Bab #19

Cerah di kedua manik mata Duke Oakley mendadak redup. Mungkin saja sama bingung dan tidak pahamnya seperti aku, yang meskipun tidak ingin nimbrung menyimak perbincangan sembarang mereka, mau tidak mau, suka tidak suka, tetap akan mendengar dengan amat jelas isi obrolan keduanya.

“Jika waktu itu adalah aku yang berada di posisi Paman Gizslo, akan berkali lipat lebih baik dengan terus tetap tinggal di dapur berhantu lamanya itu.”

Vir memutar-mutar telapak tangan kanannya, menggulung, kemudian mengeratkan kembali ikat tali cokelat tua berbahan karet milik kuda kuartal utaranya.

“Kau benar. Setidaknya tempat itu lebih besar dan kau bisa selamanya makan tiga kali sehari gratis ditambah camilan juga hidangan penutup, minimal semangkuk puding jagung atau wortel, jikalau sedang beruntung tentunya.”

Sorot mata Duke Oakley nampak mendung dan jika aku tidak keliru, kemungkinan antara Duke dan sosok yang dipanggil mereka berdua, Paman Gizslo itu, pastilah bukan hanya sekedar kenal nama dari gosip atau karena saling sapa beberapa kali. Tapi tentu saja, aku tidak akan peduli tentang seluk-beluk historis pertemuan mereka.

‘Tidak ada sangkut pautnya ini denganku. Jadi, kenapa harus repot-repot membuang waktu dengan memikirkan keduanya.’

Detik menit berikutnya suasana kembali sunyi. Begitu sunyi sampai-sampai aku bisa mendengar bisikan tipis nan lembut angin yang menyentuh sedikit iseng kulit-kulit telanjang wajah, leher hingga telapak dan punggung jemariku.

“Ehm..”

“Ya?”

Niatnya hanya ingin membersihkan serak di rongga tenggorokanku, tapi apa boleh buat. Duke Oakley di sebelahku sudah lebih dulu merespons sembari menolehkan tatapan penuh tanyanya ke arahku.

“Ah, i-itu.. apa kita masih jauh?”

Aku akhirnya mengucap asal satu-satunya kalimat yang realitasnya, bahkan belum ada lima belas menit di awal perjalanan kami, sudah lebih dulu meraung-raung tidak betah di pikiranku.

“Hm, seharusnya kita bisa sampai lebih cepat dalam dua tiga hari jika mengikuti jalur peta. Tapi mengingat penyerangan kemarin, akan lebih baik agaknya menyusuri perbukitan dan hutan-hutan lebat ini.” Duke Oakley dengan singkat dan padat menjelaskan.

“Begitu...”

“Jadi, berapa lama kita bisa sampai ke ibukota?”

Aku kali ini dengan aura diserius-seriuskan kembali melontarkan pertanyaan yang kurang lebih sama dengan kalimatku sebelumnya.

“Jika memungkinkan, dalam satu minggu. Tetapi sepertinya akan lebih lama, dua atau bahkan tiga minggu perjalanan.”

“T-tiga minggu..?”

Aku kaget mendengar lanjutan kata yang keluar begitu mulus dari mulut Duke Oakley. ‘Tiga minggu? Yang benar saja, apa kalian sudah tidak waras? Bagaimana bisa berjalan kaki selama itu?!’

“Tapi tenang saja, Rashn. Kita semua khususnya Dhruv dan Ingram, benar-benar sangat ahli dan familier dengan keadaan di hutan. Benar begitu kan, Ingram?” Vir tersenyum lebar hingga rentetan rapi gigi putih bersihnya terpampang jelas.

“Tidak.”

“Eh, tidak?”

Celatuk cepat dari Ingram Jakoobäh membuat khususnya aku, beserta dua orang di sisi kanan dan kiriku mendadak menghentikan langkah.

“Tidak, ini...”

“Ilusi.”

Dhruv dengan alis berkerut tajam tanpa hormat memotong tiba-tiba ucapan Ingram. Jari-jemari kiri bebasnya pun kini sudah beralih mencengkeram was-was pegangan pedangnya.

“Apa?”

“Hutan ilusi?” Duke Oakley dan Vir berbarengan bertanya dengan kedua mata membelalak tidak percaya.

“Lihat di sekelilingmu.” Dhruv menginstruksi dingin.

“P-pohon ini...”

Duke Oakley menelan kasar air ludahnya. Apel adam di lehernya bergerak naik turun seiringan dengan bertambah beratnya irama mencekam di sekitar kami.

“Tsk! Sejak tadi kita hanya berputar-putar.” Vir mendesis tidak senang.

“L-lalu, bagaimana ini?”

Aku pun tanpa sadar ikut berseru tidak sabaran saat mendapati suhu udara yang memang sudah dingin seketika bertambah membekukan merasuki hingga ke tulang-tulangku.

KRESEK...

KERSEK...

“Itu pasti dia!” Dhruv tiba-tiba berteriak kencang dan tanpa ancang-ancang sudah lebih dulu berlari ke arah sumber suara.

“Dia?”

Aku bergumam sangat pelan dan kian grogi setelah mendengar bunyi ribut entah di balik semak-semak dan atau tetumbuhan sebelah barat-timur, selatan mungkin utara. ‘Ugh, tidak bisakah mereka tidak mengganggu?’

“Pelakunya.” Ingram melangkah cepat menyusul Dhruv sesaat setelah menanggapi pertanyaan gamangku.

KRAK!

“Oakley, kau tetap berjaga di sana!”

Bunyi benda patah membuat pupilku berkali-kali lipat membesar dari normalnya dan baru saja aku ingin sedikit bersyukur karena masih ada dua orang bersamaku, Vir, bagaikan kilatan petir dengan hanya berteriak menyuruh Duke untuk tetap berjaga telah lebih dulu berlari meninggalkan kami berdua.

Itu yang kupikir, sebelum akhirnya menengok ke arah seharusnya Duke Oakley berada dan ternyata... ‘Sial, aku sendirian!’

“Duke?!”

“Duke Oakley!!!”

“Geez... apa yang harus aku lakukan??” Aku bergumam panas dingin. Gigi-gigi geraham atas dan bawahku bergesekan ngilu satu sama lain.

KRESEK...

“Eunghhhh..!”

Lenguhan tertahan membuatku spontan melangkah mundur dan hampir saja terjungkal bebas di atas tumpukan koloni lumut kalau telat sedikit saja, menggapai batang keras pohon mega besar di belakangku.

KRESEK...

“A-apa itu..?”

Jaringan otakku sekarang benar-benar sudah amat meluap-luap membayangi berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi beberapa menit bahkan bisa jadi hanya dalam hitungan detik ke depan. ‘Ck! Masa bodoh.’

“Hei, kau! Yang di sana? A-apa kau baik-baik saja?”

Aku berteriak-teriak sok berani sambil mulai melangkah terlampau lambat menuju semak belukar beberapa meter di barat laut dari posisi awalku berdiri.

“Hiks.. hiks.. Eunghhhh... T-tolong, tolong a-aku...”

‘Gulp! Sial, benar-benar kecut sekali keberuntunganku.’

Namun amat disayangkan, kali ini bukan hanya sekedar lenguhan tertahan yang berdendang gamblang menelisik gendang telingaku. Melainkan pula suara isak sesenggukan nan menyayat hati, disambut serentetan huruf patah-patah membunyikan kalimat minta tolong.

‘Oke, tarik nafas... dan hembuskan. Tarik nafas.. Huft, kau akan baik-baik saja. Aku, Rashn, akan baik-baik saja. B-baiklah, ini dia... tiga, dua, satu...’

“AKHHH!”

.

.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!