Didalam mobil
Hening
Tidak ada obrolan diantara mereka, Metta memalingkan wajahnya ke arah jendela. Melihat gedung gedung pencakar langit yang biasa dia lewati setiap hari, tidak ada yang aneh dan berubah padahal.
Namun lebih baik begitu fikirnya. Pasalnya dia banyak memikirkan hal yang tidak jelas. Fikirannya melanglang buana, mulai dengan hitungan hitungan nominal angka, mulai dari motor yang semakin rusak, dari hari yang dilaluinya, bahkan peraturan ketat perusahaan tempat sekarang bekerja yang tidak akan pernah mentoleril alasan apapun atas keterlambatan karyawannya.
Dengan memotong gaji sehari penuh untuk keterlambatan 1 detikpun. Sangat tidak berprikekaryawanan, fikirnya.
Lintasan demi lintasan itulah yang kini tengah memenuhi kepalanya. Sesekali menghela nafas dengan kasar.
Bahkan tak merasakan kalau sikutnya berdarah, rasa perih seolah tidak ada apa apanya bila dibandingkan dengan perih nya kehidupan yang di laluinya.
Farrel melihat heran dan penuh tanya apa yang tengah difikirkan perempuan cantik di sebelahnya itu. Sekilas tersenyum.
Farrel menghentikan laju mobilnya, mencari kotak obat yang dia letakkan di dashboard mobilnya.
" Kenapa berhenti " Metta mengedarkan pandangannya.
" Sikutmu berdarah, ini obati lukamu" seru Farrel menyerahkan kotak obat itu kepadanya.
" Sudahlah tidak apa apa "
" Tidak apa apa bagaimana, lihat baju lenganmu saja ada bercak darahnya "
" Ayo obati dulu, nanti infeksi, ibu mau?"
Metta bergidig, membayangkan luka nya akan infeksi, memikirkan biaya nantinya jika sampai itu terjadi.
" Atau kita ke rumah sakit dulu "
" Tidak, tidak usah "
Metta meraih kotak obat yang diberikan Farrel, dan mencari obat yang akan digunakan nya
" Sudah ketemu?" tanya Farrel melajuknkembali mobilnya.
" Nah ini dia "
Metta mengacungkan obat yang dia cari ke atas, bak menemukan jarum diatas tumpukan jerami, dengan mata berbinar.
Terlalu berlebihan.
Farrel melihat dengan heran dan penuh tanya dengan tingkah yang diperlihatkan perempuan cantik di sebelahnya itu. Kenapa sangat menggemaskan sekali.
Sekilas tersenyum dan menggelengkan kepalanya tatkala Metta kesulitan mengobati lukanya, karena lukanya yang berada tepat disikutnya.
" Biar aku bantu" Farrel menghentikan kembali laju mobilnya.
" Tidak usah gue bisa sendiri kok"
Takjub bercampur tanda tanya kini dirasakannya, tak dapat dipungkiri fikirannya juga melanglangbuana kemana mana.
" Sudah sini aku bantu, sudah jelas kesulitan kenapa masih saja tidak meminta bantuan "
Farrel merebut obat ditangan Metta.
Jarak mereka begitu dekat, hingga hembusan nafas Farrel mengenai wajah Metta.
Diam diam Metta memperhatikan wajah Farrel dari dekat.
Metta meringis ketika Farrel mengobati lukanya dengan sedikit menekannya.
" Tahan ini sebentar lagi, jangan dulu bergerak "
" Aw, loe sengaja yaa" ucap Metta dengan kesal, menarik tangannya kemudian.
" Itu hukuman karena kamu menatapku diam diam " Farrel menarik bibirnya ke atas setelah mengucapkannya.
" Cih terlalu percaya diri "
Metta membenarkan posisinya ke semula, kembali melihat luar jalan dan memandangi gedung gedung.
Gue ketahuan lagi.
Farrel kembali melajukan mobil nya, dengan senyum yang maaih terbit di bibirnya.
Seolah baru pertama kalinya dia bertemu dengan perempuan yang membuatnya tertarik, meski Farrel mengetahui sosok perempuan yang menarik hatinya itu berbeda usia.
Sepanjang perjalanan yang kurang lebih memakan waktu 30menit serasa 1 menit bagi Farrel. Waktu terus berputar dengan cepat, dan tak ada lagi percakaan diantara mereka. Masing- masing tengah bergelut dengan fikiran mereka sendiri.
Hingga satu kata membuyarkan lamunan nya, angan angan yang telah dia susun seketika hilang dan kesadaran kembali ketempatnya.
"Stop turunkan gue disini aja "
"Dan ingat "
Jari telunjuknya diarahkan ke arah Farrel.
"Dan ingat lo nanti antarkan bebeb gue ke sini " telunjuknya kembali diarahkan ke gedung tinggi didepannya.
Farrel pun menganggukkan kepala nya begitu saja memandang meta tanpa berkedip. Sesaat mereka beradu pandang, terdiam saling menatap.
1..
2..
3..
Meta tersadar, dia mengerjap ngerjapkan mata lentiknya. lagi lagi terpesona dengan wajah Farrel.
" Ehm, sadar loe sadar napa loe bengong " batinnya.
"Apa, kenapa " ketusnya
Dengan gelengan kepala Farrel menjawab tanpa kata.
" Loe ngerti apa yang tadi gue bilang hah, malah bengong aja loe "
Farrel mengangguk begitu saja tanpa mengalihkan tatapan nya kearah meta, mmperlihatkan kebodohan yang sangat kentara.
"Bagus " ujar meta lalu menutup pintu mobil dengan keras.
Berlalu begitu saja dengan percaya diri tanpa menoleh sedikitpun. Berjalan dengan langkah anggun kearah pintu kantor.
Farrel yang tersadar dari kebengongan nya kembali merutuki kebodohan nya, menepuk jidat nya sendiri. Kemudian tersenyum sambil melihat punggung meta sampai menghilang dari pandangan.
Setelah memastikan Meta masuk dan tak terlihat lagi, tatapan nya beralih melihat gedung tinggi itu. Farrel pun tersenyum.
" Akan kupastikan kita bertemu lagi Mettasha kalyna " ujarnya dengan memegang nametag perusahaan yang baru saja dia temukan di bawah setelah meta menutup pintu mobilnya dengan kasar.
memasukan nametag Metta kedalan saku jaketnya, seolah takut hilang.
Kini terlihat bibirnya semakin melengkung, menunjukan senyuman yang lebih dari sebelumnya.
Meraih ponselnya dan mendial nomor Alan, tentu saja siapa lagi selain Alan.
Farrel seolah sangat bergantung pada Alan.
" Hem, kau dimana?"
" Astaga kenapa malah pergi ke sana, aku menyuruhmu mengurus motor yang ku tabrak, bukan menyusulku"
" Iyaa kau tenang saja, aku tak apa apa "
" Aku menabrak Alan Alfiansyah, bukan tertabrak jadi aku tidak apa apa "
" Iya iya oke, nanti aku kesana "
Bip ..
Farrel memutuskan telponnya meski diujung sana masih terdengar berbicara.
" Selalu saja begitu, berlebihan sekali "
" Sudah seperti bunda saja " batin Farrel
Mengingat Alan begitu mengkhawatirkannya itu, bahkan dia mengingat beberapa waktu yang lalu ketika Farrel kecil jatuh karena terserempet, Alan dengan sigap malah menelepon ambulance untuk datang, dengan berteriak meminta pertolongan pada saat itu.
Memalukan sekali, padahal Farrel hanya terluka di lututnya saja. Itu karena Alan begitu menyayangi nya dan Farrel tau itu.
Sesaat kemudian Farrel tersadar, dengan melihat jam tangannya warna hitam yang setia menempel dipergelangan tangan putihnya. Sesaat kemudian dia tercengang.
"Oh, **** gue telat " segera memasangkan kacamata hitamnya kembali Farrel menyalakan mobil nya dan melaju dari sana.
Dia bahkan baru ingat jadwal kelas pagi nya.
dan janji bertemu dengan dosen pembimbingnya.
.
.
.
Sepatah dua patah lagi dari othor😋
Nah lho sebelumnya sepatah dua patah juga, kalo dikumpulin mah gak jadi patah patah donk torr(yaa, gimana yaaa😂gpp baca aja yaak)
Harap maklum karena ini pengalaman pertama othor. Dan kadang masih ngerasa gak pede gitu (bodo amat yaak suruh siape bikin)😂
othor cuma mau bilang ini alurnya emang dibuat lambat gitchu.(mau saingan sama keong yaa thor😂)
Yaa pokoknya semoga pengalaman pertama aku ini gak bikin readers kecewa yaak.
Semoga syukaa..
Salam gejee
.
.
kaa_Zee😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Kinan Rosa
aku suka banget sama ceritanya kak
semoga saja ceritanya bagus terus sampai ending 😄👍👍
2023-07-11
2
Yuli Ana
aku baru mulai baca nihh 🔥🔥
2023-05-08
0
Kode Keras Bundanya Vania
trsyuka sama novel author
trlove2 lh
2022-11-05
0