“Permisi, maaf! Maaf sekali!”
Dari kejauhan, seorang wanita berbadan gempal dengan wajah kelewat khawatir, melangkah tergesa-gesa melewati kerumunan.
Bahu lebarnya menabrak setiap orang yang menghalangi jalan di depannya. Sementara bibir tebal agak gersang dan sedikit menghitam miliknya itu, hanya bisa terus berucap kata maaf setengah hati.
“Oh, Rashn sayangku.”
Ia beberapa kali menggumamkan nama Rashn. Mungkin berharap gumaman pelannya itu bisa berguna layaknya mantra para Mágov dan Hexer dari tanah paling magis di bumi, Myrz’el.
Namun, sekadar informasi. Mágov dan Hexer adalah dua bangsa mayor dari banyaknya bangsa penyihir. Mereka merupakan yang tertua, terkuat, dan dikenal hampir abadi karena umur mereka yang sangat panjang.
Ada banyak persamaan di antara kedua bangsa ini. Hanya saja Mágov, mereka bisa menjadi sepuluh kali lipat lebih kuat, jika menjalin kontrak dengan manusia. Terutama manusia dengan darah suci bangsa Sëraphyn.
Lain halnya dengan Hexer, yang diberkati kekuatan pengobatan diri yang lebih cepat dibandingkan dengan semua bangsa penyihir dan karena itu pula, mereka semestinya dapat hidup lebih lama.
Namun, akibat kekuatan mereka yang sangat lamban berevolusi dan kurang adaptif. Tercatat dalam beberapa abad terakhir, hanya sedikit dari mereka yang berumur panjang.
“K-kau.. KAU BENAR-BENAR MONSTER!”
Teriakan gemetar pria kurus berpakaian agak lusuh di tengah-tengah kerumunan, kepada seorang anak bermata keemasan yang tengah berkilat-kilat marah, sembari kesepuluh jemari si anak mengepal erat hingga urat-urat tegang biru kehijauannya terpampang jelas, membuat setiap mata yang tidak ada sepuluh detik melemparkan tatapan pilu, kini malah bergidik panas dingin.
“KAU MONSTER!”
Pria kerempeng dengan wajah berewok yang terus meneriakkan kata monster itu jatuh bangun beberapa kali.
Orang-orang di sekitarnya tetap ciut, sama sekali tidak ingin repot-repot ikut campur dan mengotori tangan-tangan mereka, bahkan hanya untuk sekadar meneriakkan kata ‘berhenti’ pun, tidak.
“AKH! HEUKK..! T-to-lo-ng.. a-ak-.. Euungghhh!!!”
Semua pasang mata terbeliak kaget, kian merinding sekaligus ngilu melihat aksi tiba-tiba si anak berambut emas, yang bagai embusan angin, sudah mencekik beringas leher si pria kurus dan dengan sangat enteng, mengangkat tubuh sosok di cengkeraman tangan kirinya tinggi-tinggi.
“Rashn!”
Dua orang pria berbadan besar yang berada di bagian paling depan kerumunan menengok bingung, saat seorang wanita gendut berambut hitam kusam menabrak kasar kedua tubuh berotot mereka.
Anak bermata keemasan itu, aku, Rashn, yang sedang berdiri setengah sadar dengan wajah merah padam, serta jari-jemari menggencet ekstrem leher pria bacar mulut tadi, sontak membeku di tempat.
“Uhuk.. Uhuk.. Ughh..!”
Pria mengesalkan di depanku sempat tersungkur, lalu terbatuk-batuk beberapa detik sebelum akhirnya berdiri susah payah, sambil kemudian melayangkan tatapan berapi-api penuh kebencian.
“Ah, maaf! Maaf sekali! Ak-aku akan membayar semua kerugiannya!”
“BAJINGAN! MEMBAYAR?!”
Kedua alisku mengerut berang. Hampir saja akan menerjang kembali sosok pria berambut keriting tipis di depan kami, kalau bukan karena jemari sedingin balok es Bibi Marcy yang menahan lenganku erat.
“APA YANG AKAN KAU BAYAR, HAH?!”
“Bibi Marcy!”
Mataku menatap nyalang wanita bulat dan gempal itu, yang saat ini malah duduk bersimpuh, sembari memisuh-misuh menyedihkan di depan si pria keparat.
Aku dengan kerutan tidak senang lantas menarik lembut lengan kiri Bibi Marcy untuk kembali berdiri. Suasana kerumunan sekarang terasa dua-tiga kali lebih menyesakkan dari sebelumnya.
Tapi, tidak ada satu kedipan mata. Sesuatu yang lebih absurd, menjadikan bising kerumunan seketika bungkam.
“Maaf sekali tuan dan ini, sebagai ganti ruginya.”
Dua orang pria berbadan besar, berotot dan entah kenapa terlihat sangat familier di mataku, tiba-tiba muncul dari balik lautan sesak kerumunan massa. Salah satu dari keduanya berjalan mendekati si pria ringkih.
Aku sontak termangu.
Tangan berurat-urat teramat menonjol itu tiba-tiba memberikan paksa sebuah kantong berwarna brunette, berukuran sedang dan sangat jelas kelihatan begitu lembut lagi berkilau, yang besar sekali kemungkinannya terbuat dari kain bahan terbaik, seperti wol Vikuna atau sutra Mulberry.
Dua jenis kain terbaik yang hanya bisa ditemukan di tiga tanah divisi besar bumi: Sëraphyn, Rûby dan Lìondre. Namun, meski harga keduanya tidak terlalu mahal, tidak tahu bagaimana, hanya para bangsawan dan orang-orang berkedudukan tinggi di satuan pemerintahan yang diperbolehkan memiliki, apalagi menggunakannya.
“Apa kau wali asuhnya?”
Pria kurus itu bertanya asal. Jari-jemarinya yang tampak gemetaran sedikit melirik ke dalam kantong pemberian pria berbadan kekar itu dan di detik-menit berikutnya, kedua bola matanya langsung membulat, sembari sekilas terlihat menelan kasar sesuatu di dalam rongga kerongkongannya.
“Ba-baiklah, ka-kalau begitu Tu-Tuan harus le-lebih ba-baik lagi ke de-depannya; mendidik bo-bocah i-i-tu dan te-terima kasih banyak Tu-Tuan atas kom-kompensasi-mu i-ini.”
Aku hanya bisa melongok, mendapati si pria keparat tiba-tiba berbicara dengan sangat terbata-bata.
Ia lantas tergesa-gesa pergi meninggalkan kerumunan dan tidak ada beberapa menit setelah pria itu lenyap, kerumunan orang-orang seketika bubar dengan super kilat.
Kios-kios tidak lama kembali dibuka. Semua yang ada di Liroz 'Vallo refleks berusaha sibuk pada aktivitas mereka masing-masing, seolah-olah kejadian barusan tidak pernah ada. Tidak pernah terjadi.
“Apa kalian baik-baik saja?”
Mataku terbelalak lebar. Suara orang yang sedang setengah merunduk, menjulurkan telapak tangan besarnya ke arah Bibi Marcy yang hanya tetap duduk membisu, mendadak seolah menyeruku untuk sesegera mungkin angkat kaki.
Melarikan diri sejauh yang aku bisa dari tatapan tajam lagi dingin, kepunyaan kedua mata serupa mata ular, bernuansa warna abu-abu mendung di depan kami.
“Rashn! Bibi! Apa kalian tidak apa-a...”
Horam yang berteriak sembari berlari di belakang Neelix mendadak berhenti. Kedua iris kehijauannya itu sontak memelotot takut.
Tidak jauh beda pula dengan kondisi Neelix, yang hanya berjarak dua setengah meter lagi dari tempatku dan Bibi Marcy berada. Ia mendadak berhenti melangkah. Tatapan matanya mirip sekali seperti seorang anak yang tertangkap basah habis mencuri permen.
“Aku baik-baik saja dan Tuan... apa Tuan berdua ingin mampir sebentar untuk minum teh?”
Keterkejutanku tadi saja belum berakhir, tetapi ucapan yang keluar dari bibir Bibi Marcy barusan benar-benar membuatku bingung, sekaligus gusar setengah mati. ‘Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa? Bibi Marcy?’
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments