Bab #15

“Kau tahu Rashn, apa yang dia katakan?” Tuan Queè melempar tatapan sok misterius sembari bertanya dengan nada bicara yang membuat Horam dan Neelix pun kian berkali-kali lipat menyimak antusias.

“Masih sangat jelas di ingatanku setiap patah demi patah kata dan intonasinya, ‘Wah, kau sangat beruntung bertemu denganku. Negeri itu memang tidak tertulis di peta atau lebih tepatnya di peta biasa. Jadi jelas, orang-orang biasa sepertimu kecil sekali kemungkinannya untuk tahu apalagi menemukan negeri istimewa itu...”

Tuan Queè berhenti dan menyesap air di cangkir berisikan teh jahe kesukaannya lamat-lamat.

“...Tapi tenang saja, kawan. Kau bisa percaya padaku. Jadi, untuk hari ini istirahatlah dan kita akan berangkat pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit sempurna ke tujuan istimewa kita, Achlys.’ Dan begitulah, bagaimana aku bisa mengantarkan giok-giok itu, lalu akhirnya datang kembali dan memutuskan untuk tinggal menghabiskan sisa umurku di Achlys kita ini.”

Tuan Queè menutup ceritanya dengan senyum lebar. Tetapi meski begitu, kerutan di antara kedua alisku tetap saja tidak menghilang dan sebaliknya, malah kian menebal tidak puas.

“Tuan Queè, boleh aku mengajukan pertanyaan?” Aku menatap Tuan Queè tidak sabaran.

“Oh, tentu. apa yang ingin kau tanyakan, Rashn?” Tuan Queè menjawab berseri-seri, kedua jemarinya ikut tertaut rapi tepat di depan lambungnya.

“Jadi, Tuan Queè.. Bagaimana sampai negeri kita ini, dihapus atau mungkin lebih tepatnya, terisolasi dari dunia?”

Horam dan Neelix tampak bergerak-gerak cepat menyamankan duduk mereka.

“Pertanyaan yang bagus, Rashn.”

Tuan Queè menatap sebentar langit-langit pualam di atas kami. “Saat perjalananku bersama Tuan Hexer, aku juga mengajukan pertanyaan serupa denganmu dan kurang lebih jawabannya adalah karena dulu—dulu sekali, Achlys bukanlah sebuah negeri dengan pemimpin, kerajaan atau semacamnya.”

Tuan Queè dengan gerakan kilat, tiba-tiba beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati lemari jati berisikan puluhan buku tua yang sebagian besarnya berbadan gemuk.

“Achlys, singkatnya adalah sepetak tanah yang diberikan ketiga dewa tertinggi kepada Oìzys, sang dewi kesengsaraan, kecemasan, kesedihan, dan depresi agar dia kembali merasa senang dan tidak lagi menyebarkan aura negatifnya terutama kepada umat manusia.”

Tuan Queè berhenti memilah-milah buku dan mengambil salah satu buku bersampul keras berwarna hitam yang agaknya mulai memudar dan kelihatan paling tebal di antara deretan buku-buku lain.

“Dan sesuai harapan pemberinya, Oìzys hidup dengan damai, bahkan terlalu damai hingga ia bertemu dengan seorang pangeran dari... hm, aku tidak terlalu ingat darimana, intinya Oìzys kemudian jatuh cinta dengan pangeran tersebut. Sampai suatu hari, pelayan dan beberapa ksatria yang di bawahi sang pangeran membicarakan atau lebih tepatnya menggosipkan tentang alasan mengapa sang dewi malah tinggal sendirian di sebuah tanah tanpa kuil dan berlokasi betul-betul jauh dari kerumunan manusia.”

Tuan Queè kembali duduk di depan kami dan jemari keriputnya lantas bergerak membetulkan sedikit letak kacamata tuanya sambil mulai membolak-balikkan halaman buku.

“Tapi, bukan itu yang membuat Oìzys marah. Sang pangeran yang keesokan paginya sudah siap dengan baju zirahnya mendatangi Oìzys dan berkata bahwa ia harus segera kembali ke negerinya.”

Suara berderak dari pintu tengah mengalihkan tiba-tiba fokus Tuan Queè, tetapi segera kembali menatap lurus tulisan bertumpuk di bukunya sesaat setelah tidak mendapati apa-apa.

“Dan Oìzys yang memang sempat tersulut ucapan para bawahan pangeran, langsung berteriak marah dan tanpa bertanya lebih detail alasan sang pangeran ia kemudian mengutuk semua orang yang berada di negeri itu.”

Neelix yang sempat sepat dan mengantuk seketika berbinar cerah mendengar kata kutukan yang keluar dari bibir agak pucat Tuan Queè.

“Termasuk sang pangeran?”

Tanpa sadar aku bergumam lumayan kencang dan Tuan Queè yang mendengarnya lantas tersenyum kecil.

“Benar, lebih khususnya sang pangeran. Jika, manusia lain hanya dikutuk untuk tidak pernah merasa bahagia kecuali jika mereka berhasil bertemu dengan seseorang yang tulus dan merupakan takdir sejatinya, sang pangeran dengan malangnya dikutuk agar terus hidup abadi dan tidak akan pernah bertemu si pembebas kutukan sebesar apa pun usaha yang dikerahkan untuk mencarinya.”

Horam, Neelix dan aku terkejut mendengar isi kutukan Oìzys yang di sebutkan oleh Tuan Queè.

“Tapi, sayangnya Oìzys tidak tahu kalau cinta sejati sang pangeran adalah dirinya sendiri, sampai Nõrns yang merupakan penenun takdir tidak tega dan akhirnya membacakan Kīsmet milik sang pangeran dan Oìzys.”

Neelix mengerutkan keningnya tebal, bibirnya menganga sebentar seolah ingin mengatakan sesuatu namun tidak jadi.

“Karena kesedihannya, Oìzys datang sendiri menemui sang pangeran yang sebab kutukannya, tidak dapat mengingat sama sekali tentang Oìzys. Namun, Oìzys tidak setitik pun marah dan malah sebagai bentuk penyesalannya ia membunuh dirinya sendiri dan dalam sekejap, memori milik sang pangeran kembali. Tetapi kemudian, ia langsung menangis tersedu-sedu melihat Oìzys yang sudah tidak bernyawa di depannya dan berubah menjadi sebuah pohon. Tamat.”

Tuan Queè kembali menyeruput sisa teh jahenya yang sudah lama dingin.

“Akhir yang menyedihkan.”

Horam berkomentar tidak senang, kontras dengan dengan Neelix yang malah menitikkan air mata mendengar final dari cerita Tuan Queè.

“Hm, satu lagi.” Aku sekali lagi mengangkat tangan penasaran. “Apa itu berarti—pohon Oìzys ada di sini? Di tanah Achlys kita?”

.

.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!