Bab #4

“Horam, Neelix! Kenapa kalian baru pulang? Kenapa pula pakaian kalian sangat kotor? Dan oh, Rashn?! Katakan pada bibi, ulah apa lagi yang telah kau lakukan hingga pulang selarut ini?!”

Bibi Marcy langsung berteriak histeris, kemudian menembakkan serentetan pertanyaan, sesaat setelah kami melangkah melewati gerbang kecil di tikungan.

Aku dengan cepat berlari masuk. Bukan karena tidak peduli dengan raut wajah khawatir Bibi Marcy. Melainkan karena aku tidak ingin membuatnya bertambah khawatir setelah melihat luka gores di pipi kananku.

Ditambah, akan lebih kacau lagi, kalau bibi melihat anak panah yang terekspos sangat jelas, sebab sejak tadi hanya aku genggam, tanpa sempat berpikir barang satu kali pun untuk repot-repot membungkusnya.

“Rashn!”

Dobrakkan pintu yang tiba-tiba, membuatku refleks melempar sembarang si anak panah. Aku melirik sedikit ke bawah. ‘Aman untuk sekarang.’

“Rashn, apa kau baik-baik saja? Ini...”

“Ah, tadi aku terjatuh saat kami sedang bermain di hutan.”

Tepat seperti perkiraanku, Bibi Marcy kelihatan sangat khawatir. Telapak tangannya yang terasa kasar, membelai lembut kedua belah pipiku. Terlebih pada bagian pipi yang terluka.

“Rashn, kau ingat janjimu pada bibi?”

“Untuk jangan pernah terluka, walau hanya sekecil tusukan jarum?”

“Kau boleh melakukan apa pun, pergi ke mana pun yang kau inginkan. Bibi tidak akan pernah melarangmu. Tapi, Rashn, bibi mohon sekali kepadamu, untuk jangan pernah terluka. Kau mengerti Rashn?”

“Aku mengerti.”

Bibi Marcy mengelus kepalaku sayang. Aku hanya balas tersenyum hambar. Sikap Bibi Marcy yang seperti ini tidak pernah sekalipun gagal membuat sesuatu di dalam relung dadaku menghangat.

Meski tak bisa disangkal, sering kali aku berasumsi kalau Bibi Marcy agak berlebihan dan kalimat selanjutnya yang sering dibisikkan lembut di telingaku, kian hari malah membuatku terus berpikiran macam-macam.

‘Bibi Marcy, kenapa kau sangat memperhatikanku. Apa mungkin ada sesuatu yang kau sembunyikan?’

“Terima kasih Rashn. Kalau begitu, kemarilah. Biar bibi obati dulu lukamu.”

Bibi Marcy mengambil beberapa tetes obat oles ke kedua ujung jemarinya. Setelah itu, ia dengan sangat hati-hati mengoleskannya pada luka di wajahku. Aku sembari menunggu bibi Marcy selesai, melirik lamat-lamat keadaan sekitar.

Suasana di dalam dan di luar rumah Bibi Marcy terlihat sangat sepi. Hanya terdengar bunyi tekukur dari para burung hantu, berisik tuan tokek dan dengkuran halus Horam, juga sesekali ocehan tidak jelas Neelix yang sudah tertidur lelap di kamar depan.

“Rashn.”

“Ya?”

“Besar nanti, kau akan menjadi pria yang sangat tampan, gagah dan dicintai banyak orang. Bibi percaya itu, karena itu jangan pernah lagi terluka. Kau harus benar-benar menjaga dirimu baik-baik dan selalu ingat, Bibi pasti akan selalu menyayangimu.”

“Bibi...”

“Begitu pun juga ayah dan ibumu.”

Bibi Marcy memelukku hangat untuk beberapa waktu lamanya. Dia juga mencium keningku beberapa kali, baru kemudian merapikan kembali kotak obat-obatan dan berlalu keluar dari kamarku.

“Ayah dan ibu?”

Aku berbaring. Menatap kosong langit-langit kamar yang kelihatan sangat usang dan mungkin sekali, jika aku belum terbiasa tinggal di sini, pastilah aku tidak akan mau bahkan untuk sekadar singgah, apalagi betah tertidur setiap malamnya di bawah atap yang tampak akan langsung roboh jika angin besar, topan, siklon atau semacamnya itu, tidak sengaja lewat.

“Aku juga menyayangimu.”

Mataku memejam, sedikit berharap agar malam ini aku bisa melihat rupa keduanya. Ibu yang melahirkan, juga ayah yang entah mendoakan apa ketika memberikanku nama ini. ‘Meski hanya bunga tidur.’

...⚔⚔⚔...

“Dhruv sedang dalam perjalanan kemari.”

Suara bising orang-orang mulai terdengar jelas setelah melewati plang bertuliskan Liroz 'Vallo. Sebuah pasar rahasia bagi para pengelana, pengrajin dan kolektor yang ingin mendapatkan barang-barang lima, bahkan sepuluh kali lebih murah daripada yang dijual oleh kios terkecil di Yves Gli—tempat jual beli termegah, terindah dan terpopuler di bumi yang letaknya berada di jantung utara tanah Sëraphyn.

Namun, meski disebut sebagai pasar rahasia, Liroz 'Vallo tidak pernah sepi. Seperti saat ini, cahaya matahari baru saja mengintip, tetapi keadaan pasar sudah sangat sibuk sampai-sampai tidak bisa bergerak, jika tidak saling mendorong dan atau menabrak keji bahu antar bahu.

“Bagaimana dengan Vir?”

“Vir akan segera menyusul setelah menemui dan meyakinkan sisa ksatria dari AoifBrëe.”

“Berapa lagi yang tersisa?”

“Aku tidak tahu jumlah tepatnya sekarang, tapi Dhruv akan sampai dalam tiga-empat hari ke depan bersama Levaeh Tru dan Reese Hatch dari Lè Vamps.”

Duke Oakley mengangguk-angguk paham. Kedua bola matanya asyik melihat-lihat beraneka peralatan makan mewah dari baja nirkarat, perak, hingga emas dengan bermacam motif dan warna merek seperti brushed gold, classic stainless, black satin, pale rose, sky blue, sage, copper shine, hingga oatmeal.

Sementara Ingram Jakoobäh yang berjalan di belakang Duke Oakley, sekilas memang terlihat ikut menikmati pemandangan perabotan di sebelah kirinya. Tetapi diam-diam, kedua mata elangnya itu meneliti dengan sangat mendetail setiap sudut Liroz 'Vallo.

“Berandalan keparat itu, cepat! Tangkap dia!”

Keadaan jalan sudah cukup pengap dan sumpek. Tetapi teriakan, ditambah aktivitas kejar-kejaran beberapa blok di depan Duke dan Ingram, seolah sama sekali tidak peduli.

Lebih buruk lagi, karena kegiatan para pengacau itu tidak hanya membuat satu kios saja yang berantakan dan rusak, melainkan dua, empat, lima, ..., tak tahu jumlah pastinya berapa. Namun yang jelas, aura kemarahan sudah menumpuk dan membumbung tinggi memenuhi langit Liroz 'Vallo.

“Apa yang sedang terjadi?”

“Seperti biasa, berandalan miskin itu berulah lagi. Uh, jadi maaf sekali tuan-tuan, sepertinya anda harus kembali lain waktu. Aku akan segera menutup kios.”

“Ah, baiklah.”

Duke Oakley melirik ke sana-kemari, sibuk mencari Ingram Jakoobäh yang entah sejak kapan sudah tidak ada di belakangnya.

Hingga akhirnya, ia dengan susah payah berjalan ke depan, berusaha menerobos tebal kerumunan dan serupa seperti pemilik kios peralatan makan tadi, kios-kios lain juga telah mulai memasuk-masukkan semua barang jualan mereka, kemudian dengan buru-buru langsung menutup, juga mengunci rapat-rapat pintu dan atau jendela sekat kios.

“Cih, anak keparat! Bagaimana selama ini kedua orang tua itu mendidik dirimu, hah?! Sampai-sampai kelakuanmu ini, tidak ada lagi bedanya dengan para monster dari pegunungan terkutuk itu, pegunungan Bǫlverkr?!”

“Kau yang keparat, Pak Tua!”

“KAU!”

“Dan orang tuaku, mereka berdua tidak pernah mendidikku! AKU SUDAH SENDIRI SEJAK LAHIR!!!”

Para pedagang, pembeli, hingga orang-orang yang mungkin datang hanya sekadar ingin melihat-lihat, seketika berhenti dari segala aktivitas mereka.

Sebagian memang menatap kesal, tapi lebih banyak yang kemudian terenyuh setelah mendengar ucapan anak berambut pirang keemasan, dengan dua warna mata berbeda yang sebelumnya dicela pria tua itu, sebagai bagian dari para monster di pegunungan Bǫlverkr — rentetan panjang gunung-gunung dan beberapa bukit yang letaknya berada di bagian timur negeri Dømirez, yang juga sudah bukan rahasia lagi bagi setiap orang terutama dari Achyls, berisikan berbagai macam makhluk aneh yang selalu diklaim jahat, beringas, menakutkan sampai terkutuk — yang meski kemudian, pria tua itu juga ikut merasa tidak enak hati.

“Ingram Jakoobäh! Apa yang kau pikirkan, menghilang begitu saja?!”

“Duke Oakley, dia...”

“Apa? HAH?!!!”

Duke Oakley yang baru datang serta merta ikut membulatkan kedua matanya. Ia betul-betul tercengang dengan pemandangan yang ada di depannya.

.

.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

pat_pat

pat_pat

boomlike ❤️

mampir juga yuk ke Preman Cantik & Ratu Serigala 🤗

2021-10-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!