.
.
Felly menatap penghuni baru apartemen mereka dengan tatapan tidak percaya. Tidak cukup dengan Hanna, sekarang kakaknya membawa gadis lain lagi! Dan yang membuat Felly semakin tidak percaya adalah... dia memiliki telinga dan ekor hewan, ekornya bukan hanya satu, tapi sembilan.
Hanna bilang dia itu rubah.
Felly tidak percaya kakaknya bisa membawa rubah berekor sembilan ke apartemen ini.
“Makan sarapanmu Fel, nanti telat” kata Lino.
Sarapan kali ini Lino yang membuat dengan bantuan Alpha saat Felly tidur, Lino juga sudah menyelesaikan misi hariannya dan mendapat hadiah 100 koin, bukan tiket gacha seperti kemarin-kemarin. Bagi Lino sih tidak masalah, meski tiket gacha sangat berguna, tapi koin juga sangat berguna, apalagi Lino berencana untuk membeli beberapa barang di toko.
“Dia akan tinggal bersama kita?” tanya Felly
Lino menatap adiknya bingung “Siapa? Oh, maksudmu Xia?”
Felly mengangguk “Iya... kenapa kau memberinya nama Xia? Apa ada maknanya?”
Lino mengedikkan bahunya “Tidak ada makna, tapi ada kepanjangannya, Foxia, panggilannya Xia” Lino
“Ya ampun” Felly
“Aku baru tau itu sekarang, aku suka nama Foxia” kata Xia
“Kau selalu setuju apapun kata master” Hanna
“Tentu saja karena dia masterku, ya kan master?” Xia
“Kau benar, Xia harus nurut ya? Alpha juga, jangan seperti Hanna” sahut Lino
“Memang aku kenapa?” Hanna cemberut
“Kalau bang Lino ingin memelihara sesuatu, lebih baik yang seperti Alpha saja, kucing gitu atau kelinci, hamster.. bukannya monster lagi” protes Felly, akhirnya dia menyelesaikan sarapannya yang berupa nasi goreng, kemudian dia membelai bulu-bulu halus Alpha yang meringkuk dengan nyaman di pangkuannya.
“Hmm ku usahakan” timpal Lino, dia tidak mau memberitahu Felly jika Alpha sebenarnya juga monster, bukan anak anjing biasa jenis siberian huski.
“Hari ini abang sibuk gak?” tanya Felly
“Kenapa? Aku akan sibuk, ada urusan di asosiasi.. tentang guild baruku, aku juga ingin membeli beberapa buku disana” Lino
“Buku apa?” Felly
“Buku tentang monster, aku ingin mempelajarinya lagi, dulu kan hanya meminjam, sekarang aku ingin membelinya”
“Bukannya bang Lino udah hafal ya?”
“Aku manusia biasa Fel, suatu saat bisa saja lupa, dan aku juga ingin membeli buku panduan sihir...”
Felly hanya mengangguk-angguk saja, kemudian membereskan piringnya dan ditaruh di tempat cuci piring, sementara Alpha sudah turun dan beralih naik ke pangkuan Lino.
“Felly...”
Felly menoleh pada Lino “Kenapa?”
Lino menyodorkan sebuah kotak berwarna putih dengan logo kucing hitam, Felly tidak pernah melihat ada merek seperti itu dimanapun “Apa itu bang?”
“Coba buka saja”
Fellypun membukanya “Woah cantik banget! Ini buat aku? Tumben... aku kan gak ulang tahun”
Lino tersenyum melihat adiknya senang “Memberi hadiah bukan hanya untuk ulang tahun kan? Kalung itu akan melindungimu jika dalam bahaya, jadi kau harus selalu memakainya, terutama jika sedang jauh dariku, mengerti?”
Felly terharu mendengarnya, ia peluk kakaknya sebentar “Makasih abangku yang paling ganteng!”
“Berangkatlah, sekolah yang bener ya”
Felly melakukan sikap hormat “Siap master!”
“Jangan manggil master juga!”
“Hehe, Felly berangkat ya bang!”
“Bekalnya udah dibawa belom?”
“Udah!”
Padahal Lino hari ini ingin mengantar Felly dengan motor barunya yang sudah datang dan terparkir dengan rapi di garasi khusus yang disediakan apartemen, tapi adiknya tersebut menolak dan memilih berangkat bersama Sam dan Luna.
Kan Lino ingin pamer motor...
Tapi ya sudahlah, dia bisa pamer dengan mengendarainya ke gedung asosiasi nanti, setelah dari sana Lino juga harus melihat gedung yang telah dipilihkan oleh Randy.
Randy bilang dia mendapat gedung yang bagus, harganya agak tinggi, karena memang tempatnya strategis dan gedungnya juga sangat bagus. Lalu seperti permintaan Lino, lantaisatu gedung tersebut sangat cocok jika mau dijadikan tempat usaha, terutama cafe.
Akan tetapi, Lino belum melihat langsung, jadi belum bisa percaya.
Kalau memang bagus, berapapun akan Lino bayar.
“Alpha dan Xia masuk cincin, hari ini aku sibuk!”
Setelah memasukkan mereka ke cincin, Linopun bersiap untuk pergi, Hanna juga sudah mengganti bajunya dengan mini dress chiffon warna biru muda. Lino tidak mau terlihat jomblo, jadi dia mau tidak mau mengajak Hanna.
Karena semua timnya sekarang anak-anak sekolah, jadi Lino sendirian jika mereka masuk sekolah, mungkin Lino harus mempertimbangkan lagi untuk memasukkan anggota baru, kalau bisa yang sudah lulus sekolah, untuk menemani Lino.
Tapi Lino tidak terlalu yakin sih, dia akan merundingkannya dengan anak-anak timnya dulu, belum tentu mereka mau untuk menambah anggota baru.
“Master...” panggil Hanna saat mereka sudah berada di parkiran, Lino memberikan helm pink milik Felly padanya, Lino sendiri memakai helm hitam.
“Kenapa? Pakai helmnya”
“Aku kesepian”
“Hah? Apa maksudmu?”
“Tidak ada tanaman di dalam apartemen”
Lino menatap Hanna tidak mengerti “Lalu? Di taman kan banyak tanaman, memangnya kau mau apakan tanaman itu? Kau ajak ngobrol?”
“Aku bisa memanipulasi tanaman, bahkan mengobrol dengannya, jika aku mau”
“Serius? Jika aku membeli tanaman, apa kau bisa membuatnya tumbuh lebih cepat?”
Hanna mengangguk “Tentu saja”
Lino menyeringai “Aku bisa memanfaatkan itu... ayo kita taman sayur di apartemen”
Hanna mengangguk lagi, kali ini lebih antusias
“Janji ya?”
“Iya.. sekarang pakai helmnya, kita berangkat”
***
Buku yang ingin Lino beli adalah buku khusus untuk pemburu, tempatnya juga di tempat khusus dan agak terpencil. Lino tidak mengerti kenapa tempat buku-buku begitu terpencil, apalagi jika bukunya buku mahal, makin terpencil saja tempatnya.
“Sempit sekali” keluh Lino “Kau menunggu di luar saja Hanna, disini sempit” kata Lino
“Aku beli milk tea ya?” tawar Hanna
Lino menoleh padanya, memasang raut agak kesal “Itu kan di luar...”
“Memangnya master gak berani disini sendirian?”
“Bukannya gitu – udahlah, ini uangnya, beliin aku yang rasa matcha ya”
“Hehe siap master!”
Hanna pun pergi dari sana membawa selembar uang seratus ribuan yang Lino berikan.
Lino pun lanjut mencari buku yang diinginkannya.
Setelah bersusah payah mencarinya diantara rak-rak pojok yang tempatnya sempit, akhirnya Lino menemukannya, tertimpa dengan buku-buku lain.
Padahal semua ini buku baru, tapi tidak tertata dengan rapi. Sebenarnya ini sengaja atau gimana sih?
Lino tersenyum menatap buku tebal di tangannya, buku panduan sihir lengkap yang mencakup tingkat awal, menengah sampai tertinggi.
Karena Lino lebih cocok sebagai pemburu dengan senjata, orang yang menyerang dari dekat, jadi sebenarnya Lino tidak harus mempelajari sihir. Apalagi Lino tidak tau dia bisa menggunakan sihir atau tidak.
Lino membeli buku itu untuk mempelajari sihir milik Luna dan Sam, karena Lino cukup buta tentang sihir, dia tidak tau cara kerjanya. Akan tetapi, Lino tidak ingin jadi ketua yang buruk.
Dia pikir, dia harus tau semua potensi milik timnya satu persatu, dengan begitu dia bisa mencari cara yang efektif untuk melawan monster.
Perburuan di dungeon A+ kemarin cukup bagus, tapi Lino tidak puas, mereka sedikit kualahan, mereka terbantu dengan kekuatan Hanna dan pistol milik Lino.
Dan juga, dibandingkan dengan saat Lino melawan goblin sendirian, Lino dengan timnya lebih lambat.
Lino tidak menyalahkan kemampuan mereka, mungkin saja Lino yang kurang dalam memberi mereka perintah.
Ketidaktahuan adalah hal yang menakutkan, jadi Lino ingin belajar lebih banyak.
Selain buku sihir, Lino juga membeli buku penjelasan tentang berbagai monster, bukan versi yang pernah ia baca dulu, tapi yang lebih lengkap.
BRUK
“Ah, maafkan sa –”
Lino terdiam setelah melihat siapa yang tadi ia tabrak, meski bukunya yang jatuh tapi Lino sadar itu salahnya karena tidak melihat-lihat dulu.
Lino terdiam bukan karena mengenali orang yang ia tabrak, tapi karena heran.
Orang yang dia tabrak terlihat sangat suram, memakai baju serba hitam, tubuhnya berotot dan terlihat lebih besar dari Lino, dan wajahnya... tampan sebenarnya, tapi terlihat menakutkan.
Tidak.. Lino tidak takut, dia hanya heran saja.
Laki-laki yang dia tabrak terlihat seperti malaikat maut atau raja iblis.
“Tidak apa, aku juga salah” kata laki-laki itu, Lino pikir mungkin dia seumuran dengannya.
“Sekali lagi, aku minta maaf ya” Lino memungut bukunya kembali.
“Kau penyihir?” tanya laki-laki itu setelah melihat buku yang Lino pungut
“Ah, tidak... aku hanya harus mempelajarinya”
“Begitu? Apa yang harus dipelajari saat menjadi pemburu?”
Lino bingung dengan pertanyaan ini, jangan-jangan... “Kau pemburu baru?”
Dia mengangguk pelan, raut wajahnya tetap datar dan agak menyeramkan, untungnya Lino sendiri orangnya juga seram, jadi biasa melihat itu, tapi kalau Felly atau Sam mungkin sudah ketakutan.
“Baru saja tadi...”
“Rank berapa?”
“A”
Beruntungnya... syukurlah dia bukan rank rendah seperti Lino dulu.
“Ku sarankan, kau mulai mencari buku yang sesuai dengan kekuatanmu, oh – apa kau penyihir?”
Dia menggeleng “Bukan sih, pertahanan.. itu – perisai? Aku tidak terlalu mengerti”
“Hmm” Lino berpikir sejenak, setelah itu mulai mencari buku-buku di rak, setelah menemukan apa yang ia cari dia memberikan dua buku pada laki-laki itu “Kalau kau bisa coba beli semuanya dan pelajari, dan lebih baik lagi jika kau mendaftar di sebuah guild, kalau bisa sih guild yang besar, tapi kalau mau guild menengah juga tidak apa-apa, yang penting bukan guild tiger, ingat itu”
Laki-laki itu terlihat senang dan bibirnya membentuk senyuman tipis saat menerima buku dari Lino “Terima kasih, aku akan mengingatnya”
“Sama-sama, aku pergi”
Linopun pergi, tanpa berinisiatif menanyai namanya, lagipula dia juga tidak menanyai nama Lino.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Muhammad dafin Arrifad
wkwkwkwkw mc gk terima jadi jomblo
2024-04-26
0
Raysonic Lans™
up
2023-07-21
0
ZET Z
kemrennnnn
2022-01-08
0