Bab #18

Seolah tidak sama sekali mengindahkan ucapanku barusan, Horam dengan nada datar dan seriusnya berujar pelan. Bahkan, sangat pelan sampai-sampai aku yang berada hanya berjarak tidak ada lima jengkal darinya pun harus sedikit memajukan diri untuk memperjelas kalimat bisik-bisiknya itu.

“Hmm.. entahlah. Tapi, dilihat dari apa yang ada di dalamnya...”

“Benar, tidak mungkin mereka palsu.”

Belum selesai aku berkata, Horam telah lebih dulu memotong kalimat gamangku dan detik menit selanjutnya, keadaan kembali hening. Begitu hening hingga kupikir kalau Horam sudah tidur duluan.

“Baiklah, kita harus benar-benar tidur sekarang. Besok dan seterusnya akan menjadi hari yang panjang dan pastinya tidak akan semulus pipi merah merona Nona Cheêry, terutama untukmu, Rashn.”

Horam membenarkan posisi miring berbaringnya, kedua kaki dibalut celana panjang berwarna senada dengan atasannya meringkuk dalam.

Sementara aku di belakangnya ikut berbalik, tidur dengan keadaan terlentang menatap lurus triplek usang langit-langit kamar sembari menunggu kantuk yang sepertinya tidak akan datang dalam waktu dekat.

“Cincin dan liontin.”

Aku bergumam kecil dan meski aku tidak ingin repot-repot mengingat perbincangan beberapa jam lalu, bayangannya masih tertancap kelewat jelas ditumpukan memoriku.

“J-jadi, tuan-tuan. Apa yang spesial dari kotak ini?” Kedua jari telunjukku yang aku yakin tersembunyi di bawah meja, saling tekan-menekan tidak nyaman.

“Liontin dan cincin ini. Seperti yang tengah kau lihat sekarang, Rashn. Tidak mungkin bisa dibandingkan dengan perhiasan mahal sekalipun yang dijual di toko emperan kecil di pinggir jalan, Liroz 'Vallo, bahkan aku bisa menjamin kalau market terbesar di Sëraphyn pun, Yves Gli, tidak akan ada yang berani menjual barang seperti ini.” Duke Oakley berkata dengan intonasi meyakinkan dan agaknya kedengaran betul-betul tidak sabaran.

“Simbol naga dan pheonix di tengahnya tidak mungkin bisa ditemukan di sembarang tempat.” Vir bercelatuk melanjutkan.

“Kedua simbol ini adalah lambang bagi para keturunan mulia anggota kerajaan Kastil A'rthëu dan sepanjang yang tercatat dalam sejarah, tidak ada satupun negeri selain Sëraphyn yang mempunyai otoritas resmi dan khusus untuk meletakkan kedua makhluk magis ini sebagai tanda pengenal anggota kerajaan, tidak peduli dia akan menjadi raja atau hanya anggota kerajaan biasa tanpa status dan jabatan penting apalagi berpengaruh, layaknya seorang bangsawan dari kelas-kelas pertengahan atau di bawahnya sekalipun.” Duke Oakley berucap lagi panjang lebar.

“Jadi, Rashn. Bagaimana menurutmu setelah mengetahui ini semua?”

Dhruv menatap lurus ke dalam dua manik mataku. Namun, aku tentunya tidak bodoh dan meski aku ingin melanjutkan aksi keras kepalaku, bisa dipastikan hasil akhir setelahnya tidak lain dan tidak bukan adalah aku yang menyerah dan atau aku dipaksa untuk menyerah.

“Hah, yang benar saja... Apa serius, harus serumit ini jalan hidupku?”

...⚔⚔⚔...

Sudah lebih dari delapan jam kami berjalan. Setelah sempat berhenti beberapa kali di pos-pos keamanan dan tiga empat warung kecil dua jam lalu, kami — aku, Rashn, bersama keempat pria dengan masing-masing kudanya — bergerak tidak terlalu cepat juga tidak pula lambat menyusuri jalur-jalur rumit hutan.

Tapak ladam kuda dan alas kaki kami berbekas cukup dalam setiap kali beralih mendaratkan jejak baru. Tekstur tanah basah, lembab, dan dipenuhi berbagai ragam tumbuhan tingkat bawah setinggi 1,5 sampai 6 meter berupa tanaman semak, perdu dan pepohonan muda sudah cukup membuat pergerakan kami tidak begitu mulus dan menjadi berkali lipat lebih buruk karena terbatasnya penerangan akibat vegetasi berlapis dari pepohonan tinggi besar berbentuk kanopi, membuat cahaya matahari tidak dapat menembus sempurna lantai hutan.

Sehingga tidak jarang, aku dengan kekinya terpelatuk bebatuan kecil, akar-akar keras pohon, bahkan hampir saja jatuh tergelincir berkat tebaran koloni besar dan menjijikkan famili hijau lumut hati.

“Ah, sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke ibukota.”

Seorang figur berambut cokelat blonde dengan postur paling pendek di antara ketiga pria lain, Duke Oakley, bergumam agak kencang memecah keheningan.

Kaki berbalutkan celana hitam licin berkilaunya berjalan santai menyamai langkah pendekku dan agaknya bukan perkara buruk, karena jarak lumayan tipis antara Duke Oakley dan aku, tak terhitung sudah berapa kali dirinya menahan lenganku ketika hal-hal memalukan hampir dan atau terjadi, berkat kurangnya kehati-hatianku.

“Bagaimana kabar Paman Gizslo? Apa dia masih sibuk bereksperimen di dapur batunya itu?”

Seorang pria dengan rambut terlampau eksentrik, Vir, sekitar satu setengah meter di sebelah kananku berhenti sebentar, lalu menoleh ke arah Duke Oakley sembari untuk beberapa detik, asyik mengusap-usap pelan dagu berhiaskan janggut super tipis khasnya itu.

“Gizslo? Ah... paman serba bulat berkepala lima itu sudah lama pindah dari tempat suramnya. Apa kau ingat Nyonya Musk? Yang tinggal di bangunan mewah bergaya neogotik kuno dan pemilik butik, butik, hm.. apa namanya?”

Kening Vir mengerut tebal sambil dengan sebelah tangannya berkacak pinggang runyam.

“Butik Musk&Miolust?”

“Nah, itu. Butik Mollusca...”

Aku hampir saja tertawa terpingkal-pingkal mendengar kata Mollusca — hewan triploblastik selomata bertubuh lunak dan termasuk dalam semua hewan lunak dengan maupun tanpa cangkang, seperti berbagai jenis siput, kiton, kerang-kerangan serta cumi-cumi dan kerabatnya — yang keluar mulus dari bibir gelap Vir.

‘Menggelikan sekali, apa butik itu khusus untuk bangsa siput? Kenapa bisa salah sebut begitu, benar-benar..’

“Musk&Miolust.”

Duke Oakley dengan tanpa ekspresi langsung mengoreksi.

“Oke, oke.. pemilik butik M dan M. Jadi, sekitar beberapa bulan yang lalu, aku tidak sengaja mendengar Nyonya Musk berargumen hebat dengan Paman Gizslo dan sepertinya mereka berdebat tentang kontrak tanah atau semacamnya.”

“Jadi, mereka tinggal bersama?”

Duke Oakley menanggapi cepat penjelasan panjang Vir, dan hanya pendapatku saja, rangkaian kalimat pria berkepala botak atas dengan kepang bawah tadi terdengar agak... ‘Hm, tidak.’ Yang benar adalah jelas sembilan puluh sembilan persen ambigu.

“Nah, tidak... Nyonya Musk menjualnya.”

Vir menggoyang-goyangkan ujung telunjuknya cepat, sembari dengan ritme serupa menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan kanan.

“Benarkah? Kalau begitu jadinya... puas sekali pasti si Paman Gizslo itu, tinggal seorang diri di rumah super besar, mewah barunya dan, hm... biar aku tebak. Berapa kira-kira total jumlah keseluruhan botol-botol berisikan cairan misterius yang mungkin sekarang sudah menggunung dan berceceran di tiap sudut rumahnya, apa sekitar dua puluh? Lima puluh? Oh, seratus? Wah!”

Duke Oakley bermonolog luas kali keliling. Kedua netra cokelatnya sedikit berbinar dengan sebelah tangan terkepal antusias memukul-mukul telapak tangan satunya yang memang terbuka lebar alias tidak sedang mengepal.

“Haha, akan sangat menyebalkan kalau realitasnya semenakjubkan imajinasimu, Duke. Tapi, maaf sekali... kau sungguh-sungguh keliru. Nyonya Musk hanya menjual gudang tua di taman belakang rumahnya.”

“Eh?”

.

.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!