“Rashn, jaga dirimu baik-baik, jangan sampai terluka, jangan sampai telat makan, jika kau kedinginan, tidak. Jika suhu mulai terasa dingin segera pakai mantelmu dan pastikan untuk selalu bersikap baik, ikuti apa yang dikatakan keempat tuan-tuanmu itu dan jangan membuat masalah, apalagi menyusahkan mereka. Hm?”
Sudah lebih dari lima menit dan Bibi Marcy masih terus berceloteh macam-macam, tubuh kelewat berlemaknya yang ditutupi apron merah jambu bergambar kepala boneka beruang, juga ikut mendekapku erat sembari tanpa jeda bibirnya menciumi dahi, kedua kelopak mata, hidung hingga tentunya kedua pipiku.
Sementara Horam yang berdiri beberapa langkah di belakang Bibi Marcy, sedari habis sarapan tadi sampai sekarang tetap dengan sabarnya menepuk-nepuk pelan punggung Neelix yang masih kuat menangis tersengguk-sengguk bahkan setelah semalaman memeluk, memohon dan merajuk tidak henti-hentinya kepadaku.
“Aku mengerti.”
“Rashn, ini. Bawa dan makanlah bersama tuan-tuan gagah itu.”
Bibi Marcy akhirnya melepas dekapannya, tepat setelah aku mengangguk dan berucap lembut; merespons nasehat panjang kali lebarnya itu, tetapi tidak sampai tiga detik, Bibi Amber yang kukira tidak akan datang, tiba-tiba sudah memelukku kilat dan tanpa banyak basa-basi menyodorkan sekantong tas putih besar dan langsung berlalu pergi, bahkan sebelum aku sempat membuka mulut untuk sekedar berterima kasih.
‘Ehm, pasti ini..’ Diam-diam aku melirik isi kantong dan pas seperti dugaanku, di dalamnya berisikan ‘..salak.’ yang jika aku tidak salah terka, pasti sudah matang sempurna, melihat dari warna kulitnya yang kecokelatan hitam dan bersih mengilat.
“Aku tidak bisa memberikan banyak, tapi terus berhati-hati. Jangan sampai lengah dan kami tahu, Rashn adalah anak yang baik dan akan terus begitu. Kau sudah paham, mana yang benar dan salah. Mana yang perlu kau dekati dan hindari. Jadi, aku, suamiku, bibimu, Tuan Queè dan tentunya Horam dan Neelix, kami akan selalu percaya padamu, Rashn.”
“Terima kasih, aku menyayangimu.”
Nyonya Frodie memelukku singkat, jemari kurusnya yang meski sudah keriput masih sama cantiknya seperti delapan tahun lalu saat pertama kali ia dan Tuan Frodie datang ke rumah Bibi Marcy sembari membawakan kue-kue basah dengan hiasan bunga empat musim di atasnya.
Meski saat itu aku baru berumur sekitar tujuh tahun dan sudah sangat lama sekali terjadi, tapi bayangan dan perasaan hangat pelukan Nyonya Frodie benar-benar tidak berubah dan di saat-saat seperti ini, aku sesekali berharap kalau orang tua kandungku jika bisa, berada dekat di sisiku. Walau tidak jarang setelahnya, aku hanya tersenyum hambar dan mencoba puas,
‘Kalau saja Nyonya dan Tuan Frodie mau mengadopsiku menjadi anaknya.’ Tapi sekali lagi, itu semua hanya imajinasiku saja.
“Ini dariku, Rashn.”
Tuan Frodie menyodorkan kantong berukuran sedang yang aku tahu pasti isinya, tidak lain dan tidak bukan adalah uang. Dengan ragu aku mengambilnya dan beranjak memeluk Tuan Frodie.
“Dan jika kau mungkin suatu hari nanti merasa kesulitan di sana atau mulai putus asa, selalu ingat, kau adalah milikmu, Rashn. Hanya kau yang bisa mengendalikan dirimu sendiri, bagaimana sikapmu dipengaruhi pola pikirmu. Dan aku percaya kau pasti bisa, yang lainnya pun begitu. Karena itu semangat dan tentunya, pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu kapan pun kau merasa ingin kembali.”
Tuan Frodie berhenti menepuk-nepuk pundakku, bersamaan dengan dekapannya yang perlahan mengendur lalu terlepas dan untuk beberapa detik setelahnya, kedua manik mataku ditatapnya lekat-lekat, kedua alis yang mulai berubannya juga tampak semakin berkerut tebal sembari jemari kanan lebarnya bergerak; mengusak pucuk kepalaku sayang.
“Rashn?!”
Dua orang pemuda lain yang merupakan tamu baru hasil undangan Duke Oakley saat pergi ke pasar kemarin, salah satu yang berkepala botak atas dengan rambut hitam kepang satu menjulur rapi ke bawah dan masih setia berdiri memegangi tali kuda berwarna cokelat kemerahan jenis kuartal utaranya; memanggil namaku kilat sembari sebelumnya untuk kali kedua menunduk sedikit memberi hormat.
Sementara satu tamu baru lain yang sudah menunggangi gagah kudanya, hanya melempar senyum singkat lalu kembali mengobrol serius dengan Ingram Jakoobäh yang juga sudah siap di atas kuda berwarna hitam kecokelatannya.
“Baiklah, kalau begitu aku pamit. Terima kasih dan hati-hati juga kalian semua. Dan, ehm, sebelum aku pergi, Neelix dan Horam, aku tugaskan kalian untuk menjaga orang tua kesayangan kita ini.”
“Mulai berlatih dari sekarang rupanya, hm?”
Aku tersenyum hangat membalas candaan kecil Horam yang menanggapi perkataanku barusan, Neelix yang berada di sebelahnya juga ikut tersenyum keki, meski isak tangisnya masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
“Tentu, Rashn. Tanpa kau beri komando pun, aku pasti akan menjaga mereka dan begitu juga dengan Neelix. Ya, kan Neelix?”
Horam melanjutkan ucapannya dan Neelix yang tiba-tiba ditanya dengan agak dientak, refleks mengangguk-angguk setuju.
“P-pasti, dan.. dan jangan lupa untuk sesekali berkunjung.”
Neelix mendadak ikut buka suara, aku yang mendengar kalimat terbata-batanya menatap senang sekaligus sedih secara bersamaan.
“Baik, kalau begitu aku pamit.”
Aku melambai cepat, langsung berbalik memunggungi begitu melewati pagar dan seolah paham situasi, genangan air di kelopak mataku yang sejak tadi berhasil ditahan akhirnya meluap juga; mengalir, membanjiri seluruh wajahku bersamaan dengan keluarnya isak tertahan dari kedua bibirku yang mulai bergetar menyedihkan.
“Selamat jalan, Rashn!”
Kedua telapak tanganku melambai untuk terakhir kalinya tanpa berbalik. Entah aku harus beruntung atau tidak, sosok yang sejak tadi berdiri sendirian menungguiku di mulut jalan, tanpa aba-aba mendekap dan lalu mengusap-usap lembut punggungku.
Sementara ketiga sosok lainnya yang samar-samar terlihat dari sudut mataku; ikut melontarkan tatapan miris dan untuk beberapa saat lamanya aku terus terisak, hingga suara gemerincing lonceng dari ekor pedang tamu baru yang tengah duduk di atas kuda berwarna hitam dan beraura kelewat mendominasi kuda-kuda lainnya, mengingatkan aku pada keributan yang anehnya di pandanganku malah terlihat seperti sebuah pertunjukan menegangkan nan memukau para Pyreghøn — petarung berkuda — di Chaðh O’Toole — sebuah arena gala spektakuler berbentuk elips; tempat diselenggarakannya berbagai macam pertarungan duel satu lawan satu antara para pengguna sihir, ksatria, petarung jalanan biasa, tahanan calon eksekusi, budak, binatang buas, hingga monster dari pegunungan Bǫlverkr yang agaknya sudah sedikit dijinakkan — saat pergi ke Liroz 'Vallo kemarin sore.
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments