Akhirnya mereka sampai di kota Solo dan Rudy langsung menuju rumah Manahan. Shanum tidak perlu bertanya dari mana Rudy dan Hiro mengetahui rumahnya. Miki sendiri sudah terlelap setelah makan siang tadi di Salatiga. Bik Sum membuka pintu pagar setelah Shanum menelpon bahwa mereka akan tiba di rumah.
Sesampainya di carport, Rudy melihat salah satu anak buahnya masih berjaga di depan warung wedhangan lalu memberi kode dia boleh pulang dan pria itu mengangguk hormat ke Rudy dan Hiro yang juga melihatnya.
"Thanks Rud sudah mengirim orang untuk menjaga rumah istriku" Hiro menepuk bahu Rudy yang sedang membuka bagasi mobil.
"Sudah tugas saya tuan" jawab Rudy sambil menurunkan tas dan oleh-oleh yang kemudian dibawa oleh bik Sum sebagian ke dalam rumah. Hiro sendiri membawa koper dan traveling bagnya ke dalam. Rumah Shanum memang tidak sebesar rumah mereka di Tokyo atau Dubai, tapi sangat nyaman.
"Den Hiro, apa kabar?" sapa bik Sum ke suami majikannya.
"Alhamdulillah baik bik. Terimakasih sudah menjaga Shanum dan anak-anak" Hiro memeluk bik Sum.
"Yang penting den Hiro harus sabar ya ngadepin non Shanum" bisik bik Sum sambil menepuk bahu Hiro.
"Iya bik, aku tidak mau kehilangan dia lagi" senyum Hiro.
"Lho non, kok digendong sendiri non Mikinya?" seru bik Sum melihat Shanum menggendong putrinya. Hiro segera menuju Shanum yang tampak keberatan.
"Maap sayang, tadi aku terkesima melihat rumahmu. Sini princess aku gendong" Hiro mengambil alih tubuh Miki yang memang berat untuk ukuran Shanum. "Dimana kamarnya?"
"Di lantai dua sebelahan dengan kamarku" Shanum berjalan mendahului Hiro. Sesampainya di kamar putrinya, Hiro terpesona melihat penataannya yang sangat-sangat girly. Nuansa pink dan biru muda sangat lekat, pernak pernik Sanrio banyak terdapat di kamar Miki. Bahkan Komputernya pun berwarna pink begitu juga dengan keyboard dan mousenya. Hiro lalu meletakkan Miki pelan-pelan di atas tempat tidur dan melepaskan sepatunya. Shanum menyalakan AC karena cuaca di Solo sangat panas.
Kamar tidur Miki
Tempat belajar Miki
"Putriku benar-benar fans Sanrio. Sama persis dengan kakakmu" bisik Hiro ke Shanum ketika keduanya hendak keluar kamar.
"Mba Nab yang kebanyakan membelikan buat Miki" balas Shanum sambil berbisik lalu menutup pintu kamar Miki pelan-pelan.
"Apa kamu lupa aku ada di Tokyo? Apa yang Miki mau, bisa aku belikan!" desis Hiro.
"Apa kamu lupa? Dek Alexa dan Dek Alex ada di Tokyo juga? Bahkan tanpa aku harus susah-susah minta padamu, aku bisa nitip dengan dek Alex dan dek Midori!" balas Shanum.
"Tapi Miki putriku!"
"Yang kamu baru tahu seminggu lalu!" potong Shanum lalu berjalan meninggalkan Hiro namun langkahnya terhenti ketika Hiro mencekal lengannya.
"Maafkan aku." Hiro menarik tangan Shanum dan membuat tubuh wanita itu menubruk dada bidang yang keras.
Hiro mengunci tubuh langsing itu dan menatap sendu ke wajah Shanum. Meskipun Shanum tergolong tinggi bagi wanita Indonesia, dengan tinggi 172 cm, namun tetap saja dia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah pria tampan itu.
"Shan, maafkan aku." Hiro mengucap berulang kali lalu memeluk Shanum yang tubuhnya mengejang. Jujur sekarang perasaannya tidak menentu, satu sisi dia ingin membalas pelukan pria yang sangat dirindukannya namun satu sisi dia merasa ini belum waktunya. Dan kini dia hanya terdiam tanpa membalas pelukan suaminya.
"Kenapa kau tidak membalas pelukanku?" bisik Hiro di ceruk leher Shanum yang beraroma Jasmine.
"Karena...karena belum waktunya" jawaban Shanum membuat Hiro memandang wanita cantik itu.
"Huuufffhhh... Ganbatte Hiro!" ucapnya sambil melepas pelukannya. Shanum menepuk-nepuk lengan Hiro sambil tersenyum.
"Ayo kita turun, masih banyak yang diberesin" Shanum meninggalkan Hiro menuju lantai satu. Tampak disana Rudy dan bik Sum sedang membongkar oleh-oleh yang dibeli Shanum dan Miki.
"Non Shanum, hari ini kita goreng otak-otak bandeng, tumis sawi hijau sama tempe goreng ya?" tanya bik Sum sambil memasukkan bandeng ke kulkas.
"Iya bik yang simpel ajah. Oh itu usus sapinya disimpan ajah buat besok sarapannya Miki." ucap Shanum ketika melihat bungkusan usus sapi yang belum digoreng. Sengaja tadi ia membeli untuk Miki.
"Bibik pindah ke dalam kotak ya non".
"Iya bik".
Hiro lalu memberi kode kepada Rudy untuk mengikuti nya ke teras. Sesampainya disana, Hiro memperhatikan lingkungan tempat tinggal Shanum dan anak-anaknya. Asri, jalannya cukup lebar bisa dua mobil.
"Ada apa tuan?" tanya Rudy.
"Rud, kamu cari info rumah yang dijual area sini. Harga tidak masalah yang penting dekat dengan istriku dan anak-anak".
"Kenapa tuan tidak tinggal dengan nyonya?"
"Kau lupa Rud? Walaupun kita belum bercerai resmi, namun secara agama kita sudah! Dan aku tidak mau kena hajar lagi oleh kedua pria tua itu!" dengus Hiro kesal membayangkan papa dan papa mertuanya.
Rudy tersenyum membayangkan kemarahan tuan besarnya yang sering overdosis.
"Baik tuan saya akan mencari info. Satu lantai atau dua lantai tuan?"
"Satu lantai saja, aku tidak mau ribet."
"Baik." Rudy mengambil ponselnya lalu menghubungi beberapa teman propertinya untuk mencarikan rumah yang dipinta bossnya.
Hiro masih memindai area rumahnya ketika seorang bapak-bapak datang dengan sepeda.
"Kulonuwun" sapanya di depan pagar rumah yang terbuka sedikit.
"Monggo" jawab Rudy karena tahu bossnya tidak bisa bahasa Jawa.
"Nuwun sewu mas, saya Samsul pak RT disini. Saya mau tanya mas-mas ini siapa njih?" tanya pak Samsul sambil memasuki halaman rumah.
"Oh saya Rudy Akandra, saya asistennya bapak Hiroshi Al Jordan. Ini pak Hiroshi suaminya Bu Shanum" jawab Rudy.
"Oh ini suaminya mba Shanum? Kata Adrian sibuk jadi bang Toyib. Akhirnya pulang juga mas?" ledek Pak Samsul.
'Bang Toyib? Kenapa juga papa mertua kenal sama orang reseh satu ini!
Rudy nyaris tergelak mendengar julukan yang diucapkan pak RT tapi demi bonus tidak dipotong, dia harus bersikap datar.
"Hhhmmm" Hiro langsung memasang wajah dingin dan auranya seperti hendak menghajar bapak tua di hadapannya.
"Lhooo ada pak RT, kebetulan pak ada sedikit oleh-oleh buat bapak". suara Shanum terdengar di belakang Hiro.
Tak lama Shanum membawakan tas berisi bandeng presto dan diberikan kepada pak Samsul.
"Maturnuwun lho mba Shanum. Alhamdulillah ya suaminya sudah nggak jadi bang Toyib. Jangan sampai hilang lagi mba." ucap Pak Samsul yang membuat Shanum terbengong, Rudy tak tahan untuk tertawa dan jangan ditanya raut wajah Hiro yang sudah ingin mengamuk.
"Siapa bang Toyib pak?" tanya Shanum bingung.
"Lha itu suami mba kan sama ma bang Toyib berapa lebaran nggak pulang" kekeh pak Samsul tanpa dosa.
Shanum hanya tersenyum kecut.
"Saya permisi dulu mba, mas. Maturnuwun lho oleh-olehnya. Pareng" pamit Pak Samsul sambil menaiki sepedanya.
Setelah pak Samsul pergi, Rudy langsung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi bossnya. Bomat lah ma bonus, kapan lagi melihat bossnya mati kutu begini.
"RUDY AKANDRA!!! TIDAK ADA BONUS BULAN INI!!!" bentak Hiro sambil masuk rumah dengan kesal.
"Yah tuan, jangan medit sama asisten dong" rayu Rudy setelah menutup pagar dan menguncinya.
"Bodo!" dengus Hiro sambil duduk di sofa ruang keluarga.
"Kok bisa pak Samsul bilangin kamu bang Toyib?" tanya Shanum bingung.
"Papa nyonya yang bilang ke pak Samsul" lapor Rudy.
"Astagaaaaa papa!!!"
"Shan! Sebenarnya bang Toyib itu siapa?" tanya Hiro.
Shanum, Rudy dan bik Sum kompak tepok jidat membuat Hiro tambah bingung.
"Dek Rudy, jelaskan pada bossmu!" titah Shanum.
"Kok saya Bu?" Rudy ngeper juga melihat aura bossnya seperti mau makan orang.
"Kan kamu tadi yang tertawa jadi tanggungjawab lah" sahut Shanum cuek sambil berjalan menuju dapur.
"Rudy, duduk! Jelaskan padaku!"
Rudy memandang bossnya dan tanpa disadari keringat dingin mulai menetes di dahinya dan dengan susah payah menelan salivanya.
Mampus gw!
***
Rumah Shanum di Solo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
aas
kamar impian banget nih 🤭
2025-03-19
1
Nur Bahagia
kurang megah Thor 😁
2024-08-21
1
Ray Aza
jl apa thor? bsk sekalian jogging di manahan tak ampirane... 😅😅😅
2024-08-08
1