Lidahku mendadak kelu mendengar kalimat Dhruv yang mempertanyakan soal kemampuanku. Meski jujur, ada kalanya aku khawatir, terutama di saat-saat aku sedang atau habis berargumen, bertengkar, atau semisalnya dengan orang-orang yang aku sendiri tidak pernah tahu-menahu, bahkan sekedar penasaran dengan nama mereka.
Namun, seperti biasa.
Tidak perlu aku susah-susah mencari tahu sebabnya. Itu pastilah tidak jauh-jauh karena warna mataku yang berbeda antara kiri dan kanannya atau perihal warna rambutku yang terlalu mencolok sampai kata mereka, aku ini kemungkinan besar adalah bagian dari bangsa Faei — bangsa peri pertama dan satu-satunya yang dikutuk oleh kelima Oræcle karena kebengisan mereka yang benar-benar tidak bisa ditoleransi dan tentunya sangat merugikan bahkan dengan sesama bangsa peri sekali pun — yang mengerikan, pembawa kemalangan, hingga disebut-sebut pula sebagai keturunan Lúcias Xanthe — nama aslinya adalah Lúcias Ghurran, seorang panglima perang keturunan Hexer dan Jinx dari Myrz'el yang sangat dihormati dan dielu-elukan kehebatannya. Tetapi kemudian, karena kerakusannya pada kekuasaan; ia tidak hanya membantai hampir seluruh keturunan keluarga kerajaan Myrz'el untuk mengambil alih tahta, namun juga mendeklarasikan dirinya sebagai Czar Maghna di luar dari ramalan dua Quiël. Hingga akhirnya setelah beberapa ratus tahun, kekuasaan berdarahnya berhasil diruntuhkan oleh seseorang dari keturunan Sëraphyn dan merupakan Czar Maghna sebenarnya, Yang Mulia Zëphyr — berhati monster.
“Maaf sudah menunggu lama dan ehm.. kami tidak punya yang lebih baik dari kue-kue kering ini, tapi kuharap tuan berdua masih tetap bisa menikmatinya.”
Setelah sekian lama terjebak dalam keheningan menyesakkan, Bibi Marcy keluar bersama Horam dengan nampan berisikan empat gelas minuman dan sepiring besar kue-kue kering sisa dari dua tamu kemarin yang tidak lain dan tidak bukan adalah Duke Oakley dan Ingram Jakoobäh.
“Dan, maaf sebelumnya. Boleh aku tahu siapa tuan-tuan gagah ini?”
Bibi Marcy melempar tatapan ramah kepada dua orang lain bersetelan kental figur seorang ksatria daripada bangsawan yang duduk paling jauh dari kami di sebelah kanan Ingram Jakoobäh.
“Oh, Nyonya tidak perlu minta maaf. Kami seharusnya yang minta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat Nyonya dengan bertamu malam-malam begini. Dan sebelumnya, perkenalkan, aku, Vir Bjørn dan pria di sebelahku ini, Dhruv Èithne. Kami berdua sedang dalam penugasan Yang Mulia Zelîg dari Sëraphyn.”
Vir dengan sopan memperkenalkan dirinya dan Dhruv yang lalu ikut tersenyum sembari menundukkan singkat sedikit kepalanya.
“Jika tuan-tuan berdua tidak keberatan, boleh aku tahu lebih jelas, tugas seperti apakah yang sampai membuat tuan berdua untuk datang jauh-jauh dari Sëraphyn ke negeri antah-berantah, Achlys, ini?”
Mendengar kata antah-berantah yang keluar dari bibir kering kehitaman Bibi Marcy, membuat aku seketika teringat dengan ucapan Tuan Queè pada suatu hari di pertengahan musim dingin dua tahun lalu.
Saat dimana Horam, aku, dan Neelix membantunya bersih-bersih dan mengawasi anak-anak di Trixy-Neths karena Tuan Frodie yang mendadak terkena flu. Sehingga ia dan istrinya, Nyonya Frodie, terpaksa harus absen dari peran dermawannya untuk sementara waktu.
“Jadi, Tuan Queè.. Bagaimana sampai negeri kita ini, dihapus atau mungkin lebih tepatnya, terisolasi dari dunia?”
...⚔⚔⚔...
^^^Trixy-Neths, Achlys Suatu hari di pertengahan musim dingin^^^
“Rashn, bagaimana kabar Marcy?” Jari-jemari tanganku berhenti dari aktivitas melipat tumpukan pakaian dan handuk dari dalam keranjang berbentuk simetris alias kotak besar berukuran 75 x 53 x 24 sentimeter yang berada tepat di sebelah kananku.
“Baik.”
Sosok dengan kacamata bulat perak mengangguk-anggukkan kepalanya pelan mendengar jawaban terlampau simpelku.
“Padahal aku hanya pergi tiga hari dan dua malam, tapi rasanya sudah seperti berbulan-bulan saja,”
Pria berpostur kurus, tidak terlalu tinggi, dengan perut sedikit buncit yang familier disapa Tuan Queè itu beralih sejenak dari aktivitas merapikan tumpukan buku beserta beragam lembaran-lembaran kertas di atas meja.
Kedua iris kuning kehijauan tuanya tampak terhanyut dalam pemandangan kristal-kristal es jatuh dari luar kaca jendela besar di depannya.
“Kau tahu Rashn, selama hampir dua belas tahun aku berdagang sebagai pedagang giok, belum ada satu pun tempat di atas peta yang belum pernah aku kunjungi,”
Horam dan Neelix yang baru saja datang dari ruang tengah, dengan kecepatan kilat sudah memangku kedua lengannya di atas punggung sofa.
Tuan Queè menatap Horam dan Neelix sekilas, lalu menarik sedikit sudut-sudut bibirnya ke atas, seiringan dengan jemari pendeknya yang bergerak memaju mundurkan kompas silva di atas peta tidak berwarna berukuran sedang, yang beberapa detik lalu dibentangkannya di tengah-tengah meja kerja bermaterial jati.
“Meski tidak jarang aku hanya singgah beberapa jam dan langsung pergi lagi untuk mengantarkan pesanan selanjutnya, aku sangat yakin telah menapaki setiap sudut tempat dari hutan, pulau di tengah-tengah lautan, perbukitan, lembah, hingga pegunungan Bǫlverkr pun sudah pernah aku masuki,”
Tuan Queè berhenti sejenak menarik nafas. Bersamaan, gerakan lambatnya di atas peta mendadak terhenti dan malah sibuk mencari-cari sesuatu dari dalam laci di bawahnya.
“Hingga suatu hari di musim semi, seseorang berpakaian bangsawan namun tidak terlalu mewah, memintaku untuk mengirimkan hampir dua kilogram giok ke suatu negeri yang aku merasa benar-benar tidak familier dengan namanya dan benar saja dugaanku,”
Horam, Neelix dan aku serta merta membelalakkan lebar kedua kelopak mata kami.
Tuan Queè dengan ritme sangat hati-hati mengeluarkan sebuah miniatur menara mewah berukuran lima belas sentimeter dan satu buah miniatur lain, berupa bendera berwarna dasar hitam, berukuran 8 × 5 inci berlambangkan seperti seekor kepala naga dengan tiang berkilau keemasan sebagai penyangganya.
“Saat mencari di hampir empat peta berbeda pun, aku masih tidak dapat menemukan negeri yang disebutkan bangsawan itu. Sempat aku juga berpikir untuk tidak mengirimkan pesanannya, tetapi masalahnya, bangsawan itu sudah lebih dulu membayar lunas seluruhnya di tempat,”
Hujan salju di luar agaknya bertambah semakin deras, sampai-sampai membuat Tuan Queè yang bahkan sudah mengenakan mantel tebal dengan bulu-bulu lebat mengelilingi bagian kerahnya pun tetap menggigil kedinginan. Dan di detik menit berikutnya, Tuan Queè dengan kedua kaki pendeknya lalu melangkah satu-satu mendekati perapian.
“Dan pada akhirnya, sebagai pedagang yang jujur, aku dengan nekat berjalan tanpa tujuan mencari-cari negeri antah-berantah itu, hingga tanpa sadar ternyata aku sudah sampai di tanah lapang savana dekat dengan perbatasan Yolstråt,”
Tuan Queè yang sudah selesai memasukkan kayu-kayu ke dalam perapian, berjalan kelewat santai ke arah sofa panjang di tengah ruangan.
“Di sana aku secara kebetulan bertemu dengan seorang Hexer, kami sempat saling sapa dan duduk ngobrol-ngobrol ringan sembari menikmati pemandangan langit merah muda keunguan sore hari. Dan sesaat setelah dia bertanya ke mana tujuanku, dia langsung tertawa kencang dengan kedua manik mata peraknya yang ikut berkilat-kilat girang,”
Horam, Neelix dan aku yang mulai pegal karena sejak tadi terus berdiri, kemudian melangkah cepat dan duduk di sofa-sofa kecil di depan dan kiri-kanan Tuan Queè.
“Kau tahu Rashn, apa yang dia katakan?”
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Semangat up-nya, thor!! Seru!!! Dan semoga menang, ya!!!
2021-11-17
14
Essy Kehi🦋
lanjut Kak tetal semangat dalam berkarya....🙏💪
2021-11-17
3