Sosok gagah berambut cepak hitam legam dengan iris mata berwarna senada itu mengayun-ayunkan pedangnya malas. Sementara sosok yang menjadi lawan bicaranya masih tetap gigih dengan tingkah sok beraninya, padahal terlampau amat jelas, ekor pedang di genggamannya sekarang tengah bergetar patah-patah.
“Huft...”
KLANG!
“Hei, nak! Apa kau baik-baik saja?”
Aku menghela nafas kasar, punggung kontras lebarnya dengan milikku tanpa sadar sudah saling menempel; berjaga satu sama lain menanggapi kali ini lima orang bersetelan hitam serupa kembali berdatangan dari berbagai arah.
Tetapi seolah tidak terpengaruh jumlah, jemari besar sosok misterius yang sebelumnya sempat mengendur, otomatis kembali menggenggam gagang pedangnya sangat erat sampai-sampai garis uratnya pun ikut menyembul keluar.
Dan pada detik-detik selanjutnya, gerakan juga tatapan tajam yang terpancar dari kedua manik matanya benar-benar membuatku seperti sedang menonton pertunjukan berburu seekor burung pemangsa alap-alap kawah betina yang dengan kecepatan mengagumkannya, juga cengkeraman cakar-cakar dan paruh kuning besar dengan ujung hitam lancipnya merobek, bahkan meremukkan tulang-tulang mangsanya.
KLANG!
“Ugh!”
Jantungku berdegup kencang. Sudut-sudut bibirku tertarik ke atas, perasaan menggebu-gebu setelah dengan spontan menangkis tebasan pedang dari salah satu sosok berpostur kurus tinggi beberapa meter di depanku betul-betul tidak bisa diindahkan.
“Tidak buruk.”
Kedua manik mataku berbinar melirik bilah pedang yang tidak tahu sejak kapan sudah berada di genggamanku. Figur berbadan tegap dan berotot di sisi berlawanan denganku tersenyum miring.
Netranya lurus menatap dua orang komplotan hitam berpostur lebih pendek di depannya dan sepersekian detik berikutnya, nyaring benturan logam kembali mendengung-dengung ngilu.
‘Tsk! Pergelangan tanganku pegal! Kapan pergelutan ini akan berakhir?!’
“Horam!”
Seorang bedebah kerempeng bermata sipit melempar bilah belatinya ke arah Horam, meski mujur, Horam dengan secepat mungkin sudah lebih dulu menghindar. Kaki rampingnya berlari kilat menuju ke arah Neelix.
KLANG!
“Rashn!”
Seolah paham dengan sinyal yang dilontarkan Horam, aku menangkis dan menerjang tidak sabaran kedua sosok tidak menyenangkan di depanku dan lalu segera mengambil langkah seribu melantingkan pedang di genggamanku ke arah bajingan memuakkan di belakang Neelix.
Dia meringis samar-samar dan tidak ada tiga detik jeda, aku serta merta memukul telak dirinya ketika melihat celah di antara aksi tekan-menekan bilah pedangnya dengan leher Neelix.
“Ra-shn...”
“Apa kau tidak apa-apa? Hm, lukamu cukup panjang ternyata.”
Horam yang baru datang, dengan sigap membantuku memapah tubuh lemas Neelix. Sementara sosok bersetelan hitam itu, nampak tengah memegangi sebelah mata kirinya yang aku sendiri pun tidak sadar sempat memukulnya.
‘Dasar keparat gila!’ Dalam hati aku menggerutu sendiri, betul-betul kurang puas rasanya hanya meninggalkan sedikit luka.
“Kerja bagus, nak!”
Gemerincing lonceng dari ekor pedang milik si bangsawan atau lebih cocoknya ksatria itu membuatku untuk kesekian kalinya kembali terhipnotis; tenggelam dalam imajinasi sensasional melihat gerakan fleksibel tapi tetap berenergi dari bilah tajam pedangnya yang aku berani bersumpah, begitu indah dan menawan bagaikan tarian pedang Ælfdunc Vyre — seorang penari terkenal berwajah androgini yang sudah hampir dua puluh tahun terakhir menyandang titel d’Ethëlbeth; penghargaan tertinggi dari Dewan Kesenian dan Kebudayaan tujuh negeri, Lyrti Shoõne — saat pertama dan untuk terakhir kalinya aku menonton di Stadium Herst pada musim semi enam tahun lalu bersama Nyonya dan Tuan Frodie beberapa hari sebelum bangunan megah berbahan batuan marmer itu dirubuhkan dan di ambil seluruh materialnya untuk rekonstruksi Kastil Durdynn di ibukota Achylis.
“Dhruv! Eh, Rashn?”
Suara kelewat familier menubruk kasar gendang telingaku, sosok dua orang pria dengan kantong belanjaan besar di kanan-kirinya tampak tergesa-gesa berlari menghampiri Horam, Neelix, aku dan tentunya pria yang lebih dulu dikenali oleh mereka berdua, bernama Dhruv itu.
“Apa kalian baik-baik saja? Eh, kau.. Ne-Neelix? Ada apa dengan lehermu?”
Pria berambut tebal cokelat tembaga, Duke Oakley, seketika sudah setengah duduk di sebelah Horam; membiarkan begitu saja barang-barang belanjaannya tercecer menyedihkan di pinggiran jalan.
Sementara pria berambut perak panjang sebahu, Ingram Jakoobäh, hanya menatap sekilas dan dengan langkah kilat sudah berada di depan sosok bernama Dhruv bersama dengan satu orang asing lainnya yang entah sejak kapan sudah berada di sana.
Aku iseng melirik orang asing itu dan langsung mengernyitkan dahi melihat gaya rambutnya yang sangat aneh. Bagaimana tidak aneh, rambut atasnya botak, tetapi dari pertengahan kepala ke bawah tampak rambut berwarna cokelat cinnamon sepinggangnya rapi dikepang satu.
“Oh, apa dia yang kau maksud?”
Aku serta merta tersentak, hampir terjatuh ke belakang kalau tidak sebelah tangan bagian kiriku yang refleks menahan berat tubuh saat dengan tanpa aba-aba orang dengan model rambut aneh itu mendadak berjalan mendekat sembari jari telunjuk kanannya menunjuk untuk beberapa detik ke arahku.
“Baiklah, kalau begitu besok pagi kita bisa langsung kembali ke Mërlythe.”
“Mër-Mërlythe?”
Aku berucap terbata-bata mendengar nama ibu kota Sëraphyn disebut. Bingung sendiri dengan apa yang barusan orang asing ini katakan.
“Iya, besok kau dan kami berempat akan kembali ke Sëraphyn dan kita sangat beruntung, karena Ingram dan Oakley ternyata sudah belanja perbekalan untuk perjalanan panjang esok hari.”
Dia melanjutkan perkataannya dengan amat sangat lugas dan tidak perlu repot-repot bagiku untuk beralih menatap Horam maupun Neelix. Karena sudah bisa diterka, mereka berdua pasti sama kaget dan bingungnya juga denganku.
“Vir, berhenti! Kau membuat mereka kebingungan.”
Figur berambut aneh yang dipanggil Duke Oakley, Vir itu, untuk beberapa detik terdiam dan lalu melontarkan tawa hambar sembari menggaruk tengkuknya keki.
“Ah, maafkan aku. Tapi, salam kenal Rashn. Aku, Vir Bjørn dan pria berambut hitam legam itu, Dhruv Èithne.”
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Kaweruh Jiwa
keren Thor, tapi emang boleh yak buat kalimat promosi di page isi novel?
2021-11-06
1