Hanya tersisa dua langkah lagi. Tetapi di depanku, sebuah anak panah kembali melesat memecah bagian luar batang pohon yang memang sudah tua dan pecah-pecah.
Aku amat tersentak. Namun, bukan karena anak panah yang tertancap mengerikan tepat di hadapanku, melainkan karena rebas darah segar yang menetes satu-satu dari luka gores di pipi sebelah kananku dan tidak butuh lama, bagi cairan merah berbau metalik itu untuk kemudian terjun.
Sebagian menciumi masygul papan kayu nibung, beberapa senti dari ujung alas kaki setengah rongsokku berpijak dan sebagian lainnya tenggelam, menembus kerumunan kabut gelap di bawah eksistensi kami bertiga.
“Ngghhh... “
Tubuhku mendadak menegang. Rasa nyeri berdentum-dentum disambut tusukan tajam layaknya gemuruh petir, menjalari brutal dari mulai tulang hidung, rongga mata, pelipis, kepala sebelah kanan dan kiri, hingga urat-urat saraf di sekeliling leherku pun ikut sesak.
Begitu menyesakkan, seolah tengah dicekik keji di antara pilinan serat-serat kasar tali tambang manila; milik orang-orang perkapalan Laut Timur.
“Euungghhh..!”
Lenguhan panjang lagi-lagi terlontar mulus dari kedua bibirku. Kilatan cahaya didahului bintik-bintik hitam dan sensasi panas bergelombang seperti tengah dicungkil-cungkil menggunakan besi panas pada kedua bola mata, perlahan menjadikan penglihatan setengah kaburku kian berat, lalu berputar-putar seiring keras kepalaku yang memaksa untuk tetap menajamkan pandangan.
“Rashn?!” Jemari dingin Horam menahan sigap bobot tubuhku yang agaknya tidak lagi stabil berdiri.
“Apa kau baik-baik saja? Kau berdarah?!”
“A-aku...”
“R-Rashn! K-kedua matamu..!” Seruan gemetar Neelix menjadikan cengkeraman Horam refleks mengendur.
“A-apa yang terjadi..”
Samar-samar Neelix tampak tengah mengerutkan kening lebarnya tebal. Tidak tahu apa karena memang penglihatanku yang sedang bermasalah atau entahlah. Neelix kelihatan begitu gugup. Buliran-buliran gemuk peluh sebesar biji jagung berlomba-lomba meluncur dari kedua pelipisnya.
“T-tidak apa-apa, Rashn. H-hanya saja, ehm.. kedua bola matamu berwarna tidak seperti biasanya... I-itu, mereka terlihat keemasan a-atau mungkin, perak? Ugh, y-yang jelas mereka berkilau.”
Tidak jelas apa yang baru saja diucapkan Horam. Pelukan meski gugup, namun hangat tanpa aba-abanya seolah telah lebih dulu menyihirku dan perasaan menyesakkan di setiap inci tubuhku pun mendadak sirna, bersamaan dengan ritme nafas putus-putusku yang perlahan kemudian menormal seperti sedia kala.
“T-tidak apa-apa, Rashn.” Tepukan pelan Horam dan langkah cepat Neelix di belakang membuat pikiranku kembali jernih.
“A-aku baik-baik saja.” Aku berucap lirih dan dengan gerakan pelan, melepas dekapan gamang Horam.
“B-benarkah?”
Aku tersenyum simpul, lalu sebisa mungkin mendahului cepat melewati jembatan. Sementara Neelix di belakang, serta merta ikut mempercepat langkah pendeknya dan Horam yang memang hanya butuh beberapa pijakan lagi, akhirnya kembali melanjutkan pergerakannya dan tidak sampai satu menit, kami semua sudah berkumpul dengan selamat di luar jembatan.
“Ehm, Rashn..?”
Horam dan Neelix yang sempat menatapku ragu-ragu, kemudian dengan agak tidak enak hati berjalan memasuki hutan, sesaat setelah aku mengangguk dan mengibas-ngibas tidak sabaran telapak tangan kananku.
“Aku akan segera menyusul.”
Aku menghela nafas sebentar, sembari dengan lamat-lamat menatap ke seberang jembatan. Seseorang tampak berdiri di sana, menunggangi kuda.
Aku pun semakin memicing untuk memperjelas penglihatan. Namun, kabut yang terlalu tebal dan langit yang sudah berganti malam, membuatku terpaksa hanya dapat melihat siluet hitam kelabunya.
“Rashn!”
Neelix berteriak lumayan kencang memanggilku. Aku berbalik. Posisi anak panah tadi menancap tidak terlalu tinggi di batang pohon. Cepat-cepat aku mencabutnya dan langsung berlari menyusul Horam dan Neelix masuk ke dalam hutan, yang juga beruntung sekali, karena perkiraanku kali ini tepat dan tidak cukup jauh, sebuah pagar kayu yang aku jamin adalah milik perkebunan salak Nyonya Amber membuat kami bertiga kembali bernafas lega.
Tanpa babibu kami pun meloncat melewati pagar dan kembali menuju destinasi favorit kami, rumah Bibi Marcy.
...⚔⚔⚔...
“Apa kalian berhasil menangkapnya?”
Duke Oakley menghela nafasnya pasrah, melihat para penunggang kudanya juga Ingram, tidak berhasil menangkap sosok yang sempat menguping dan mungkin, ikut serta menyaksikan dengan sangat jelas pembicaraan mereka.
“Baiklah, kalian silakan pergi lebih dulu. Aku akan naik kuda saja.”
Para penunggang kuda dan yang lainnya berjalan pergi meninggalkan Duke Oakley dan Ingram. Suasana menjadi sangat sepi. Hanya terdengar suara embusan angin, nyanyian burung hantu dan tapak dua kuda yang berjalan lambat; keluar menyusuri jalan perbukitan.
“Duke Oakley. Apa kau tahu apa yang ada di balik bukit ini?”
Ingram akhirnya buka suara. Duke Oakley berpikir sejenak. Netranya menatap suram langit malam yang tanpa taburan bintang maupun bulan, hanya kabut dingin menyesakkan yang tersisa.
“Bukit? Desa? Hm, kalau aku tidak salah di balik bukit ini ada sebuah permukiman kecil, atau kota kecil, entahlah. Tapi, dulu sekali, aku pernah mendengar Yang Mulia Zelîg menyebut sebuah negeri yang terletak di balik bukit, tertutup rapat dengan kabut dan benar-benar hampir seperti terisolasi atau mungkin mengisolasikan dirinya sendiri dari dunia.”
“Negeri apa itu?”
Duke Oakley tiba-tiba menghentikan pergerakan kudanya. Kedua bola matanya ikut terbelalak. Ingram yang melihat sontak menghentikan kudanya. Ia lalu menatap bingung penunggang kuda di sebelahnya.
“Duke?”
“Itu, Achyls.”
Ingram ikut terbelalak. Misi mereka bahkan belum dimulai, tetapi dewi kemenangan telah lebih dulu meniup trompetnya.
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Faeow—
Masih Mencoba Menghafal Setiap Nama Tokoh-Tokohnya.
2022-03-15
1