Setelah memastikan Faiz pergi, Metta mendorong tubuh Farrel hingga terhuyung kebelakang.
Brug..
" Sudah sana menjauhlah, sudah selesai sandiwaranya, jangan mengambil kesempatan dariku" ketus Metta.
" Kakak, kita ini sepasang kekasih bukan" ujar Farrel dengan senyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih.
" Kekasih... kekasih dari hongkong " sahut Metta kesal sambil berjalan berlalu.
Dengan senyum mengembang Farrel kembali sengaja menggoda Metta.
"Tapi Kakak juga tadi mengakuinya kan "
bahkan kakak diam saja berada didekapanmu, dan bisa merasakan ciumanku"
Metta mendengus, menatap tajam Farrel dengan jengah.
" Kenapa juga kamu lantas mengaku sebagai kekasihku ??"
Farrel tersenyum, akhirnya perlahan usahanya mendapat kemajuan lagi pikirnya. Entah sadar atau tidak Metta mengubah panggilan nya menjadi kamu.
"Yaa karena kata orang, hidup itu sekali sekali perlu yang namanya pengakuan, yaa...meski hanya ngaku ngaku"
Farrel terkekeh.
Dengan mata terpejam Metta menggelengkan kepalanya.
" Istilah macam apa itu, dasar aneh "
" Seharusnya kakak bangga, hanya kakak perempuan yang mendapat kecupan dariku setelah ibuku" ujar Farrel lagi lagi terkekeh
Farrel tak mau berhenti begitu saja, entah mengapa Farrel terus menggoda Metta yang terlihat sangat menggemaskan ketika kesal.
"Aaw..." Farrel pura pura berteriak, memegang sudut bibirnya yang terluka, mencari perhatian agar Metta berbalik.
" Cx..Kau ini !!"Metta menatap jengah
" Sudah gak usah banyak akting "
Metta kembali berlalu, mengabaikan Farrel yang sedang pura pura kesakitan.
"Aku tidak akan tertipu lagi " gumamnya.
Farrel terkekeh mengikuti Metta yang menggerutu tidak jelas itu dari belakang. Sungguh menggemaskan, Farrel tidak tahan melihat Metta yang kesal dengan bibir yang mengerucut.
" Cx ..Kakak ini tidak pengertian sekali sama pacar sendiri "
Metta mendekap kedua tangan nya didada, dengan mata yang menajam ke arah Farrel. Dengan hentakan kakinya ke tanah.
"Berhenti membuatku kesal"
Farrel berjalan mendekat, mencondongkan kepalanya ke wajah Metta. Hingga mereka sesaat beradu pandang. kemudian beralih sedikit kesamping tepat berada di telinga Metta.
" Keluarkanlah semua kekesalan yang kakak rasakan, jangan pernah menahan diri untuk terus pura pura terlihat kuat"
Metta tertegun, mencoba memahami apa yang Farrel ucapkan. Hingga tangannya merasa ditarik dengan lembut.
"Ayo kita pergi "
Langit mulai menggelap, menggantikan Senja yang perlahan pergi. Sementara bintang tengah bersiap menemani sang bulan.
Metta termenung, tak dapat dipungkiri apa yang sedang beradu peran didalam dirinya. Perasaan yang selama ini tersimpan rapat didalam sana, tentang rasa yang tertahan, tentang hati yang menolak, rasa kecewa yang membuncah, semua bercampur menjadi satu. Bahkan tentang kepura-puraan yang selama ini kerap dilakukannya. Gamang itulah dirinya, lelah?? tentu saja.
Farrel melihat ke arah Metta, memperhatikan wajahnya yang terlihat suram. Manik hitam itu terlihat sayu.
" Apa kakak baik baik saja"
" Hm..Yaa tentu saja" ujar Metta berbohong.
" Kakak.." Farrel menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
" Menangislah jika kakak ingin menangis, tak usah menahannya kak"
Metta tiba tiba membentak Farrel. Sekuat tenaga agar tangisnya tidak tumpah saat itu juga.
" Aku tidak ingin menangis, kenapa harus menangis hah"
"kakak, lihat dimobil ini hanya ada kakak dan aku.."
"Atau kalo perlu anggap saja aku tidak ada". ucap Farrel tanpa menoleh kearah Metta.
Metta memang tak pernah memperlihatkan apa yang sedang dia rasakan. Selalu berpura pura kuat dihadapan orang lain, dia tidak ingin terlihat lemah oleh siapapun, sekalipun itu keluarga nya sendiri, apalagi hanya seorang Farrel. Tentu saja tidak.
" Sudahlah jangan sok tau "
" Aku tidak apa apa dan tidak ingin menangis"
Namun kali ini Metta menelengkup, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya terlihat bergetar, saat itu juga tangisnya pecah, air yang menggelayut dipelupuk mata turun dengan hebat, dan kekuatannya kini seakan menghilang.
Entah kenapa Farrel seakan mengerti dengan sendirinya, suara Tangis Metta begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Kemudian menarik tubuh kecil itu kedalam pelukannya, membiarkan kemejanya basah oleh air mata. Memberinya waktu melepas sebanyak mungkin beban yang selama ini ditahannya.
Sesaat kemudian getaran tubuh itu melemah, isak tangisnya perlahan berhenti. Metta merasakan kenyamanan dalam pelukan Farrel. Memang benar sebuah pelukan lah yang dia butuhkan saat ini. Dan bebannya seakan berkurang.
" Kakak ini memang keras kepala " gumam Farrel diatas pucuk kepalanya
Dengan kesal Metta memukul dada Farrel.
bugh..
Aw..
Farrel mengaduh berbarengan dengan Metta yang membentak.
"Sudah ku katakan jangan sok tau..kau ini"
Farrel meringis, tangannya mengelus dada, bukan karena pukulan dari Metta tapi karena dadanya memang terluka saat dia berkelahi tadi. Kemejanya tersingkap, terlihat dadanya yang sedikit memerah.
Metta terhenyak saat melihat memar di dada putih Farrel. Ada perasaan bersalah yang dia rasakan kini. Kalo bukan karena dirinya, mungkin ini tak akan terjadi.
Metta menghela nafasnya pelan.
" Maafkan aku, tak seharusnya aku membawamu kedalam masalahku" ucap Metta lirih. kepalanya mendongkak menatap Farrel.
Jari Farrel terulur menghapus jejak air mata diwajah Metta.
" Kenapa kakak bilang begitu, aku tidak apa apa"tukas Farrel tersenyum.
" Apa itu sakit "
"Sedikit , tapi tidak apa apa"
" Cx Kenapa kamu bilang tidak apa apa, sudah jelas juga itu ada memarnya" ucap Metta seiring pelukannya terurai.
" Kakak tau aku ini pernah juara karate waktu disekolah dulu, jadi kakak tidak usah khawatir" Farrel membusungkan dada dan menepuknya.
" Cx..kau ini percaya diri sekali" ujar Metta tak peduli
" Tapi it..."
" Berhenti.." ujar Metta.
"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali"
Metta keluar dan berjalan menuju sebuah minimarket, sementara Farrel memandang mengikuti kemana Metta pergi.
"Kenapa suasana hatinya begitu cepat berubah" gumam Farrel
Tak lama Metta keluar dengan menenteng bingkusan plastik ditangannya. Masuk kembali kedalam mobil.
" Kakak membeli apa?"
Metta membuka plastik dan menyodorkan minuman. kemudian dia berikan pada Farrel
" Nih,"
" Ah..terima kasih, kakak memang baik" Ucap Farrel menenggak botol minuman yang diberikan Metta. Sementara Metta menarik sudut bibirnya keatas, dan menenggak minumannya sendiri.
"Ayo sekarang buka bajumu" ujar Metta tiba tiba.
" Ayyh...apa yang akan kakak lakukan padaku " tukas Farrel menutupi dadanya dengan kedua tangan.
"Jangan macam macam kak, aku ini masih belum cukup umur , setidaknya jangan lakukan disini" ujar Farrel dengan tersenyum mengangkat kedua alis tebalnya sebanyak dua kali.
"Cx kau ini bicara apa, jangan berpikir macam macam" tukas Metta mengepuk keras bahunya dan Farrel pun meringis.
" Ini untuk luka memar didadamu" ucap Metta.
Farrel beroh ria seraya membuka kemejanya.
" Ku kira kita akan melakukan itu disini"
" Itu apa.. Kau bilang apa, otakmu kenapa bisa berpikir mesum " kali ini Metta menepuk bahu Farrel lebih keras.
" Ayoo cepat buka bajumu"
" Ah Kakak ternyata sangat agresif " tawa Farrel kini terdengar.
" Sepertinya tidak hanya dadamu saja yang harus di obati, tapi otakmu juga" ucap Metta kesal.
" Tapi awas kakak jangan tergoda yaa nanti ketika melihat dadaku ini" ujar Farrel membusungkan dadanya sendiri.
" Kau ini terlalu banyak bicara"
Farrel pun tertawa nyaring, membuka kancing kemejanya satu persatu.
Metta mengoleskan obat dengan perlahan, jarak mereka begitu dekat, Farrel memperhatikan wajahnya, hembusan nafasnya mengenai anak rambut Metta, jantungnya kini bergetak dengan cepat, ada gelanyar aneh dirasakannya. Dengan perasaan yang memang disadari sudah mulai tumbuh subur dihatinya. antara Mengagumi dan mulai mencintai. Ada tekad yang menguat disana, Farrel menahan diri untuk tidak menyentuh Metta.
Farrel pun sedikit meringis, dengan sedikit kasar Metta menekan memarnya. Metta sebenarnya tau Farrel tengah memperhatikannya.
" Mau sampai kapan kamu terus memandangiku seperti itu hah" ucap Metta
Farrel tertawa pelan, dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Ah ternyata aku ketahuan"
Happy Reading..💕
Harap maklum otor ini masih pemula, Maaf kalo masih berantakan ..💕😁
Semoga suka..
Salam geje😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Kinan Rosa
🤣🤣🤣🤣
semangat farel
2023-07-13
0
Nur fadillah
sukaaa...
2022-11-17
0
Eika
menarik 😘
2022-07-11
1