" Lepaskan dia"
Metta maupun Faiz menoleh ke arah suara, dengan langkah cepat Farrel mendekat, kini wajah imutnya berganti menjadi wajah yang menyeramkan.
Manik hitam yang biasa meneduhkan itu berubah menjadi tajam, rahang nya mengeras namun tak terlalu kuat jika dibandingkan dengan Faiz itu terlihat sudah terlihat jelas diwajahnya. Badannya yang memang belum sempurna dewasa itu pun juga tidak terlalu kekar dibandingkan dengan badan kekar Faiz, namun keberanian terlihat tak kalah gentar.
Farrel terus melangkah dengan percaya diri. Tak ingin melihat orang yang sudah diakui akan menjadi miliknya itu disentuh orang lain, apalagi terlihat tersakiti seperti saat ini.
Metta bergeming, tak percaya apa yang kedua matanya lihat kini, bocah tak jelas tapi selalu bersikap manis kini tak dapat dia kenali. Perubahan sikap terlihat jelas, meski dalam raga yang masih terlihat sama. Ada rasa syukur yang terselip diantara banyak nya keraguan dalam hatinya. Bersyukur ada seseorang yang datang disaat tepat, saat Faiz datang dan dengan cepat membuka luka yang selama ini tertanam dihatinya. berusaha sekuat tenaga memulihkan luka menganga dihati yang selama ini sulit diobati, kini malah seperti disiram dengan air asam. Teramat sangat perih. Namun ada rasa ragu yang datang mengiringi. Keraguan yang mungkin akan menambah masalah baru lagi. Melihat perbedaan yang kentara antara pria dewasa dan pria yang menurutnya masih bocah itu. sudah bisa Metta terka hasil akhirnya.
Alam seakan memberi restu ketiga orang berbeda usia itu untuk saling bertemu, suasana kantor saat itu memang sudah sepi, ditambah awan yang sudah mulai terlihat menghitam terpangpang jelas diatas langit, terlihat gurat gurat senja yang baru saja datang, seiring semilir angin yang menerpa raga.
"Kubilang lepaskan dia".. ujar Farrel dingin.
" Apa kau tuli hah.." menepis tangan Faiz yang masih mencengkram tangan kecil Metta.
" Tidak usah ikut campur " jawab Faiz sinis menatap Farrel, rahang kerasnya kini semakin terlihat jelas.
" Ini urusan orang dewasa" tukas Faiz.
Tiba tiba dengan gerakan cepat Farrel memintir tangan Faiz hingga cengkraman nya terlepas. Metta yang berhasil lepas itu mundur beberapa langkah kesamping Farrel.
" Apa dengan cara menyakiti perempuan adalah sikap dewasa hah" Farrel mendorong tubuh kekar Faiz.
" Cih berani sekali kau mencampuri urusanku"
" siapa kau" ucap Faiz sinis.
Brug..
Pukulan mendarat diwajah Farrel, membuat tubuhnya yang belum siap itu terhuyung kebelakang bebarapa langkah, terlihat darah segar menetes diujung bibirnya.
Farrel tersenyum sinis, mengelap ujung bibir dengan jarinya.
Membuat Metta berteriak kaget dan menutup mulutnya. Melihat kedua lelaki berbeda umur itu berkelahi, hanya gara gara dirinya.
Farrel kembali menegakkan tubuhnya, kini amarahnya tak lagi dapat dia tahan. Bergerak maju dan membalas memukul Faiz,
Brug ..
Brug..
Brengsek..
Dua Pukulan sekaligus mendarat wajah Faiz, Faiz tak kalah menyerang, membalas pukulan Farrel, namun kali ini Farrel dapat menghindar dari pukulan nya. Dengan gerakan cepat dua mengelak, kemudian dengan gerakan memutar Farrel menendang perut Faiz, membuat Faiz tersungkur.
Metta terpelongo melihat gerakan Farrel yang dengan cepat membuat Faiz tersungkur, gerakan nya lincah seperti sudah terlatih sejak lama. Kemudian melangkah cepat menghampiri Farrel yang sedang menyerang Faiz.
"Sudah berhenti.." ucap Metta.
Sentuhan tangan Metta membuat Farrel tersadar. Menatap manik Metta yang terlihat sayu.
" Apa kau baik baik saja" ucap Farrel.
Metta hanya menganggukkan kepalanya.
Farrel beralih melihat Faiz yang tengah berusaha berdiri.
"Cih apa begini cara orang dewasa menyelesaikan masalah" Farrel menepuk lengan kemejanya, menggulung beberapa lipatan sampai lengannya.
Farrel kemudian menggenggam kuat tangan Metta membuat Metta tersentak.
" Kau sudah mengganggu kekasihku dan jelas itu menjadi urusanku" ucap Farrel dengan lantang.
Faiz tercengang menatap Farrel bersamaan dengan tatapan nya pada Metta. tak hanya Faiz, Metta lebih tercengang lagi mendengar ucapan Farrrel. Namun saat ini dia tidak mungkin bisa mengelaknya. Otaknya saja bahkan tidak bisa berfikir dengan baik.
"Cih kau pikir aku akan percaya" tatapan tajam mengarah Farrel.
" Aku sangat yakin kau masih mencintaiku" ucap Faiz.
" Cih, apa kau se percaya diri ini" cibir Farrel.
" Apa kau sefrustasi itu sejak aku meninggalkanmu dihari pernikahan kita, hingga kau mencari pacar yang bahkan lebih cocok menjadi adikmu itu " ejek Faiz.
Metta menegang, hatinya bahkan lebih sakit daripada sebelumnya, kata kata yang dilontarkan Faiz sungguh mengiris, tubuhnya bergetar, tangannya dingin, hatinya pun teramat perih. Tak pernah menyangka orang yang sangat dia cintai, yang pernah dipercaya sepenuh hatinya dulu, dengan sungguh tega melontarkan kata kata sejahat itu.
Setelah dua tahun lamanya Faiz pergi meninggalkan luka yang bahkan belum kering sepenuhnya , kenapa justru sekarang dia tiba tiba muncul dan kembali menggores luka yang baru.
Farrel yang dapat merasakan kekhawatiran Metta memperkuat genggamannya dan menatap lembut ke arah Metta dan mengangguk.
Metta bisa melihat ketulusan disana, manik hitam tajam itu kini berubah menjadi teduh kembali. Dan entah mengapa Metta percaya itu.
" Yaa dia adalah kekasihku.." ucap metta lantang, tangan satunya memegang lengan Farrel.
" Dan Kau benar, aku frustasi saat kau pergi dihari pernikahan kita, tapi sekarang aku berterima kasih padamu, aku tak jadi menikah dengan pria pengecut sepertimu"
"Hingga aku bisa bertemu dengannya, tentu saja lebih baik darimu" Metta tersenyum melihat ke arah Farrel, begitupun dengan Farrel.
Faiz tersentak melihat keduanya, dulu dia memang bersalah, tak seharusnya meninggalkan wanita yang dia cintai sepenuh hati, tanpa mengatakan menceritakan alasan apapun dan kini dia merasa sangat menyesal. Namun Penyesalan kini sudah tidak ada artinya lagi.
Farrel tersenyum, tangannya menyentuh pinggang Metta dan merapatkan tubuhnya. Mengecup lembut ujung kening Metta. Hatinya penuh dengan bunga bunga yang menggelitik, rasa bahagia dirasakannya, puluhan kupi kupu seakan berterbangan, wajahnya berbinar. walauoun Farrel tau semua ini hanya pura pura.
" Baiklah aku akan pergi, aku harap kau berbahagia Sha..tolong maafkan kesalahanku" ucap Faiz
" Tentu saja, aku akan selalu membahagiakan kekasihku" tukas Farrel.
" Iyaa kan sayang" ucap Farrel.
Metta tak mampu menjawab, kata kata seolah tercekat di tenggorokannya. Tak pernah menyangka dirinya berada akan keadaan seperti ini.
Faiz berlalu pergi meninggalkan mereka berdua, berjalan gontai menyesali dirinya sendiri. Merutuki dirinya sendiri karena dulu tak mampu mengambil keputusan, bahkan malah pergi dihari seharusnya menjadi hari bahagia mereka. Hidup dengan perasaan bersalah hingga bertekad untuk kembali meraih cintanya. Berharap semua kembali menjadi miliknya. Namun semua kini sia sia. kini dia hanya bisa melihat wanita yang sebenarnya masih bertahta dihatinya dari dulu hingga saat ini, kini telah bersama orang lain.
" Aahhhhhkkk...." Faiz memukul kemudi mobilnya.
Setelah memastikan Faiz sudah pergi, Metta mendorong tubuh Farrel hingga terhuyung.
Brug..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Bzaa
Farrell moduss benerrr.. kesempatan dlm kesempitan 😁
2022-07-04
1
Lilik Rudiati
kesempatan dlm kesempitan ya Rell
2022-06-21
1
Nanda Afriany
kesempatan datang d saat yg tepat thorr 🤪🤪
2022-06-20
1