Malam Pukul tujuh, aku mengemudikan mobil dobel kabin Nissan Navara menuju Kawasan Senayan, Jakarta pusat, untuk menghadiri undangan Gubernur DKI Jakarta—merayakan berhasilnya ditutup Pintu Dunia Bawah di Monas tadi, apalagi tak ada monster yang keluar dari Pintu Dunia Bawah, sehingga tak membahayakan keselamatan penduduk.
Setengah jam kemudian aku memasuki Hotel AnH. Jantungku deg-degan, karena ini adalah pengalaman pertamaku memasuki hotel mewah begini.
Security Hotel AnH menatap diriku yang tampak seperti orang linglung, yang tak tahu mau ke mana. Lantas security berbadan tegap dan besar itu mendekatiku, ada aura intimidasi yang terpancar darinya, walaupun ia menunjukkan senyum lebar.
“Ada yang bisa kami bantu, tuan? Anda sepertinya sedang tersesat,” kata Security itu.
Aku mengangguk dengan sedikit senyum dan melihat nama yang tertulis di bajunya adalah Andika. “Saya mendapatkan undangan menghadiri acara yang diadakan oleh bapak Gubernur Sulaiman.”
“Oh, bolehkah saya melihat undangan Anda!” Security itu tidak yakin dengan tampang kampunganku, padahal tamu yang lain langsung memasuki lobby hotel tanpa harus melewati pemeriksaan lebih dulu.
“Emang wajib ya, Pak? Kok, yang lain tidak diperiksa?” Aku masih enggan menunjukkan email undangan dari Bapak Gubernur Sulaiman, karena sama saja menunjukkan identitas asliku sebagai Dukun Zul.
“Bukankah ini sampah dari Rimba Panti? Sejak kapan kau diundang oleh Gubernur DKI Jakarta? Jangan menipu Pak Security, deh. Kasihan nanti, Bapak ini bisa dipecat gara-gara tipuanmu yang ingin memasuki Hotel mewah. Karena di kampung tak ada bangunan seperti ini, kan?”
Tiba-tiba suara Saga terdengar. Kenapa disaat-saat seperti ini, harus berjumpa dengannya.
Aku pun berbalik badan, tersenyum menoleh ke arahnya.
“Wah, ada Saga, teman satu sekolahku yang kini menjadi Pemburu Top Dunia,” sahutku memujinya dan menatap Sarah yang berpura-pura melihat kearah lain. “Widih, Sarah mantan calon istriku dan kekasih masa sekolahku juga hadir di sini, ya. Selamat Sarah, telah menjadi Pemburu Top Dunia, sudah lama, ya—tidak bertemu.” Aku ingin bersalaman dengan Sarah, tetapi Saga langsung mendorong tubuhku. Wajahnya tampak memerah ingin memarahiku.
Wartawan dan penggemar tim Saga yang berkumpul di area luar pintu masuk langsung terkejut mendengarnya.
“Nona Sarah, apakah betul yang ia ucapkan?” Wartawan langsung mengerumuni Sarah yang tampak pucat, tak tahu harus menjawab apa.
“Tenang-tenang!” seru Saga dan beberapa bodyguard langsung mendorong para wartawan menjauhi Sarah. “Dia ini hanyalah Fans fanatik Sarah yang mengaku-ngaku sebagai mantan tunangannya. Apa kalian yakin Sarah menyukai Pria dengan outfit murah begini?” Saga memberikan penjelasan, agar mereka tak yakin dengan ucapanku.
“Hei, tuan! Berapa harga celanamu itu, sepertinya sepatumu itu sepatu lokal seharga seratus ribu, sama dengan sepatu yang kukenakan ini.” Salah satu fans tim Saga bertanya.
Aku tersenyum lebar, “Betul, semua outfiku ini harganya seratus ribu. Ya, yang penting ‘kan pakaian baru, bukan pakaian ke sawah hehehehe ....” Aku membuat wajah mereka masam tak karuan mendengar jawabanku.
Melihat kondisi makin tak kondusif dan Bapak Security yakin aku hanyalah Fans fanatik saja, yang mengaku-ngaku diundang oleh Bapak Gubernur Sulaiman. Dia kemudian menarik tanganku.
“Hei, apa yang kau lakukan? Aku tamu spesial, lho!” Aku melepas genggaman tangannya dari lenganku.
“Hei, bro. Tolong lu jangan persulit pekerjaan gua, dong! Kami bisa dipecat gara-gara lu yang ngeyelan itu,” ancam Security itu, tetapi aku tetap tersenyum dan tidak terpancing emosi. Melihatku yang tetap tenang begitu ia berkata lagi, “Kalau lu memang memiliki undangan, sini tunjukkin—jangan diumpetin terus. Etdah, bikin emosi saja.” Pak Security makin geram, kalau saja tak ada wartawan disekitarnya, mungkin ia sudah menghajarku habis-habisan.
Saga menatap sinis padaku, ia yakin tak mungkin aku memiliki undangan resmi dari bapak Gubernur Sulaiman. Palingan aku hanya rindu berjumpa dengan Sarah saja, itulah yang dipikirkan oleh Saga.
“Ayo masuk! Buat apa berbicara dengan sampah ini,” kata Saga mengajak timnya memasuki lobby Hotel AnH.
Aku melambaikan tangan pada Sarah, dia tetap tak bereaksi. Ya, aku tidak tahu, apakah ia berpura-pura bersikap demikian untuk mengambil simpati dari fansnya dan Saga, atau merasa bersalah karena meninggalkan aku yang pernah mengucapkan janji akan sehidup semati bersama di masa depan. Namun, itu hanyalah masa lalu, aku sudah tak memikirkan itu lagi.
Sarah dan timnya tak terlihat lagi, sementara Pak Security masih memegang lengan tanganku, takut aku menerobos masuk.
Aku menghela nafas panjang.
“Baiklah, lihat dengan jelas. Jangan sampai kau bilang ini penipuan, ya!” Aku menunjukkan email undangan dari Bapak Gubernur Sulaiman dari Layar Virtualku.
Pak Security Hotel AnH itu melongo melihat Layar Virtualku.
“A-anda adalah Dukun Zul, bolehkah aku berselfie denganmu?” Sikapnya kini berubah 360° terhadapku, tak ada tampang sangar yang mengintimidasi seperti tadi.
Bukan hanya Pak Security yang terkejut, para wartawan dan Fans tim Saga juga terkejut mendengar ucapan Pak Security, mereka seakan tak percaya. YouTubers yang sedang viral itu adalah Aku.
“Maaf-maaf semuanya, untuk saat ini aku tak meladeni pertanyaan apapun. Mungkin lain kali saja, karena tak ingin membuat Pak Gubernur menungguku nanti.” Aku langsung menerobos masuk ke lobby Hotel AnH, karena takut mendapat cercaan pertanyaan dari para wartawan.
Aku bernafas lega saat memasuki lobby hotel dan mengikuti tim Pemburu dari Guild terkenal yang kebetulan lewat di sebelahku. Mereka pasti ikut acara undangan dari Bapak Gubernur Sulaiman juga.
“Apa kau merasa ada yang aneh dengan Pintu Dunia Bawah yang di Monas itu?”
“Emang keanehan apa yang lu pikirkan?”
“Masa dalam sehari sudah tertutup. Apa YouTubers Dukun Zul itu tim baru dari tim Saga?” tekannya lagi. “Kan, jalur lorong mereka yang lebih dulu memasuki ruangan bos monster.”
“Tak ada yang aneh, lah. Kan, sudah biasa Guild mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menutup Pintu Dunia Bawah, agar mereka yang mendapatkan penghargaan utamanya,” sela rekannya.
“Sudah-sudah jangan dibahas lagi. Hari ini memang hari terbaik mereka.” Rekannya yang lain menyudahi pembicaraan mereka.
Aku tak menyangka, dikira sebagai bagian dari Guild Harimau Andalas. Itu sebenarnya, wajar juga sih. Mengingat gara-gara aku Guild Harimau Andalas dengan cepat mencapai ruangan bos monster.
Kami memasuki ruangan acara yang digelar oleh Gubernur Sulaiman. Sebelum memasuki ruangan itu, satu persatu tamu undangan harus menunjukkan email undangan mereka.
Yah, rahasia Dukun Zul dengan terpaksa terbongkar ke permukaan. Mulai saat ini, akan banyak pihak-pihak yang ingin menarikku kepihak mereka, dan juga akan banyak musuh yang akan kuhadapi. Karena aku tak akan tunduk pada tatanan sistem Pemburu yang sebenarnya dikelola oleh para mafia dan agen pemerintah yang korup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Nur Tini
Ceritanya fantasi banget, i love it
2022-07-11
1
raroyals
bodoh, pasti setelah ini langsung diburu
2022-01-14
0
raroyals
security di Jakarta begini kah cara bicaranya? jele amat🤣
2022-01-14
0