Alan mengernyit menempelkan telapak tangan nya ke dahi Farrel " Apa kau sehat..Ada apa denganmu"
Farrel mendengus dan menepis tangan Alan.
" Cx... cepat berikan!
" Waw ..ada apa tuan muda" seru Alan dengan nada meledek.
" Apa kau sudah mengambil keputusan kali ini"
" Sudah cepat sana pergi, jangan mengganggu ku" tukas Farrel.
Alanpun memberikan berkas berkas yang diperlukan oleh Farrel, memperhatikan perubahan pada diri Farrel yang cukup melegakan.
" Akhirnya beban ku berkurang" Batinnya.
Diam diam merogoh ponselnya yang berada disaku dan tentu saja mengirimkan pesan singkat pada Arya yang berada diruangannya.
" Ayahmu harus tau ini" batinnya
" Apa cinta dapat merubah seseorang secepat ini" ujarnya lagi
" Cx..kau ini tidak akan mengerti, makanya cari jodoh sana " ujar Farrel.
"Bagaimana bisa cari jodoh, tiap hari hanya berada dikantor ini menunggu tuan muda tumbuh dewasa" ucap Alan terkekeh.
" Cih ..alasan " Farrel melempar pulpen ke arah Alan, namun dengan sigap Alan menangkapnya.
" Bilang saja kau tidak laku"..ujar Farrel
" Sombong sekali, padahal kau saja baru sekarang merasakan cinta itupun masih gak jelas" sahut Alan.
" Sialan, bilang saja kau iri padaku" Farrel terkekeh.
Sesaat kemudian adu mulut antara keduanya terhenti oleh suara dering ponsel Farrel.
"Aayyh..kenapa bisa lupa"
" Hem..tolong ke kantor saja.
" Yaa terimakasih"
tut..telf terputus
Farrel menghela nafasnya, dia baru ingat hari ini sudah seminggu sejak motornya Metta dia titipkan. Dan itu artinya tidak ada lagi kesempatannya untuk mengantar bahkan menjemput lagi Metta, karena sudah tentu Metta akan memakai Motornya lagi.
Alan yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Farrel sudah berubah.
" Cx apalagi sekarang..? jangan bilang kau patah hati"
" Hari ini motor nya kakak akan diantarkan kesini" ujar Farrel lirih tubuh nya seakan melemah.
" Kalo gitu kau rusakin lagi saja motornya beres" ucap Alan dengan tangan yang dia gerakan kedepan lalu mundur dengan cepat.
" Kau gila..Kau kira kakak sebodoh itu akan percaya begitu saja " sahut Farrel dengan membulatkan kedua bola mata nya ke arah Alan.
" Terserah..kau fikirkan sendiri! Aku keluar dulu" Ucap Alan berlalu dari ruangannya.
Farrel pun menyambar ponselnya diatas meja hendak keluar dari ruangannya. Namun saat itu juga pintu terbuka.
" Ayah..." seru Farrel
" Hai nak..wah tumben sekali anak ayah berada disini "
" Apa ada masalah"
" Tidak yah..Ayah tenang saja Alan mengaturnya dengan baik, jadi aku tidak kerepotan" ucap Farrel dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Farrel pun membicarakan semua tentang pekerjaannya, hingga dia melupakan tujuan nya memberitahu Metta tentang motornya.
Terlihat sang Ayah tersenyum melihat beberapa berkas yang telah terselesaikan dengan baik oleh Farrel. Meski Arya sebenarnya sudah tau semua siapa lagi kalau bukan Alan yang memberitahunya.
" Wah bunda harus tau ini Ael..anak kesayangannya ternyata sekarang sudah bisa bersikap dewasa" ujar Arya bangga meski dia tau bahwa sang istri justru akan merasa sedih. Dimata Ayu, Farrel tetap menjadi anak kecil.
Dan sepertinya kita akan secepatnya mengadakan pengumuman resmi tentang presdir kita" lanjut Arya.
Dia meraaa senang karena keinginannya selama ini tercapai sudah.
" Ayah gak usah berlebihan deh"
" Nanti bunda malah heboh," tukas Farrel.
" Dan masalah pengumuman resminya nanti saja jika Ael sudah benar benar siap, Ael tidak ingin mengecewakan Ayah, dan juga mendiang Kakek."
" Jadi berikan Ael kesempatan untuk lebih banyak belajar yah, dan Ayah jangan melupakan Dewan Direksi. Mereka pasti akan menentang karena Aku terbilang sangat muda dan juga tampan begini"
Ucap Farrel menyentuh dagunya dengan percaya diri.
Arya mengangguk menepuk bahu Ael, kedua bola matanya terlihat berkaca kaca, tak dapat dipungkiri anak nya kini sudah mulai berfikir dewasa.
" Tentang Dewan Direksi kamu tenang saja, Mereka nanti bisa menilai kinerja kamu Ael".
Pembicaraan mereka pun terhenti ketika sekretaris Arya menyusulnya dan memberitahukan bahwa sudah waktunya Arya segera pergi.
🍁🍁
" Sha kita ke kantin ayoo " tukas Dinda dengan menyenggol lengan Metta yang tengah Fokus dengan komputernya.
" Hah..emang udah jam makan siang " Metta melirik jam tangan nya.
Dinda mendengus, lalu sesaat kemudian mencebikkan bibirnya.
" Cx loe emang gak punya alarm alami apa?"
Metta mengalihkan pandangan ke arah Dinda, terlihat dahinya mengkerut.
" Alarm alami apaan loe ada ada aja"
Dinda kali ini mendecak, pasalnya dia sudah sangat lapar.
" Ogeb banget sii, itu perut loe emang gak keroncongan apa!"
" Haahah..oh perut keroncongan kagak ngerasain gue" sahut Metta kembali fokus dengan komputernya.
" Cx...emang yang ada di otak loe cuma kerjaan doank" cibir Dinda
" Daripada loe yang dipikiran cuma makan doank" Metta tak kalah mencibir.
" Ayo buruan gue udah laper banget ini," Ujar Dinda
" loe duluan aja deh yaa, ini gue harus selesaikan dulu kerjaan! ditungguin nih sama pak bas"
" Emang harus sekarang?"
" hem..katanya Presdir kita yang minta" tukas Metta yang tetap Fokus dilayar komputernya.
" Pak Alan yang ganteng bak oppa oppa korea itu"
Metta mengerdikan bahunya
" Memang ada yang lain.?"
"Ah hati gue meleleh kalo ngeliat dia, cuma sayang gak pernah kesini " ucap Dinda sambil memegang dadanya.
Sementara Metta yang tengah Fokus menggerakan jari jari nya di keybord tak memperdulikan Dinda.
" Gue duluan deh yaa, loe entar nyusul" ujar Dinda dengan berlalu
Metta mengangkat jari telunjuk dan ibujari yang direkatkan hingga membentuk huruf O.
Setelah selesai mengantarkan berkas yang diminta Pak Bas, Metta berjalan menuju Kantin menyusul Dinda.
Hingga disebuah lorong Metta bertemu dengan Farrel. Metta mengernyit
" Sedang apa dia disini"
" Ngapain dia disini" Metta bermonolog.
Farrel yang melihat Metta berjalan pun tersenyum, menutupi rasa gugup
" Ah harusnya aku menunggunya diluar" batin nya.
Jarak mereka semakin mendekat, dengan pertanyaan didalam hatinya masing masing. Metta yang merasa heran pada Farrel, dan Farrel yang merasa belum siap ketahuan.
" Kakak.."
"Kamu ngapain kesini" ucap Metta dengan terperangah.
" A..aku mencari Kakak" ujar Farrel
" Mencari ku..ada apa? kenapa gak meneleponku"
" Aku ingin mengajak kakak kesuatu tempat, dan jangan menolak" ujar Farrel mengangkat jari telunjuknya ke atas.
"Cx kau ini, Cepat katakan jangan membuang waktuku" sahut Metta kesal.
" Aku akan mengatakannya tapi setelah itu Kakak harus ikut denganku.
" Iyaa baiklah, cepat katakan ada apa ?" tukas Metta
" Ikutlah denganku.." Farrel membawa tangan Metta dalam genggaman nya, menariknya berjalan keluar. Sedangkan Metta tidak bisa menolak,
Tiba di sebuah taman yang tidak terlalu ramai, Metta duduk di kursi taman
" Ayo cepat katakan " ucap Metta tak sabar.
" Nih minum dulu yaa, setelah itu aku akan ceritakan.
Farrel memberikan paperbag pada Metta. Namun Metta enggan melihatnya apalagi membukanya.
Metta mendengus, pasalnya kenapa harus bertele tele jika ingin mengatakan sesuatu, kenap tak langsung saja begitu bertemu, kenapa harus ini dulu, itu dulu, kenapa harus pergi kesatu tempat dulu. " Ahk bikin repot saja" Metta bermonolog.
" Motor kakak sudah selesai, sore ini akan aku antar ke kantor kakak" ucap Farrel tiba tiba.
Raut wajah Metta berbinar, menelengkupkan kedua tangan nya dan menarik bibir nya melengkung.
" Benarkah, ah kenapa gak bilang dari tadi" Metta mencibik kan bibirnya.
" Yaa sudah kalo gitu aku harus pergi" ujar Metta berdiri, Namun Farrel menahannya dengan cepat, menarik tangan Metta hingga terhenti.
" Kakak ini, Kakak sudah berjanji akan mengikutiku bukan" tukas Farrel
" Tapi aku benar benar harus pergi" sahut Metta
Pasalnya Metta lupa kalo dinda sahabat sedang menunggunya di kantin.
" Lain kali saja bagaimana?" Tanya Metta hendak melangkah,
" Kakak," Farrel memegang lengan Metta.
" Aku lapar, temani aku makan dulu yaa."
Metta menoleh ke arah Farrel dan kembali duduk.
" Cx ..ya sudah kita makan dulu" ujar Metta
Metta membuka paperbag yang belum sempat dia buka itu, tiba tiba tercengang melihat isinya.
Coffee yang sama, rasanya pun sama dengan Coffee kiriman entah siapa.
" ini..."
" Apa kamu juga yang mengirimkannya?"
Farrel mengangguk dan menaikan sudut bibirnya keatas
" Yaa dan kakak tidak pernah menerimanya."
" Yaa karena aku tidak tau siapa yang ngirim, gak jelas" jawab Metta dengan ketus.
Farrel hanya tersenyum
" Please jangan terlalu manis begini, jantungku rasanya mulai terganggu" batin Metta.
" Sudah ayoo, kita pergi makan "
Mereka berjalan ke arah cafe yang dekat dari sana.
" Kakak mau makan apa" tanya Farrel dengan lembut
" Terserah saja, bukankah aku harus mengikutimu" ketus Metta
" Bahkan untuk mengatakan perihal motor aja harus pergi sejauh ini"
" Kasih coffee aja harus ribet"
" Benar benar gak tak habis fikir"
Metta mendengus dengan kasar.
" Satu lagi masalah driver online, kau bahkan berbohong padaku"
" Kau bukan driver online kan"
Farrel tersenyum kala melihat Metta terus menggerutu, bibirnya tipisnya terlihat menekuk dan mengerucut.
" Aku tidak berbohong, aku juga tidak mengaku . kakak yang mengambil kesimpulan sendirii kan" ucap Farrel mengedikkan bahu.
" Man...."
Cup..
Metta terbelakak, Manik hitamnya membulat sempurna. Ketika bibir Farrel menempel tepat berada dibibirnya, rasa hangat benda kenyal itu menjalar keseluruh tubuh.
deg..
Ciuman itu cukup lama, meski hanya menempel saja, Hatinya berdetak dengan kencang, gelanyar aneh kembali dirasakannya, hingga ujung kaki hingga berkumpul disatu titik. Sebagai perempuan dewasa tubuhnya meminta lebih dari sekedar menempel saja. Metta terhanyut.
" Ah bego" Batinnya
Metta mendorong tubuh Farrel hingga mundur kembali ke tempatnya.
" Itu karena Kakak sangat cerewet" ujar Farrel.
Entah apa yang dirasakan Farrel, yang pasti hatinya sungguh senang, ribuan kupu kupu menggelitik didalam perutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
guest1053527528
mantap..mantap memang harus begitu 🤭
2022-07-14
1
Bzaa
aih aihhh farrel main nyosor ajaa😄
2022-07-04
0
AR Althafunisa
emang klo seneng dan bahagia jatuh cinta kaya ada kupu-kupu diperut ya, kaya gmn sih rasanya 🤣
2022-03-06
2