"Ah loe bikin gue gak selera makan Sha" mendorong mangkuk menjauh dari hadapannya.
" Yukk balik ke ruangan aja"
" Gak selera makan gimana loe mangkuk loe aja udah kering gitu sardin"
Dinda hanya terkekeh, sementara Metta menggelengkan kepalanya.
.
.
🍁🍁
Akhirnya mereka beranjak pergi meninggalkan kantin, jam istirahat pun sudah akan berakhir.
Metta berjalan lesu, aura kekhwatiran terlihat jelas diwajahnya.
Berkali kali terlihat dahinya mengkerut, bibir kecilnya ikut mengerucut.
"Udah loe tenang aja Sha, jangan terlalu khawatir, loe menyedihkan tau gak kalo kayak gini"
" Hem, gue gak apa apa " tukas Metta.
Mereka pun sampai ke gedung divisi tempat mereka bekerja. Yaa gedung perkantoran itu memang luas terdapat beberapa divisi didalamnya. Sementara mereka bagian dari Divisi umum.
"Mbak sha"
Metta menoleh ke arah suara, mas paijo Office boy yang selalu wara wiri di divisi umum.
"Iya mas paijo kenapa?"
"Ini mbaknya ada kiriman buat mbaknya." Mas Paijo imenyerahkan paperbag pada Metta.
Metta menerimanya, melihat isi paperbag yang masih terasa panas dan aroma khas menyeruak dari dalamnya.
"Eemmm, wangi bangett sha" sambil ikut melongo ke dalam paperbag tersebut, menghirup dalam dalam aroma yang keluar dari paperbag itu.
"Kayaknya kopi deh ini." ucap Dinda
"Dari siapa yaa mas, perasaan aku gak ada order kopi hari ini" ucap Metta heran.
"Aduuh kurang tau yaa mbaknya Sha soalnya saya cuma nerima aja, pas kurirnya nanyain mbaknya."
"Saya bilang saya kenal mbaknya, kurir nya juga udah nunggu agak lama, tapi mbaknya gak dateng dateng makanya saya terima" ucapnya panjang lebar.
"Mana muka saya di foto lagi mbaknya". tambahnya lagi "Katanya buat tanda bukti," sambil terkekeh.
Dinda tertawa geli mendengar celoteh mas paijo, dan menyela.
"Mas kalo aku bisa nebak aku dapet hadiah yaah " ucapnya.
Paijo mengkerutkan dahinya, menatap heran kepada Dinda, kemudian beralih menatap Metta yang malah terlihat menarik sudut bibirnya.
"Apaan mbaknya, saya gak ngerti" ucapnya kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Kata Nya yang terdapat pada kata mbak ada berapa?" goda Dinda.
Metta ikut mengkerutkan dahi, memikirkan pertanyaan yang konyol yang diucapkan sahabatnya itu.
"Waduh saya gak ngitung mbaknya" balas Mas Paijo tersipu.
"6 mas" jelas Dinda sambil tertawa.
Mas paijo yang tersipu berlalu meninggalkan mereka berdua, "mbaknya Din bisa aja" tambahnya lagi.
Membuat Dinda dan Metta tertawa.
" Ya sudah mas, terima kasih yaa."
Paijo mengangguk, " Kalo begitu saya permisi dulu mbaknya Sha, mbknya Din"
Metta berfikir siapa yang mengirim kopi itu kepadanya. Menerka nerka orang yang dengan sengaja memberi nya kopi itu sambil terus berjalan menuju meja kerja nya, diikuti Dinda dibelakangnya.
Metta mengeluarkan kopi itu dari dalam paper bag, menyimpan kopi rasa matcha latte diatas meja nya, melihat kedalam paperbag mencari siapa tau ada note ucapan.
"Nah ini dia" ucapnya setelah menemukan sebuah note kecil terselip didalam paperbag .
Mengambilnya dan kemudian membaca dalam hati.
Mettasha klyna.
"Satu bab buruk dalam hidup tidak berarti itu adalah akhir, tetapi itu adalah awal dari babak baru dalam hidupmu "
Sepenggal tulisan itu lah yang Metta baca. Kemudian mengerutkan dahi tidak mengerti.
"Salah orang kali yaa Din" serunya pada Dinda.
Dinda menarik kartu itu dari tangan metta,
terlihat dahinya ikut mengerut juga dan membacanya dengan pelan.
"Gak jelas banget Sha, sangat misterius" Dinda menggidigkan bahunya.
Metta mengangguk, tanda setuju dengan perkataan Dinda.
" Gimana kalau misalkan ini kopi pencari tumbal" selidik Diana.
" Tumbal apa sih"
" Ya tumbal, misalkan biar usaha nya lancar, harus numbalin perempuan yang punya ciri tertentu" Mata nya bulak balik memperhatikan Metta.
"Atau bisa juga buat santet kali, ya ya awas jangan jangan loe mau disantet lewat kopi ini"
" Pemikiran loe kali ini bener bener gila, loe percaya hal begituan, parah loe" tukas Metta setelah mendengar kemungkinan kemungkinan tak jelas dari sahabatnya.
" Yaa Udah kalo gitu minum aja, sayang kalo dibuang mubazir Sha"
" Yee loe yang bilang santet lah, tumbal lah tapi takut mubazir gimana sih otak loe peak banget."
" Ya itu kan kemungkinan terburuk Sha menurut gue, tapi setelah dipikir pikir lagi, mana ada yaa"
" Tau ahk, dah buat loe aja deh gue masih kenyang"
"Ah elu biasa juga gak ada yang kelewat kalo gratis, hahhaa" ucap Dinda meleos kembali ke meja kerjanya, dengan kopi rasa matcha itu ditangannya.
Metta terduduk dimeja kerjanya, menatap layar komputer didepan nya namun tak digunakannya.
Berfikir kira kira siapa yang mengirimkan kopi dan sebuah note kecil itu, tak ada orang yang dicurigainya pula.
Siapa kira kira ya.
Metta tidak lagi sedang dekat dengan siapa pun, tidak sedang berusaha dekat ataw mendekati. Salah kirim? jelas tidak, karena namanya ada di note kecil itu.
" Lantas siapa" Metta berfikir dengan keras, namun tidak menemukan jawaban.
" Orang iseng dikantor? gak mungkin juga, mereka mana ada waktu untuk hal beginian.
" Atau bocah aneh tadi lagi? tidak mungkin juga dia bahkan gak tau nama gue"
Itu lah rentetan pertanyaan monolog Metta, jari mungilnya mengetuk ngetuk meja, tapi tetap tidak ada jawaban.
" Sudahlah, lama lama pusing juga mikirin hal begitu"
Metta melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda. Tak lagi memikirkan kiriman kopi yang terimanya.
Cukup sudah hari ini dia mengalami banyak kejadian, rasanya sudah lelah dan ingin segera pulang.
" Pulang?? bagaimana nanti gue pulang," Metta meraup wajah dengan kedua tangannya.
Satu lagi hal yang harus di pikirkannya sekarang.
Metta akhirnya berjalan menuju pantry, rasanya dia membutuhkan sesuuatu untuk menenangkan dirinya.
Mengambil cangkir, kemudian mengisinya dengan sesendok kopi latte, menambahkan air panas kemudian mengaduknya perlahan.
" Lho kok ngopinya disini?"
" Ah, iya nih Pak Hendra" jemari nya belum berhenti mengaduk.
" Bukan nya sudah ada kopi tadi,"
" Kok Pak Hendra bisa tau,"
" Lah iyaa tadi kan.." Hendra belum selesai dengan perkataan nya harus terhenti karena suara bariton dari ujung ruangan.
" Hendra"
Hampir saja Metta tersedak karena kaget dengan suara atasan nya yang sudah dipastikan sedang marah itu.
" Aku kesana dulu Sha,"
Metta mengangguk dan mengelap ujung bibirnya. Sementara pikiran nya melayang
Apa Hendra yang sudah mengirimkan kopi itu? Benarkah? Memang kenapa?
Metta kembali ke meja kerjanya, masih dengan fikiran yang memenuhi kepalanya,
Hendra..? menjentikkan jari nya.
Hendra? apa alasan dia mengirimkan kopi itu sama gue?
Nama itu terus berulang di dalam kepalanya, atas dasar apa Hendra mengirimkan kopi, padahal sebelumnya mereka tidak terlalu akrab, atau karena Metta selalu menutup dirinya sendiri.
.
.
.
.
🍁🍁🍁
Ada sebagian yang sudah aku revisi,
Jadi daripada aku crazy up mending aku revisi dulu biar enak.😂
🐸Lapor belum ada yang baca.
Eeh..
Salam geje😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Bzaa
semangat otor😘
2022-07-04
0
Komalasari Hidayat Prasodjo
othornya lucu juga nih 😁😁😁✌️
2022-03-29
0
Pipit Sopiah
tanda tanya besar......
2022-02-23
0