Dengan mudah aku menebas monster Level rendah dengan Mandau di tanganku, hitung-hitung pemanasan sebelum melawan monster Level tinggi.
“Kenapa tidak melakukan live streaming, Zul?” tanya Farhan, padahal sekarang momen yang tepat untuk pamer, kebetulan sekali hanya Guild Farhan yang memasuki Pintu Dunia Bawah ini dan itupun anggota Guild-nya memasuki lorong lain.
“Belum saatnya Han, kalau monster Level rendah begini mah, sudah biasa. Nanti pas ketemu Ular Putih itu, barulah kita akan membuat gempar dunia maya lagi.” Aku memberikan alasan.
“Iya, tapi jangan terlalu cepat berburunya! Gua keteteran nih, ngumpulin mayat monsternya!” keluh Farhan tertinggal agak jauh di belakang.
“Hadeehhh, masa Pemburu Level 70 lemah begini, aku saja Level 30 semangat ‘45, nih.” Aku mengejek Farhan yang tampak kesal.
“Kau itu tidak normal, Kampret! Jangan-jangan kau ngeceat!” bantahnya, tetapi aku cuma cengar-cengir dengan memperlambat langkahku.
Tak sulit bagiku mengatasi para monster, hingga kami bertemu monster Level 80 yang dikatakan oleh Farhan sebelumnya.
Ular putih berukuran sangat besar mendesis saat melihat kami, Farhan langsung mundur beberapa langkah, ia tampak takut—mungkin trauma saat melawannya kemarin.
“Baiklah, waktunya pertunjukan!” Aku mengeluarkan drone kamera untuk merekam adegan pertarungan melawan monster Ular Putih berlevel 80 itu.
“Semangat, Zul!” teriak Farhan dari belakang menyemangatiku, ia sudah tak sabar melihat kehebatan Dukun Zul yang tiba-tiba menjadi YouTubers dadakan itu.
“Yu, selamat pagi semua! Berjumpa lagi dengan Dukun Zul. Sekarang gua lagi ada di Pintu Dunia Bawah melawan Ular Putih berlevel 80!” Drone kamera menyorot kamera pada Ular Putih. “Bulu kudukku merinding gaesss ... Aku atut Mae hahahaha ....”
Dalam sekejap sudah 5000 viewer yang menonton live streamingku itu. Sepertinya mereka sudah menanti-nanti aktraksiku, apalagi pemberitaan santer beredar kemarin melejitkan nama Dukun Zul, belum lagi aku terlibat cinta segitiga dengan Sarah dan Saga, itu sih, kata sebuah pengamat yang ingin numpang tenar dengan perseteruanku dengan Guild Harimau Andalas.
“Dukun Zul, sekarang berburu di mana?”
“Eh, Dukun Zul, memakai senjata Mandau!”
“Apakah kali ini kita akan melihat sesuatu yang hebat?”
“Hajar Dukun Zul!”
Berbagai komentar di live streamingku bermunculan, viewer akun YouTubeku juga terus melejit.
“Gua tak perlu berlama-lama lagi ya, gaesss. Jangan lupa Like, share and Subscribe, ya.”
Aku langsung melompat ke hadapan monster Ular Putih yang langsung menyemburkan racun mematikan, untungnya aku sudah mengantisipasi dengan membeli obat anti racun dari Sistem Dukun, sehingga sekarang aku kebal terhadap racun.
Ular itu mendesis dan tampak kesal, karena aku menerjang racun yang ia semburkan. Kemudian ia menghempaskan ekornya ke arahku.
“Awas Zul!" teriak Farhan.
Oh, tidak! Aku tak mengantisipasi hal itu dan tubuhku langsung terhempas menabrak dinding gua dengan batuan berwarna hijau tua, mungkin batu akik bacan hijau.
“Apa baik-baik saja, Zul?" Farhan tampak khawatir, tetapi ia tak berani mendekat.
Aku mengangkat sebelah tanganku. “Aku baik-baik saja, Han. Ini mah, bikin geli saja!” sahutku—padahal kenyataannya aku merasa seluruh tubuhku retak dan sangat sakit untuk digerakkan. Itu sebenarnya wajar, maklum aku masih Level 30, sehingga fisikku masih lemah dibandingkan fisik Farhan.
Dengan cepat aku membeli Obat Immortal, yang dapat menyembuhkan luka dengan sekejap. Namun, aku harus mengeluarkan 100 Koin Emas sebagai tumbalnya. Mahal, sih, tetapi itu setimpal dengan kemanjurannya.
Aku menyeka darah yang keluar dari mulutku dan berdiri kembali.
“Oo, dasar lu ular sawah, berani sekali menghempaskan Dukun ini.” Aku menyeringai menatap Ular Putih itu. “Aku akan memotong-motong tubuhmu dan dijadikan sate. Hmm, sepertinya itu lezat ....”
Farhan terlihat geleng-geleng kepala dan menghela nafas panjang. Sudah dihempaskan, aku malah membuat lelucon sombong.
“Di kolom komentar YouTubemu telah banyak yang menghujat dan mengolok-olokmu lho, Zul.” Farhan mengingatkanku agar jangan bermain-main lagi.
“Itu mah wajar. Nanti, saat aku mengalahkan monster ini, mereka akan memujiku lagi,” sahutku memasang kuda-kuda Silat.
Mandau di tangan kananku mengeluarkan kobaran api yang sangat panas, bahkan Farhan mundur sangat jauh karena tak tahan dengan hawa panas itu.
“Sialan lu Zul, Sihirmu itu kekuatan Cheat! Kenapa lu doang yang dapat, ya!” keluh Farhan iri dengan Sistem Dukun-ku.
“Ini adalah kekuatan orang-orang yang bersabar, Han!” sahutku dengan seringai tipis. Karena lima tahun lalu, banyak orang yang menjadi Pemburu dengan kekuatan Sihir mereka yang mampu mengalahkan ribuan tentara sekaligus. Namun, aku saat itu masih menjadi petugas pom bensin dan menjadi bahan olok-olok tim Saga. Sekarang, siapapun berani kulawan, asalkan jangan keroyokan saja, sih. Kalau dikeroyok aku masih memiliki kartu andalan, yaitu item Teleportasi untuk kabur.
“Sombong lu sialan!” gerutu Farhan. “Cepat habisi dia! Aku mendapat notifikasi dari Guild pusat, kalau tim Pemburu terhebat Guild Asosiasi Pemburu Mahakam yang akan mengambil kendali Pintu Dunia Bawah ini.” Farhan khawatir kami tak akan mencapai ruangan Bos bila tim Pemburu Guild Asosiasi Pemburu Mahakam datang lebih cepat.
“Baik-baik, jangan khawatir,” sahutku membeli item yang dapat menganalisa kelemahan Ular Putih.
Ternyata bagian tubuh bawahnya adalah kelemahan Ular Putih itu, sedangkan bagian atasnya memiliki sisik yang tebal.
Aku langsung muncul tiba-tiba di bagian perut Ular Putih dan menebas Mandau dengan kobaran api yang sangat panas itu, sehingga tercium aroma daging bakar dari tubuhnya.
Ular putih itu mendesis dan menggeliat karena kesakitan oleh tebasanku, ia kemudian mencoba menelanku; mulutnya menganga. Namun, aku langsung menghindar dengan Lightning Step. Ular putih itu menatapku dengan tatapan aura pembunuh yang sangat kuat, sehingga Farhan muntah darah, karena tak kuat menerima serangan tekanan mental itu.
Melihat pertahanannya terbuka, aku langsung melesat muncul di sebelahnya dan menebas bagian rahang bawah Ular Putih itu—menarik Mandau hingga ke bagian perutnya; organ tubuh bagian dalam Ular Putih itu berceceran dan iapun langsung ambruk.
Aku melompat ke kepala ular putih dan berpose di depan Drone kamera.
“Ular sawah ini belum cukup gaesss untuk sekedar mengeluarkan keringat Dukun Zul, hahahaha ....” Aku tertawa cekikikan, sedangkan Farhan geleng-geleng kepala dan langsung mendekat untuk menyimpan tubuh Ular Putih.
“Waw ... Dukun Zul, memang yang terhebat!”
“Pemburu dari Guild besar bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan Dukun Zul. Bandingkan saja, mereka butuh satu tim dengan berbagai Sihir untuk mengalahkan satu monster Level tinggi, sedangkan Dukun Zul hanya dengan Mandau saja!”
“Dukun Zul, sebenarnya Anda punya berapa Sihir, sih?”
Akhirnya ada juga yang menyadari, aku menggunakan Api. Kemudian aku menjawab kalau itu adalah rahasia, agar menjadi kejutan kedepannya. Mereka kecewa dengan jawabanku, tetapi mereka juga mengatakan untuk mendukungku pada Kompetisi tahunan yang memilih siapa Pemburu paling kuat tahun ini, sedangkan tahun Lalu dimenangkan oleh Alexander Lemos dari Amerika Serikat dan peringkat dua adalah Fang Yuan dari China, sedangkan dari Indonesia hanya menduduki peringkat 25 yang diwakilkan oleh Komarudin dari Guild Javanese Soldier.
Aku jadi tertarik dengan informasi itu, karena kebetulan tahun kompetisi itu diadakan di Jakarta. Ya, sudahlah ... nanti saja dipikirkan, sekarang kami akan melangkah ke bagian terdalam untuk menghadapi monster Level 81.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Zorro
fang yuan nyasar kesinii
2024-10-26
2
Kangee
🤣🤣🤣🤣
2023-08-02
0
shadow life
yes
2022-07-12
0