Aku membuka portal berita online dan terkejut, ternyata ada mata-mata atau wartawan dalam acara yang diadakan oleh Gubernur Sulaiman di Hotel AnH itu.
Topik terhangatnya adalah Dukun Zul berseteru dengan sekumpulan serigala. Aku tersenyum geli membaca judul berita itu. Ada-ada saja ulah mereka agar topik itu akan menjadi berita hangat dan viral.
Mobil di belakangku ini mencurigakan sekali, sudah dari kawasan Senayan mereka mengikutiku, bahkan sudah diberikan jalan agar mereka lewat lebih dulu. Namun, mereka malah melambatkan laju mobilnya. Mencurigakan sekali.
Jangan-jangan ini ulah Saga? Hmm, ia bertindak sangat cepat. Sepertinya aku tak boleh menunda waktu pulang ke kampung. Bisa-bisa Emak malah diculik oleh orang-orang suruhannya, para mafia itu tak memiliki belas kasih. Kasihan nanti Emak, kalau ketangkap oleh mereka. Bisa-bisa Emak disiksa. Apalagi kalau Maimunah yang ditangkap dan mereka melakukan adegan ... ah, membayangkannya saja membuat bulu kudukku berdiri.
Aku membanting setir memasuki tol dalam kota, Aku takut mereka melakukan kontak senjata di jalanan ramai ini, karena jam tanganku baru menunjukkan pukul sembilan malam. Kalau di Jakarta, jam segini masih ramai dilalui pengendara yang pulang kerja dan sekedar mencari hiburan malam.
Asem, sesuai dugaanku. Mereka juga memasuki jalan tol dalam kota.
Dengan terpaksa aku harus menggunakan Koin Emasku yang hanya tersisa 1000 ini untuk membeli item yang cocok untuk menghadang mereka.
Aku teringat dengan adegan film aksi yang memperlihatkan protagonis utama menggunakan senapan mesin menembaki musuh. Adegan itu sungguh keren, di mana ribuan butir peluru keluar dalam hitungan menit dan seluruh musuhnya langsung tersungkur.
Pilihanku jatuh pada senapan mesin SM-2 buatan PT.Pindad, tumbal yang harus dibayar lumayan tinggi. 100 Koin emas, ah, tak apalah yang penting bisa membuat mereka ketar-ketir.
Mobil dobel kabin Nissan Navaraku langsung berhenti dengan posisi horizontal di tengah jalan, sehingga kesepuluh mobil Pajero sport yang mengikutiku itu, ikutan berhenti.
Aku memakai kacamata hitam, agar seperti aktor laga dan membuka jendela mobil. Mereka pasti akan kaget dengan Senapan mesin SM-2 ini.
Ya, benar saja. Pajero sport yang berada paling depan langsung berusaha mundur. Namun, tak semudah itu Ferguso. Dengan senyum lebar, Aku langsung menembaki mereka.
Kaca-kaca mobil pecah dan begitu juga dengan body mobil mereka. Beberapa orang di dalam mobil itu langsung keluar, karena mobil mereka telah rusak dan meledak. Namun, mereka baik-baik saja, karena mereka adalah Pemburu—di mana tak mungkin peluru kaliber 7,62 mm membunuh mereka, palingan mereka merasa seperti digigit semut saja, tetapi itu sudah cukup menghambat laju mereka mengejarku.
“Sialan kau Dukun Zul,” umpat salah satu Pemburu dengan baju compang camping terkena tembakan peluru, dia langsung mengeluarkan Pedang yang mengeluarkan kobaran api dari inventori Papan Virtualnya.
Ah, gawat. Lebih baik aku kabur saja, tak baik membunuh mereka di tempat terbuka seperti ini. Nanti, aku masuk berita utama lagi, karena namaku lagi hangat-hangatnya ini di mata pemburu berita.
Kuinjak kembali pedal gas dan kabur meninggalkan mereka yang berteriak sumpah serapah padaku.
Saga-Saga!
Nama itu sungguh menjengkelkan, entah apa salahku, sehingga ia terus mengusikku. Padahal kalau ia tak memukuliku saat di Rimba Panti, mungkin ia sudah bisa bersenang-senang dengan Sarah dan tak perlu kehilangan muka di depan semua orang seperti tadi.
Kalau aku sudah memiliki Koin Emas yang banyak, sepertinya aku harus melakukan perlawanan pada mereka. Aku akan menjadi superhero seperti Batman atau Spiderman. Hmm, mungkin Thor juga menarik.
Astaga, aku terlalu banyak menghayal. Lebih baik aku beli Item Teleportasi agar bisa langsung pulang ke kampung.
“Aku tak mau, kalau diriku dimadu ....” Nada dering smartphone milikku berbunyi. Dan aku langsung meraih Smartphoneku itu dari kantong celana.
Sarah!
Aku bingung untuk sesaat. Kenapa mantan tunanganku itu mengirim pesan singkat. Apa ia butuh bantuan? Padahal aku sudah memberikannya dua buah item Teleportasi.
Aku langsung membaca pesan singkatnya dan Sarah cuma mengirim pesan, ”Terimakasih Bang Zul, sudah membantuku. Sampai jumpa lagi.” Gitu doang.
Aku bingung mau membalas apa? Ya, sudahlah kirim pesan, “Tentu saja. Aku tak ingin kamu jatuh pada buaya sesat itu.”
Buset, kecepatan ngetik pesannya seperti kecepatan cahaya saja. Baru juga terkirim sudah dibalas.
Eh, dia balas apa, ya? Kok aku malah senang, ya? Apa jangan-jangan cinta lama bersemi kembali. Hahaha ... konyol sekali. Mana mungkin masa lalu itu bisa dibangun ulang. Dia sudah memiliki kehidupannya sendiri dan aku juga dengan jalanku sendiri. Aku hanya tak ingin dia dengan Saga yang telah membuat api permusuhan denganku, kalau ia menemukan pria lain. Itu sih, hak dia.
“Bang Saga sebenarnya adalah orang baik. Dia tak pernah kok, melakukan hal-hal kotor seperti yang ia katakan tadi. Dia cuma memancing amarah Bang Zul saja. Tolong maafin dia, ya.”
Apa-apaan pesan balasannya ini. Padahal tadi ekspresinya seperti akan mau kiamat saja. Namun, kini ia malah membela laki-laki tak jelas itu. Dasar aneh.
“Dia yang memulai dan dia yang harus mengakhiri. Katakan padanya, tak ada ampunan bila bermain-main api denganku. Selamat malam.”
Aku membalas lagi pesan Sarah. Namun, kali ini hanya dibaca saja dan tak dibalas lagi. Ya, sudahlah, buat apa aku berharap dengan wanita sepertinya—mungkin ia sudah merasa nyaman dengan kampret itu, lebih baik aku fokus dengan karirku dulu. Masalah jodoh, nanti bisa menyusul juga, mungkin bisa minta Maemunah memperkenalkan teman-teman kuliahnya padaku. Selain cantik, malah jauh lebih muda dari Sarah.
Astaga aku malah kepikiran aneh-aneh. Aku membuka Papan Virtual dan membeli item Teleportasi. Saat itu juga aku berpindah ke halaman rumah lama kami di kampung yang kini sudah ditempati kembali oleh orangtuaku. Karena pemerintah telah menyatakan kawasan kecamatan Panti bukan lagi masuk kategori kawasan Zona Merah—dilarang di masuki, karena ada Pintu Dunia Bawah Level Maksimum di sana.
“Zul!” teriak Emak memegang dadanya, sepertinya ia kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba muncul di halaman rumah, lengkap dengan Mobil dobel kabin Nissan Navara.
“Kenapalah Emak berteriak begitu. Bukannya senang, anakmu pulang kampung?” Aku menggoda Emak yang menghela nafas panjang.
“Senang matamu. Kau mau Emak jantungan? Dan cepat mati, hah?” Emak tak terpengaruh dengan rayuanku.
Gelas kopi ayah terjatuh tadi saat melihatku tiba-tiba muncul. Namun, ia berpura-pura tenang, kedua orangtuaku ini sedang bersantai-santai di teras rumah.
“Kenapa kau pulang Zul? Apa di Jakarta tak enak atau kau langsung rindu dengan Mak-mu. Padahal kau bertahun-tahun tinggal di hutan, tak pernah kau serindu ini.” Ayah malah menanyakan hal konyol pula.
Aku mengerutkan kening. “Ayah, Mak. Aku berseteru dengan Mafia, sehingga kemari untuk mengingatkan kalian untuk berhati-hati. Terutama untuk Maemunah dan Iskandar, agar berhati-hati bila bertemu orang baru.” Aku memberi peringatan.
“Kau berseteru dengan Mafia, Zul?” Emak langsung panik dan tiba-tiba pingsan, karena tak sanggup menerima kenyataan itu
“Mak!”
“Mak!”
“Aduh, bagaimana ini, Yah?” Aku menggendong Emak ke dalam rumah. Sebenarnya aku bisa saja mengobatinya dengan menggunakan Sistem Dukun. Namun, tak kulakukan karena Emak pasti tetap panik seperti tadi. Mendingan dibiarin saja ia memenangkan hatinya; untuk saat ini aku berkonsultasi dengan ayah dulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
shadow life
yes
2022-07-12
0
Mulyadi Putra
hahaha balek kampung Bawak masalh🤭🤭🤭😂😂🤣🤣🤣
2022-05-12
0
Carles Wijayanto
pokoknya aq penggemar mu bang
2022-03-06
0