Pelangi saja kakang..?," usul Jayeng Rono menatap wajah Kakak seperguruannya dengan wajah berbinar.
Sesaat Benowo terdiam, berfikir dan mencoba menelaah arti nama tersebut.
"Aku setuju Dimas..., hmm..Pelangi nama yang cantik," gumam guru Benowo akhirnya sambil tersenyum puas dengan nama itu.
Malam kian mendekati pagi, alam yang semenjak tadi mendung kini sudah mulai cerah dengan sinar bulan yang mengintip sedikit dari sisa mendung, dua orang yang kini di berikan kepercayaan menjaga jabang bayi tersebut berniat untuk istirahat ketika di gerbang padepokan terdengar suara pertempuran.
"Dimas, nampaknya keberadaan jabang bayi ini sudah tercium oleh para begundal, kau bawa pergi bayi ini, lindungi dengan nyawamu dan aku akan menghentikan mereka," perintah guru Benowo tanpa membuang-buang waktu.
Suasana langsung terlihat mencekam.
Dengan cepat Jayeng Rono membopong tubuh bayi mungil dengan hati hati, membungkusnya seperti Senopati Kidang Semeleh membawa tadi dan melesat melewati pintu belakang.
**
Singkat cerita padepokan Bale Rupa di bumi hanguskan oleh orang orang yang berniat mencari bayi dengan aura Cahaya Keberuntungan Ndaru Kolocokro.
Seluruh penghuninya berhasil di musnahkan termasuk guru Benowo yang saat itu bertarung hingga pingsan, namun karena di kira mati maka akhirnya ditinggalkan untuk mengejar Jayeng Rono.
Sedangkan Jayeng Rono yang berhasil di susul oleh para pengejarnya, terselamatkan saat terjatuh ke jurang Kematian bersama sang Jabang bayi yang bernama Pelangi saat terdesak hebat dalam pengeroyokan.
Jayeng Rono yang terluka akibat di keroyok hingga babak belur, makin terluka dengan benturan saat terjatuh ke jurang hingga punggungnya cidera dan sedikit bongkok.
**
Sementara itu inti dari cahaya yang di sebut Ndaru Kolocokro yang terjatuh dan terlempar ke dalam gua, menjelma menjadi sosok pemuda yang sangat tampan beserta segala keperluan nya, seperti aneka macam senjata dan harta benda lainnya.
Sosok pemuda itulah yang terbangun belasan tahun kemudian di gua dan kini di beri nama Jaya Sanjaya oleh kakek Jayeng Rono.
Jaya Sanjaya adalah Dewa Perang yang tengah di hukum oleh Sang Pencipta untuk di turunkan di dunia manusia dengan kekuatan yang telah di segel hingga kekuatannya tersisa tak lebih dari dua puluh persen saja.
Flashback off.
_____________
Selamat membaca, jangan lupa tinggalkan jejak nya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Matt Razak
mantap
2024-09-08
0
Mamat Stone
oooOooo 😮😮😮
2023-09-20
4
Elmo Damarkaca
oh begitu ceritanya ....
jadi pelqngi itu puteri Raja..
sedang Jaya Sanjaya itu Dewa Perang yg di Hukum oleh Sang Pencipta dan diturunkan ke alam manusia...
2022-07-29
1