Aku mengikuti Topan ke dalam Bar Elja, tetapi aku teringat telah meninggalkan Smartphone-ku di dalam mobil.
“Kau duluan saja, Pan. Aku ke mobil dulu sebentar, ada barang yang tinggal.”
Topan menoleh kebelakang dan berkata, “Baiklah tuan Zul, saya tunggu di pintu masuk saja, nanti tuan Zul tak tahu di mana tempat duduk Bos Reynaldi.”
“Oh, begitu. Ya, sudah aku pergi dulu!”
Aku berjalan agak cepat karena tak enak membuat Topan menunggu lama. Namun, aku melihat di parkiran beberapa orang mengerumuni seorang wanita cantik berpakaian kantoran, usianya mungkin sama denganku.
Aku pura-pura tak melihat, karena tempat ini adalah Bar, mungkin sudah biasa wanita berpaham bebas lalu lalang memasuki Bar, bahkan sebagian ada yang mabuk berat dan dipapah keluar oleh pasangannya.
“Apa lihat-lihat?” bentak Pria bertampang sangar, mirip preman terminal atau di pasar.
“Aku hanya mau ke mobilku di sebelah kalian!” sahutku melewati mereka dan aku melihat mata wanita itu berlinang air mata, seperti tertekan. “Apa kau baik-baik saja atau mereka mencoba memperkosamu?” Aku bertanya pada wanita itu, walaupun para preman itu memelototiku.
“Hei bro! Jangan coba-coba jadi Pahlawan!” Pria tadi mendorong tubuhku. “Asal lu tahu, dia meminjam uang pada bos Vrey satu milyar rupiah dan berjanji akan membayarnya sebulan yang lalu. Namun, hingga saat ini ia tak membayarnya dan Bos Vrey menyuruh kami membawanya.” Dia menatap dua benjolan di dada wanita itu dengan tatapan buas.
“Aku bertanya padanya dan bukan padamu. Asal kau tahu aku adalah anggota kepolisian.” Aku berbohong untuk menakut-nakuti mereka.
“Hahahaha ... ternyata lu anggota kepolisian. Pantasan nyali lu besar sekali.” Dia tertawa terbahak-bahak dan berkata lagi, “Walaupun lu adalah anggota kepolisian, tetapi lu tak bisa mengganggu bisnis kami, karena bos kami memiliki koneksi beberapa petinggi yang tak bisa lu sentuh. Satu lagi, dia hanya menemani bos minum-minum dan habis itu ke hotel—lalu besoknya kami mendapatkan jatah bergilir, setelah itu bos akan memberinya waktu untuk mencicil hutangnya.” Dengan sengaja dia mengatakan tujuan mereka.
“Siapa nama bosmu? Aku penasaran, apakah dia memiliki nama besar?” Darahku mendidih mendengar ocehannya dan penasaran apakah mereka anggota salah satu empat mafia terkuat di Jakarta.
“Sudah pergi sana! Kepo saja lu!” Preman itu mendorong tubuhku, tetapi tidak berani berbuat kasar, mungkin karena aku mengatakan sebagai anggota kepolisian.
“Pak polisi tolong Aku!” Wanita itu bersembunyi di punggungku. “Mereka menjebakku untuk membeli kafe di kawasan Pantai Indah Kapuk. Namun, ternyata Kafe itu berdiri di tanah negara dan digusur sebulan yang lalu, sehingga aku tak bisa membayarnya.” Wanita itu mengadu dengan suara terbata-bata.
“Kalau sudah tahu mereka berbahaya, kenapa kamu datang kemari?” Aku bingung, ia malah masuk ke sarang buaya.
“Aku baru pulang dari kantor dan memutuskan untuk minum alkohol karena stres diteror terus oleh pihak finance yang ternyata adalah milik mafia ini. Namun, nahas rekan kerja yang mengajakku kemari sudah bersekongkol dengan mereka,” katanya lagi.
Tiba-tiba sebuah mobil Lamborghini Aventador memasuki area parkir dan preman-preman itu membungkukkan badan memberi hormat pada orang yang keluar dari mobil mewah itu.
“Bos Vrey!” Mereka menyambut pria kekar berkulit gelap dan ada bekas luka di wajahnya itu.
“Kenapa kalian masih di sini? Mana wanita yang akan menemani gua minum-minum itu?” Vrey berpura-pura tidak mengenali wanita yang sembunyi di punggungku.
“Maaf Bos, ada anggota kepolisian yang bersamanya!” sahut salah satu anak buahnya dengan gugup.
Vrey menatapku dengan seutas seringai tipis diwajahnya. “Maaf pak, bisakah Anda tidak mempersulit kami atau gua perlu menghubungi atasanmu!” ancamnya.
“Silahkan hubungi atasanku Komjen Pol. Arif Rahman,” sahutku gantian menyeringai menatapnya.
Nama yang kusebut itu adalah petinggi kepolisian yang sangat membenci mafia dan sejenisnya, sehingga para mafia akan berusaha menghindar bila berurusan dengannya.
“Tunggu! lu bukan anggota kepolisian dan tidak ada wajahmu di database kepolisian, malah lu adalah Pemburu yang juga YouTuber ‘Dukun Zul’!” Salah satu preman malah meretas database kepolisian hanya untuk mengetahui siapa Aku.
“Hahaha ... gua tak menyangka akan bertemu lo di sini. Padahal gua tadi menonton live streaming Dukun Zul.” Vrey tertawa terkekeh-kekeh, rasa khawatirnya telah hilang dan dengan sinis berkata, “Bawa Sisilia ke dalam, patahkan kaki Dukun Zul bila ia masih mencoba membela Sisilia.” Vrey berjalan ke dalam Bar Elja.
Para preman menarik tangan Sisilia yang menatap kosong padaku, tanpa bisa mengeluarkan kata-kata lagi, sehingga aku merasa iba melihatnya.
Huh ....
Aku menghela nafas panjang dan mengambil smartphone-ku yang tertinggal di mobil, kemudian mengikuti mereka yang tertawa terkekeh-kekeh senang melihat Sisilia menangis meminta tolong untuk dilepaskan.
Ya, beginilah kehidupan setelah Pintu Dunia Bawah tiba-tiba muncul sepuluh tahun yang lalu. Bukannya bersatu melawan penomena aneh itu, malah sebagian besar Pemburu membuat kelompok-kelompok memeras yang lemah dan bersenang-senang diatas penderitaan mereka.
“Tuan, Zul!” seru Topan tampak cemas, karena aku agak lama di parkiran. “Apakah Mafia Celeng Hitam mengganggu Anda?” Topan curiga mereka menggangguku karena aku berjalan di belakang mereka.
“Mafia Celeng Hitam, aku belum pernah mendengar nama itu?”
“Mereka hanya Mafia lokal saja, wilayah bisnis mereka cuma Jabodetabek,” sahut Topan bingung melihat reaksiku yang tampak tertarik dengan mereka. “Mereka biasanya bergerak di bidang Finance dan menipu nasabahnya, kemudian dipaksa melakukan perjanjian menjadi wanita penghibur di Bar Elja ini. Kalau yang laki-laki biasanya dijadikan umpan saat mereka memasuki Pintu Dunia Bawah.” Topan memberikan penjelasan tentang Mafia Celeng Hitam itu tanpa harus kutanyakan lebih dulu.
Menarik!
Aku bergumam memikirkan sesuatu yang keren untuk membalas tindakan mereka yang telah mempermalukanku tadi saat di parkiran. Aku tak melakukan perlawanan, karena belum tahu mereka di pihak mana. Apakah anak buah Reynaldi atau bukan—ternyata si gendut itu melakukan transaksi denganku bukan diwilayahnya.
Jangan-jangan bisnis diantara kami ini tanpa campur tangan Mafia Elang Timur milik ayahnya. Karena Reynaldi orangnya berjiwa bebas dan cuma dia orang yang berpengaruh dalam Mafia besar bersikap sopan dan tidak tersinggung saat kuejek.
“Tuan Zul!” Reynaldi langsung menyalamiku begitu aku sampai di dalam Bar; ia sedang bergoyang mengikuti iringan musik dari DJ terkenal. “Gua sudah memesan ruangan khusus yang kedap suara, agar kita bisa berbicara dengan santai dan menikmati minuman yang disuguhkan oleh Bar Elja ini,” katanya dengan suara berteriak, membuat telingaku berdengung saja.
“Cepatlah! Aku tidak suka dengan kebisingan ini dan satu lagi jangan ada alkohol di meja nanti,” sahutku membuat Reynaldi terkejut. Dia mungkin tak tahu, kalau orang kampung sepertiku ini lebih suka minum kopi disuguhkan dengan ubi goreng daripada minuman aneh yang malah menyiksa diri sendiri saja.
...*...
...*...
...*...
...~Jangan lupa 👍 Bosque~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
shadow life
ok
2022-07-12
0
shadow life
ya
2022-07-12
0
shadow life
yes
2022-07-12
0