Sementara disatu tempat berbeda
Farrel yang baru saja keluar dari ruangan dosen pembimbingnya, berjalan menuruni tangga hendak menuju ke kelas berikutnya.
"Farrel..rel.....rel...... "
Suara teriakan Doni memanggilnya dari arah belakang. Farrel memutar tubuhnya mencari sumber suara .
"Eeh, loe bro "
"Ah, Rel ta api loe, dipanggil kagak nyaut nyaut wkwkw " Seru Doni sambil tertawa.
Farrel menatap sinis ke arah Doni yang memanggilnya rel kereta api.
(Krikk...kriik..garing)
" Ada apa?"
" Loe ada masalah." Tanya Doni.
" Masalah?"
" Iya, loe ngapain dari ruangan dosen killer itu"
" Oh gak ada, gue cuma ada perlu aja sama dia"
" Loe mau kemana"
" Yaa ela gue pan nungguin loe rel."
Doni, sabahat Farrel dari sejak duduk dibangku SMA hingga sekarang satu kampus meski berbeda jurusan.
Doni juga lah satu satunya orang yang tau siapa itu Farrel, meski tau tanpa sengaja. Namun Farrel memang termasuk sederhana dari dulu dan tidak pernah memakai kekuasaan keluarga nya hanya untuk kepentingan pribadinya.
"Loe udah selesai "
" Kantin yuu dah lama nih loe gak traktir gue ..eeh magsudnya kita gak makan bareng" celoteh Doni sambil terus tertawa.
"Belum, gue masih ada satu kelas lagi " jawab Farrel sambil kembali melangkah
"Yaa elaa, kirain loe udah selesai, rajin amat sii loe kenapa gak normal aja si ambil kelas kayak kita kita umumnya biar bisa dikit santai." tambah Doni sambil merentangkan kedua tangan nya.
Farrel menghembuskan nafas, masih dengan tatapan nya kearah Doni.
"Yaa loe tau kan gue, dah gue ke kelas dulu, loe tunggu aja di kantin entar gue nyusul "
" Yess " Doni mengepalkan tangan dan memundurkannya ke belakang. Inilah yang selalu ditunggunya, bersahabat dengan Farrel membuat uang jatah bulanannya yang tidak sebesar Farrel, awet karena sering mendapat traktiran.
Dan Farrel tidak pernah mempermasalahkan hal tidak seberapa itu.
"Oke Rel gue tungguin ditempat biasa yaa, berapa jam loe di kelas?"
"Dua jam doang "
Farrel menoleh dan terkekeh ke arah Doni sahabatnya, dan mengangkat tangan nya ke udara dengan mengeratkan ibu jari dan telunjuk berbentuk bulat dengan 3 jari yang lainnya terangkat.
"Sialan loe rel ta api, gue disuruh nunggu dua jam, mau disuruh jemur upil! " seru Doni.
"Untung loe sahabat gue, kalo bukan gue udah tendang loe ke Afrika" Doni terkekeh dan berbalik arah menuju kantin.
Farrel memang mengambil 2 jurusan sekaligus, berat memang namun Farrel tidak ada pilihan.
Satu jurusan adalah perintah dari sang Ayah dan Farrel tidak mungkin dapat menolaknya, dengan satu syarat dia akan mengambil jurusan yang dia minati juga. Desain grafis.
Awalnya Ayu sang bunda keberatan, menurutnya itu terlalu berat. Ayu tak mau anak kesayangannya harus berbagi waktu dengan keputusannya mengambil dua jurusan sekaligus.
Dengan penuh wejangan dan hasil perdebatan yang alot keduanya, dengan terpaksa Ayu mengizinkannya. Usaha nya membujuk Arya untuk berhenti memaksakan diri Farrel tidak berhasil, Ayu tidak mau anak kesayangan nya kelelahan, bahkan kehilangan masa masa indah di umurnya yang masih sangat muda itu.
Dan disinilah Farrel tercatat sebagai mahasiswa di dua jurusan.
Bisnis dan desain grafis, membuktikan diri bahwa dia mampu, berprestasi bahkan berada jauh dari teman teman seangkatannya.
Farrel memang sudah menguasai sedikit banyak nya tentang bisnis sedari kecil, sang kakek Wisnu adhinata yang keras, memaksakan Farrel mempelajari bisnis diusia belianya, sedangkan Arya dan Ayu tidak pernah bisa menolak keinginan orang nomor satu dikeluarga Adhinata.
Hingga akhirnya sang kakek meninggal baru lah Farrel bisa kembali hidup sebagaimana layaknya remaja seusianya.
Sedangkan Arya yang juga bersifat keras namun tidak sekeras sang kakek masih bisa memberikan kelonggaran karena bujukan Ayu sang istri yang sangat dicintainya, tidak pernah bisa menolak keinginannya.
.
.
" Doni "
Doni berbalik kearah belakang.
"Tasya ?"
" Hai Don, loe liat Farrel gak?"
" Lihat, emang ada apa?"
" Dia kemana sekarang?"
" Loe ada perlu apa entar gue sampein "
" Bukan apa-apa, gue cuma mau ngasih ini?"
Tasya menunjukan sebuah paperbag pada Doni.
" Buat si Farrel?"
Tasya mengangguk.
" Yaa udah titip gue aja,"
" Gak mau, entar loe gak bilang lagi kalo ini dari gue"
" Loe gak percayaan amat sama gue, masa iya gue bilang ini dari gue. Gila aja loe"
" Yaa udah nih gue titip buat Farrel, awas lo gak bilang dari gue"
" Iyaa entar gue tulisin segede gaban "
" Dari Tasya untuk My lovely Farrel"
" Gitu kan" seru Doni dengan menulis kata diudara dengan telunjuknya.
" Iiih...Doni, jangan gitu gue malu"
" Lah loe pake malu segala"
Tasya, perempuan lembut dengan rambut ikalnya. Sudah lama memendam rasa pada Farrel dan selalu memberikan perhatian nya. Namun Farrel selalu menghindar, bagi nya Tasya tak lebih dari seorang teman.
Tasya tidak pernah bosan memberikan perhatian pada Farrel, mulai dari memberikan bekal makan siang, memberikan hadiah hadiah kecil, sampe nekat mendatangi rumah Farrel hanya untuk pendekatan.
Namun Farrel tek pernah merasa tertarik pada Tasya. Entahlah
.
.
.
Dua jam berlalu sudah, Farrel keluar dari kelasnya, berjalan dengan menenteng drawing bag nya menuju kantin.
Mengedarkan pandangan mencari sosok Doni.
" Rel " Doni melambaikan tangannya ke arah Farrel.
Farrel pun menghampiri nya dan mendaratkan tubuhnya di kursi. Menyeruput minuman Doni hingga tandas.
" Kira kira loe Rel, sekali tenggak tuh minuman gue " Doni mengacungkan gelasnya yang telah tandas.
" Nih, ada titipan buat loe" Doni menggeser paperbag ke arah Farrel.
Farrel mengernyitkan dahinya.
" Titipan dari siapa "
" Siapa lagi, yang tergila gila sama loe Rel"
" Siapa? yang tergila gila sama gue kan banyak"
" Yaa ela, percuma banyak yang ngejar ngejar loe, loe nya ogah sama semua"
" Kalo gue jadi loe, gue dah embat tuh semua, gak akan gue sisain biar adil " Tukas Doni panjang lebar.
Farrel mengerdikan bahu, menatap jengah ke arah Doni.
" Sayang nya gak ada satu pun yang ngejar ngejar loe "
" Sialan loe" Doni melempar kulit kacang ke arah Farrel yang tengah tertawa mengejek.
" Buruan buka nih, entar gue disangka gak ngebilangin sama loe lagi"
" Dari Tasya untuk Farrel " Doni mengucapkan nya dengan nada membaca sajak.
Farrel bergidik melihat kelakuan sahabatnya.
" Sinting loe "
Doni tertawa hingga membuat mahasiswa yang berada disana menatapnya jengah.
" Maaf maaf bro, silahkan lanjutkan lagi makan siang nya, awas keselek sendok " Doni mengangkat tangannya.
" Jadi gimana Rel, loe emang gak ada rasa sedikitpun sama Tasya"
" Enggak, biasa aja"
" Jadi boleh nih gue buka"
" Terserah, buat loe aja sekalian."
Farrel berlalu pergi setelah membayar tagihan Doni.
" HEH...REL TA API"
.
.
.
🍁Happy reading 😘😘
🍃(Emang ada yang mau baca!! ..😂)
🍁iyaa kali aja gitu...jahat loe gak dukung gue😭
🍃yaa kali ..Ahk sepi sepi gini
🍁Awas loe gue tandain
🍃 Parah loe ..
🍁..Auuu ahh..😋😋..
Salam geje😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Eika
semangat terus Thor, ceritanya menarik, ada banyolan seger ala Doni dan Farrel 🤣🤣
Gak monoton tentang rutinitas CEO dan kantor, yg auranya dingin.
Suka aja 🥰🥰
2022-07-09
1
Bzaa
semangat otor...
sabar.. nanti pelan2 lapaknya pasti penuh 💪💪💪😘
2022-07-04
1
Cyrus Red🥀Bryan Kennedy🔱🎻
lanjut bc
2022-03-18
0