Apa yang terjadi denganku" batinnya
Apa tadi katanya ...
"Kakak..."
"Apa aku tidak salah dengar?"
" Dia memanggil ku kakak?"
"Dasar bocah aneh" Metta meraup wajah dengan kedua tangan.
Metta enggan mengeluarkan sepatah kata pun, sudah malas rasanya harus ribut lagi. Badannya sudah sangat lelah.
Farrel melajukan mobil dengan kecepatan sedang, sesekali melirik Metta dengan sudut mata nya, yang terlihat sedang menghembuskan nafasnya berkali kali dengan kasar, bak seorang atlet renang yang sedang berlatih mengambil nafas, sementara Farrel menarik sudut bibirnya keatas.
" kakak sedang mikirin apa?"
" Bukan urusan loe " Metta menjawab dengan ketus.
" Pasti kakak merasa aneh yaa karena aku memanggil kakak dengan sebutan kakak bukan ibu lagi " celoteh Farrel dalam keheningan dengan percaya diri.
" Gak juga" Metta memandang malas.
Farrel menyeringai melihat Metta yang bersikap tak perduli itu, membuat dirinya semakin penasaran.
Bagaimana tidak, biasanya perempuan yang akan mencari perhatiannya dan akan mengejar ngejar dirinya.
Berbeda dengan Metta, dirinya tak perduli sedikitpun. Farrel melihat dirinya di spion dalam. memperhatikan wajahnya dengan seksama.
" Padahal aku ini tampan begini " batinnya.
" Jadi kakak ingin aku panggil apa?, dengan senang hati aku akan melakukanya."
"Bodo amat mau panggil kakak, ibu, nenek, apalah suka suka lo deh ah," batin Metta dengan posisi tidak berubah sedikitpun. Tak sedikitpun menoleh ke arah suara, tak memperdulikan Farrel.
" Diam berarti tanda setuju, jadi aku akan memanggil kakak saja." Farrel terkekeh.
" Karena aku ingin memanggil kakak dengan sebutan kakak hahahah" tukasnya lagi.
Kali ini Metta menoleh, menatap jengah kearah Farrel yang tengah tertawa.
" Untung loe cakep kalo enggak ogah deh, garing banget sih loe, gue tendang loe keluar dari mobil " batin Metta
"Ga..k luu.. cu " seruu Metta penuh penekanan kembali membenarkan posisinya lagi ke awal, kembali menekuk dagunya.
" Yaa karena aku memang bukan pelawak jadi gak lucu" tukas Farrel asal.
"Lebih baik loe fokus nyetir, entar malah nabrak lagi"
" Jangan galak galak kak, nanti kakak malah suka sama aku lhoo,"
" Ngarep banget, gak usah mimpi"
Metta tersungut mendengar ocehan Farrel yang tak jelas itu, benar benar menjengkelkan.
" Ya kan setiap orang harus punya mimpi" Farrel terkekeh.
" Udah deh loe berisik banget," Kali ini Metta semakin kesal.
" Tapi kan kita harus saling mengenal kak."
Metta melihat Farrel dengan jengah,
" Cerewet banget sih"
"Ppfftt itu kare..." perkataan Farrel terhenti.
Metta yang jengah meraup mulut Farrel dengan tangannya, menarik mulutnya hingga membentuk kerucut.
"Bisa diem gak loe berisik.." seru Metta
" Ciitt.."
Suara kanvas rem terdengar mendecit.
" Astaga..."
"Aw.."
pekik mereka berdua saat kepalanya saling beradu.
" Kakak tidak apa apa" Farrel mengusap usap kepala Metta.
" Cx, sudah lepas aku tak apa"
" Apa itu sakit?"
" Tidak sama sekali, justru rasanya enak dan segar" cibir Metta dengan mulut tersungut.
" Kakak yang benar saja?" Farrel mengusap kepalanya sendiri.
" Kakak bisa juga bercanda "
" Enggak..."
" Kakak sih menggodaku terus" Farrel terkekeh.
" Apa kau bilang hah..?" Metta menggeleng gelengkan kepalanya.
" Kalau ada jurang, udah gue dorong loe ke jurang itu,"
" Eh jangan deh, dia ganteng soalnya." batin Metta.
" Wah kakak kejam banget,"
" Udah deh," Metta menjawab dengan malas.
Kruuuucuuukk...
Tiba tiba perut Metta berbunyi, seketika Metta gelagapan.
" Ayss, sialan malu amat gue, nih perut gak bisa lihat situasi, dia denger gak yaa? mudah mudahan dia gak denger " monolog Metta.
" Kakak lapar?"
" Astaga jadi dia denger"
" Enggak, gue gak laper"
" Itu tadi perut kakak bunyi,"
Metta menatap jengah, ke arah Farrel yang tengah menahan tawa.
" Kita makan dulu yaa kak"
" Gak mau, gue mau pulang!"
" Sebentar aja.."
" Gak mau," Metta menatap Farrel dengan tajam, sementara Farrel menatap dengan teduh. Sesaat mereka saling memandang.
1 detik..
2 detik..
3 detik..
Manik hitam Metta membulat dengan bulu mata mengerjap ngerjap, sedangkan Farrel menarik sudut bibirnya ke atas menangkap tingkah gelagapan Metta.
Metta kembali memalingkan wajahnya, kembali menyenderkan kepala menempel jendela kaca dengan bibir yang mengerucut.
Sementara Farrel kembali mengemudikan mobilnya. Tidak ada lagi perbincangan yang keluar dari mulut mereka, mereka sibuk dengan fikirannya masing masing.
Kembali hening..
Perjalanan terasa sangat lambat kali ini dirasakan Metta. Dirinya yang sudah sangat lelah memejamkan matanya. Fikiran nya melanglangbuana entah kemana, yang jelas ingin segera bertemu dengan kasur empuk dikamarnya.
Farrel kembali menatap Metta dengan ujung matanya memperhatikan Metta yang sedang memejamkan matanya.
Metta kemudian menoleh ke arah Farrel. Giliran Farrel sekarang yang terlihat kelabakan karena ketauan sedang mencuri pandang ke arahnya.
"Bocah aneh.." gumam Metta kembali mengalihkan pandangan nya ke arah kiri. Menyenderkan kepalanya kembali merapat kaca mobil.
"Kakak " seru Farrel tiba tiba namun Metta tengah asik dengan lamunan nya tidak mendengar panggilan Farrel.
"Kakak" panggilnya lebih keras. Metta yang sedang melamun tersontak kaget, lalu berdecak
"Apa sih..." tanpa menolehkan kepalanya.
" Apa kakak ingin kita jalan jalan dulu..." lanjut Farrel.
" Jalan jalan...apaan jalan jalan enggak enggak gue mau pulang,..gak usah aneh aneh" tukas Metta menepak bahu Farrel dengan keras.
"Aaww..tenaga kakak kuat sekali" Farrel meringis mengusap bahunya.
"Bodo amat..." tukas Metta kesal.
" Tadi makan, sekarang jalan, bikin pusing aja" Metta memijit keningnya pelan.
" Kalo gitu..."
"Kakak yang can tik.."
"Berikan alamat rumah kakak"
"Aku kan gak tau ".
" Gimana aku nganterin kakak,?
Farrel sengaja mengucapkan terjeda jeda, sikap Metta membuatnya semakin gemas saja.
Metta tersentak, saking kesal dan lelahnya hari ini, ditambah fikiran yang memenuhi kepalanya harus bertambah lagi dengan rasa malu yang kini menghampirinya.
Dia bahkan lupa tidak memberi tahu kan alamat rumah nya kepada Farrel, semakin malu akan kelakuannya sendiri.
"Bikin malu saja, astaga kenapa gue jadi ogeb gini sejak ketemu sama dia" batin Metta.
Farrel menarik bibirnya keatas saat Metta mengerjapkan manik hitamnya.
" Jadi Kakak ingin kita makan dulu atau jalan jalan dulu?"
" PULANG.."
Metta menjawab dengan marah, setelah mengatakan alamat rumah nya pada Farrel, Metta kembali keposisi semula.
Farrel melalukan mobilnya.
" Kakak galak sekali, jangan salahkan aku kalo aku akan terus menganggu kakak, bahkan aku akan membuat kakak peduli padakj dan memulai mencintaimu" batin Farrel.
Sementara Metta yang tengah mengerucutkan bibirnya itu begitu kesalnya, farrel terus membuat kokonyolan, membuat Metta kesal sekali.
" Fokus gak usah terus ngelirik lirik gue terus "
Farrel terkekeh..
" Siap bos" mengangkat tangan nya hormat, sementara Metta menghela nafasnya.
.
.
.
____
🍁🍁
Bagian ini udah direvisi yaa..
ternyata banyak yang harus direvisi.
Jangan lupa like, komen buat karya pertama aku ini.
Terima kasih.
salam geje😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Kinan Rosa
semangat farel
2023-07-11
0
Yuli Ana
Metta gemez bgt yee di goda brondong
2023-05-09
0
Bzaa
cinta datang tak diduga dan tak pandang usia..
2022-07-04
2