Hari menjelang siang, sinar sang surya menyilaukan mata. Suara para staf terdengar riuh, derap langkah silih berganti seiring suara printer berbunyi nyaring, semakin meramaikan suasana kantor siang itu.
" Metta ada kiriman noh di lobi, suruh diambil sendiri" ujar Pak hendra, salah satu rekan kerja Metta yang baru saja datang dari gedung sebelah.
" Kiriman apa yaa Pak hendra"
" Mana aku tau Sha, bu asri hanya suruh saya menyampaikan itu aja" ujarnya kemudian.
" Yaa sudah nanti saya ambil, makasih yaa pak hendra"
Hendra mengangguk dan tersenyum
" Tak usah sungkan " tukasnya kemudian berlalu menuju meja kerjanya.
Metta menyandarkan punggung nya ke sandaran kursi, menerka nerka siapa yang mengirimkannya, Kemaren coffe, hari ini apa yaa? Pikirnya
"Siapa sih yang ngirim" gumam metta.
Kemudian meraih ponsel yang sedari pagi belum sempat dia keluarkan dari tasnya, membuka aplikasi sejuta umatnya dan kemudian memeriksa semua notifikasi.
" Pantes aja ponsel gue sepi, udah kayak kuburan, ternyata gue silent" Metta bermonolog.
Tapi tidak ada satu notifikasipun mengenai kirimannya siang ini.
Sesaat terhenyak ketika melihat notifikasi 4jam yang lalu, bahwa pesanan taxi online nya dibatalkan oleh drivernya sendiri.
"Lho..kok pembatalan, pan bocah itu drivernya, gue..gue dianterin tuh bocah kan tadi pagi." Masih bermonolog sendiri.
" Astaga ..." Metta menutup mata.
Metta sungguh tidak mengerti, dan yang paling penting Metta tidak suka dirinya berada dalam keadaan seperti ini.
"Terlalu banyak drama " pikirnya.
" Apa gue salah sangka yaa, menganggap bocah itu Driver online "
" Wah wah..malah ngelamun nih orang
Kerja woi kerja" seru Dinda yang berjalan mendekati Meja kerja Metta.
" Sett, suara loe tuh sardin " ujar Metta menutup kedua telinga.
" kedengeran Pak Bastian mati loe"
Bastian adalah kepala divisi yang bertanggung jawab untuk menjalankan dan mengawasi divisi umum.
"Lagian loe ngalamun terus, mau makan gaji buta loe" cibir Dinda pelan,melihat sekeliling mencari sosok yang Metta sebutkan.
" Sialan loe peak" Metta menyentil pelan kening sahabatnya itu.
" ish..kebiasan tangan loe shaun". cibir Dinda dengan cubitan dilengan Metta.
" Ih ogeb loe..sakit " ringis Metta
" Bodo amat"
Begitulah persahabatan mereka, tatkala cacian dan makian kerap menjadi bumbu keakraban dan kedekatan mereka, hingga kata kata kasar yang terucap kerap tak berarti.
Hingga suara bariton seseorang membuat mereka terdiam.
"Ekhem.."
Suara deheman Pak bastian terdengar dari belakang, terlihat berkacak pinggang dengan sorot mata menajam ke arah mereka.
Metta dan Dinda tersentak, menoleh kearah belakang.
" Pak manager" ucap keduanya seraya membungkukkan setengah badannya ke arah Bastian.
" Apa kantor ini seperti sekolah anak anak TK"
" Tidak pak..maafkan keributan dari kami" tukas Metta dengan anggukan dikepala Dinda.
" Maaf Pak "
" Sudah kerja sana, apa kalian akan terus bercanda selama bekerja, dan kau.." Bastian menunjuk kearah Metta.
" Berikan laporan yang kuminta dengan segera"
" Baik pak.." ujar Metta.
" Segera antarkan keruangan saya, kita akan meeting dengan seluruh departemen digedung pusat siang nanti "
Bastian pun berlalu kembali ke ruangannya.
" Selamet.." Dinda mengelus pelan dadanya.
" Kata gue apa sardin"
Mereka pun terkekeh .
" Tumben banget Pak Bas meeting ngajakin loe" "Mana gue tau "
" Tapi laporan loe udah selesai kan?
" Beres, tinggal nanti gue ke ruangan Pak bas"
Metta melirik jam yang melingkar di tangannya, masih ada waktu 2jam lagi untuk meeting.
" Gue ke lobby dulu din"
" Lah ngapain"
" Loe kan harus pergi meeting "
" Mau ngambil barang"
" Mas Paijo emang kemana"
" Kagak ngasuh gue...beneran!" Sahut Metta mengangkat dua jari menjadi bentuk V.
Dinda berdecak kesal.
" Jangan lama loe entar dicariin Pak Bas"
" Gue ke Lobby ogeb, bukan ke hongkong"
" Lagian meetingnya maaih 2 jam lagi" cibir Metta sambil berlalu menuju Lobby.
Tak lama kemudian Metta berjalan masuk, dengan menenteng paperbag ditangannya.
" Cie yang dapet kiriman lagi" ujar Dinda
" Tau nih dari siapa.."
" Yang jelas sih pasti pengagum rahasia loe " ledek Dinda
" Auu ahk gak penting"
Metta menyodorkan paperbag itu ke arah Dinda.
" Nih buat loe aja Din"
"Dih kenapa buat gue"
"gak apa apa, buat loe aja"..
" loe beneran gak tau siapa pengirimnya.
" Atau orang yang kemaren nganterin loe pulang kali "
"Gue rasa bukan dia deh"
"Kan tadi pagi dia nganterin gue kerja" batin Metta.
" Terus siapa donk kalo bukan dia, "
"Emmph..siapa sih namanya" seru Dinda dengan menjentik jentikan jarinya.
" Gue juga gak tau..hhahaa" tukas Metta berlalu
" Yang bener loe Sha, " Dinda berjalan menyusul.
" Beneran din, gue gak tau, dia juga gak bilang siapa"
" Yaa loe harusnya nanya Shaun.."
Metta hanya mengerdikan bahunya tak peduli.
" Bener bener loe yaa, loe gak peduli dengan orang lain"
Metta berbalik dan mengangkat jari telunjuknya.
" Eit..loe salah, buktinya gue peduli sama loe" kemudian kembali berbalik, melangkah kembali menuju meja.
" Sha loe marah.."
" Enggak ngapain gue harus marah, gue hanya gak mau membebani hidup gue dengan hal yang menurut gue gak penting"
" Gue hanya harus menjaga diri gue dari yang namanya kecewa atau apalah itu. Gue gak peduli." Sahutnya kembali.
Dinda menganggukan kepalanya, tanda dia paham dan mengerti bahwa Metta memang selalu menutup dihatinya, memasang dinding tebal dan tidak ada yang mampu menerobosnya, setelah rasa sakit dan kecewa yang dulu pernah dialaminya dua tahun yang lalu. Pernah ditinggalkan seseorang yang amat dicintainya tepat disaat hari pernikahan mereka, dimana dia seharusnya menjadi pengantin yang bahagia. Pil pahit itu harus dia telan, peristiwa yang mungkin terjadi hanya didunia novel kebanyakan, dimana pengantin pria yang dicintainya pergi begitu saja dihari pernikahan, meninggalkanya tak berperasaan, hanya menyisakan rasa yang teramat perih dilubuk hati terdalamnya, meninggalkan bergunung gunung malu untuk keluarganya. Tak disangka tak dinyana ternyata dia mengalaminya, mungkin di dunia novel yang sering dia baca dulu peristiwa seperti ini masih bisa memberikan secercah harapan, dengan datangnya sosok pengantin pengganti yang ternyata seorang presdir, yang akhirnya pun akan sangat mencintainya, namun tidak dengan peristiwa kelam yang dialaminya. Hingga Metta memutuskan untuk berhenti membaca novel. Terlalu banyak drama.pikirnya
Dinda yang terheran pun melipat kedua tangannya di dada dan mencondongkan badannya kedepan.
" Katanya gak penting, tapi loe pikirin juga kan.hahhaa"
Metta gelagapan, seakan ketahuan tengah mencuri sesuatu, membenarkan rambutnya yang tergerai kemudian berdehem.
" Gue gak lagi mikirin..gak penting juga" kemudian melangkah kembali ke meja kerja.
Dinda hanya menggelengkan kepalanya.
Metta memang belum menceritakan semua pada sahabatnya perihal perjanjiannya dengan Farrel, bocah yang sampai saat ini bahkan Metta tidak ketahui namanya.
Sementara ditempat lain.
Suara deru ponsel mengganggu keheningan, Farrel yang tengah berkutat dengan tugasnya terperanjak kemudian Farrel merogoh benda pipih itu dari saku, tanpa melihat layar yang menyala Farrel langsung menempelkan benda pipih itu ditelinganya.
" Hm..?"
" Kau bisa kesini hari ini"
" tidak bisa,"
" Ayolah, bantuin aku"
" Gak bisa aku ada tugas"
" Ayolah kau kenapa terus menghindar, lagian kau hanya memeriksa laporan saja"
" Cx..kau sama saja seperti Ayah"
" Hahaha..itu sudah tugasku tuan muda"
" Berisik kau, yaa sudah aku kesana tapi setelah tugasku selesai"
tut..
Suara ponsel dimatikan sepihak dari sana, sementara Farrel berdecak kesal.
" Pria Aneh.."
Farrel kembali berkutat dengan sketchbooknya.
Sebenernya Farrel enggan pergi, dia memang belum siap jika harus setiap hari pergi, apalagi harus sepanjang waktu memeriksa berkas berkas yang tidak ada habisnya.
Yaa..Farrel adalah Presdir diperusahaan Adhinata, diusia mudanya Farrel harus terjun langsung di perusahaan milik keluarganya, tidak ada pilihan karena dia anak satu satunya, namun Farrel bersikeras akan datang ke kantor hanya untuk memeriksa laporan saja, sesekali dia juga menghandle klien jika Alan memang tidak bisa. Kemampuannya pun tidak bisa diragukan lagi, meski usianya terbilang masih sangat muda, 19 tahun. Maka dari itu sang ayah selalu ingin putra kesayangannya itu segera siap untuk memimpin perusahaan, namun Farrel selalu bisa menolaknya, selebihnya semua masalah kantor ditangani oleh Alan. Alan yang bekerja lebih keras, dan bisa mengimbangi jiwa muda Farrel. Maka dari itu Ayah Arya menempatkan Alan sebagai tangan kanan Farrel, Alan juga orang kepercayaan Arya, dan Arya sudah menganggap Alan seperti anak sendiri.
Setelah selesai Farrel menggulung kertas karya dan memasukannya kedalam drawing bag, membereskan peralatan lainnya kedalam tas ranselnya, menenteng drawing bagnya di atas bahu kemudian beranjak keluar. Farrel memang kerap menyelesaikan desainnya disatu tempat yang tenang. Dua pribadi menyatu dalam dirinya, kerap dipaksa dewasa oleh sang kakek dahulu saat berkaitan dengan bisnis, rasa manja seorang anak akan hilang dalam sekejap. Namun Farrel adalah anak yang cerdas hingga mampu berproses dikeduanya.
Sore itu Farrel melajukan mobilnya menuju perusahaan, tempat yang akan dia tempati berapa tahun akan datang ketika dirinya sudah siap. Dan seperti biasa Farrel akan memasang musik kesukaan nya ketika dimobil, tiba tiba pikiran nya teringat kejadian berapa hari yang lalu, pertama kali bertemu Mettasha, pertemuaan nya yang unik, wajah Metta yang terbayang, manik hitam yang dihiasi bulu lentiknya, hidungnya yang lancip, bibir tipisnya yang menggoda, semua yang ada dalam diri perempuan itu mendominasi pikirannya.
" Kakak" lirihnya
Farrel memasuki tempat parkir khusus, memarkirkan mobilnya ditempat biasa. Namun tak banyak karyawan dan staf yang tahu siapa Farrel sebenarnya, hanya beberapa orang saja.
Perusahan itu memang terdiri dari beberapa gedung, melingkup setiap departemen departemen atau divisi bagian bagiannya. serta gedung utama yang berada didepannya.
ting
lift terbuka, Farrel berjalan menuju ruangan meeting. Langkahnya terhenti ketika melihat perempuan berjalan keluar dari ruangan meeting. diapit beberapa staf laki laki dan terlihat tengah tersenyum. seketika Farrel terkesima melihat Metta yang terlihat menawan. Senyuman yang belum pernah Farrel liat sebelumnya, namun segera membalikan badan dan berbelok menghindar. Bersembunyi dibalik tembok, mendongkakkan kepalanya masih dengan rasa penasaran melihat rombongan orang yang keluar dari ruangan itu.
Farrel kemudian berbalik arah menuju ruangan Alan. Tersenyum bahagia karena melihat sosok yang dia kagumi, hingga tak sadar Farrel berjalan melewati ruangan yang seharusnya.
" Mas Farrel mau kemana?.." tanya sekertaris Ayahnya.
Farrel berhenti setelah tersadar, tersenyum tanpa berkata apa apa. Melihat kearah sekertaris sang Ayah yang menatapnya.
"Ah membuat mau saja" batinnya
" Pak Alan belum kembali" lanjutnya
" Tak apa aku akan menunggu didalam."
Dengan segera Farrel masuk keruangan Alan, yang tentu saja ada meja kerja khusus untuk dirinya didalam.
" Bagaimana kau sudah bertemu dengannya"
pertanyaan to the point itu langsung diajukan pada Alan yang baru tiba diruangannya.
" Astaga..aku saja belum duduk"..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Bzaa
Farel ayo gerak cepat aja😆
2022-07-04
0
Pipit Sopiah
lanjut
2022-02-23
1
the izot
ternyata hadiah dari Farrel
2022-02-18
2