“Rashn, Neelix, Horam! Tolong bantu bibi antarkan pie nanas dan apel ini ke kediaman Tuan-Nyonya Frodie dan tolong sampaikan juga salam bibi kepada Tuan Queè.”
Aku menatap Bibi Marcy yang mengelus lembut pucuk kepalaku, Horam, juga Neelix secara bergantian. Tetapi, bukan perasaan hangat seperti biasa yang aku rasakan.
Tidak tahu juga apa nama semua perasaan membingungkan ini. Namun, instingku mengatakan. Semua perlakuan Bibi Marcy saat ini benar-benar terasa baru, aneh, atau mungkin, jika lebih detail dideskripsikan, mirip dengan sesuatu yang asing dan agaknya terlihat amat menakutkan, bahkan untuk sekadar dibayangkan.
“Baik, Bibi Marcy. Kami akan segera kembali.”
Horam dan Neelix sudah berjalan lebih dulu membawa pie-pie itu keluar dari rumah. Aku menghela nafas sebentar, sembari selintas melihat punggung Bibi Marcy yang kemudian masuk ke dalam dapur.
Sementara di luar rumah, dua pria besar itu duduk dengan santainya di tikar-tikar kecil pemberian Tuan dan Nyonya Frodie tiga bulan lalu.
Tuan dan Nyonya, pasangan tua yang kelihatan cukup kaya. Tidak mempunyai anak, tetapi senang mengurusi anak-anak kurang beruntung.
Anak-anak yang kehilangan atau lebih tepatnya ditelantarkan orang tua, juga keluarga mereka, melalui sebuah panti asuhan lumayan besar yang mereka kelola bertiga bersama Tuan Queè—seorang mantan pedagang giok dari Lìondre.
Panti asuhan yang dikenal dengan nama, Trixy-Neths dan ditambah, mereka bertiga juga merupakan tetangga paling dekat dengan Bibi Marcy.
“Rashn, apa yang sedang kau lakukan masih berdiri di situ?”
Aku menoleh kaget. Bibi Marcy ternyata sudah keluar dari dapur dengan sebuah nampan persegi panjang bening, berisikan dua cangkir teh dan sepiring kecil kue-kue kering dari Cielka.
Singkatnya, Cielka adalah salah satu dari lima daerah paling maju yang terletak di jantung negeri Achyls dan merupakan lokasi inti pabrik-pabrik besar, toko-toko mewah, dan berbagai bentuk bangunan megah lainnya, milik para bangsawan arogan pribumi, maupun imigran-imigran berstatus tinggi yang rata-rata berasal dari timur dan selatan bumi.
“Rashn?”
“Kalau begitu, aku pergi dulu dan bibi, jaga diri bibi baik-baik. Juga, a-aku menyayangimu.”
Bibi Marcy tersenyum lembut. Aku lalu buru-buru berjalan cepat melewati pintu samping—tempat keluar yang sama dengan Horam dan Neelix lalui beberapa waktu lalu.
Namun, baru dua-tiga langkah melewati pintu, dadaku mendadak terasa sesak, wajah dan terutama kedua mataku juga ikut memanas.
‘Bibi Marcy, apa bibi juga akan pergi seperti mereka? Atau mungkin, aku yang seharusnya pergi, karena selama ini aku hanya bisa terus menyusahkan bibi?’
“Rashn!”
Aku tersentak kaget. Langsung terbangun dari lamunan panjangku, sesaat setelah mendengar suara Neelix yang berteriak dengan agak berbisik. Cepat-cepat aku lalu menoleh dan agak membelakangi pintu.
Sementara, di sini aku. Sedari tadi, mengira Horam dan Neelix yang terlihat begitu baik-baik saja ketika Bibi Marcy, yang sangat jelas hanya ingin membuat kami pergi lewat alasannya meminta kami untuk mengantarkan pie-pie dan sepatah salam kepada tiga tetangga kesayangannya itu.
Namun, aku ternyata salah besar. Saat ini yang kudapati malah air muka Horam dan Neelix yang sama khawatir dan bingungnya dengan diriku.
“Kurasa, aku bisa mengantar pie ini sendiri dan kalian bisa tetap mengawasi dua tamu misterius itu.”
Neelix berkata penuh pengertian, lalu segera beranjak pergi sesaat setelah melihat Horam yang refleks mengangguk mantap. Aku pun kemudian hanya dapat melambai. Menatap sangsi kepergian Neelix, yang dengan kilat hilang di belokan.
...⚔⚔⚔...
“Maaf, sudah membuat tuan berdua lama menunggu.”
Seorang wanita berbadan gempal dengan ikat kepala kain etnik berwarna campuran cokelat tua, hitam dan merah marun, berjalan agak gugup membawa nampan putih berisikan dua gelas teh dan sepiring kecil kue kering.
Dua orang tamu berbadan kekar dengan tampang yang jelas sekali bukan bagian dari warga biasa, yang juga sedang duduk bersila tepat di hadapan si wanita gempal, dengan sopan menerima gelas-gelas yang wanita itu sodorkan.
“Sebelumnya, boleh aku tahu, siapa dan dari mana asal tuan berdua?”
Dua orang tamu itu serta merta tersenyum ramah, lalu dengan mantap menanggapi pertanyaan yang dilontarkan si wanita gempal, yang tengah beranjak duduk di depan mereka.
“Aku, Duke Oakley dan ini, Ingram Jakoobäh. Kami berdua sedang dalam penugasan Yang Mulia Zelîg dari Sëraphyn.”
Si wanita gempal sontak membelalakkan kedua mata tuanya ketika mendengar jawaban yang keluar dari kedua belah bibir, salah satu tamu di depannya, yang baru beberapa detik lalu memperkenalkan dirinya sebagai Duke Oakley.
“D-Duke Oakley?” Tentu, akan sangat tidak sopan, jika wanita itu tidak terkejut.
Seorang gubernur besar dari tanah bagian timur Sëraphyn, Ovhra 'Eill, atau yang lebih dikenal sebagai ‘Negeri Harta Karun Bumi’ dikarenakan besarnya produksi industri perhiasan terbaik, berupa mutiara, perak, emas, ribuan jenis bebatuan indah, hingga beraneka ragam warna sutra murni berkualitas tinggi.
Namun sebenarnya, yang membuat wanita di penghujung usia empat puluh tahun itu lebih terkejut, adalah fakta bahwa kedua tamunya ini sedang dalam penugasan yang diperintahkan ‘langsung’ oleh pemimpin dari negeri paling berpengaruh dan disegani di seluruh bumi, selama lebih dari seribu tahun terakhir, Sëraphyn.
“Aku, Bibi Marcy, wali asuh Rashn saat ini.”
Wanita gempal pemilik rumah tua itu, Bibi Marcy, tersenyum canggung dengan kerutan di antara kedua alisnya, yang kini nampak lebih keriting dari sebelum dia melangkah membawakan jamuan untuk kedua tamu terhormat itu.
Sementara Duke Oakley, ia seolah tidak menangkap kecanggungan Bibi Marcy, hanya balas tersenyum sambil mengangguk-angguk santai.
“Maaf sebelumnya, tapi itu berarti anda... Ehm, Nyonya bukanlah orang tua kandung Rashn?”
Bibi Marcy menggeleng pelan. Senyum tipis yang menghiasi wajah yang sudah mulai tidak kencang itu, betul-betul terlihat sangat suram dan tidak mengenakkan.
Ingram Jakoobäh lantas menarik nafas sebentar, sembari diam-diam mengecek kembali rangkaian kata, yang sejak tadi hanya bisa berputar-putar di balik timbunan helai-helai rambut putih tebalnya.
“Jadi, apa Nyonya tahu ke mana orang tua Rashn berada sekarang?” Ingram akhirnya buka suara. Nada bicaranya, ia kendalikan dengan sesopan dan sehati-hati mungkin.
“Keduanya, sudah tiada. Mereka berdua... sudah sangat lama berhenti bernafas.”
“Oh, maafkan aku.”
“Tidak perlu minta maaf, Tuan dan Nyonya Besar sekarang sudah tenang di atas sana. Mereka orang-orang baik dan begitu juga Rashn-ku.”
Duke Oakley dan Ingram Jakoobäh hanya bisa menatap pilu. Lidah keduanya mendadak ikut kelu untuk mengucapkan tujuan dan maksud mereka yang membantu si wanita gempal.
“Maaf, sebentar.” Namun, tanpa diduga-duga. Bibi Marcy malah berjalan cepat melewati pintu masuk.
Tapi, hanya beberapa detik dan Bibi Marcy yang sempat ditatap bingung oleh kedua tamunya itu, kini sudah kembali duduk dengan sebuah kotak berukuran mini, berwarna keemasan, dengan ukiran rumit nan mewah di sekeliling tutup bagian atas dan dinding luar kotak.
“Jika tuan berdua memang benar adalah ksatria yang ditugaskan Yang Mulia Zelîg dari Sëraphyn, maka sudah waktunya bagiku untuk mengembalikan kotak ini, beserta seluruh isi di dalamnya.”
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
tamii
hai kakak author salam kenal..
aku mampir nih udah ku kasi boom like juga
mampir juga yuk keceritaku "ISTRI KONTRAK PRESDIR KEJAM"
2021-10-21
1