Pulang

Aku kini berdiri di depan pintu rusunawa nomor 228, entah mengapa jantungku berdebar-debar kencang. Mungkin karena telah lama tak berjumpa dengan keluargaku.

Saat Aku ingin mengetuk pintu, Aku malah mendengar suara Maemunah dan Iskandar sedang tertawa terkekeh-kekeh.

Apa yang mereka lakukan? Apa Iskandar sudah boleh pulang dari rumah sakit?

“Mak, Aku pulang!” sapaku langsung membuka pintu.

Ayah, Emak, Maemunah dan Iskandar langsung menoleh, ternyata Maemunah sedang Video call dengan seseorang melalui Layar Virtual miliknya.

“Kenapa bengong begitu?—Aku mirip hantu, ya?”

Aku bercanda sambil membuka pintu kulkas dan mengambil air minum yang didinginkan di situ.

“Kenapa kau pulang, Bang?—Kau nggak kerja. Padahal kami mau ke sana untuk memberikan kejutan,” kata Iskandar.

“Kejutan?” Aku heran dan teringat, “Eh, kapan kau sembuh, dek?” Aku langsung memegang dan memeriksa tubuh Iskandar. “Ini bukan mimpi, kan?”

“Hahahaha ... tebak bang, kenapa aku bisa sembuh?” sahut Iskandar tertawa lepas.

“Kok, bisa sembuh dia, Mak?” tanyaku pada Emak yang senyum-senyum di kursi plastik sambil menonton TV melalui Layar Virtualnya.

“Siapa lagi kalau bukan kakak Sarah datang kemarin ke sini dan membayar tagihan rumah sakit Iskandar. Kak, Sarah juga memberikan Emak 100.000.000 Rupiah untuk biaya hidup kita sehari-hari,” sela Maemunah. “Apa Abang, mau berbicara dengan Kak, Sarah. Aku sedang video call dengannya lho—”

Darahku mendidih mendengar nama itu. Apa ia sedang mengejekku, setelah tunangannya menghajar habis-habisan diriku kemarin, sekarang ia malah sok menjadi pahlawan di hadapan keluargaku.

“Katakan padanya untuk tak perlu lagi membantu kita, kalau perlu aku akan mencicil uang yang ia berikan.” Aku menyela ucapan Maemunah.

“Ke-kenapa Abang ngomong begitu?” Maemunah kebingungan, “Apa karena berita kak Sarah—”

“Cukup Maemunah!—Tak usah kau berhubungan dengannya dan jangan dibahas lagi,” bentakku.

“Zul!” Ayah balas membentakku. “Ada apa denganmu, tiba-tiba marah-marah begitu?” katanya lagi.

“Kak, Sarah aku tutup video call-nya, ya,” kata Maemunah langsung menutup Layar Virtualnya tanpa menunggu jawaban dari Sarah.

***

Sarah yang kini berada di apartemennya, di kawasan Jakarta Selatan kebingungan. Dia berpikir ini pasti gara-gara kejadian kemarin. Dia memang tak bisa berbuat apa-apa, tetapi untuk menebus dosanya, ia sampai meminta Annisa menggunakan sihir penyembuhan pada Iskandar, adik Zulkarnain dan juga memberikan uang untuk biaya sehari-hari mereka, ia juga mengatakan pada Maemunah, agar menghubunginya bila mereka butuh biaya lagi.

Namun, sekarang ia malah mendengar perkataan menyakitkan dari laki-laki yang pernah mengisi hatinya itu. Walaupun sebenarnya sampai sekarang ia masih menaruh hati pada Zulkarnain, tetapi saran dari pelatihnya ia tak boleh dekat-dekat dulu dalam hal asmara untuk meniti karirnya sebagai Pemburu. Itulah mengapa ia tak pernah menghubungi Zulkarnain selama lima tahun terakhir ini, tetapi pertemuan pertama mereka; Zulkarnain malah dihajar habis-habisan oleh Saga, calon tunangannya.

Sarah menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat-erat bantal gulingnya. Bahkan ia tak mengangkat telepon dari Saga.

“Bang Zul, maafkan aku.”

“Seharusnya kamu tak meminta aku menjadi Pemburu dulu, sekarang Aku bingung mau ngapain?”

“Sulit untuk kembali padamu, karena hidupku harus tampak sempurna sebagai Pemburu top dunia. Tidak mungkin aku kembalikan. Ah, Aku harus bagaimana?”

***

Maemunah menatap tajam padaku, ia ingin penjelasan kenapa aku tiba-tiba sangat marah saat mendengar nama Sarah, mantan calon istriku itu.

“Aku sekarang sudah jadi Pemburu dan ini lisensinya. Makanya tak perlu lagi berhubungan dengannya,” kataku sambil memperlihatkan lisensi Pemburu yang baru kudapat tadi.

“Hebat kau bang, kita bisa berburu bersama dong,” kata Iskandar yang baru pulih itu.

“Kau tak boleh berburu lagi. Kan, sudah berjanji akan membantu kami membangun ruko kecil nanti di kampung setelah boleh kembali ke sana,” sela Ayah menepuk pundaknya.

“Abang mau berbaring lagi di rumah sakit!” ejek Maemunah.

Emak menatapku dengan tatapan berbinar-binar.

“Apa kau tak takut bernasib sama dengan Iskandar, Nak?” Emak tampak khawatir dengan keputusanku menjadi Pemburu.

“Tenang Mak, aku akan menjadi Pemburu top dunia. Lihat ini.” Aku memperlihatkan Layar Virtualku.

“Level 25 dan 300 Koin Emas!” seru Iskandar berteriak kencang, hingga kuping kami terasa berdengung mendengarnya. “300 Koin Emas itu setara 30 juta, lho.” Dia kaget bukan main.

Aku berkacak pinggang menyombongkan diri, sebenarnya ada 400 Koin Emas awalnya, tetapi 100 Koin Emas telah aku bagi-bagi pada abang-abang TNI yang sering mampir ke SPBU.

“Kenapa tak bilang dari dulu, kalau begini, Emak akan menolak pemberian Sarah kemarin,” kata Emak tersenyum bahagia.

“Wah-wah! Sarah pasti menyesal telah meninggalkanmu, Zul, kalau begini,” sela Ayah tertawa terkekeh-kekeh.

Aku hanya tersenyum masam, karena mereka masih saja mengungkit Sarah. Namun, aku sangat bahagia melihat senyuman mereka, ini jauh lebih berharga daripada tumpukan harta.

“Jadi, kapan kau akan pergi, Zul?”

Ayah sudah tahu, aku pasti akan pergi ke kota untuk mendaftar ke Guild Pemburu.

“Besok, Ayah.”

“Cepat juga, ya,” sahut Emak dengan wajah lesu.

“Sudah, tak apa. Yang lebih penting Zul, Jangan sombong dan terobsesi menjadi Pemburu top dunia, lalu kau memaksakan diri melawan monster Level tinggi—Keselamatan itu lebih utama. Itu saja sih, nasehat dari ayah.”

“Tenang saja Ayah, Mak ... Aku pasti pandai menjaga diri, bukan berlagak hebat seperti si Iskandar hahaha ....” Aku mengejeknya.

“Dari pada Bang Zul, ditinggal Kak Sarah hahaha ....” Iskandar membalas mengejekku.

“Kampret kau adik, kurang ajar. Kan, sudah kukatakan tak usah bahas dia lagi.” Aku ingin menjitak kepalanya, tetapi ia keburu kabur.

“Jangan pulang kemalaman, nanti kau ditangkap patroli polisi lagi. Ayah, juga yang repot mengeluarkanmu dari tahanan,” kata Emak mengingatkannya.

“Beres Mak, Aku hanya ke rumah Bahri saja, kok,” sahut Iskandar dengan senyum mengejek kearahku.

Setelah Pintu dunia bawah terbuka, orang-orang yang bukan Pemburu akan dilarang keluar diatas jam sembilan malam. Karena beberapa monster yang bisa terbang datang ke zona hijau untuk berburu makanan.

“Mak, aku ada daging monster laba-laba Level 80 lho,” kataku dengan senyum lebar. Daging monster Level 80 harganya sangat mahal, keluarga miskin seperti kami tak akan sanggup membelinya. Palingan sesekali mendapat daging monster Level sepuluh ke bawah, itupun bantuan sosial dari pemerintah yang datang sekali sebulan.

Rasanya?—Oh, jangan tanyakan; tentu tidak enak. Berbeda dengan yang sudah level tinggi, kabarnya sangat enak. Aku sih tak tahu, karena belum pernah memakannya. Namun, daging monster Level 50, pernah sekali memakannya dan rasanya sangat enak. Daging itu diberikan oleh Praka Abdul Aziz yang kebetulan membawa dua kotak perbekalan dan satu diberikannya kepadaku.

“Wah! Makan enak dong, nih!” seru Maemunah langsung mendekatiku, ingin melihat isi Inventory milikku. “Kenapa monster laba-laba utuh ada di Inventory Abang?” Maemunah heran, karena Aku cuma Pemburu Level 25, sementara monster laba-laba itu Level 80.

Aku kemudian menceritakan kejadian yang menimpaku, tetapi Aku tak menceritakan kejadian Aku dihajar habis-habisan oleh Pemburu top dunia, karena Aku juga tak ingin mereka membenci Sarah nantinya.

Mereka kaget dan senang mendengarnya, karena Layar Virtualku sangat canggih, walaupun harus membayar tumbal Koin Emas untuk menggunakan perangkatnya.

...~Bersambung~...

Terpopuler

Comments

cupa

cupa

kreatif

2024-07-08

1

shadow life

shadow life

ok

2022-07-11

0

Mulyadi Putra

Mulyadi Putra

klo boleh tebak tebak nhi ya , ntah knp rasa nya ini penulis dri cara nulis nya orng Batak yakarn logat nya brasa sperti itu🤔🤔🤔🤔🤔

2022-05-12

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!