“T-tapi Wine di sini mantap loh tuan Zul!” Reynaldi berusaha membujukku tetap memesan minuman keras itu. Namun, melihat reaksiku yang diam saja, ia kemudian berkata, “Baiklah ... Acong, minta Pelayan Bar membawakan makanan ringan dan kopi Gayo untuk kami!”
“Baik Bos!” sahut Pemburu Level 80 dengan setelan jas hitam, ia tak seperti anggota mafia; malah lebih terlihat sebagai pegawai kantoran saja.
Aku melihat Vrey merangkul Sisilia didepan kami. Wanita cantik itu tetap menangis tersedu-sedu dan meminta tolong agar dilepaskan, tetapi tak ada yang peduli, termasuk pengunjung Bar Elja—Sehingga aku menarik kesimpulan, bahwa kejadian seperti ini sudah biasa, makanya tak ada yang tergerak hati nuraninya untuk membantu wanita malang itu.
“Reynaldi! Apakah kamu bisa mengambil wanita itu untukku?” Aku ingin melihat apakah Mafia Elang Timur yang sangat terkenal itu, berani melawan Vrey atau jangan-jangan Vrey masih antek Reynaldi, sehingga menyelamatkan Sisilia masih memungkinkan. “Sepertinya aku tertarik dengannya. Dia lumayan cantik dan masih polos,” kataku lagi berpura-pura bersikap seperti pria bajing*n—layaknya para anggota mafia.
“Hahahaha ....” Reynaldi tertawa. “Gua tahu tuan Zul ingin menyelamatkan wanita itu. Namun, kedepannya tuan Zul harus berhati-hati saat menjadi Pahlawan kesiangan. Kebanyakan Pahlawan itu akan kalah pada akhirnya, bahkan banyak yang mati di medan perang—”
“Aku tak perlu diceramahi. Kau sudah tahu, kalau aku banyak musuh. Nah, sekarang kau bisa memberikan aku wanita itu atau tidak. Karena aku tak suka dengan si Vrey itu!” Aku menyela ucapannya.
“Hehehe ... Gua suka dengan sikap tuan Zul yang naif dan langsung ke intinya itu.” Reynaldi kembali tersenyum dan menatap Topan. “Bereskan mereka dan jangan matikan dulu si Vrey itu; suruh dia kirim semua saldo Layar Virtual-nya untuk tuan Zul!”
Topan mengangguk dan menekan layar smartphonenya, saat kami akan memasuki ruangan yang akan menjadi tempat pembicaraan bisnis, tiba-tiba Topan melewati kami bersama puluhan pria dengan setelan jas hitam.
“Kalian seperti mafia luar negeri saja!” Aku tak mengira ternyata Reynaldi datang dengan kekuatan besar ke Bar Elja ini.
“Hehehe ... sebagai anggota Mafia, kita itu senasib tuan Zul. Sewaktu-waktu pihak saingan bisa saja mengincar kepalamu.” Dia tertawa terkekeh-kekeh. “Mari tuan Zul, masuk ke dalam,” katanya lagi.
Ternyata ruangan yang disewa oleh Reynaldi itu adalah room Karaoke, sehingga aku kepincut untuk menunjukkan suara emasku.
Tanpa basa-basi, aku langsung bernyanyi. Namun, alis mata Reynaldi terangkat sebelah; mendengar suara emasku yang seperti ayam berkokok itu.
“Bagaimana menurutmu gendut lagu yang kunyanyikan itu, apakah keren?”
“Lagunya sih, keren tuan Zul. Namun, sebaiknya kita sewa salah satu artis lokal saja bernyanyi untuk menghibur kita,” jawabnya blak-blakan.
“Tidak-tidak!” Sahutku. “Hitung saja berapa semuanya dan transfer dengan cepat!” Aku mengirim gambar monster hasil buruan di Hulu sungai Kapuas. Aku tak mengeluarkannya di sini, karena ruangan ini terlalu sempit; itu bisa menelan si gendut nanti.
“Wah banyak sekali. Bagaimana kalau di bawa ke rumah jagal dulu untuk memisahkan item-itemnya, jangan khawatir aku tak akan berbuat curang,” sahut Reynaldi tak bisa menebak berapa nilai jual ratusan monster itu.
“Mana baiknya saja!” Aku juga berpikir demikian, karena tak semua bagian tubuh monster itu bisa dijadikan item sihir, dagingnya malah dijual ke restoran dan rumah makan.
Pelayan bar kemudian datang membawakan makanan yang dipesan oleh Reynaldi dan aku langsung menyeduh kopi Gayo yang masih hangat itu.
“Bos dan tuan Zul!” Topan memasuki ruangan kami membawa Sisilia yang gemetaran dan berwajah pucat, mungkin ia melihat adegan pembunuhan yang dilakukan oleh bawahan Reynaldi. “Semua sudah dibereskan. Bagaimana dengan Bar ini?” tanya Topan, karena otomatis Bar Elja tak memiliki pemilik lagi.
“Lenyapkan barang bukti dan tunjuk orang yang kompeten untuk mengelola Bar Elja ini. Satu lagi, karena tuan Zul tidak suka dengan dunia gelap. Mulai sekarang, bagi karyawan yang ingin keluar dari Bar Elja; pintu terbuka lebar dan berikan kompensasi seratus juta untuk bekal mereka. Buat pengumuman segela tindakan kriminal yang termasuk konsumsi narkoba dan perdagangan wanita dilarang mulai saat ini.”
Dengan senyum lebar Reynaldi menatapku. Dia memang paling hebat membangun relasi dengan rekan bisnisnya. Bahkan ia rela berpura-pura menjadi malaikat agar bisnisnya itu berjalan mulus.
“Bagus sekali dan saran dari saya; batasi jumlah konsumsi minuman keras, agar mereka tak keluar dalam kondisi mabuk dan merugikan masyarakat.”
Aku memberikan masukan. Namun, wajah Reynaldi langsung berubah, karena itu akan mempengaruhi bisnis Bar Elja. Orang-orang datang ke Bar adalah sebagian besar ingin mabuk, tetapi bila dibatasi maka mereka akan lebih memilih Bar lain.
“Ya, termasuk itu!” Dengan terpaksa Reynaldi menyetujui usulanku.
Topan kemudian menutup pintu ruangan itu dan meninggalkan aku, Reynaldi dan Sisilia yang masih berdiri dengan wajah ketakutan.
Reynaldi melirik Sisilia dan tersenyum genit, “Lo mau meladeni gua atau Dukun Zul? Silahkan pilih!” candanya.
Aku mengerutkan kening, karena dengan cepat Sisilia langsung duduk disebelahku membuat Reynaldi tertawa terkekeh-kekeh.
Ya, siapapun pasti memilihku, karena wajahku jauh lebih good looking dari Reynaldi walaupun tubuhku tidak kotak-kotak seperti poster iklan pria macho.
“Apa kamu bisa bernyanyi Sisilia?” Aku langsung menyodorkan microphone padanya. “Bawa santai saja, aku tak seperti Vrey dan dia!” Aku menunjuk wajah Reynaldi.
“Ah, Gua orang baik, kok. Besok-besok kalau lu butuh bantuan, cari saja gua.” Reynaldi tersenyum lebar.
“Jangan datangi dia. Pokoknya jauhi para Mafia dan hati-hati bila meminjam uang, periksa dulu apakah memiliki track record yang baik atau tidak.” Aku memberi nasehat pada Sisilia yang tangannya gemetaran memegang microphone, bahkan suaranya serak saat bernyanyi.
Reynaldi hanya tertawa terkekeh-kekeh saat kusindir, karena tak mungkin ada mafia baik. Mereka bekerja tergantung manfaat yang mereka dapatkan dan bila suatu hari nanti kerjasama itu tak menguntungkan lagi bagi mereka; di saat itulah Anda akan dicampakkan.
***
“Yah, tak terasa sudah hampir jam sepuluh malam dan Sisilia sepertinya sudah lelah bernyanyi. Bagaimana kita bubarkan saja pertemuan ini gendut?” Aku sudah bosan mendengar ceritanya.
“Baiklah tuan Zul. Aku akan menunggumu di Raja Ampat besok. Persiapkan saja perlengkapan apa yang akan tuan Zul bawa,” kata Reynaldi mengajakku mengalahkan Bos Monster Level 100 dan dia melirik Sisilia, “Bagaimana kalau lo pulang dengan gua saja, apartemenku tak jauh dari sini lho,” rayunya—sifat aslinya mulai kelihatan, karena sejak tadi ia selalu memperhatikan tubuh molek Sisilia yang termasuk sangat bagus dan berwajah cantik.
“A-aku akan pulang dengan Dukun Zul,” sahutnya cepat dan memegang erat tanganku. “M-maaf tuan bos ... dan tolong jangan hubungi saya besok-besok." Dia ketakutan, apalagi tadi aku memberinya peringatan agar tidak berurusan dengan Mafia.
“Ah, nona cantik terlalu berpikiran negatif. Ya, kan tuan Zul—”
“Tolong lupakan Sisilia, gendut. Aku akan bertukar kontak dengannya, kalau ada apa-apa padanya berarti Anda tidak menghargai saya sebagai rekan bisnismu!” Aku menyela ucapannya. Karena aku sudah mengetahui sisi pemikirannya yang tak akan melepaskan target yang telah dikuncinya. Sangat sulit bisa keluar dengan baik saat berurusan dengan para mafia.
Reynaldi tersenyum masam. “Baiklah kalau begitu, anggap saja kita tak pernah bertemu. Mengenai hutangmu pada Finance yang dikelola oleh Mafia Celeng Hitam akan Gua hapuskan,” sahut Reynaldi menyalamiku dan keluar lebih dulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
cupa
wkwk bisa bestfriend neh
2024-07-08
1
shadow life
yes
2022-07-12
0
shadow life
ya
2022-07-12
0