Aku mondar-mandir di area SPBU kecil itu, memikirkan bagaimana caranya berburu monster untuk membayar hutang koin emas di Sistem Dukun.
Bayangkan kalau aku tak mendapat emas selama 40 hari, maka hidupku yang menyedihkan ini akan berakhir. Padahal, aku belum pernah mencium wanita.
“Tidakkkkk!” Aku berteriak histeris.
Tenang kawan, masih ada waktu untuk bergabung dengan Guild Pemburu. Namun, apakah ada yang mau menerima Pemburu Level satu sepertiku ini?
“Grrrrr!”
Suara aneh itu, seperti suara monters yang kutonton di video streaming para Pemburu.
Tenang! tenang!
Aku tak boleh panik. Ada korek api di laci meja itu. Aku akan menyemprotkan bensin ke monster itu dan membakarnya.
Dengan perlahan aku melangkah, dan monters laba-laba Level 80 itu hanya menatapku saja.
Apakah ia berpikir manusia Level satu rasanya asin atau membuat perutnya mual?—Aku malah bergumam aneh-aneh.
Tangan kananku berhasil meraih nozzle pengisian bahan bakar SPBU dan tangan kiriku segera meraba laci meja, mengambil korek api.
Ah, sial!—korek apinya ke mana? Padahal aku menaruhnya di sini, biasanya.
Aku makin panik dan tiba-tiba sesuatu berwarna putih dan lengket melumuri tubuhku. Itu adalah benang sutera monters laba-laba yang mulai menyulamku, seperti mumi.
Aku kesulitan bernafas!
Bagaimana ini? Sudah berakhir kah?—Ah, sial!
“Ke mana kau Sistem Dukun, cepat tolong Aku sialan!” umpatku pada sistem sialan yang tidak membantu sama sekali itu. “Apa kau akan membiarkan Pemburu yang berhutang 100 koin emas padamu mati tanpa membayar hutang?” Aku terus mengoceh, seolah-olah Sistem Dukun itu adalah makhluk hidup juga.
“Selamat datang di menu Sistem Dukun!”
Akhirnya sistem sialan itu merespon juga. Apakah ia akan muncul, kalau user-nya di prank malaikat mau dulu? Itu adalah tanda tanya besar dalam benakku. Untuk saat ini yang penting keselamatan dulu, masalah kebobrokan sistem ini, nanti saja dipikirkan.
“Kami akan memberikan penjelasan singkat.”
“Astaga, apalagi ini?—nyawa orang hampir putus ini, woi!” Aku menyela ucapan Sistem Dukun yang tak peduli dengan ucapanku, ia tetap berbicara dengan bahasa google.
“Pemain akan mendapatkan Skill dengan membayar tumbal berupa koin emas. Semakin kuat Skill yang dipakai, semakin besar tumbal yang dibutuhkan.”
“Aku paham, cepat rekomendasikan; skill yang cocok untuk melawan monster Laba-laba Level 80 ini,” aku berteriak padanya—Pandanganku sudah mulai kabur dan kepalaku rasanya mau pecah.
“Karena Pemain Sistem Dukun saat ini masih Level satu, hanya Skill santet yang cocok dalam situasi ini. Namun, Anda harus membayar tumbal sebesar 100.000 koin emas.”
“Apaaaa!” Aku terkejut, “itu sama saja dengan Rp.10.000.000.000 (Sepuluh Milyar).” Aku tak mengerti kenapa bisa tumbal sebesar itu, karena satu koin emas itu sama dengan 100.000 Rupiah, belum lagi aku sudah berhutang 100 koin emas sebelumnya untuk penyembuhan.
“Tenang saja Pemain Zulkarnain, Sistem Dukun akan memberikan toleransi dengan memotong 50% pendapatan Anda setiap selesai berburu monster.”
“Sekarang tentukan pilihan Anda: Ya/ Tidak.”
“Dari pada mati, Aku pilih Ya!” sahutku dengan suara lemah, jantungku mulai melambat memompa darah.
Tiba-tiba benang sutera monters laba-laba melonggar, sehingga aku bisa bernafas kembali. Sungguh lega dan aku langsung membukanya perlahan-lahan, karena benang sutera monters laba-laba ini dapat dijual ke Guild atau pasar gelap.
Item-item monters laba-laba ini harus di pisah-pisah lebih dulu, karena harganya berbeda-beda. Kalau menjual utuh, Guild akan mengenakan biaya tambahan yang kadang bisa mencapai 25%. Untuk Pemburu yang memiliki banyak hutang sepertiku, itu sangat merugikan. Kecuali seperti Sarah, Pemburu Level 90.
Ah, sialan! Kenapa Aku bisa mengingat wanita murahan itu.
“Hahahaha ....” Aku tertawa, mengutuk mantan kekasihku. Padahal sebenarnya ia tak salah, sudah sewajarnya ia memilih laki-laki yang terbaik menurutnya.
Bayangkan saja, bila Sarah menolak ikut pelatihan militer sebelumnya. Mungkin ia akan menjadi pegawai SPBU bersamaku di sini, hidup dengan kesusahan.
“Hah ....” Aku menghela nafas dalam-dalam, Aku harus move on darinya dan menjadi Pemburu handal.
Pertama, aku lihat dulu Layar Virtualku dan menyimpan benang sutera monters laba-laba ke inventory.
...
Nama Pemburu: Zulkarnain
Level : 25 [1+24]
Sihir : Unknown
Misi : Membunuh Monster Laba-laba Level 80.
Hadiah : 800 Koin Emas.
Pemasukan: 400 Koin Emas (400 Koin Emas dipotong membayar tumbal)
Sisa Hutang : 99.700
Total Pemasukan: 400 Koin Emas
...
Tak kusangka akan kaya mendadak begini. 400 Koin Emas itu setara dengan Rp 40.000.000, belum lagi hasil menjual item ini. Monster Level 80, pasti harganya mahal, terutama sisiknya ini cocok untuk dijadikan armor baju dan dagingnya juga bisa dijual ke asosiasi jual-beli daging monster Indonesia.
Sejak Pintu dunia bawah terbuka, sudah jarang orang beternak, karena akan memancing para monster ke sana. Bahkan pertanian saja dilakukan di Zona hijau dengan pengawasan para Pemburu yang dibayar oleh pemerintah.
Saat monster keluar dari Pintu dunia bawah Desember 2021, hampir dua ratus juta penduduk Indonesia yang tewas dalam malam mengerikan itu. Untung saja Pintu dunia bawah di kecamatan Panti, tempatku tinggal tak terbuka dan baru hari ini terbuka—Dan Pemburu top dunia langsung menutupnya, dengan demikian; penduduk yang mengungsi ke zona hijau sudah boleh kembali beberapa hari lagi, setelah TNI melakukan penyisiran untuk memastikan wilayah kecamatan Panti sebagai kawasan zona hijau.
Aku memasukkan monster laba-laba ke inventory, setelah beberapa bagian aku penggal dengan kapak. Namun, bagian yang terkerasnya harus menggunakan gergaji mesin dan aku tak memilikinya.
Aku akan membelinya nanti di Kota Lubuk Sikaping, kota kecil paling dekat dari sini. Aku tak perlu buru-buru sekali membedah monters ini, karena mengambil Kristal monters-nya harus dengan hati-hati agar tak rusak.
Kristal monster adalah item paling mahal dalam tubuh monster. Kristal monster itu dapat digunakan untuk mengolah senjata untuk para penyihir.
Pemburu dengan sihir api misalnya, saat ia menggunakan senjata jenis Pedang. Maka, Pedang itu harus ditanam dengan Kristal monster, agar dapat menyerap sihir api dan mengalirkannya pada Pedang tersebut. Makin tinggi Level Kristal monters-nya, maka makin besar sihir yang keluar nantinya.
Ah, sudah malam. Saatnya Aku tidur, besok Aku akan menumpang pada truk militer ke zona hijau menemui ayah dan emak. Bagaimana keadaan mereka di sana, ya?—Sudah dua tahun aku tak mengunjungi mereka, apalagi terakhir kali mendapatkan kabar, mereka ingin meminjam uang untuk biaya kuliah adikku, Siti Maimunah dan Iskandar yang dirawat di RSUD Lubuk Sikaping, karena koma setelah pulang dari misi ke Pintu dunia bawah Level Menengah. Entah apa yang terjadi saat itu, seluruh tim-nya dibantai dan Iskandar berhasil keluar dengan luka-luka para, sehingga koma sampai saat ini. Kami tak mampu membayar pengobatannya atau menyewa Heler (Sihir Air Level tinggi biasanya bisa menggunakan sihir penyembuhan).
Ayah, Emak, Siti Maimunah dan Iskandar, Aku akan datang membawa keluarga kita menuju kebahagiaan lagi.
...~Bersambung~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
shadow life
ok
2022-07-11
0
Nur Tini
Ah... Panti... Aku jadi ingat dgn anak buahku. Ketika dia melamar kerja, dua bilang, dia anak panti. Aku kira dia anak yatim piatu yg tinggal di panti asuhan, setelah dia kuterima dan kutanya, panti apa namanya. Dia bilang kecamatan panti... Bukan panti asuhan. Hadeh....
2022-07-11
0
👑Meylani Putri Putti
keren keren keren banget thor
2021-12-15
0