Satu hari sebelum perjalanan.
“Rashn, bukannya tuan-tuan itu sudah tahu jalan ke sana. Kenapa kita harus repot-repot pula mengantar mereka?!”
Keadaan pasar sama ramainya seperti biasa. Bahkan mungkin, lebih ramai karena terik panas mentari yang sudah mulai memudar, digantikan embusan ringan lagi menyegarkan angin sore.
Tapi, meski suasananya sangat pas untuk bersantai keluar rumah. Neelix yang berada di tengah-tengah aku dan Horam terus saja melontarkan gerutu tidak senangnya dengan aktivitas kami yang memang tidak hanya sekedar berjalan santai. Melainkan juga, mengantar dua tamu bangsawan itu berbelanja untuk perbekalan perjalanan mereka di Liroz 'Vallo.
“Neelix, kau ini. Berhenti menggerutu dan ikuti saja apa kata Bibi Marcy.”
Aku hanya mengangguk-angguk malas, merespons tanggapan Horam. Sedangkan dua tamu bangsawan di depan kami malah tampak tengah asyik beranjak dari satu kios ke kios lain.
“Ehm, Rashn. Apa kau juga akan ikut pergi bersama mereka?”
Neelix yang sempat merajuk mempoutkan konyol bibirnya, tiba-tiba kembali buka suara. Dan aku sebagai subjek pertanyaannya lantas hanya bisa diam. Termangu untuk beberapa detik sembari menatap kosong Neelix yang sudah berpindah tempat, duduk berjongkok kurang dari satu meter di depanku dan Horam.
“Ah, itu....”
BUGH!
KRAK!
“Euunggghhh!”
Belum selesai aku mengucap, sebuah suara benturan keras diiringi bunyi retak dan erangan kesakitan seseorang tepat di depan jalan masuk Liroz 'Vallo, membuat tidak hanya aku, Horam dan Neelix yang terkejut heran. Melainkan semua orang, bahkan yang berada di sudut terjauh dari tempat kejadian pun ikut melongok sepi.
Namun, hanya beberapa detik. Kasak-kusuk ocehan penasaran mulai ramai terdengar dan malah semakin membuat keadaan menjadi berkali-kali lipat lebih menegangkan.
“Siapa yang menyuruhmu?!”
Geraman marah sosok berpakaian sangat bangsawan dengan bilah tajam yang menyentuh kasar dagu pria bersetelan serba hitam di hadapannya, membuat semua pasang mata termasuk aku sendiri melempar tatapan ngeri.
Hampir sepuluh detik pun berlalu, tetapi sosok yang sedang ditodong pedang itu, meski dengan tubuhnya yang sangat jelas bergetar hebat, malah terus menutup rapat-rapat mulutnya. Bungkam.
“Dhruv?!”
Ayunan bilah tajam pedang berukuran besar di genggaman sosok bangsawan itu tiba-tiba terhenti. Potret punggung lebar seseorang yang tidak terlalu familier meski belum ada satu hari kutemui, tampak tengah kelewat beraninya berdiri sangat dekat dengan si bangsawan.
Tapi belum ada satu menit, sekitar tujuh delapan orang bersetelan serba hitam seketika muncul dan kembali membuat ribut suasana.
“Tsk! Bandit-bandit itu!”
...⚔⚔⚔...
“Hei, Rashn! Apa yang sedang terjadi sebenarnya?!”
Neelix yang berlari di belakang Horam berteriak histeris, sementara aku yang ditanya bahkan tidak sempat untuk sekedar melirik. Degup jantungku bukan main ramainya, tiga orang bersetelan serba hitam dengan pedang panjang, entah sudah berapa lama terus mengejar kami atau mungkin lebih tepatnya mengejar aku.
‘Tsk, kenapa keberuntunganku makin kecut setelah bertemu tamu-tamu itu!’
Geraman internal di dalam diriku meraung kian sentimen setiap kali mengingat dua tuan-tuan yang dalam keadaan seperti ini malah menghilang tanpa jejak.
“Rashn, awas!”
Teriakan Horam refleks membuatku dengan mulusnya berhasil menghindari tebasan bilah tajam satu orang lain bersetelan hitam yang tiba-tiba meloncat keluar dari salah satu kios pedagang buah-buahan.
“Ra-shn..!”
Belum habis keterkejutanku, Neelix yang memang sejak tadi bergerak paling lambat dari aku, bahkan Horam, tampak tengah melempar pandangan super ketakutan melihat bilah pedang yang sudah bertengger manis menyentuh kulit leher pualamnya.
Sementara Horam yang berjarak lumayan dekat dari lokasi Neelix sontak langsung membeku di tempat, kedua bahu dan kesepuluh jari-jemari tangannya dari belakang tampak bergetar hebat.
“Tsk! Lepaskan dia!”
Aku tanpa pikir panjang lagi melangkah kilat menghampiri Neelix sambil sebelumnya menepuk agak keras bahu kanan Horam dan beruntung, tak butuh waktu lama bagi Horam untuk langsung tersadar dan mengikuti cepat di belakang.
“Hiks, Rashn....”
Neelix terisak tertahan, aku dan Horam yang meski sangat kaget melihat darah menetes di perbatasan leher Neelix dan bilah tajam pedang, refleks melaju dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
Namun hanya tinggal kurang lebih tiga meter, tiga orang bersetelan hitam yang memang lebih dulu mengejar kami sejak tadi; sehalus desisan angin malam muncul dari kiri-kanan jalan.
“UGH!”
Aku meringis perih. Partikel-partikel kecil serupa debu dan atau serbuk terurai bebas di udara. Ketiga orang berpakaian suram mengepung sambil menodongkan ujung pedang mereka dengan garang ke arahku setelah dengan liciknya melemparkan sesuatu dari dalam kantong hitam bertali putih di cantelan sabuk kelabu tebal mereka.
“Kalian.. AKH!”
Bunyi dengungan hebat menghantam tepat gendang telingaku. Sekilas, Horam kelihatan tengah menutup mulutnya rapat-rapat. Pandangannya berair dan memerah, kulit pucatnya berpeluh deras.
“Dia, orangnya.”
Selaput bening di kedua bola mataku seolah tengah dirobek-robek ganas. Panas membilu menyalak ribut menjalari setiap bucu sendi-sendiku. “Sial, jangan lagi.”
Aku berucap lirih dan seperti yang sudah-sudah, keadaan paling tidak aku harapkan di momen-momen genting macam ini tentu akan sulit jika harus dengan tiba-tiba bertindak di luar rasionalitas. Namun bukan salahku, mereka yang lebih dulu memulai.
“HEUK! AKH..”
Sosok dengan garis luka diagonal di mata kirinya memelotot gering. Jakun di lehernya berhenti naik turun. Sementara dua komplotannya di depanku hanya bisa tercengang dengan pegangan pedang mereka yang berguncang panas dingin tanpa tanda-tanda akan berkutik sedikit pun.
“T-to-lo-ng..!”
“Hei, apa yang kalian berdua lakukan?! Cepat habisi dia!”
Seorang kawan dari ketiga orang berpakaian serba hitam dengan bilah pedang yang semakin menekan intens leher Neelix, sukses membuatku lebih murka dari sebelumnya.
Tetapi memang tidak jauh dari tipikal bandit-bandit liar dan arogan, kedua komplotan yang masih bebas bergerak ke sana-kemari mengayunkan asal pedang mereka ke arahku.
“AKHHH!”
Nyaris. Kalau tidak karena gerakan spontanku melepas cekalan di leher sosok bertubuh agak berisi di depanku pastilah, bilah belati perak yang dilayangkan kilat salah seorang dari dua kawan komplotan hitamnya mungkin sudah menancap indah di paha atau lebih buruk, di sekitar lambung kiri bawahku.
“Aku tidak peduli siapa atau dari mana asal kalian. Tetapi jika kalian melukai teman-temanku, maka dengan segala hormat tuan-tuan, akan aku pas...”
KLANG!
“HEUK!”
BUGH!
“Eunghhhh..!”
Belum sempat aku menyelesaikan aksi ancam-mengancamku, siluet pedang diiringi nyaring gemerincing lonceng yang terkesan antik sekaligus magis menebas sedingin embusan angin malam lautan utara Apce — pulau nelayan di barat laut luar ibu kota Achylis; dekat dengan jalur perbatasan militer laut Dreux, kerajaan Rûby — dan dalam sekejap kedua pria bersetelan hitam itu tumbang; bersimpuh menyedihkan sembari memegangi perutnya atau dengan posisi agak memalukan, tersungkur bahkan terlentang di atas tanah yang tidak bisa dibilang bersih, penuh kerikil dan tentunya berdebu.
“Jatuhkan senjatamu!”
Figur misterius bertubuh tinggi besar terlihat begitu gagah dan sangat berwibawa dengan suara raspy baritonnya memberi perintah, bersamaan dengan gerakan elegan namun kuat, jari-jemari besarnya melayangkan moncong pedang ke arah satu-satunya sosok bersetelan hitam yang masih kukuh berdiri; menekan semakin dalam bilah pedang membentur kulit berlemak leher Neelix.
“Jatuhkan. Senjatamu. Sekarang!”
Sosok gagah itu tanpa ragu melangkah satu-satu ke arah Neelix, genggaman pedangnya kelihatan begitu stabil seolah hal-hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan dan mungkin malah sepele di matanya.
“Hah, kalian ini... merepotkan saja.”
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments