Pulang kampung

“Hei, Bang!” Iskandar berlari dari dalam rumah—panik melihat Emak pingsan. “Bawa sial aja kau ini. Pulang-pulang malah bikin repot keluarga saja,” gerutu Iskandar—mungkin ia sudah mendengar percakapan kami saat di teras rumah tadi.

“Apa ini gara-gara Bang Zul, masih benci dengan Kakak Sarah, sehingga Abang berseteru dengan Saga?” Maemunah juga menyalahkan Aku.

“Tak sesederhana itu juga kaliiii. Apa kalian tak pernah buka YouTube atau lihat berita? Abangmu ini telah menjadi YouTubers dadakan, makanya menyinggung pihak-pihak yang mau Abang bertekuk lutut pada mereka.” Aku berkilah dan tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya.

“Berarti Dukun Zul itu Abang ternyata,” sahut Iskandar dengan wajah sumringah dan aku mengangguk, sembari membawa Emak ke kamarnya—kemudian kembali ke ruangan tengah. “Aku sudah curiga dari awal, namanya kok mirip dengan nama Abang gumamku. Eh, ternyata benar.”

“Lupakan masalah itu dulu. Aku akan memberikan kalian masing-masing 5 item Teleportasi dan 5 item Perisai juga. Kalau ada yang menyerang kalian tiba-tiba, berteleportasilah ke kantor Polisi atau ke rumahku juga boleh. Pokoknya, jangan kembali ke sini untuk sementara, sampai aku membereskan mereka,” kataku langsung mentransfer item tersebut pada mereka.

“Hebat juga Sistem Dukun punya Abang itu. Kalau begini, Abang tak perlu khawatir, kami akan baik-baik saja. Fokuslah dengan pekerjaanmu,” sahut Iskandar.

“Eeeee, Abang bertengkar dengan Saga gara-gara memperebutkan Kak Sarah ternyata,” teriak Maemunah membuatku kaget saja.

Ini pasti ulah berita infotainment yang melebih-lebihkan kejadian itu.

“Itu cuma pemantik saja, jangan kira gara-gara hal sesederhana itu mereka akan membunuhku dan kalian." Aku membantah, agar mereka berhati-hati kedepannya.

“Iya, aku tahu,” sahut Maemunah lesu, aku mematahkan argumennya. “Tapi, heran, dah. Kenapa Kak Sarah, betah dengan orang jahat itu?” Maemunah bingung.

“Ada hal yang tak bisa kita lakukan, padahal itu sebenarnya sederhana. Namun, nyatanya kita telah terikat dan tak bisa melepaskannya lagi. Satu-satunya cara adalah menerima kenyataan itu dan berdamai dengan keadaan. Kau seharunya mengerti, ‘kan kau mahasiswi,” kataku sembari menuju kamar Iskandar untuk tidur, aku sudah lelah dan besok mau ke Kalimantan lagi membantu Farhan menaklukkan Pintu Dunia Bawah yang mereka temukan.

“Aku tak bisa mencerna ucapanmu, Bang!” teriak Maemunah. “Abang mengerti tidak?” tanyanya pada Iskandar.

“Itu sih, gampang. Namun, Aku lagi malas menjawabnya hehehe ....” Iskandar tertawa cekikikan dan kabur keluar rumah, ia sepertinya akan pergi ke kedai untuk nongkrong dengan teman-temannya.

“Dasar bodoh!” teriak Maemunah pada Iskandar dan mengikutiku ke kamar, pasti ia ingin bertanya hubunganku dengan Sarah. Namun, aku langsung menutup pintu kamar, sehingga dia berteriak-teriak mengumpatiku, tetapi aku tak peduli karena sudah lelah sekali dan langsung membaringkan tubuhku di ranjang milik Iskandar itu.

***

Keesokan harinya aku langsung pamit untuk kembali ke Jakarta. Aku tidak mengatakan, bahwa tujuanku selanjutnya sebenarnya adalah ke Kalimantan.

“Hati-hati, Zul. Jangan mencari musuh dan bertemanlah dengan banyak orang. Emak khawatir kamu tak bisa mengatasi mereka, walaupun kamu bilang sudah memiliki Sistem Dukun yang hebat itu. Namun, hati Emak tetap was-was.”

“Tenang saja Mak, aku akan bertindak hati-hati.”

Aku memeluk Emak, malah mereka yang khawatir padaku. Padahal ‘kan yang Aku takutkan mereka yang malah diincar oleh musuh-musuhku.

“Jaga mereka, ya!” Aku menepuk pundak Iskandar.

“Tenang saja, Bang. Kalau bisa berikan aku senjata keren atau apalah; seperti yang di Film-film itu, lho,” sahut Iskandar dengan senyum lebar.

Aku tak menjawab, karena kalau dijawab; pasti akan lebih banyak ocehannya lagi nanti itu. Pas aku mau menyalami Maemunah, ia malah cengar-cengir dan aku tahu dia pasti berharap diberikan uang jajan.

Aku merogoh kocek dan untungnya ada selembar pecahan uang seratus ribu.

“Jangan langsung dihabiskan!” bisikku dengan seringai kecil dan langsung masuk ke dalam mobil dobel kabin Nissan Navara.

“Abang Pelit!” gerutu Maemunah. “Sudah jadi Pemburu terkenal, masa cuma dikasih cepek doang!” keluhnya dengan bahasa ala-ala anak Jakarta, mungkin ia terlalu sering menonton sinetron; sehingga ingin terlihat seperti anak gaul.

Aku tak peduli dengan ocehannya, aku malah langsung mengaktifkan Item Teleportasi menuju hulu sungai Kapuas, tempat ditemukannya Pintu Dunia Bawah; sesuai dengan koordinat yang dikirim oleh Farhan.

“Woi, ngapain lu bawa-bawa mobil ke hutan ini kampret. Lu kira dimari sirkuit balapan,” umpat Farhan terkejut melihatku muncul tiba-tiba. Untung saja aku sudah menelponnya lebih dulu tadi, sehingga ia tidak mengajak teman-temannya menungguku. Mereka masih di dalam Pintu Dunia Bawah, berburu di lorong lain yang belum mereka jamah.

“Santai saja bro.” Aku menepuk pundaknya. “Berarti kau sudah mengatur kalau hanya kita berdua yang akan memasuki ruangan bos monster, Kan?” Akan merepotkan bila bekerjasama dengan banyak orang. Pasti akan sulit nanti pembagian hasil jarahan dan terjadi lagi saling bermusuhan—padahal musuhku sudah banyak, masa harus tambah lagi.

“Tenang Mbah Dukun, sesuai dengan instruksimu,” sahut Farhan dengan senyum menjijikkan. Kelihatan sekali jiwa penjilatnya itu, pantesan ia bertahan dengan mudah di dunia Perburuan ini—itu karena ia pandai menempatkan diri di berbagai keadaan.

“Monster Level 80 itu jenis apa?” tanyaku, karena butuh informasi detail juga apa yang akan kuhadapi nanti, agar bisa membeli Item yang cocok dan pas melawan monster itu.

“Ular Putih dengan semburan racun mematikan dan ia juga memiliki sisik yang tebal, sehingga senjata atau sihir apapun sulit menebusnya dengan Level Pemburu kami saat ini,” sahut Farhan.

Aku berpikir sejenak, kalau menghadapi racun ular itu, Aku bisa menggunakan armor Naga Surgawi. Namun, untuk menembus sisik tebalnya aku pakai apa, ya?

Kemarin aku sudah menggunakan senjata Panah Petir Pitaloka dan untuk memikat penonton streaming channel YouTubeku, perlu gaya bertarung yang baru—agar para penonton terhibur dan selalu menantikan kehadiranku.

Aku sebenarnya saat masih sekolah, pernah ikut latihan Pencak Silat. Mungkin aku akan membeli item Pedang saja melawan monster Ular Putih itu.

Aku langsung memilih Pedang yang cocok di Layar Virtualku dan akhirnya aku memilih Mandau, karena saat ini aku berada di Kalimantan, kenapa tak menggunakan senjata tradisional Dayak ini saja.

“Hei, Zul? Bukannya kemarin kau memakai Panah dengan sihir Petir. Kenapa sekarang malah memakai Mandau?” tanya Farhan kebingungan, karena ia belum tahu kelebihan Sistem Dukun yang dapat membeli apa saja, asalkan ada tumbal emasnya.

“Hahaha ... Han-han!” Aku tertawa sombong. “Apakah kamu tidak pernah menonton film, kalau protagonis utama itu bisa menggunakan seluruh jenis sihir.” Kesombongan yang hakiki adalah jalan ninjaku, sehingga Farhan langsung geleng-geleng kepala, karena tak bisa membantah lagi.

“Baiklah, mari kita masuk ke dalam. Sebelum bala bantuan dari Jakarta datang, karena rekan-rekanku telah memberitahu kantor pusat Guildku,” sahut Farhan membawaku memasuki Pintu Dunia Bawah.

Terpopuler

Comments

shadow life

shadow life

yes

2022-07-12

0

Jimmy Avolution

Jimmy Avolution

Ayo...

2021-11-15

0

SikilatHitam

SikilatHitam

lanjutkan Thor semakin seru dan tetap semangat

2021-10-21

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!