“Hei Zul, apa yang lu pakai itu. Perasaan tadi itu tak ada, dah?” Farhan bertanya, bingung melihat Aku tiba-tiba mengenakan Armor Naga Surgawi, item seratus koin emas.
“Ini armor, item pertahanan. Tadi tidak kupakai, karena mengira sanggup mengalahkan Ular Putih itu tanpa memakai ini. Tau-taunya malah dihempaskan, sakit bener, bro!” Aku cengar-cengir.
“Bodoh! Sudah jelas-jelas lawannya Level 80 malah nyimpen item bagus begitu. Untung tak mati lu,” ejek Farhan tertawa cekikikan.
“Bukannya tak mau memakainya dari awal, tetapi aku sengaja menyimpannya untuk melawan monster Level tinggi. Karena harga item ini sepuluh juta bro, mahal!” Aku berkilah.
“Cih, sok miskin, lu. sudah jelas-jelas sekali memasuki Pintu Dunia Bawah, lu mengalahkan banyak monster, kampret!” seru Farhan kesal dengan alasanku.
Aku tersenyum dan tidak menanggapi lagi ocehan Farhan dan didepan kami telah muncul kelinci imut.
“Wah, lucunya ... Aku akan menangkapnya satu, sepertinya harganya pasti mahal kalau ditangkap hidup-hidup.” Farhan hendak maju.
“Hei, bodoh! Mereka itu monster Level 81, lu bosan hidup, ya? Kalau iya, pergi sono!” Aku mendorong Farhan ke depan, tetapi ia langsung berbalik sembunyi di belakang punggungku.
“Tega lu Zul, apa lu tak ingat. Kita ini tiga serangkai dulu dengan Sarah saat di SMA!”
Farhan malah mengingatkan wanita itu lagi, membuatku mendengus dingin.
“Jangan ungkit-ungkit dia lagi, kita sudah bukan levelnya. Dia kalangan kelas elit, sedangkan lu kelas ngumpet—”
“Cih, kau kelas apa? Kelas sok kuat dan tukang pamer!” sela Farhan. Namun tiba-tiba bongkahan-bongkahan es yang ujungnya runcing melesat dengan cepat ke arah kami. “Zul, lakukan sesuatu!" teriak Farhan.
“Cih, kau nyuruh-nyuruh saja dari tadi, sesekali gunakanlah kekuatan Level 75 itu," keluhku langsung membeli item Perisai melindungi kami. “Saat serangan mereka berhenti, langsung kabur sejauh mungkin. Aku tak bisa melindungmu saat memulai serangan balasan.”
Farhan mengangguk, butuh waktu 15 menit menunggu serangan beruntun monster kelinci-kelinci imut itu berakhir. Saat serangan mereka berakhir Farhan langsung lari sekencang mungkin, meninggalkanku tanpa berpamitan lebih dulu.
“Cih, dasar Farhan! Kenapa ada Guild yang mau menerimanya, ya?” cibirku saat menoleh kebelakang ia sudah kabur. Aku pun kembali mengaktifkan Drone kamera untuk merekam adegan pertarunganku selanjutnya.
“Oi, imutnya. Jangan di bunuh Dukun Zul!”
“Boleh minta satu nggak Dukun Zul!”
“Hei, jangan sadis-sadislah Dukun Zul!”
Para viewer channel YouTubeku mulai berkomentar aneh-aneh. Kalau mereka tahu kelinci-kelinci imut ini memiliki Sihir yang mengerikan, mereka mungkin akan menarik kembali permintaan mereka.
“Baiklah gaeesssssss saatnya bermain-main!” Aku berkata pada Drone kamera dan langsung menebas para kelinci imut itu dan mereka langsung berhamburan kabur, karena saat ini Sihir mereka sedang memasuki masa Cooldown atau jeda.
“Nyit!”
“Nyit!”
“Nyit!”
Para kelinci imut berteriak saat kukejar dengan Mandau yang dipenuhi oleh kobaran api. Walaupun mereka melompat dengan lincah, Aku tetap bisa mengejar mereka dengan Lightning Step.
“Dukun Zul, teganya dirimu!”
“Punya hati nurani apa? Pantaslah Sarah meninggalkanmu, ternyata kau lelaki kejam!”
Sial komentar para viewer channel YouTubeku itu bikin sakit hati saja. Namun, bagaimana lagi karena netizen itu maha benar.
Masa Cooldown kelinci imut itu sudah habis dan mereka berhenti kabur dari kejaranku. Ada seringai tipis tampak di wajah imut mereka.
Karena Farhan sudah jauh mundur ke belakang. Tak ada pilihan lain selain menggunakan Sihir api yang sangat kuat untuk melelehkan bongkahan-bongkahan es mereka.
Para Viewer channel YouTubeku tercengang melihat kelinci imut itu ternyata monster mematikan. Mereka mulai menulis komentar menyesal ingin mengadopsi kelinci-kelinci imut itu.
Bongkahan-bongkahan es dari kelinci imut datang bagaikan air hujan yang jatuh dari langit; jumlahnya sulit dihitung saking banyaknya.
Aku mengambil posisi kuda-kuda dan memegang erat gagang Mandau dengan kedua tanganku. Bilah Mandau mengeluarkan api yang sangat besar dan panas.
“Zul, gunakan mantra anime biar keren saat menebas!” teriak Farhan dari belakang yang menonton pertarunganku.
“Cih, si beban ngomong apa, sih. Kau kira aku Wibu seperti dirimu!” sahutku dengan sedikit senyum. “Tapi boleh juga, tuh!” kataku lagi dan aku mendengar umpatan Farhan yang emosi mendengar jawabanku.
“Wahai Api yang berkobar, musnahkan musuh abadimu ini—Explosion!” Aku mengayunkan Mandau di tanganku ke arah bongkahan-bongkahan es serangan monster Kelinci imut.
“Boommmm!”
Lorong itu bergetar hebat, hingga beberapa bebatuan berjatuhan. Farhan sampai berteriak panik sembari berpegangan pada dinding lorong Pintu Dunia Bawah.
Kobaran api yang sangat panas melelehkan bongkahan-bongkahan es dari kelinci imut dan asap teba menutupi pandangan kami, sehingga aku tak tahu apa yang terjadi pada monster kelinci imut itu. Namun, aku mencium aroma daging bakar, mungkin kah mereka telah menjadi sate kelinci? Itu merupakan sebuah tanda tanya, tetapi aku tetap waspada dengan memegang erat gagang Mandauku.
Komentar di channel YouTubeku sudah tak kondusif lagi, banyak viewer yang mengatakan aku menggunakan cheat. Karena menurut mereka Pemburu Level 30 tidak mungkin memiliki sihir sekuat itu.
Terjadi dua kubu saat ini dikolom komentar, ada yang menjadi pendukung fanatikku; mereka tak peduli dari mana aku mendapatkan Sihir kuat, sedangkan yang kontra mengatakan mungkin live streamingku adalah bohongan dengan menggunakan efek CGI atau rekayasa.
Aku sih, masa bodoh saja dan malah senang, karena pertengkaran dua kubu ini malah melejitkan nama Dukun Zul. Sekarang channel YouTubeku sudah mencapai 100 juta Subscribe, jumlah yang fantastis sekali.
“Zul, apa yang terjadi di sana? Apa aku boleh datang ke sana?” Farhan bertanya dengan intonasi suara ketakutan.
“Cepat kau gunakan sihir anginmu itu untuk menghilangkan asap-asap ini,” keluhku, karena dia tak mau menggunakan sihirnya sejak tadi dan malah mengandalkan aku terus.
“Iya ... ah, cerewet sekali lu!” sahut Farhan kesal dan tiba-tiba angin pelan; mungkin lebih kencang angin dari kipas angin lagi. Farhan benar-benar menghemat Sihirnya, membuatku sedikit jengkel.
Saat angin itu, kami hanya melihat daging-daging kelinci yang sudah matang dan beberapa bahkan malah gosong.
“Han, keluarin kecap dan saos. Kita makan daging kelinci bakar dulu hehehehe ....” Aku tak tahan untuk tertawa terkekeh-kekeh melihat pemandangan itu.
“Sudah tak ada waktu, Zul. Tim Guild Asosiasi Pemburu Mahakam akan segera datang, nanti kita akan diusir oleh mereka—bukankah kita akan mengalahkan Bos Monster,” sahut Farhan takut ketahuan oleh mereka; bisa-bisa ia akan di bunuh oleh Guild-nya karena membawa Pemburu yang bukan anggota Guild ke ladang berburu mereka.
Drone yang aku tinggalkan di luar Pintu Dunia Bawah telah merekam kedatangan tim Pemburu Guild Asosiasi Pemburu Mahakam dengan helikopter. Mereka cukup kuat ada satu Pemburu Level seratus yang sepertinya adalah Pemimpin Guild dan yang datang bukan hanya satu tim saja, ada sepuluh tim yang mereka bawa. Sepertinya mereka akan menyapu bersih Pintu Dunia Bawah ini sebelum diketahui oleh para Guild dan Mafia lain.
“Sepertinya kita harus pulang cepat, Han.” Aku menggigit daging kelinci imut itu. “Mereka sangat cepat dan lain kali kalau ada tempat berburu yang sangat bagus lagi, katakan dengan cepat dong. Jangan karena kalian tak sanggup mengalahkannya, baru meminta tolong dan temanmu tak curiga ‘kan, kau tak ikut dengan mereka.”
“Tenang saja, kalau sudah disumpal dengan Koin Emas, maka mereka akan jinak seperti anak ayam,” sahut Farhan tertawa terkekeh-kekeh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Kangee
🤣
2023-08-02
0
shadow life
yer
2022-07-12
0
Nina Melati
Suka cerita, semua novelmu idolaku. Semangat Thor
2022-06-14
0