Jakarta

Daging monster laba-laba Level 80 yang ada di Inventory-ku akhirnya dibagi-bagikan kepada para tetangga rusunawa. Itu atas permintaan Emak, yang ingin para tetangga makan daging enak juga.

Aku hampir menangis dibuatnya, puluhan juta yang seharusnya bisa untuk membeli perlengkapan Pemburu itu lenyap begitu saja.

Makan malam bersama keluarga itu sangat nikmat rasanya. Apalagi melihat senyum ayah dan Emak, kalau Iskandar, apalagi Maemunah tak perlu ditanya; waktu keadaan susah saja mereka tetap tersenyum, kok.

***

Malamnya Aku mencari informasi tentang pendaftaran di berbagai Guild Pemburu dan kriteria Pemburu untuk Guild besar itu minimal Pemburu Level 75, sedangkan Guild biasa di kisaran Level 50. Itu berarti Aku belum masuk kriteria Guild manapun.

Aku juga masuk ke komunitas Pemburu di media sosial dan menemukan fakta, bahwa Aku tak akan diterima di Guild Pemburu manapun, jika tak memiliki Sihir. Beberapa senior Pemburu menyarankan Aku menjadi Pemburu lepas saja, dan menjual hasil buruan ke pasar gelap.

Ada juga yang menyarankan masuk ke kelompok mafia, karena dengan dukungan mereka, Pemburu akan seperti masuk ke sebuah Guild Pemburu terkenal.

Namun, aku menolak, karena Aku merasa tak akan bisa bebas bila menjadi anggota mafia. Hidupku akan berlinang darah, karena aku sering melihat di berita tentang kematian Pemburu secara tiba-tiba—tentu sudah jelas itu kerjaan mereka. Apalagi tahun lalu, terjadi perkelahian mafia internasional di Singapura, antara aliansi China, Jepang, mafia Elang timur (dari Indonesia), dan Berandal99 (dari Indonesia) melawan mafia Italia, Meksiko, Rusia, Banteng88 (dari Indonesia) dan Setan76 (dari Indonesia) berebut pasar gelap di sana.

Perkelahian itu juga merembet ke Jakarta, pusat pasar gelap Asia tenggara. Empat mafia terbesar di Indonesia itu saling serang, memaksa pemerintah turun tangan menghentikannya.

Di permukaan mereka memang berhenti bermusuhan, tetapi dibelakang sebenarnya mereka masih bermain seperti biasanya. Bahkan Pemburu top dunia saja bisa diatur oleh para mafia itu, termasuk Guild Pemburu terkenal di Indonesia.

Setelah mendapat saran dari para senior Pemburu itu, Aku memutuskan merantau ke Jakarta saja. Karena akan lebih mudah menjual hasil buruan bila berada di sana, dari pada kota-kota di Sumatera.

Aku menutup Layar Virtualku dan memejamkan mata, masa depanku sebagai Pemburu segera dimulai. Mudah-mudahan aku bermimpi indah malam ini.

***

“Abang bangun! Bangun woi!” Maemunah berteriak di telingaku, sehingga Aku melompat dari sofa usang tempat aku tidur.

“Dasar adik tak tahu sopan santun!—Kau itu gadis, cobalah bersikap lemah lembut,” keluhku lansung duduk sembari menguap, aku masih merasa kantuk dan jam dinding baru menunjukkan pukul lima pagi.

“Cepat mandi sono! Busnya berangkat jam enam lho, bang.”

Maemunah mengingatkanku dan suaranya yang melengking, membangunkan para tetangga juga.

Dengan langkah tertatih-tatih aku menuju kamar mandi, aku juga memaksakan mandi pagi yang sangat dingin ini. Karena kota kecil ini berada di bawah pegunungan bukit barisan, tentunya pagi-pagi begini adalah puncak terdinginnya.

Emak menyiapkan sarapan untukku, sedangkan ayah menonton berita melalui Layar Virtualnya. Kalau Iskandar, sudah pasti ia masih molor, hanya Maemunah lah yang rajin bangun pagi.

***

Pukul enam pagi, bus yang akan berangkat ke kota Padang sudah berhenti di depan rusunawa. Aku lantas berpamitan pada Ayah, Emak dan Maemunah—Sedangkan Iskandar masih molor dan aku melarang mereka membangunkannya, selain karena kasihan, juga supaya ia tak meminta uang seperti yang dilakukan Maemunah.

Para tetangga juga ikut menyalamiku dan mereka berdoa agar Aku sukses menjadi Pemburu.

Aku hanya tersenyum lebar dan melambaikan tangan pada mereka semua. Aku tak bisa berlama-lama, karena sopir bus sudah menatap dongkol padaku—mungkin dalam hatinya, “anak ini seperti tak pernah merantau saja, padahal wajahnya sudah tua.”

Bus melaju perlahan dan meninggalkan kota kecil di bawah bukit barisan itu. Kalau tak ada rintangan, butuh waktu enam jam menuju Bandara internasional Minangkabau, kota Padang.

Aku juga telah memesan tiket pesawat secara online dan berangkat pukul dua siang, jadi aku berharap nanti perjalanan bus ini lancar, agar tak ketinggalan pesawat.

***

Setelah mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta, Aku naik taksi online menuju apartemen Farhan, teman satu sekolahku dulu saat di SMA, dia telah menjadi anggota Guild Pemburu Pejuang13, jadi hidupnya juga sudah sejahtera, walaupun hanya Guild Pemburu biasa.

Setelah melewati perjalanan selama 30 menit, kami akhirnya sampai di Matraman, Jakarta timur. Aku melihat Farhan sedang asyik melihat-lihat Layar Virtualnya sambil menungguku di lobby apartemen.

Farhan melihatku dengan senyum lebar, “Wah, Pria tertampan dikelas dulu, kini sangat kurus, seperti kurang gizi. Apakah karena gara-gara kelamaan tinggal di hutan,” ejek Farhan.

Aku hanya bisa tersenyum masam, kalau sekarang saat masih SMA, mungkin kepalan tangan ini akan melayang di kepalanya. Namun, sekarang ia adalah Pemburu Level 70, jauh di atasku. Ya, terpaksalah menerima bullying darinya.

“Woi ... babang tampan!—Jangan merajuk dong, sini ikutin gua!” ejak Farhan sok pakai bahasa gaul ala-ala anak Jakarta.

“Pakai bahasa daerah saja kampret!” Lama-lama dia bikin kesal juga.

“Hahaha ... sabar bro. Jadi, lu sudah mendaftar ke Guild mana?” tanya Farhan lagi, masih dengan bahasa gaulnya itu, mungkin karena kelamaan bergaul dengan orang-orang ibukota, jadi sudah kebiasaan dan sulit diubah.

“Belum, Aku akan menjadi Pemburu lepas saja, karena Aku tak memiliki sihir.”

Farhan berhenti melangkah dan menatapku dengan tatapan heran.

“Trus lu hanya ngandelin senjata api saja?—Sebaiknya jangan nekat, deh. Bahaya, Zul. Aku yang Pemburu Level 70 saja, sudah lima kali di prank malaikat maut. Untung saja di Guild kami sudah ada Heler yang siap mengobati, walaupun harus membayar 1000 Koin Emas. Ah, seratus jete, bro. Kampret emang tuh Heler—nggak tanggung-tanggung bikin tarif, gaji berburu selama sebulan dibabat habis olehnya.”

Aku senyum-senyum mendengar ocehan Farhan dan berkata, “Tenang saja, aku memiliki caraku sendiri dalam berburu. Bahkan aku memiliki kristal monster laba-laba Level 80. Kira-kira di mana jualnya?”

“Kristal Level 80?” Farhan terkejut, ia menoleh kanan-kiri dan tak ada orang, lalu ia berbisik, “Buka website Jakarta Black Market dan lelang barangmu di sana. Dijamin para mafia akan membelinya dengan harga tinggi. Namun, kau jangan terlalu sering menjual barang di sana, karena mereka akan mengincarmu. Kau pasti tahu, kan, Pemburu yang tiba-tiba mati atau menghilang.”

“Nah, kau bisa tuh pakai bahasa sederhana,” ejekku, karena Farhan tak menggunakan bahasa lu, gue, lagi.

“Jangan bercanda, aku serius lho.” Farhan menatapku dengan wajah serius.

Aku menepuk pundaknya, “Aman tuh. Lebih baik bantu Aku nyari kontrakan atau kamar kost murah.” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Hei, Kristal monters itu seratus juta, lho. Mending kita cari rusunawa saja di kawasan Bekasi timur atau kau mau tinggal dengan Sarah di apartemen mewah—”

“Stopppppp!—Jangan bahas lacur itu!” Aku langsung memotong ucapan Farhan.

“Ah, teganya kau mengatakan mantan calon istrimu begitu. Dia itu Pemburu paling sopan dan baik menurutku. Bahkan aku pernah bertemu dengannya di Pintu dunia bawah, ia masih mengenaliku, kecuali si Saga kampret itu. Dia sombong sekali; pengen ku tempeleng kepalanya.”

Aku hanya menghela nafas panjang, membuat Farhan tersenyum lebar dan berhenti membicarakan tentang Sarah.

...~Bersambung~...

Terpopuler

Comments

Lucyna

Lucyna

👍👍👍

2021-12-09

0

Sis Fauzi

Sis Fauzi

daging Monster laba2 enaknya diapain ya?

2021-12-08

0

Maret

Maret

Masa calon isteri dikatai lacur sih?

2021-12-08

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!