Kantor Adhinata Corp
.
.
Setelah memberikan berkas pada Dinda yang menawarkan diri mengantarkannaya karena ingin bertemu Alan, Metta kembali ke meja kerjanya.
Sambil menunggu, Metta meraih ponselnya dan berselancar ria di dunia maya. Hingga melihat lihat galeri Foto diponselnya satu persatu.
Deg..
Satu foto tak sengaja dia buka, foto dirinya yang sedang memakai gaun pengantin. Foto dua tahun yang lalu namun terasa hari kemarin.
Foto yang seharusnya menjadi kenangan terindah dalam hidupnya. Namun ternyata malah menjadi kenangan terburuk dalam hidup Metta. Sudahlah
Metta mematikan layar ponselnya dan beranjak ke toilet.
Metta hendak merapikan diri, menyisir rambut yang acak acakan, memoles bibirnya dengan lipstik warna peach dengan tipis. Dia memang tidak suka berdandan berlebihan, selain tidak suka menghabiskan uang hasil jerih payahnya untuk segala macam make up juga tentu saja dia harus sangat berhemat.
"Selesai " ucap Metta didepan kaca toilet berbarengan dengan Dinda yang baru keluar dari bilik toilet.
"Ternyata loe disini juga"
" Kebelet gue" tukas Dinda.
" Gimana, udah ketemu tuan manekin? cibir Metta.
Dinda menggelengkan kepalanya " Udah gak ada, katanya ada keperluan mendesak dan meetingnya di batalkan"
" Pppfftt kecewa dong loe"
Dinda membulatkan matanya ke arah Metta yang menahan tawa.
" Gue sumpahin loe Ketemu cowo aneh, dan jatuh hati "
" Sumpah loe gak mempan buat gue"
Metta merapikan kembali rambutnya sekali lagi.
" Dasar peak" Dinda mengerutu kemudian mereka tertawa bersama sama.
.
.
.
"Kantin yuuk sha laperr nih " ucap Dinda
" Sekalian loe ada utang cerita sama gue, yuuk" ucapnya lagi menarik tangan Metta keluar dari toilet.
Mereka berjalan beriringan menuju kantin yang belum terlalu penuh, Metta memang lebih suka menghabiskan jam istirahatnya dikantin, karena tentu saja harganya lebih murah dari pada harus keluar kantor, apalagi ke cafe.
Lain halnya dengan kebanyakan karyawan yang lain yang memilih menghabiskan waktu istirahat nya di cafe cafe terdekat, itu hanya akan menambah pengeluaran Metta semakin besar.
Sementara Dinda bisa saja ikut dengan yang lainnya ke luar kantor, namun dia memilih untuk selalu mengikuti Metta sahabatnya.
"Sebenernya tadi pagi loe kenapa sha.." tanya Dinda saat mereka menunggu pesanan makan siangnya.
"Motor gue ditabrak orang Din"
"Hah...seriuse loe!!"
"Kenapa bisa"
"Yaa bisa laah peak, udah takdir nya gitu kali "
"Bukan magsud gue tuh .." ucap Dinda.
" Permisi mbak Met sama mbak Din, ini pesanan nya " seru mang Heri.
Percakapan mereka pun terhenti karena mang Heri tengah menyodorkan pesanan mereka berdua.
"Silahkan mbak "
" Makasiih mang" seru keduanya bersamaan, mang Heri mengangguk kemudian berlalu kembali ke stand jualan nya.
"Gue juga bingung nih Din, tuh orang yang nabrak belum ngehubungin gue."
" Gue gak tau gimana nasib bebeb gue"
"Gue juga khawatir gimana kalo dia kabur , gak mau tanggung jawab bebeb gue, mana gue gak ada duit lagi. Pasti malah banget tuh biaya benerin nya" cerocos Metta panjang lebar sambil menambahkan saos ke mangkuknya.
Dinda hanya melongo mendengar ucapan sahabatnya itu, sekali kali mengangguk dan sekali menggelengkan kepalanya.
"Loe hubungin dia aja duluan aja sha. Gerak cepat keburu kabur dianya."
"Nah itu dia gue gak punya nomornya."
"Peak loe ternyata sha, cantik percuma kagak ada otak nya, kenapa loe gak minta kartu nama, apa kek buat jaminan dia gak kabur. Kalo udah gini gimana coba " Dinda mengedikan bahu.
Metta terdiam, membenarkan apayang dikatakan sahabatnya.
"Heran gue punya sahabat peak kayak loe, berarti loe hanya bisa nunggu dia ngehubungin nomor loe aja." Dinda mangut mangut.
"No..mor gue yaa...
"Nomor gue astaga..
"Din...." Metta menarik keras tangan Dinda
"Aduuhh, kenapa sii loe " Dinda mengerutkan dahi sambil menarik kembali tangan nya.
"Sakit ogeb..."
"Din, dia bahkan gak minta nomor gue!!! astaga gue baru inget Din , giimana dia mau ngehubungin gue coba " Metta menepuk jidat nya sendiri.
Memejamkan mata nya, kenapa dia begitu bodoh hari ini. Heran sendiri sampai berkali kali menepuk jidatnya sendiri, terus apa yang dia tunggu tunggu sedari tadi, bahkan terus mengecek ponselnya, menambah kebodohannya.
" Shaun...astagaaa,"
"Emang loe tuh yaaa peak stadium akhir tau gak"
Dinda menepuk jidatnya,
"Ogeb banget loe duhh..herman gue.."
"Heran Din,"
"Laah itu lah pokonyaa, bener bener loe yaa " Dinda berdecak heran.
"Jadi gimana sekarang din."
"Auu ah, gue juga gak bingung"
"Harusnya loe bingung sardin"
Bisa bisanya Dinda bercanda ditengah kekhawatiran sahabatnya, dia memang begitu kalau sedang khawatir, kadang kadang omongannya pun sering terbalik.
"Loe malah ngelawak loe parah gue lagi bingung jugaa, bantuin gue napa Din. "
" Gue gak lagi ngelawak peak, lo kan udah tau gue gimana "
" Iya, serah loe deh loe suka ngelantur kalo panik, tapi masalahnya harusnya gue yang panik bukan loe sardin"
" Lo tuh harusnya bantuin gue "
" yaa gue mau bantuin loe tapi gimana caranya METTASHA KALYNA yang cantik, lucu ,baik hati, tidak sombong, tapi PEAK gak ketulungan" ucap Dinda dengan penekanan. Menghembuskan nafas dengan satu tarikan.
Metta hanya menghembuskan nafas dengan kasar.
"Huft..."
"Yaa udah loe tunggu aja sampe besok. Kalo besok gak ada kabar kita cari tau sha, kita ke tempat loe ditabrak, kalau perlu kita cari CCTV daerah situ yaa " ucap dinda menenangkan sahabatnya.
Metta mengangguk dan memandang sendu Dinda.
"Tumben loe pinter Din" tukasnya kemudian.
"Ah loe bikin gue gak selera makan Sha,"
Dinda mendorong mangkuk menjauh dari hadapannya.
" Yuk balik ke ruangan aja"
" Gak selera makan gimana loe, mangkuk loe aja udah kering gitu sardin."
Dinda hanya terkekeh, sementara Metta menggelengkan kepalanya.
" Sha bayar dulu sama loe, gue gak bawa dompet " ujar Dinda.
" Kebiasaan loe gak ilang ilang"
" Kita ngutang aja gimana?"
" Loe aja gue gak mau, hidup gue udah susah mau bikin tambah susah loe gara gara banyak hutang "
Metta berlalu meninggalkan Dinda yang masih melongo di tempatnya. Entah apa yang ada di fikirannya.
" Yuk balik " ajak Metta setelah kembali dari kasir.
" Punya gue udah loe bayar kan,?"
Metta menggelengkan kepala nya dan menarik bibirnya ke atas.
" Serius loe" Dinda menghentikan langkahnya.
" Udah sardin" Metta menarik kembali lengan Dinda.
" Mettasha yang baik " tukas Dinda bergelayut di lengan Metta.
Metta memutar mata malas, bergegas kembali ke tempat kerja nya.
.
.
.
🍃 Tor..kenapa tiba tiba loe ada disini.
🍁Gak tau dapet ilham dari mana..tiba tiba aja😋
🍃Nekat banget lo tor..🗡
🍁Gak tau juga,
🍃Laah..terus ??!
🍁iyaa kagak tau juga kenapa.
🍃Udah kek si sardin loe tor...
🍁udah mending loe baca aja deh..ajakin Readers yang lain btw..
Salam geje 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Yuli Ana
semangattt..mungkin ini cerita pertama Outhor tapi ini cerita yg keberapa soal nemu nya belakangan 😊😊
2023-05-09
1
Is Wanthi
duo absur yg bikin ketawa sendirian
2022-12-09
0
🌹🪴eiv🪴🌹
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2022-11-18
1