Di mana Undanganmu?

“Hei, kenapa kau ke sini?” Saga terkejut saat melihatku memasuki ruangan acara perayaan yang dilakukan oleh Gubernur Sulaiman atas berhasilnya ditutup Pintu Dunia Bawah. “Kau kira ini taman bermain, ya?” ejek Saga, dibarengi tawa semua orang yang ada disekitar kami, kecuali Sarah yang seperti iba menatapku.

“Terserah sayalah. Kaki-kaki saya, lagi pula saya punya undangan kok,” sahutku langsung menuju meja berisi makanan. Tampaknya makanan di sini, menggugah selera.

Saat aku akan mengambil piring, tiba-tiba Security memegang pundakku. Lantas aku menoleh kebelakang.

“Ada apa ini, Pak?” tanyaku sembari melototi Security itu. “Bapak mencurigai saya, ya? Apa Bapak meragukan teman Bapak yang ada di pintu Lobby. Saya bisa menuntut Bapak, lho,” ancamku membuat Security itu melepas tangannya dari bahuku.

“Bukan begitu, Pak. Aku cuma melanjutkan laporan dari tuan Saga, yang mengatakan Anda adalah penyusup,” sahut Security itu, tampak wajahnya kebingungan karena merasa serba salah dalam situasi ini. “Bolehkah saya memeriksa kartu undanganmu?” tanyanya lagi.

“Tanya pada Security yang ada di Lobby. Kan, itu ada HT (Handy Talky), kenapa tak digunakan?” Protesku tak jadi mengambil piring. Kini aku mengambil minuman ringan saja, karena selera makanku langsung hilang.

Sarah mendekati Aku. Entah apa yang dipikirkan olehnya, karena Saga langsung mengekor di belakangnya juga.

“Bang Zul. Lama tak bertemu, ya,” sapa Sarah dengan senyum manisnya yang menggetarkan hati.

“Hmm, Oh, kau ingat aku juga, ya. Padahal kita sudah sering berjumpa, kenapa baru sekarang menyapa?” Aku membuat Sarah mati kutu. Dia bingung mau menjawab apa?

“Hei, kampret! Sombong sekali kau!” tegur Saga tak terima calon tunangannya itu kubuat mati kutu. Dia menatap Security yang ada di sebelahku dan bertanya, “Bagaimana Pak? Apa dia berhak memasuki ruangan ini?”

Security itu menyeka keringatnya. “D-dia memiliki email undangan kok, tuan Saga. Malah dia adalah Dukun Zul yang mengguncang dunia maya tadi,” sahut Security itu terbata-bata, takut Saga yang merupakan anak bosnya itu marah.

“Apaaaaaaa?” Saga hampir muntah darah mendengarnya.

“B-betulkah Bang Zul?” Sarah bertanya lagi, ia ingin mendengarnya langsung dariku.

Tamu-tamu undangan Gubernur Sulaiman disekitar kami mulai merapat, ingin mendengar langsung jawabanku.

Aku menyeduh minuman ringan di tanganku dan memberi anggukan kepala, tanda mengiyakan ucapan Security itu.

“Kenapa kalian pada heran begitu. Bukankah itu hal biasa, Pemburu melakukan live streaming.” Aku bersikap sedikit sombong. Ya, kapan lagi orang biasa sepertiku menyombongkan diri dihadapan para konglomerat ini, aku tertawa terkekeh-kekeh dalam hatiku melihat ekspresi mereka.

“Syukurlah Bang Zul, sudah berhasil menggunakan Sihir,” kata Sarah dengan mata berbinar-binar menatapku. Tentu saja Aku heran dengan tindakannya itu.

Apa-apaan pula itu, senyumnya sungguh berdamage sekali, seperti panah cinta yang menusuk hatiku. Tidak-tidak, aku harus menepis pikiran itu. Dia kini menjadi musuhku, karena timnya menghajarku habis-habisan di Rimba Panti beberapa hari yang lalu.

“Alah, cuma keberuntungan sesaat saja. Lihatlah, hari-harimu tak akan tenang mulai sekarang. Kalau kau tak bergabung dengan salah satu Guild atau Mafia ....” Saga menyeringai menatapku. “Habis lu!” katanya dengan intonasi mengancam.

Aku membalas dengan senyuman. “Aku menantikan mereka yang berani main-main denganku. Bagaimana kalau wajah mereka nanti, kupajang di beranda depan Channel YouTubeku hehehehe ....” Aku balik mengancamnya.

Saga mendengus. “Kau makin berani berkat kemampuan tadi, ya. Namun, sampai kapan kau bisa terus kabur dengan Sihir anehmu itu? Lawanmu adalah kelompok besar dengan struktur organisasi yang rapi. Bahkan mantan tunanganmu tak berdaya oleh sistem itu. Untung saja ia tak masuk di Guild lain dan dijadikan teman tidur para petinggi Guild serta pejabat. Aku dengan sukarela menampungnya, walaupun ia tahu aku gonta-ganti pasangan setiap malam. Karena kau sudah di sini, aku akan membawanya ke kamar hotel ini, untuk melepas kesuciannya yang telah lama ia jaga itu.” Saga tertawa terkekeh-kekeh.

Tanganku dengan refleks meremukkan botol kecil minuman ringan yang kupegang. Entah kenapa, hatiku mendidih mendengar ocehannya.

“Apa urusannya denganku?” Kubalas dengan santai ucapannya, aku tak menunjukkan amarahku dan tetap menunjukkan sikap dingin.

“Hahaha ....” Saga tertawa lagi mendengar jawabanku. “Asal kau tahu, ya? Dia selalu membujukku untuk membiarkannya keluar dari Guild Harimau Andalas, karena ingin menikah denganmu. Namun, aku mengatakan, ‘kau boleh keluar, setelah menemani tidur seluruh pentinggi Guild’. Lalu ... dia akhirnya memilih menjadi kekasihku dan malam ini kami akan bersenang-senang. Kau ditakdirkan sebagai pecundang, Perjaka hehehe ....” Saga langsung pergi menuju teman-temannya dari kalangan atas lainnya.

“Maaf!” Sarah berkata pelan sambil menundukkan wajahnya.

“Kau tak perlu meminta maaf. Kenyataannya aku memang pecundang,” sahutku sembari menghela nafas panjang. “Seandainya aku cepat mendapatkan sistem dukun. Mungkin kita sudah memiliki anak sekarang. Yah, itu hanya masa lalu, aku tak bisa mencampuri urusanmu,” kataku lagi.

Sarah tak menengok wajahku, ia seperti menahan air mata—sembari melihat Saga yang tertawa terkekeh-kekeh dengan anak-anak konglomerat yang ikut hadir dalam perayaan ini.

“Aku akan menemani Bang Saga,” kata Sarah menatapku sekilas. “Selamat tinggal! Lupakan saja Aku dan carilah wanita lain.” Dia langsung berjalan kearah Saga.

Entah kenapa, aku kok merasa bersalah. Kalau aku tak memaksanya dulu ikut dengan tentara untuk pelatihan menjadi Pemburu, nasib Sarah tak akan seperti ini.

Aku menggenggam tangannya.

“Ada apa?” Sarah berhenti melangkah, tetapi wajahnya tak melihatku. “Kurasa Bang Zul, sudah mengetahui kebusukkanku—”

“Sudah tak usah berkata apapun lagi,” selaku. “Kalau waktu itu aku tak memaksamu menjadi Pemburu, kamu tak akan seperti ini.”

Aku menarik nafas dalam-dalam.

“Kalau kau tak ingin tidur dengannya, aku bisa membantumu. Datanglah ke toilet, aku akan menunggumu di sana, aku akan memberikanmu item sekali pakai yang bisa menyelamatkanmu sementara. Ingat ini hanya sementara, setelah itu terserah kau mau bagaimana?” ungkapku memberikan solusi, karena aku yakin Sarah tak mau menemani Saga tidur malam ini.

Sarah langsung menatapku, matanya tampak memerah. Dia memang menahan air matanya, tetapi siapapun pasti tahu ia sedang bersedih.

“Betulkah?” Sarah tampak senang. “Aku akan lebih dulu menuju toilet,” katanya lagi langsung berjalan. Sementara Saga tampak berbisik pada pria dengan setelan jas hitam. Mungkin itu adalah anggota Guild Harimau Andalas atau Mafia Banteng88.

Aku merasa Saga curiga pada kami. Ya, terpaksa aku menuju ke arah yang berlawanan dengan Sarah untuk mengelabuhi pantauan antek-antek Saga itu.

“Permisi, Bang!” Aku menegur Pelayan Hotel AnH yang sedang membawa piring kotor.

“Ya, ada yang bisa saya bantu, tuan.” Pelayan dengan ramah menjawab sapaanku.

“Dekat sini ada toilet lain, kah? Toilet yang di sana sedang penuh. Kebetulan nih, pengen buang air Bang, hehehehe ....”

“Ooh, kalau begitu gunakan toilet di ruangan lain saja. Kebetulan acara di sana sudah selesai. Mari ikuti Saya.”

Yes, aku berhasil mengelabui antek-antek Saga. Kini mereka tak akan curiga padaku. Namun, aku harus membeli item Teleportasi seharga 20 keping emas; yang berarti itu setara dua juta rupiah. Huh, tak apalah merugi, yang penting aku bisa menebus kesalahanku di masa lalu.

...~Bersambung~...

Terpopuler

Comments

Zorro

Zorro

bang zul minta saran xiuhuan

2024-10-26

1

Kangee

Kangee

😆😆😆konyool2

2023-08-02

1

shadow life

shadow life

yes

2022-07-12

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!