Mau sampai kapan kamu memandangiku seperti itu ? Ucap Metta.
Farrel tertawa pelan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ah ternyata aku ketahuan"
" Dasar bocah aneh"..ujar Metta
Namun tak dapat dipungkiri, Metta merasakan kenyamanan yang dia dapat dari seorang Farrel, ada rasa mendesir kini dihatinya. Saling bertautan dengan semua rasa yang ada. Seakan saling mendorong beradu kekuatan.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang memang sudah mulai lenggang. Hingga Farrel melaju dengan leluasa tanpa ada gangguan.
Metta memperhatikan jalan, jalan yang bukan setiap hari dilaluinya, bukan juga arah menuju rumahnya.
" Kau mau bawa aku kemana" ucap Metta menatap Farrel.
"Rahasia...."
" Kau ini jangan macam macam, cepat katakan"
" Jangan bertindak seenaknya"
" Sebentar lagi sampe, kakak tenang saja aku tidak akan macam macam."
" Dan aku pastikan kakak tidak akan menyesalinya setelah melihatnya"
" Kau percaya diri sekali"
Metta mendengus kesal dan mendekapkan kedua tangannya, namun dirinya juga tidak mungkin akan pulang dengan keadaan seperti ini.
" Terserahlah"
Setelah perjalanan memakan waktu kurang lebih 45menit mobilpun berhenti disebuah tempat, sebuah tempat dengan lampu yang temaram, Metta mengarahkan pandanganya. Suatu tempat yang bahkan belum pernah dikunjunginya.
" Tempat apa ini"
" Turunlah dan ikuti aku nanti kakak juga akan tau"
Mereka pun turun, Metta melangkah mengikuti Farrel. jalan nya terseok karena pencahayaan memang kurang ditempat itu, Ada puluhan pohon besar maupun sedang. Dengan cahaya dari ponsel Farrel yang diarahkan mereka berjalan melewati sebuah rimbunan pohon, dengan jalanan yang gelap.
Farrel mendekati rimbunan itu dengan tangannya dia menyisir dan menahan sebagian batang batang pohon itu dengan tubuhnya, menjadi sebuah celah tidak terlalu besar, cukup untuk dirinya dan Metta lewati.
" Ayo masuklah kak"
" Aku tak mau, "
" Gimana kalau nanti ada ularnya disitu" Metta menggidigkan bahunya.
" Kakak tidak percaya padaku"
" Tidak mau"
"kakak ayolah kak masuk aku sudah pegel menahan ini" ujar Farrel mengarahkan mata pada tangannya yang tengah menahan.
Metta mendengus kesal, namun berjalan dengan ragu melewati celah yang sudah di buat Farrel.
"Apa tempat ini tidak memiliki pintu masuk, kenapa kita malah masuk seperti ini" ujar Metta ketika berjalan masuk melewati celah yang dibuat Farrel.
" Tentu saja punya"
Farrel terkekeh
" Lantas kenapa kita tidak masuk lewat pintu masuk saja"
Metta mengusap tangannya yang gatal, mungkin semut dari rimbunan pohon.
" Kakak lihatlah jam berapa ini"
" Tempat ini tentu saja sudah tutup sejak tadi sore" ucap Farrel begitu berhasil masuk.
"Ah badan ku rasanya gatal gatal"
" Tahanlah, sebentar lagi kita sampe"
Mereka kembali berjalan, menapaki jalanan yang tidak terlalu lebar dengan masih menggunakan cahaya lampu dari ponsel Farrel, menaiki beberapa puluh anak tangga menuju ketempat yang lebih tinggi.
" Lantas kenapa kita kesini kalo tempat ini saja sudah tutup" ujar Metta kesal.
" Jangan bilang kitaa meneroo..." Metta terhenti tatkala berhasil berada dianak tangga terakhir. Pandangannya meluas, langkahnya melambat lurus kedepan sana.
Tepat berada dipuncak tempat itu, dengan hamparan rumput yang dipijaknya, jauh didepan sana berkilauan lampu lampu dari arah kota, lampu lampu yang berasal dari rumah rumah dan gedung gedung tinggi yang terlihat sangat kecil dari sana. berkumpul menjadi satu.
Hakikat malam bukan hanya sekedar pergantian waktu saat tenggelamnya matahari, namun jika kita merenungkan lebih dalam lagi, malam mempunyai arti tersendiri dimana Tuhan ingin menunjukan kuasa dan cintanya.
Metta menatap takjub, manik hitam itu berbinar, melihat bintang dan bulan saling bersanding berpasangan memantulkan cahaya nya. Entah kapan terakhir kalinya dia bisa menikmati keindahan yang disajikan alam seperti ini.
" Sekarang aku izinkan kakak ketempat ini"
Farrel terbaring dihamparan rumput, Menatap bintang bintar yang terhampar di atas langit.
"Heh.." Metta mengernyit
" Sebenernya ini tempat rahasia aku"
"Karena kakak, sekarang tempat ini bukan tempat rahasiaku lagi "
" Kakak tau, dulu aku sering kesini hanya untuk menangis, atau merasa lelah karena kakek terus menyuruhku belajar.
" Aku bahkan tak punya waktu untuk bersedih " batin Metta.
Mereka pun tenggelam dengan pikiran masing masing, hanya keheningan dan kesunyian yang nampak, hanya suara hati yang terdengar bising di telinga tanpa tautan bahkan jawaban.
Beberapa saat kemudian Metta kembali menangis, hati yang kuat tiba tiba menjadi lemah. Farrel beringsut mendekatinya, menarik pucuk kepalanya kedalam pelukannya. Tanpa berucap apapun kemudian mengusap punggung Metta dengan lembut.
Beberapa saat kemudian
" Apa kakak sudah merasa lebih baik" ujar Farrel
Metta mengangguk memandang langit. Hatinya terasa lega, melepaskan semua yang menghimpit didalam sana. Bukan hanya berlari dan mengelak, melepaskannya adalah jawaban.
" Terima kasih" ucap Metta lirih.
" heh..untuk apa? Farrel mengerutkan keningnya tipis.
" Yaa karena membawaku ketempat ini" ucap Metta
" Kakak suka.."
" Yaa..aku menyukainya"
" Kalo begitu tempat ini kuserahkan pada kakak" Farrel terkekeh.
Metta memukul bahu Farrel dan ikut tertawa.
"Bodoh Ini milik pemerintah "
" Ayyh..kakak ini masih aja galak sama pacar sendiri"
" Iyaa dan kamu berjanji akan membahagiakanku" Metta tertawa lagi.
" iyaa aku berjanji kak, akan selalu membuat kakak bahagia" Batin Farrel masih menatap
lekat wajah metta,
"Ayoo kita pulang" Farrel mengulurkan tangannya ke arah Metta.
Metta tertegun melihatnya,
" Kenapa anak ini sangat manis sekali" Batin Metta kemudian menyambut uluran tangan itu. hatinya ingin menolak namun otaknya yang bergerak.
" Kalau kakak ingin pergi ke suatu tempat, hubungi aku yaa" ucap Farrel saat mobil melaju pulang.
"Aku bahkan tidak punya nomor ponselmu"
" Ahh iyaa..juga"
"Berikan ponselmu"
Farrel menurut, merogoh ponsel yang dia letakan didalam saku dan memberikannya.
Metta mengotak atik ponsel itu dan memasukan nomonya juga menghubungkan nomornya.
"Nih..sudah!!" tukas Metta
Farrel tersenyum" Terima kasih kaa"
metta mengangguk dengan tertunduk mengotak ngatik ponselnya sendiri, lalu menoleh ke arah Farrel dan merenyit.
" Aku gak tau namamu" ucap Metta dengan pelan.
Farrel terkekeh,
" Ternyata kakak sangat lamban, kenapa butuh beberapa hari untuk menanyakan namaku saja"
" Heh kau ini," Memukul lengan Farrel.
" Iyaaa aku tau kakak banyak pikiran, bunda ku juga sering lupa begitu." Farrel tertawa nyaring.
" Apa kau mau bilang aku tua kan" heh..
" Enggak " Aku gak bilang kakak tua , aku hanya bilang bunda aku"
" iyaa kamu mau bilang aku seperti bunda, bunda kamu pasti sudah tidak muda bukan"..
Farrel terkekeh mengelak perkataan nya sendiri.
Metta beralih menggelitik Farrel, membuat Farrel tertawa geli,
"
" Ahhyyy Kakak hentikan aku sedang menyetir"
Metta tertawa puas.
Farrel mengulurkan tangannya ke arah Metta
" Farrel "..ucapnya
Metta menepis tangan itu " Sudah aku sudah gak minat dengan nama kamu "
Farrel tertawa melihat Metta tengah Fokus mengotak atik ponselnya dan terlihat mencebikkam bibirnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Eika
sudah gak perlu namanya, karena sudah simpan di HP😁😁
2022-07-11
1
Khomsatun Amanah
metta seru Lo punya suami brondong.
2022-07-08
1
Bzaa
syuka😘
2022-07-04
0