“Zul!”
Aku mendengar suara Praka Abdul Aziz menanggiku dari luar SPBU, karena aku tak membuka pagar halaman SPBU pagi ini. Aku sudah bertekad berhenti dari pekerjaan yang hanya menguras sisa masa mudaku itu.
“Bang Aziz, Aku datang,” sahutku berlari kecil dengan pakaian bagus milikku satu-satunya yang aku simpan—hanya dipakai saat akan bepergian saja, sedangkan pakaian lainnya aku buang saja. Toh, kini aku adalah orang kaya baru. Hehehe ... sedikit sombong boleh juga, kan.
Praka Abdul Aziz dan Praka Indra Chaniago bingung melihat penampilanku.
“Kau tak bekerja hari ini?” tanya Praka Indra Chaniago.
“Bukannya kau dihajar habis-habisan oleh Pemburu top dunia dari Guild Harimau Andalas, kata Praka Togar?”
Praka Abdul Aziz tampak penasaran, ia melihatku malah segar bugar, tak sesuai informasi dari rekannya itu.
“Wah, pertanyaan lansung dua,” aku tersenyum lebar. “Baiklah pertama telah menjadi Pemburu Level 25,” kataku sembari memperlihatkan Layar Virtualku, “aku juga berhenti menjadi babu di sini hahaha ....”
“Wah, hebat kau, ya. Lansung Level 25 lagi. Sudah adakah rencana mau bergabung dengan guild mana?—Aku sarankan gabung guild Harimau Andalas atau Siliwangi Fighter Indonesia, mungkin Asosiasi Pemburu Mahakam.”
“Divisi Celebes, Cendrawasih Papua Fighter, Javanese Soldier dan One Bali juga tak kalah bagus Praka Aziz,” sela Praka Indra Chaniago.
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal, abang-abang TNI ini terlalu semangat, padahal aku tak akan bisa memasuki Guild Pemburu terkenal.
“Maaf bang Aziz dan bang Indra, aku sebenarnya tak memiliki sihir. Jadi, mungkin aku bergabung dengan Guild kecil saja nantinya.”
“Betulkah?—Padahal levelmu sudah tinggi. Sayang sekali Zul. Namun, tak apa; kau bisa membeli senjata, yang penting kau mendaftar menjadi Pemburu ke Asosiasi Pemburu. Kalau sudah dapat lisensi, gampang saja itu mencari Guild Pemburu, bahkan beberapa Guild memberikan kredit untuk pembelian senjata,” kata Praka Abdul Aziz menghiburku.
“Ayo, naik! Kita berkeliling sebentar ke kecamatan Panti, setelah itu barulah tancap gas ke Lubuk Sikaping,” kata Praka Indra Chaniago juga.
Aku langsung melompat ke belakang mobil bak terbuka itu.
Sepanjang perjalanan keliling kecamatan Panti, Aku hanya melihat rumah-rumah penduduk yang telah tenggelam oleh tanaman liar, karena ditinggal selama sepuluh tahun. Pintu dunia bawah sudah tak ada lagi di kecamatan Panti ini, tetapi penduduk tak akan langsung kembali ke sini. Mereka masih menunggu TNI AD melakukan penyisiran seluruh area, apakah sudah aman dari monster atau belum.
Di saat pemerintah mengumumkan wilayah itu zona hijau, barulah para penduduk kembali ke rumah masing-masing.
Praka Abdul Aziz yang mengemudikan mobil bak terbuka itu mempercepat patroli mereka untuk hari ini. Karena mereka sudah sangat akrab denganku, katanya mereka akan membantuku mendaftar ke Asosiasi Pemburu cabang Lubuk Sikaping untuk mendapatkan lisensi. Dengan bantuan mereka, Aku berharap tak disulitkan nantinya.
Pukul 13.30, mobil bak terbuka yang dikendarai oleh Praka Abdul Aziz berhenti di halaman depan kantor Assosiasi Pemburu.
“Ayo Zul, buruan. Biasanya Pukul 14.00 mereka sudah tutup,” kata Praka Indra Chaniago keluar dari mobil, sedangkan Praka Abdul Aziz tetap di dalam mobil menunggu kami.
Gedung Asosiasi Pemburu cabang Lubuk Sikaping itu hanyalah sebuah ruko berlantai dua. Di dalam juga lengang, hanya ada dua pegawai wanita dan seorang Satpam yang berjaga di pintu masuk.
Melihat Praka Indra Chaniago mendekat, Satpam itu lansung menyambut kami dengan ramah.
Setelah mengetahui tujuan kami, ia lansung mengarahkan kami ke meja bagian pendaftaran Pemburu.
Aku menjadi gugup takut tak diterima, karena tidak memiliki Sihir, seperti Pemburu lainnya.
“Silahkan duduk!”
Wanita cantik menyambut kedatangan kami, ia tersenyum ramah dan menyerahkan selembar kertas yang harus kuisi.
“Dia Level 25 lho, Mer,” kata Praka Indra Chaniago pada pegawai wanita bernama Mery itu. “Padahal kemarin ia dihajar habis-habisan oleh Pemburu Saga—Itu Pemburu yang menjadi Pemburu top dunia.” Praka Indra Chaniago malah menceritakan kejadian naas kemarin.
“Hebat juga kau, ya. Nggak terluka sama sekali,” sahut Mery tampak tak yakin dengan ucapan Praka Indra Chaniago.
“Mungkin gara-gara ia tiba-tiba naik Level dari Level satu ke Level dua puluh lima,” kata Praka Indra Chaniago meyakinkan Mery ucapannya itu.
“Sudah kak, Mer.” Aku menyerahkan kertas pendaftaran itu.
Dia tak membacanya dan menanyakan nama asliku saja, kemudian dicocokkan dengan NIK KTP milikku dari database dukcapil dan mencetak sebuah kartu, seukuran kartu E-KTP yang berlaku seumur hidup.
Indra Chaniago tersenyum padaku, karena Mery malah tak membaca dokumen pendaftaran yang kutulis, ia lansung menyimpannya. Kami pun kembali ke mobil bak terbuka.
“Kamu, mau ke mana lagi Zul?—Biar kami antar saja sekalian,” kata Praka Abdul Aziz dari dalam mobil.
“Ke rusunawa saja bang Aziz,” sahutku lansung melompat ke belakang mobil bak terbuka.
Orang tuaku saat ini tinggal di rusunawa yang dibuat oleh pemerintah untuk menampung pengungsi dari kecamatan Panti. Walaupun gratis, tetapi biaya hidup tetap ditanggung sendiri, belum lagi ayah cuma buruh tani saja dan ibu ikut bekerja menjadi pekerjaan harian dinas kebersihan Kabupaten Pasaman, menyapu jalanan.
Untuk biaya kuliah adikku dan pengobatan Iskandar tentu saja itu sangat kurang. Untung saja, Siti Maimunah bekerja paruh waktu di toko bunga dekat Universitas Andalas, tempatnya kuliah.
Aku yang cuma bergaji sejuta saja terpaksa mengirim setengah gajiku pada mereka. Makanya aku kadang makan tak pakai lauk pauk, demi meringankan beban keluargaku.
Hah, masa lalu itu akan kubuang jauh-jauh dan aku akan menjadi Pemburu top dunia juga, agar terkenal. Mungkin aku nanti bisa menikahi salah satu personil Girlband JjK yang sangat cantik-cantik itu.
Eh, kok wajah Sarah kampret itu yang muncul di benakku. Ah, sial!—Salah satu personil Girlband JjK memang mirip dirinya.
Cih, Aku tak Sudi mengingat dia. Lagian dia sudah bertunangan dengan orang yang ingin kuhancurkan nanti. Mungkin di masa depan, Aku dan Sarah akan bermusuhan, kalau dia menghalangiku menghancurkan Saga dan ketiga orang asing lainnya. Eh, Aku hampir melupakan Nathan juga hampir menghajarku, untung saja Praka Togar Siregar melerai mereka.
Kebencian ini akan terus kubawa, hingga aku bisa melampiaskannya pada mereka. Ya, mereka harus menerima dua kali lipat lebih sakit dari yang kuderita.
***
Mobil yang dikemudikan oleh Praka Abdul Aziz akhirnya berhenti di halaman depan rusunawa.
“Terimakasih Bang Aziz dan Bang Indra atas tumpangannya. Sebagai rasa terimakasihku tolong lihat nanti Layar Virtual abang-abang. Eits jangan sekarang, tunggu aku pergi dulu,” kataku sembari berlari ke dalam rusunawa. Karena mereka tak akan mendengarkan apa yang kukatakan, mereka malah lansung melihat Layar Virtual masing-masing.
“Zul!”
“Zul! Berikan pada Paman saja!”
“Zul! Tunggu!”
Aku pura-pura tak mendengar panggilan mereka, karena aku telah mentransfer 30 Koin Emas untuk masing-masing mereka, tak hanya mereka sih, anggota TNI yang sering mampir ke SPBU juga telah kukurim Koin Emas juga. Mereka pasti kebingungan nantinya itu, karena tiba-tiba Layar Virtual mereka kedatangan Koin Emas.
...~Bersambung~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
shadow life
ok
2022-07-11
0
Sofyan Muchtar
lanjut gan
2022-03-28
0
sanjaya
semoga ceritanya ga gantung... dan ceritanya selesai sampe end
2021-12-22
0