Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Ribut sahut-menyahut nyanyian kodok dan jangkrik di luar, ditambah hiruk pikuk koloni kecil laron berterbangan mengitari pendar cahaya bohlam di tengah langit-langit ruangan, berukuran sekitar lima enam meter persegi dengan panjang sisi dua meter bersih dari dinding ke dinding, membuat suasana dini hari menjadi jauh lebih berisik dari biasanya.
“Rashn, apa kau benar-benar akan pergi..?!”
Aku berhenti menatap kosong seekor cicak yang sedang asyik berburu rayap-rayap dewasa bersayap di sekitaran lampu dan beralih mengusak pelan rambut lumut kehijauan sosok dengan dua mata bengkak agak berair yang semenjak dari kurang lebih dua jam lalu terus melingkari erat pinggangku.
“Apa kau tidak bisa menolaknya?”
Jari-jemari gemuknya sesekali menarik-narik kasar baju oblong bernuansa bayangan coklat muda dengan semburat warna kekuningan yang kukenakan.
“Neelix, berhenti menyulitkan Rashn! Lagipula, kau sendiri kan juga sudah mendengar apa yang dibicarakan tuan-tuan tadi, benar?!”
Figur dengan sudut bibir melengkung ke bawah, Neelix, melempar tatapan garang tidak sukanya ke arah sosok berambut hitam panjang berkuncir satu di depan jendela. Lengannya terlipat datar di depan dada sembari jari telunjuk kanannya mengetuk-ngetuk konstan kulit kuning langsatnya.
“Menyebalkan!”
Sosok kurus berpostur sedikit lebih tinggi dari Neelix tetapi lebih pendek tujuh senti dariku itu, Horam, melangkahkan kedua kaki tidak beralasnya santai menuju ke arah Neelix dan aku berada.
“Oh, ayolah. Kau harus bermental dewasa! Bagaimana kita bisa menjaga Bibi Marcy nantinya, jika sekarang saja kau malah bersikap layaknya anak umur lima tahun yang merengek tidak henti-hentinya hanya karena kehilangan setangkai permen lolipop?!”
“Akh! Tapi, Rashn bukan permen lolipop?! Dia manusia! Manusia bernama, Rashn!”
Neelix berseru kesal menanggapi ceramahan Horam, kedua alis tebalnya mengerut dalam sembari kian mengencangkan pelukannya.
Namun, bukannya aku tidak senang dan merasa terhormat dengan perlakuan kelewat menggemaskannya ini yang menolak argumen Horam menyamakan aku sebagai bagian dari bangsa permen lolipop, melainkan karena paru-paruku seketika akan menjadi super sempit dua tiga kali lipat dari kondisi normal setiap kali Neelix kesal, kemudian meninggikan nada bicaranya.
“Rashn akan pergi meninggalkan kita! Dan kau, Horam! bagaimana bisa kau tidak merasa sedih?!”
Aku menghela nafas pasrah dan sepersekian detik kemudian, Horam sudah ikut mendaratkan manis bokongnya di pinggiran kasur kapuk berseprei putih polos agak kusam beberapa senti di sebelah tempat Neelix dan aku duduk.
“Kau ini benar-benar keras kepala, Neelix.”
Horam berujar malas. Telunjuk rampingnya menekan-nekan iseng sedikit celah dari pipi tembam Neelix yang bersembunyi keras kepala di antara perut dan pusarku.
“Tenang... tenang..! Aku akan baik-baik saja, dan aku janji akan sebisa mungkin mengirimkan surat setiap bulannya kepada kalian.”
Aku tersenyum simpul melerai keduanya sambil dengan gerakan hati-hati melonggarkan dekapan kedua lengan posesif Neelix.
“Ugh, setiap bulan terlalu lama! Apa tidak bisa setiap minggu?!” Neelix kembali memprotes tidak setuju.
“Idiot! Kau pikir Rashn di sana tidak akan sibuk?!”
“Tidak!”
Neelix tanpa sadar mengangkat wajahnya; memelotot sengit ke arah dua netra gelap Horam. Keduanya saling beradu pandang beberapa detik, sedangkan aku, sebagai bahan pertengkaran kekanak-kanakan tak berujung mereka hanya bisa diam sembari menikmati sesak cengkraman Neelix yang menarik tulang-tulang punggungku hingga tidak mustahil, kini mungkin tengah mencorong tajam ke depan.
“Ugh! Baiklah, baiklah... Sebisa mungkin aku akan mencoba untuk menulis dua minggu sekali.”
Aku akhirnya tidak tahan lagi dan melontarkan kalimat apapun dari yang terlintas di sekeliling luar dalam tempurung kepalaku.
“Hiks.. hiks... Apa kau harus betul-betul pergi? Ikut ke sana dengan tuan-tuan misterius itu??!”
“Ugh, Neelix...”
Aku meringis pelan mendapati rambut kasar dan tajam bagaikan kumpulan lidi Neelix menusuk-nusuk sembrono jaringan epidermis di bawah kain katun tipis pakaianku.
Suara sesegukan paraunya naik turun tidak beraturan, kontras sekali dengan aksi pukul-memukul konstan dan jujur menyakitkan di bagian lengan atas tangan kanan dan atau salah satu dari kedua pahaku.
“Aku juga tidak terlalu tertarik dengan kekuasaan atau semacamnya. Tapi Neelix, jika ini menyangkut tidak hanya aku, melainkan juga kalian berdua, Bibi Marcy, keluarga kecil kita di Achlys bahkan semua orang... kau pasti tahu, kita tidak bisa memaksa untuk tetap menutup mata, bukan?”
“Benar Neelix, tidak ada tawar-menawar jika itu menyangkut nyawa seseorang.”
Aku sedikit lega, merasakan sesi tepukan pedas Neelix berangsur-angsur menguap. Nampak, ucapan Horam dan aku barusan agak efektif menanggulangi dan menenangkan gundah gulana Neelix meski besarnya mungkin hanya nol koma satu persen.
“Aku membencimu Rashn!”
Garis-garis kelopak mataku menekuk senang. Walau tidak lama berselang setelahnya, bogem mentah berlabuh indah di lambung kiri bawahku.
“Ugh, aku juga menyayangimu Neelix.”
“Oke. Sudah pukul dua pagi. Kita perlu istirahat, terutama Rashn.”
Aku menarik sudut kiri-kanan bibirku hambar sembari masih memegangi tidak nyaman nyeri sekaligus ngilu pada kerangka tulang rusuk bawahku.
Sementara pelaku penyerangan, Neelix, sudah dengan tidak pedulinya menepuk-nepuk dan mendominasikan satu-satunya bantal yang tersedia di atas tempat tidur.
“Aku akan tidur di sini.”
“Huft, kau benar-benar..”
“A-apa yang kau lakukan?!” Neelix berhenti tiba-tiba dari kegiatan kasak-kusuk sok sibuknya.
“Tidur.”
Horam menanggapi terlampau tidak antusias geraman bingung sekaligus kesal Neelix. Tubuh kurusnya bergerak mencari posisi nyaman di tepi ranjang berlawanan dari tempat Neelix membaringkan sempurna badannya.
“Baiklah, kalian berdua. Ayo kita tidur.”
Menyadari kecilnya kemungkinan akan terwujudnya gencatan senjata antara Horam dan Neelix, aku berkata super kilat lalu kemudian dengan merangkak ikut berbaring di atas lahan kosong di tengah-tengah Horam dan Neelix setelah sebelumnya menepuk-nepuk sebentar masing-masing paha mereka berdua.
Beruntung, sesudah sekian lamanya rungsing, suasana pun kembali menjadi harmonis. Tidak ada lagi suara termasuk cek-cok berisik serta mengganggu apalagi berniat berkompetisi dengan bunyi kencang tuan-nyonya tokek di dinding dalam rumah; mendengar suaranya—tokek—yang bisa dibilang sangat dekat dari indera pendengaranku.
“Rashn, apa kau sudah tidur?”
Aku menolehkan kepala ke arah Horam. Punggung sempitnya kelihatan tidak seimbang dengan tinggi badannya yang tidak mungkin keliru, terus bertambah signifikan setiap tahunnya.
“Ya?”
“Aku tidak bisa tidur.”
“Kau harus tidur.”
Aku menjawab ringkas sambil dengan agak usil memainkan jari telunjuk kananku menyentuh tubuh belakang Neelix yang ditutupi baju lengan panjang dan sedikit kebesaran berwarna coklat merah batanya.
“Ngomong-ngomong Rashn, jika benar kedua orang tuamu adalah keturunan anggota kerajaan Sëraphyn, itu artinya...”
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments