Rogo Geni mengusap dadanya yang terasa panas akibat hantaman Jaya Sanjaya.
"Ouugh.." keluhnya.
Dengan gemetaran dia berusaha untuk berdiri, lalu bersuiit memberikan kode untuk kabur kepada anak buahnya, karena merasa lawannya kali ini menyulitkan dirinya.
Basuki yang melihat itu sedikit terpana, dan membiarkan rombongan perampok itu meninggal kan tempat tersebut tanpa mengejarnya.
Jaya Sanjaya masih berdiri menatap rombongan perampok hingga benar benar menghilang di telan rimbunnya pepohonan.
"Terimakasih pendekar.," kata Basuki, mengagetkan Jaya Sanjaya yang masih menatap pergi nya rombongan perampok.
"Sama sama kisanak," balas Jaya Sanjaya tersenyum kearah Basuki yang menghampiri nya.
Jayeng Rono dan Pelangi pun menghampiri Jaya Sanjaya yang masih berbincang dengan Basuki.
**
Kini ketiganya sudah duduk di belakang gerobak pedati, karena atas permintaan Basuki ketiga orang itu sedikit di paksa untuk menjadi teman seperjalanan.
"Terimakasih sekali lagi pendekar Jaya," kata Basuki lagi mengucapkan rasa terimakasihnya untuk yang kesekian kalinya.
"Tak perlu sungkan paman Basuki, sudah kewajiban kita untuk menegakkan keadilan," balas Jaya Sanjaya tersenyum menatap lawan bicara nya.
"Sebenarnya tuan tuan pendekar ini mau kemana kok menuju ke arah wilayah kerajaan Ngarsopuro..? maaf jika lancang pertanyaan ku..," kata Basuki bertanya sambil menatap sekeliling, takutnya ada yang membututi lagi.
"Hmm...kami mau ke arah selatan kerajaan Ngarsopuro, tepatnya mau ke Padepokan Bale Rupa tuan Basuki," kali ini Jayeng Rono yang menjawab pertanyaan Basuki.
Basuki menatap ke arah Jayeng Rono dengan sedikit lama, seakan ada sesuatu yang salah.
"Tuan tuan pendekar ini dari mana..?, kenapa mau ke Padepokan itu..?."
"Kami dari tempat terpencil mau menengok saudara di sana.." balas Jayeng Rono kembali.
Basuki ingin berkata lagi, namun di urungkannya seakan ada sesuatu yang mengganjal.
Rombongan gerobak pedati itupun terus melaju melewati jalan yang yang berkelok kelok sebelum akhirnya keluar dari hutan lebat di ganti hutan yang sedikit jarang jarang pepohonan nya.
Semalaman mereka sudah menempuh perjalanan dengan naik gerobak pedati menuju ke arah yang di tuju, matahari mulai memperlihatkan semburat warna merah di ujung timur.
Jayeng Rono melihat sekeliling, tak menyangka dulu dirinya sempat melarikan diri hingga sejauh itu, dengan membawa seorang bayi yang masih merah.
Jika mengingat itu hatinya kembali begidik ngeri, karena pernah menjadi buronan orang orang jahat kala itu.
Pelangi yang seumur hidup nya belum pernah melihat luas nya jagat raya sangat takjub melihat keindahan alam di sekitar nya.
"Waah...ternyata sangat indah Kakang alam ini.."
"Iya.. Dinda, Kakang juga baru menyadari nya jika alam ini begitu indah."
"Eeh..kakang aneh, bukannya selama ini kakang tak tinggal di jurang seharusnya sudah terbiasa melihat hal seperti ini," sungut Pelangi mendengar jawaban Jaya yang terkesan asal.
Menyadari itu Jaya Sanjaya hanya mengusap tengkuknya dengan cengar-cengir.
"Iya...aku juga lupa bagaimana kehidupan dulu, karena tau tau ada dalam gua."
Gerobak pedati masih berjalan terus hingga sampai lah di tanah sedikit lapang, hari sudah berganti pagi.
"Kita berhenti di tanah lapang itu, kita istirahat dan makan pagi," teriak Basuki memberikan perintah kepada para anak buahnya yang tersisa, dan masih bugar, karena yang terluka sudah ada di satu pedati.
"Di percabangan itu nanti kita berpisah pendekar, karena kami akan langsung ke kota raja."
"Pendekar ke kiri sedangkan kami ke kanan," sahut Basuki lagi berkata.
Jayeng Rono yang paling tau tentang situasi dan suasana mengangguk saja, sedangkan Jaya Sanjaya mulai mempelajari semuanya dengan otaknya yang pintar, mulai memetakan tempat dan lokasi sekitarnya.
"Mari silahkan di makan tuan tuan pendekar," kata Basuki mengangsurkan makanan yang ada di piring kayu.
"Terimakasih paman."
"Jangan lupa jika tuan pendekar berkunjung ke Kotaraja mampirlah ke biro kami," tawar Basuki kepada Jaya Sanjaya maupun Jayeng Rono.
"Terimakasih Paman aku pasti mampir," sahut Jaya Sanjaya sembari menikmati makanan yang di rasa sangat enak karena di bumbui dengan lengkap, tak seperti selama ini mereka makan.
**
Rogo Geni yang kini sudah berada di markasnya masih menyimpan rasa geram dengan kejadian semalam.
Di depannya nampak anak buah kepercayaan nya masih terdiam.
"Hmm...aku belum pernah melihat dan mengenal jurus aneh dan terlihat acak seperti tadi malam," gumam nya pelan.
"Dari aliran mana anak muda itu berasal."
"Akan sangat beruntung jika bisa menariknya menjadi salah satu anak buah Dewa Api," katanya lagi dengan pelan.
Rogo Geni masih berbincang dengan dirinya sendiri, sedangkan Randu alas salah satu tangan kanannya masih terdiam tak berani berkata kata.
"Maaf tetua...apalah menurut tetua pemuda itu benar benar hebat..?."
"Aku juga masih bingung, namun tak bisa ku pungkiri jika dia memiliki sesuatu yang menarik, tapi entah apa itu, kita hanya perlu waspada jangan sampai bertemu dengannya lagi."
**
"Sampai bertemu lagi tuan pendekar," kata Basuki saat kedua kelompok itu berpisah di percabangan.
"Ya..paman Basuki, aku pasti akan menemui mu untuk mendengar semua berita yang kau ketahui tentang kabar berita dari negeri negeri alam ini." sahut Jaya Sanjaya yang sangat antusias saat tadi Basuki bercerita berbagai keindahan negeri negeri yang di kunjungi nya.
Dua rombongan sudah berpisah kini, Jayeng Rono, Jaya Sanjaya dan Pelangi sudah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju ke arah padepokan nya berada.
"Masih cukup jauhlah kakek..?," tanya Pelangi seakan tak sabar sampai di padepokan yang menurut guru nya sangat indah, asri dan nyaman itu.
"Mungkin siang nanti kita baru sampai jika kita berjalan seperti ini terus."
"Haah..lama sekali..?,"seru Jaya kaget.
"Ya karena kita hanya berjalan, beda kalau kita berlari atau bahkan naik kuda." jawab Jayeng Rono.
"Bagaimana kita bisa mendapatkan kuda..?," tanya Jaya Sanjaya tiba tiba.
"Eh..kakang ini bodoh sekali, tentu saja membeli jika tak ingin mencuri atau merampas milik orang lain." potong Pelangi, " Benar kan Kek.?."
"Benar..Pelangi., bahkan jika kita punya uang atau harta benda yang berharga bisa kita tukar dengan makanan, pakaian dan apapun." terang Jayeng Rono.
Jaya sanjaya lalu teringat akan harta benda dari gua tempatnya dulu berasal dan membuka mata, dimana benda tersebut tersimpan di gelang penyimpanan.
"Apa ini bisa menukar semua yang kakek kata kan..?," sahut Jaya tiba tiba mengeluarkan beberapa perhiasan emas, membuat Jayeng Rono dan Pelangi membelalakkan matanya.
"D..ddari mana... k.kau dapat..?, tidak mencuri kan..?," sahut Jayeng Rono cemas, sedangkan pelangi hanya memekik senang.
"Tidak lah kek, mana mungkin aku berani mencuri."
Jawaban Jaya Sanjaya itu mampu membuat Jayeng Rono tersenyum lebar, kemudian melangkahkan kakinya, mengambil satu buah gelang emas yang sangat mewah.
"Aku ambil ini, nanti kita tukarkan saat melewati pasar, lainnya kau simpan kembali."
"Kalian juga perlu membeli pakaian, karena pakaian kalian Tak pantas di pandang di sini," kata Jayeng Rono sembari menatap kedua anak muda yang berpakaian compang camping sama seperti dirinya.
"He..he..kakek juga, compang camping." balas Jaya Sanjaya tersenyum menggoda Jayeng Rono.
Ketiganya tertawa, menertawakan diri sendiri.
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Matt Razak
Mantap
2024-09-09
0
Albet Jalius
mantap. makin asik. aja.....
2022-10-22
4
Lalu Ell Leo
lmasak p3ndekar g puya ilmu peringan tubuh
2022-07-10
1