Farrel melajukan mobil membelah jalanan pagi ini, kemudian menyalakan tape mobilnya mencari band favorit yang akan menemani perjalanan nya pagi ini, kali ini Farrel memilih grup band favoritnya sejak zaman sekolah menengah pertama. Iringan musik menyala, Farrel bersenandung ria mengikuti suara sang vokalis favoritnya Richie. Five
minuted.
Aku tergoda..
Aku tergoda..
Teriaknya mengikuti suara si penyanyi, tangan nya dia gerakan sesuai irama drum, tak lupa sedikit gerakan memaju mundurkan kepalanya. Sesaat Farrel teringat pertanyaan Ayahnya saat sarapan, membuat hatinya sedikit tak enak.
Farrel menggelengkan kepalanya.
"Ahk sudah lah nanti juga aku akan kesana tapi tidak untuk sekarang, aku masih ingin bebas wkwkwk " Farrel bermonolog
Hingga suara telf berdering mengganggu acara mini konsernya.
" Cx ganggu aja "
Melihat sekilas ponselnya, ingin tau siapa gerangan yang berani mengusik mini konsernya.
" Ahk, Alan sialan palingan suruh kesana, males banget " gumamnya sambil memasukan ponsel yang masih berdering kebalik jaket denimnya hingga berhenti dengan sendirinya.
Melanjutkan konsernya yang sempat terhenti, bibirnya tak berhenti bernyanyi, kembali menggerakkan tangan sesuai bunyi drum dan kembali memaju mundurkan kepalanya berulang kali.
Berkali kali pula lah dering telf dari ponselnya dia abaikan. Sedikit mengganggu konsernya tapi tak mengubah keputusannya.
Dan yaa tentu saja Farrel sangat egois, dia akan melakukan apa saja yang ingin dia lakukan, dan tidak akan melakukan apa yang dia tidak ingin lakukan. Seperti memberikan kesempatan si penelepon kali ini.
Sementara disebrang sana masih belum menyerah sampai si empunya ponsel menjawabnya. Berkali kali dirinya menelepon, namun tak pula diangkatnya. Tak pantang menyerah, tangannya terus mendial nomor ponsel tersebut, berharap sekali saja yang ditelfon mengangkatnya.
"Aakh " sialan.
Farrel menyugar kepala nya dengan kasar,
merogoh ponselnya yang dia sembunyikan tadi, hendak dia keluarkan dari sana namun naas malah tergelincir dari tangan nya.
Eh..eh
"Ahk, malah jatoh lagi tuh ponsel" kesalnya.
Farrel pun melihat ke bawah mencari letak ponsel yang terjatuh, tanpa melepaskan tangan nya dikemudi. Sepersekian detik saja padahal, tatapan nya beralih ke bawah kursi kemudi kembali lagi ke arah jalan namun sedetik itu pula hilang sudah kendalinya.
Tin..
Tin..
Bruk..
"Aaaahkk "
" Sialan nabrak lagi "
Setelah kesadaran nya kembali berkumpul farrel melihat seorang perempuan sudah terduduk di trotoar, dengan motor yang terguling didepan mobilnya.
Farrel hendak membuka pintu mobil dan berlari menolong perempuan itu, namun diurungkan nya karena perempuan itu melangkah cepat menuju ke arahnya, tepat berada di balik kaca mobil, mengetuk kaca pintu dengan kasar bahkan mengomel tak jelas.
Farrel hanya bisa melihat ekspresi kaget bercampur dengan emosi yang terlihat jelas di wajah perempuan itu, memperhatikan wajahnya, mata bulat dengan bulu lentiknya, hidung kecil lancipnya, bibir tipis berwarna peach yang sekejap mengerucut dan mengeluarkan makian demi makian untuk dirinya. membuatnya tak berkedip sedikitpun, Farrel tersenyum .
" Aku tergoda" gumamnya.
Hem.
Hem.
Farrel mengetes suara nya dan merapihkan t stirt nya.
"Tidak boleh terlihat bego, hem" fikirnya.
Akhirnya Farrel keluar dari mobil, dia menampilkan wajah datarnya menyembunyikan rasa panik, kaget bercampur dengan rasa terpesona.
Tatapan nya tak dia lepaskan dari perempuan itu. Suaranya pun tercekat dan tak mampu berkata apa apa. Hanya kata maaf saja yang mampu dia ucapkan, hingga panggilan ibu yang membuat perempuan itu tambah kesal membuat Farrel semakin gemas saja.
Melihat perempuan itu melirik terus menerus kearah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan mungilnya, Farrel menyadari hal itu, kesempatan itu tidak akan mungkin dia sia siakan begitu saja.
"Sudah ayo bu saya antar, seperti nya ibu sudah akan terlambat bekerja, motornya biar nanti saya urus, kalo udah selesai saya kabari ibu yaa bu " cakapnya dengan sekali napas.
Akhirnya kata lumayan panjang mampu diucapkannya, walaupun harus melihat perempuan didepan nya itu memaki lagi karena panggilan yang dia ucapkan, IBU.
Farrel tersenyum melihat perempuan itu menganggukan kepala tanda setuju.
Tak mau buang waktu Farrel segera membuka pintu, takut nanti berubah fikiran fikirnya.
Segera Farrel mengemudikan mobilnya setelah menelepon seseorang, dan menyuruh datang kelokasi yang dia kirimkan untuk membawa motor yang dia tabrak ke bengkel langganan nya.
Tentu saja dia menelepon Alan, siapa lagi.
Farrel memasukan kembali ponselnya, berjalan ke arah kemudi dan segera tancap gas. Tak lupa mematikan suara sang vokalis yang masih terdengar kemerduannya.
"Sialan udah gak diperluin gue di matiin " Mungkin begitu kira kira kata tape mobilnya.😂
Sementara di satu tempat berbeda ada yang kesal, setelah berkali kali menelepon sahabat nya malah tambah kesal. Karena orang yang dari tadi dihubungi akhirnya kini akhirnya menghubunginya juga, namun malah memberikan tugas yang menambah beban saja.
" Ahk "
"****, kebiasaan tuh bocah" ketusnya.
"Kerjaan gue udah numpuk gara gara dia, sekarang malah tambah kerjaan lagi " kesal nya sembari merapikan berkas yang terlihat berantakan dimeja kantornya.
" Kekacauan apa lagi yang dia lakukan sekarang "
Memastikan semua nya tertumpuk menjadi satu tumpukan dan berlalu keluar ruangan.
" Pak kita akan meeting 10 menit lagi " ujar Cintya, sekretaris Arya dan juga orang yang selama ini membantu Alan.
" Batalkan saja, ada yang harus aku selesaikan terlebih dahulu " sahutnya kemudian berlalu.
" Tapi Pak, ini klien yang sangat penting "
" Tak ada hal yang penting dari pada ini"
" Sudah sana kembali ke tempatmu, aku tak akan kembali sampai siang nanti "
Alan pun memasuki lift dan pergi dari sana.
Alan, orang kepercayaan Arya, anak yang sudah dianggapnya keluarga. Bagi Alan, Farrel adalah segalanya. Segala yang menjadi keinginan Farrel akan menjadi perintah mutlak untuknya.
Menganggap Farrel adalah adiknya sendiri, semua akan dia berikan jika Farrel mau, bahkan nyawa sekali pun.
Tumbuh bersama Farrel sejak kecil, yang membuat impian nya menjadi kenyataan, impian nya mempunyai seorang adik.
Jiwa nya yang akan menjadi pelindung untuk Farrel, tak heran pria posesif itu sering mendapat teguran karena selalu melindungi Farrel ketika mereka masih duduk di bangku sekolah.
Akan menjadi orang pertama yang berada paling depan jika berkaitan dengan Farrel.
Pernah kehilangan seorang adik membuatnya menjadi over protektif terhadap Farrel, dia tidak ingin merasakan kehilangan lagi.
Alan menghubungi anak buahnya untuk melakukan tugas yang di perintahkan Farrel,
" Apa tadi, dia menabrak seseorang?"
ucapnya kepada pelayan perempuan yang tengah melintas di depannya.
Sang pelayan itu tentu tidak paham apa yang dia ucapkan. Namun mengangguk saja lah daripada semakin memanas. Fikirnya.
" Hem, lakukan dengan benar "
.
.
.
🍁🍁🍁
Mohon maklum jika maaih berantakan, karena aku masih pemula banget banget.
Semoga pada suka karya receh ini.
Salam Geje😚
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Bzaa
aihhhh Farrel....
2022-07-03
1
Nanda Afriany
enak bahasany...lanjuttt
2022-06-20
1
P Nie
pandangan pertama langsung tergoda aja😄
2022-06-03
1