Kedua manik mataku menatap tidak suka empat deret figur tidak familier di depanku. Bahu kanan kiriku menegang berang seiring pegal dan keram yang terus menjalar di antara lipatan otot-otot kedua kakiku.
“Aku percaya kalau Nyonya sudah sebelumnya mendengar tentang kabar wafatnya Putra Mahkota Sëraphyn, Liu Rain.”
Aku melirik diam-diam dari sudut mataku, Bibi Marcy kelihatan lebih kalem dibandingkan ketika kali pertama dua tamu sebelumnya, Duke Oakley dan Ingram Jakoobäh datang ke rumah dan memberitahukan kabar yang kurang lebih sama dengan yang diucap sosok bernama Dhruv Èithne.
“Dan keberadaan kami berdua termasuk dua orang sebelum kami, Oakley dan Ingram di sini, adalah karena Yang Mulia Zelîg telah menugaskan khusus kami, para AoifBrëe untuk mencari dan membawa kembali D'Or Cyrille ke Sëraphyn.”
Dhruv berhenti sejenak menegakkan punggungnya.
“Jadi...”
“Se-sebentar. Apa tuan tadi mengatakan A-AoifBrëe?”
Baru saja Dhruv mengucap satu patah, Horam di sebelah Bibi Marcy dengan tanpa sopan santun sudah lebih dulu menyerobot kilat memotong kalimatnya. Nada gemetar dan kilatan cahaya dari kedua pupil gelap Horam membuat aku yang sempat tidak mempedulikan kata AoifBreë, kini malah keringat dingin sendiri memikirkannya.
Jelas, tidak ada orang bodoh, bahkan seorang bangsawan berpendidikan lagi terkaya sekalipun berani menyebut nama pasukan khusus Sëraphyn, AoifBreë.
Rumor dari negeri di daratan timur seperti Lìondre dan Yolstråt pun tidak pernah enak didengar jika sudah berhubungan dengan figur dua belas ksatria berbadan gagah, berkharisma, berkemampuan spesial plus berdarah dingin hingga tidak dapat diindahkan tentunya, mereka semua super hebat dalam setiap pertarungan, tidak penting siapa lawan dan kekuatan macam apa petarung lawannya miliki.
Intinya, bukan merupakan hal baik membicarakan tentang selusinan manusia menyeramkan bertitel ksatria suci Sëraphyn itu. Meski aku pula lebih sering mengabaikan, tetapi melihat empat sosok AoifBreë bertamu ke kediaman tempat tinggal terdamaiku bukanlah sesuatu yang bisa diacuhkan begitu saja.
Apalagi jika dipikir kembali dengan kejadian di Liroz 'Vallo beberapa waktu lalu, besar kemungkinannya kalau Dhruv memang tidak berbohong dan itu artinya sekarang, bukan hanya eksistensiku saja yang berada di ujung tanduk, melainkan seluruh orang-orang terdekatku, keluarga kecilku.
“Benar. Dhruv adalah komandan utama AoifBrëe dan Vir sebagai wakil komandan.”
Vir tersenyum simpul ke arah kami bertiga sesaat setelah Duke Oakley selesai menjelaskan.
“Be-begitu, ya.”
Horam seketika menciut, berbeda sekali dengan reaksi ribut antara isi kepala kanan dan kiriku yang malah sibuk berperang melempar argumen satu sama lain.
Peri Merah: ‘Ini menakutkan! Kita perlu, wajib, fardhu, menghindar! Segera usir para pembohong itu dan atau jangan banyak pikir lagi, kabur saja langsung!’
Iblis Biru: ‘Kabur?! Kabur artinya bunuh diri dan pikirkan dengan jernih, bagaimana jika ternyata mereka memang berniat baik? Tidak akan ada kesempatan seperti ini lagi, tahu!’
Peri Merah: ‘Jelas-jelas mereka tidak bisa dipercaya! Dan waktu tidak akan mungkin bisa diulang kembali, sekali masuk dalam perangkap harimau, maka kita akan terjebak selamanya dan tentu hanya tinggal menunggu waktu sebelum makhluk bengis itu menerkam habis daging segar kita!’
Iblis Biru: ‘Konyol sekali! Hei bocah, dengar baik-baik! Menghindar atau tidak pun hasilnya tidak akan berubah. Lihat saja pancaran kelewat serius dari kedua mata setajam elang mereka.’
Peri Merah: ‘Berhenti! Jangan terpengaruh perkataan makhluk jelek itu, kita jelas akan mati! Aku ulangi sekali lagi, kita semua dan keluarga tercintamu itu akan mati! Kita akan kembali ditinggalkan, kau dan kami hanya akan hidup sendirian bersama barisan menyedihkan kuburan tanpa nisan mereka!’
Iblis Biru: ‘Pikiran liarmu sudah melewati batas! Tapi baiklah, kita bisa menguliti terlebih dahulu maksud abu-abu mereka. Provokasi mereka dan perhatikan sungguh-sungguh bagaimana reaksi mereka! Puas?!’
Peri Merah: ‘Satu persen diterima. Baiklah, jangan ulur waktu lagi! Segera kita mulai interogasinya!’
“Jadi, Rashn?”
Suara dingin Ingram Jakoobäh serta merta membuatku tersadar dari lamunan runyam di balik tempurung kepalaku. Beruntung, pergulatan dahsyat kedua belah jaringan otak kiri dan kananku sudah terselesaikan dan hanya tinggal menjalankan praktek resminya.
“I-itu...”
“Ya?”
Aku menengguk susah payah air ludahku, lalu menarik nafas sebentar sembari setelahnya membasahi bibir atas dan bawahku gugup. ‘Ah, masa bodoh!’
“Ehm, bagaimana jika aku ternyata bukan Cyril dari yang tersebut dalam ramalan? Apa—apa setelahnya aku akan dibuang? Atau mungkin aku,”
Tenggorokanku dua ratus persen bertambah gersang. “...aku akan dibunuh?”
Bibi Marcy mengurut jari-jemariku ringan. Apa mungkin hanya perasaanku saja? Telapak tangan Bibi Marcy saat ini terasa dua tiga kali lipat lebih kasar dari biasanya.
“Jikalau memang kau bukan Cyril sebenarnya, tetap tidak akan terjadi apa-apa kepadamu, Rashn. Dan kami berani menjamin itu. Tapi meski begitu, bukan berarti pula kau akan dapat dengan bebas lantas pulang kembali ke Achlys.”
“Apa maksud anda, Tuan?”
Keningku bertumpuk tebal, tidak mengerti sama sekali dengan serangkaian kalimat panjang yang dilontarkan Vir Bjørn.
“Rashn, bagaimana pun hasilnya nanti, Yang Mulia Zelîg sebenarnya telah lebih dulu menetapkan dirimu sebagai pemimpin selanjutnya.”
Duke Oakley menarik sudut-sudut bibirnya ramah, kedua alisnya menukik dalam dengan pandangan mata yang tertancam kelewat pas di kedua iris biru safir dan hazelku.
“Ti-tidak mungkin.. pa-pasti itu.. pasti anda salah dengar..!”
Ritme kerja dua serambi dan dua bilik jantungku seolah berubah kacau balau, lupa sama sekali mana yang bertugas memompa darah bersih dan mana yang mencuci darah kotor. Lebih gila, dengan kondisi para minion oksigen yang tidak tahu bagaimana malah terjepit idiot di antara sekat-sekat tidak teratur katup jantung.
‘Apa kutukan orang-orang bodoh itu akhirnya menjadi kenyataan? Sial! Sebegitu bejibunnya kah, dosa-dosaku?’
“Selain itu, kurasa kau betul-betul tidak perlu sedikit pun khawatir. Sebab tidak hanya menurut sudut pandangku saja, melainkan ketiga sosok lain yang juga duduk di hadapanmu ini, mereka pula sama-sama percaya bahwa kau adalah sosok Cyril terakhir sesuai ramalan.”
“Tunggu, tunggu! Bagaimana anda, tidak, tuan-tuan berempat bisa sangat yakin kalau aku adalah Cyril yang tuan-tuan cari?”
Aku semakin mengencangkan gencetan paksa gigi geraham atas dan bawahku. Walau jujur, sesuatu dalam diriku mulai sedikit lega, melihat gerak-gerik keempat tamu dari AoifBreë ini yang meski kelihatan tajam dan misterius tetapi tetap terus konsisten beraroma natural.
“Kedua matamu, rambutmu dan energi yang meski masih samar dan sangat tidak stabil dari tubuhmu. Tidak salah lagi, Rashn, kau adalah D'Or Cyrille.”
Vir menyebut satu-satu dengan lugas dan simpel, namun masih tetap saja belum membuatku sepenuh hati berniat mengiyakan ucapannya.
“Dan, kotak ini. Berterima kasihlah kepada Nyonya Marcy yang telah menyimpan dan merawatnya dengan sangat baik.”
“A-apa ini?” Aku, bahkan juga Horam spontan membelalak lebar. Sebuah kotak berukiran mewah yang beberapa hari lalu sempat Horam, Neelix dan aku lihat saat dua ksatria AoifBreë pertama bertamu, sekarang sudah tersuguh manis di atas meja. Kelima jari-jemari kananku bergerak bimbang menyentuh tutup kotak.
“Maafkan aku Rashn, karena tidak pernah memberi tahumu. Tetapi kurasa, ini sudah waktunya untukmu kembali mengikuti jalur takdirmu yang sebenarnya.”
Bibi Marcy menatap nanar kotak berwarna keemasan dengan ukuran rumit berlogo naga yang terasa asing sekaligus familier secara bersamaan. Embusan membekukan dari angin malam dan bunyi ngilu decitan gerbang penuh karat di depan membuatku semakin menggebu-gebu ingin melontarkan pertanyaan ini dan itu.
“J-jadi..?”
CKLEK!
“Bibi Marcy..? Eh, emm.. a-apa.. apa yang sedang terjadi?”
Belum saja aku sempurna berucap bahkan satu patah kata, Neelix, dengan rambut acak-acakan khas bangun tidurnya berdiri tidak nyaman di depan pintu. Jari-jemarinya yang masih menggenggam kenop pintu sudah basah penuh keringat.
Meski sepersekian detik kemudian, Bibi Marcy dengan senyum dipaksakan menepuk-nepuk pelan tempat kosong di belakangnya. Neelix pun duduk, dan aku yang sudah selesai mengorganisir detak jantungku dengan agak grogi memandang bergantian satu-satu tamu di depanku.
“J-jadi, tuan-tuan. Apa yang spesial dari kotak ini?”
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments