Bab #2

Ular yang melilit kakiku serta merta kabur setelah mendengar teriakan mengintimidasi dari salah satu pria penunggang kuda, yang berada paling dekat dengan posisi kami. Aku entah kekuatan dari mana, berhasil menarik Neelix ke atas.

“Tidak ada waktu, cepat!”

Aku berseru pelan. Menarik kedua sekawanku untuk cepat-cepat berlari meninggalkan tempat persembunyian. Sementara beberapa meter tepat di belakang kami, irama benturan kasar ladam dengan tanah dari para penunggang kuda terdengar semakin mencekam.

Aku menoleh ke belakang. Jarak antara Horam dan aku tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi Neelix, ia benar-benar tertinggal sangat jauh dari kami.

Neelix sepertinya sadar sedang diperhatikan. Ia tersenyum, berusaha keras mempercepat gerakannya menyusul Horam dan aku.

Dari jarakku sekarang, sekitar lima belas sampai dua puluh meter. Tampak samar-samar sebuah kubah menara berwarna biru kusam dengan arsitektur neogotik, menyembul di antara kumpulan kabut putih.

“Sedikit lagi.”

Aku bergumam lirih. Peluh mengucur deras dari setiap sudut tubuhku. Semakin lama pandanganku semakin tidak jelas. Butiran asin keringat yang melimpah lebak menyelusup beringas melewati bulu-bulu mataku.

TAK!

Sebuah anak panah dengan tubuh mengilap, yang kutebak kemungkinan besar berbahan dasar logam, karbon atau obsidian, merobek dalam salah satu batang pepohonan Ara.

Bulu berwarna biru dengan garis-garis emas, membuat Neelix, Horam dan aku berlari merunduk. Takut, kalau-kalau ada anak panah lain yang melesak dari langit.

Bunyi hantaman tapak kaki kuda dengan tanah terdengar semakin dekat. Kerikil-kerikil yang bersembunyi di balik timbunan pasir, ikut terpacul timbul ke permukaan. Aku menatap lekat miniatur bangunan bernuansa kelabu yang hanya tersisa beberapa meter lagi di depanku.

‘Tinggal sedikit lagi.’

“Rashn!”

Horam berteriak lirih memanggil namaku. Aku berhenti sejenak, menatap gusar kondisi Horam dan Neelix yang terlihat sudah sangat-sangat kelelahan. Melihat keduanya aku baru sadar, sendi-sendi di seluruh tubuhku juga sudah lama mati rasa.

Aktivitas terbenam tuan matahari membuat langit di atas kami yang sudah suram karena rerimbunan pohon, semakin bertambah tiga kali lebih gelap dan muram dibanding ketika masih siang.

Aku menatap pasrah ke arah langit kemerahan di timur dan tanpa sengaja, potret jembatan gantung setengah rusak yang hanya berjarak empat lima langkah dari tempatku berdiri, tiba-tiba membuatku merasa seolah-olah dewi Fortuna sedang mencurahkan sedikit kebaikannya kepada kami—si anak-anak malang.

“Horam! Neelix!”

Aku berseru cepat menghampiri keduanya. Air muka mereka nyaris benar-benar tiga ratus enam puluh derajat angkat tangan, alias pasrah.

“Kalian lihat jembatan itu?”

“Ya, terlihat rusak parah dan rapuh.”

“Kau benar. Tetapi sebelumnya, kalian ingat perkebunan salak milik Nyonya Amber?” Horam mengangguk cepat dan Neelix ikut mengangguk setelah melirik Horam. Aku menarik nafas dalam-dalam.

“Kalau aku tidak keliru, sekilas dari balik pagar paling belakang perkebunan salak Nyonya Amber ada sebuah besi panjang yang sudah sangat berkarat. Neelix, kau suatu kali pernah bertanya padanya tentang si besi karat itu dan dia menjawab kurang lebih seperti ini ‘Ah, besi itu adalah bagian dari jembatan gantung, dekat dengan jalur perbatasan hutan kita.’ Jadi, setelah lama kupikir-pikir. Mungkin kita bisa mencoba memotong jalan dengan melewati jembatan itu, tentunya dengan sangat berhati-hati.”

Aku berucap panjang lebar. Horam menatapku gugup dan Neelix tidak bereaksi apa pun. Mungkin lebih tepatnya, ia sama sekali tidak menangkap penjelasan kilatku barusan.

Sedangkan di belakang kami, suara tapak kuda dua ratus persen terdengar lebih dekat dari sebelumnya. Namun kami masih beruntung, belum ada tanda-tanda kemunculan mereka — tuan-tuan penunggang kuda — di belokan hutan.

“Baiklah, Rashn. Apa pun yang terjadi kami percaya padamu.”

Horam menepuk kedua pundakku pelan. Aku tersenyum haru. Neelix ikut berseru girang, segera melangkah memimpin jalan menuruni tanah tinggi. Hanya butuh beberapa langkah, di hadapan kami sudah tersuguh jembatan yang terlihat betul-betul usang.

“Aku akan jalan duluan.”

Baru satu langkah, suara krak panjang membuat jantungku hampir copot. Percikan debu dan kayu melayang jatuh ditelan gumpalan kabut. Samar-samar aku melirik keadaan di balik kabut.

‘Sesuatu berwarna biru.’

Aku meneguk ludah susah payah. Kemungkinan terburuk yang sekarang membayangi pikiranku, adalah sebuah laut biru yang super besar, dalam, gelap dan mungkin sekali dipenuhi makhluk-makhluk air mengerikan, seperti Kraken si cumi-cumi raksasa atau mungkin, monster hiu raksasa, Megalodon.

“Rashn..?”

Aku menengok ke belakang. Horam dan Neelix terlihat sangat khawatir. Tapi, bukan Rashn namanya, jika takut dengan sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat dengan mata kepalanya sendiri.

KRIET!

Aku melangkah untuk yang kedua kalinya. Lalu ketiga, kemudian Horam dan Neelix mulai mengikuti dengan sangat waswas dari belakang.

Udara kian dingin seiring dengan langkah kami yang semakin mendekati ujung jembatan. Neelix sudah melewati setengah jalan dan aku hanya butuh beberapa langkah lagi sebelum mencapai permukaan tanah.

‘Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, lima langkah, tujuh langkah, sembilan lang...’

TAK!

.

.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!