Bab #8

“Rashn?” Lamunanku spontan menguap begitu Bibi Marcy mengurut lumayan kencang ruas-ruas tulang jemari tangan kiriku. Aku lalu kembali fokus melirik dua tamu di depan.

“Sebelumnya, apa kau, Rashn.. sudah mendengar berita tentang wafatnya Putra Mahkota Liu Rain dari Sëraphyn?”

“A-aku tidak tahu.”

“Jadi Rashn, begini...”

“Pura Mahkota Liu Rain adalah anak satu-satunya keturunan terakhir Sëraphyn yang masih hidup.”

Sosok berambut perak mendadak buka suara. Ia dengan tidak sopan memotong ucapan sosok yang menyebut dirinya Duke Oakley.

Tetapi agak tidak nyaman. Ia berbicara dengan pandangan lurus dan terlampau intens, hingga kedua manik tidak identikku terasa seperti tengah ditusuk-tusuk dengan bilah tajam belati.

“La-lalu? Ehm, bagaimana itu ada hubungannya dengan Bibi Marcy dan aku?”

“Rashn.”

Bibi Marcy spontan berbisik lembut. Kelima jemari tangan kanannya semakin gencar menekan-nekan ringan, saraf dan sendi-sendi jari-jemari tanganku yang tidak dapat diungkiri, memang sedang teramat sangat tegang.

Namun, seolah tidak menangkap lampu merah yang dilontarkan Bibi Marcy. Aku malah dengan sok beraninya beradu tatapan dingin dengan tamu yang kalau aku tidak salah ingat, bernama Ingram Jakoobäh itu.

“Rashn, apa kau pernah bertanya-tanya mengapa kedua warna matamu terlihat tidak biasa? Beda dari yang lain?”

Kedua alis tebal kuning keemasanku sontak berkerut tebal. Geram—menanggapi celotehan blak-blakan Ingram tentang topik warna mata yang bahkan aku sendiri, sudah lama sekali tidak memedulikan keadaan keduanya.

Namun tentu, itu juga berkat perlakuan menenangkan, sekaligus protektif Bibi Marcy selama hampir lebih lima belas tahun lamanya.

Perlakuan yang dengan aktif menyangkal komentar negatif dan terus memberikan pujian seperti beberapa potong kata ‘indah’, ‘cantik’, dan ‘unik’ setiap kali ada yang mencoba mengolok-olok, mencemooh, mengutuk, dan atau memuntahkan perkataan bermakna jelek semisalnya kepadaku.

“Tidak ada yang salah dengan warna mataku. Aku hanya sedikit berbeda dan aku juga tidak ingin repot-repot mempertanyakan kondisi keduanya, Tuan. Yang. Terhormat!”

“Tentu, benar-benar tidak ada yang salah dengan kondisi kedua matamu. Tetapi Rashn, kedua iris matamu akan menjadi masalah yang sangat vital, jika kau bertemu dengan orang-orang yang tahu dan menyadari asal-usul dari mana mereka diwariskan.”

“Apa maksud anda, Tuan?!”

Kedua alisku tertaut kusut. Sama sekali tidak mengerti apa yang coba dijelaskan sosok Duke Oakley, yang kini tengah memelotot ke arahku dengan hidungnya yang kembang kempis tidak sabaran.

Namun, sangat kontras dengan sosok di sebelahnya yang malah teramat kalem—asyik mengelus-elus pegangan cangkir keramik putih terdekat di atas meja.

“Mendiang Yang Mulia Sëra, pendiri bangsa Sëraphyn dan mendiang Yang Mulia Zëphyr, ayah dari Yang Mulia Zelîg. Keduanya dituliskan dalam sejarah memiliki dua warna mata yang berbeda.”

Duke Oakley menarik nafas sebentar, sembari menatap dua manik mataku dua kali lipat lebih lekat dan aku yang ditatap, sebisa mungkin hanya terus berusaha untuk kelihatan tetap tenang.

“Quiël Óen dan Ezé juga telah meramalkan. Hanya akan ada tiga D'Or Cyrille, dan Rashn, tidak salah lagi. Kau adalah Cyril terakhir sesuai yang diramalkan.”

Bibi Marcy menggigit bibir bawahnya kasar. Kedua matanya yang berkantung hitam tebal menyipit tiga perempat.

Sementara aku, sebagai kesimpulan akhir perkataan Duke Oakley, hanya bisa melongok, sembari lalu dengan gamang, mencoba mencerna semua penjelasan terlampau singkat tentang ramalan Quiël Óen dan Ezé, D’Or Cyrille, serta kalimat tidak logis terkait ‘Cyril terakhir’.

Aku mungkin, memang kelihatan seperti benar-benar tidak mempunyai pengetahuan tentang hal-hal sensitif macam itu dan bisa jadi hanya dapat diketahui, jika pernah mengenyam pendidikan di institusi formal.

Namun faktanya, aku tahu betul. Apa maksud Duke Oakley tanpa perlu ia panjang lebar lagi menjelaskan dan tentu, pengetahuan itu datangnya bukan karena jatuh begitu saja dari langit. Melainkan, berkat buku-buku dan waktu berkisah istimewa dari Tuan Queè.

Jadi, secara ringkas, Quiël Óen dan Ezé merupakan dua kembar Oræcle—pembaca takdir—paling agung. Mereka dituliskan sebagai figur pendiri, sekaligus pengurus utama kuil X'Alzrero yang berlokasi di pulau Irrineth.

Suatu tempat fana, lagi paling magis dan suci, yang hanya bisa dilihat dan dimasuki setelah mendapatkan restu dari kelima Quiël atau juga dikenal dengan sebutan Seer—nama kehormatan untuk lima tingkat tertinggi para Oræcle.

Aku bahkan, bukan bermaksud untuk menyombongkan diri. Tetapi aku jamin, tidak akan keliru dengan deskripsi renyah sosok kelima Oræcle agung itu.

Dua yang paling terkenal, sekaligus pembaca ramalan hitam dan putih ialah Seer Mù atau Quiël Òen dan Seer Huǒ atau Quiël Ezé. Sedangkan tiga, yang menurut catatan sejarah merupakan master pemilik empat dari enam elemen kehidupan, yakni Seer Tǔ atau Quiël Dev, Seer Jīn atau Quiël Rue, dan Seer Shǔi atau Quiël Ky.

Serta, nama dan sebutan mereka bisa jadi tidak terlalu terkenal. Tetapi tugas kelimanya, entah sejak kapan, telah lama dipercaya dan teramat sangat populer, bahkan di kalangan penduduk miskin seperti kami.

Tugas yang intinya bertumpu pada pembacaan suratan takdir tentang D’Or Cyrille. Hanya kali ini, ramalan mereka terdengar lebih dan sungguh-sungguh tidak masuk akal.

Sebab bagaimana bisa, aku ini, yang bukan siapa-siapa, malah menjadi substansi penting dari sosok subjek ramalan mereka, seorang Cyril terakhir?

Lagi pula, siapa yang akan berani untuk sekadar berimajinasi sebagai salah satu dari tiga ksatria, dengan dua iris mata berbeda?

Berkhayal ria, sebagai figur yang disebut-sebut sebagai keturunan para dewa? Pengendali enam elemen, sekaligus penjaga kestabilan antara dunia atas dan bawah?

Lebih gila lagi, menjadi seorang D’Or Cyrille atau Cyril sebutannya—bagi satu dari tiga kreasi istimewa Tuhan dengan tingkatan jiwa paling mulia dan agung?

Makhluk berperawakan layaknya keturunan malaikat yang ditakdirkan bukan hanya menjadi raja bangsa Sëraphyn, melainkan juga sebagai sosok yang pada waktunya akan dibaiat untuk memimpin ketujuh bagian bumi?

Mereka yang diagung-agungkan? Sosok Czar Maghna yang kedatangan dan kepergiannya tidak dapat diprediksi, bahkan oleh kelima Oræcle sekalipun?

“A-aku...”

“Kau adalah pewaris utama Sëraphyn, Rashn.”

Nyanyian merdu gemeresik angin yang bergesekkan dengan bunga-bunga merah pepohonan flamboyan, mendadak menggelitik lembut gendang telingaku.

Horam dan Neelix yang diam-diam menyelinap keluar pun seketika membeku di tempat dan jari-jemari gempal Bibi Marcy yang menggenggam kedua tanganku juga, tidak tahu sejak kapan, malah terasa sangat dingin.

“Rashn?”

Aku spontan beralih menatap kosong sosok berambut perak yang baru saja memanggil namaku. Air mukanya memang tetap datar tanpa ekspresi. Namun, aura yang terpancar dari kedua iris abu-abunya tidak lagi terasa tajam, apalagi dingin.

“Ini...”

Tetapi di detik itu pula, barulah saat itu aku sadar. Kegilaan ini semua bahkan belum dimulai, namun instingku sudah lebih dulu berteriak untuk segera berhenti. “...tidak mungkin.”

Walau jauh di dalam pasang mata dua tamu itu jelas sekali tertulis, ‘Jika cara ini tidak berhasil, maka dengan terpaksa. Siaga Rencana B: Kekerasan.’

.

.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!