"Bagaimana kau sudah bertemu dengannya" pertanyaan to the point itu langsung diajukan pada Alan yang baru tiba diruangannya.
Ruangan yang cukup besar, dengan interior yang klasik modern yang mendominasi, perpaduan warna abu abu dengan coklat. Dan tentu saja ruangan ini adalah karya pertama yang Farrel hasilkan di usia mudanya. Mendesain sendiri ruangan kerja.
"Astaga Aku aja belum duduk" tukas Alan melangkah melewati Farrel, dengan berkas laporan yang baru saja dia bawa dari ruangan Meeting.
" Nih semua laporan yang akan kau periksa "
" Akan ku kerjakan setelah kau menjawab pertanyaanku" sahut Farrel menaikkan kedua turunkan alis tebalnya ke arah Alan.
" Akan ku jawab setelah kau selesai memeriksa laporan ini" telunjuknya menekan berkas yang dia letakkan dimeja Farrel, dengan tatapan mengancam yang dia pasang kearah Farrel.
Farrel berdecak kesal, dia tidak mungkin mampu menolak namun dia enggan untuk mengalah.
" Disini aku bosnya" ucap Farrel dengan lantang.
Alan tak terpancing, dia akan setenang mungkin jika Farrel sedang mode egois seperti saat ini.
" Kalau gitu kau urus semua pekerjaan ini" tukas Alan dengan tenang.
" Aku lelah " berjalan menuju sofa yang berada di ruangan nya Merentangkan kedua tangannya yang ditempelkannya ke belakang kepala yang dia sandarkan di sandaran kursi.
"Rasanya sudah lama aku tidak mengambil cuti, bagaimana kalau besok aku pergi ke luar kota untuk berlibur, ah tidak tidak sekalian ke luar negeri saja " Alan berbicara dengan melihat angit langit kantor.
" Uang yang ada di rekeningku tak pernah keluar sama sekali, sayang sekali" lanjutnya lagi, namun kali ini melirikan ujung matanya ke arah Farrel, dan melihat bagaimana reaksi Farrel.
" Kau ini sombong sekali" Farrel tak berkutik.
" Baik baik kali ini kau menang, aku akan memeriksa laporan ini "
" Kau puas.."
Farrel akhirnya luluh tak berdaya dengan Ancaman dari Alan, dan Alan memang sengaja memancing Farrel.
" Tentu saja tuan muda hahaha" tukas Alan seiring merogoh benda pipih yang berada di balik jas kerjanya.
" Jangan memanggilku dengan sebutan menjijikan itu" sahut Farrel dengan menggebrak meja.
" Hahaaaha..kau memang tuan muda bukan"
" Apa yang salah dengan ucapanku"
ujar Alan yang masih tertawa terbahak.
" Kau terlalu banyak membaca novel " Farrel mendecak.
"Panggilanmu itu sungguh menjijikan, dan aku tidak mau di panggil seperti itu"
Hening tak ada jawaban dari Alan, Farrel menolehkan kepalanya ke arah Farrel yang tengah duduk di kursi yang ada di ruangannya, melihat Alan tengah fokus dengan ponselnya.
" Sialan..Pasti dia sedang membaca novel online " batin Farrel.
Alan memang kerap membaca novel novel online, satu satunya hiburan yang bisa dia lakukan ditengah perintah dari Arya maupun Farrel, satu satunya penghilang stress. Dan tak jarang dia mengucapkan kata kata yang selalu dia temukan didalam novelnya.Seperti kata tuan muda yang disematkannya pada Farrel.
Tidak ada perbincangan lagi diantara mereka, masing masing tengah sibuk menyelami dunianya sendiri. keheningan memenuhi ruangan itu, hanya terdengar jarum jam yang berdetik, dan suara guratan guratan dari pulpen.
"Aku sudah melihatnya, dan kau benar" tukas Alan tiba tiba memecah keheningan, tanpa mengalihkan matanya dari ponselnya.
Farrel yang tengah Fokus dengan berkas laporan nya terhenti dan menoleh
"Dia cantik seperti katamu, hasil pekerjaannya pun bagus" lanjutnya
Farrel tersenyum, wajahnya berubah cerah, manik hitamnya membinar.
" Aku tak pernah salah menilai seorang perempuan kan"
" Cx ucapanmu seolah kau seorang cassanova saja, kau bahkan belum pernah merasakan apa itu cinta, sekalipun cinta monyet"cibir Alan
" Memangnya kau berpengalaman" sahut Farrel
" Tidak pernah juga.."
Hahaha...Tawa mereka memenuhi ruangan, mereka tertawa bersama, saling menertawakan satu sama lain. Sama sama tidak pernah jatuh cinta. Farrel disibukan belajar dan belajar hingga tidak ada waktu mengenal cinta. Begitu juga Alan, waktu nya dia habiskan untuk bekerja dan bekerja mengabdi kepada Arya dan juga Farrel. Memang miris.
" Tapi aku masih muda daripada kau"
" Iyaa dan perempuan itu lebih cocok menjadi kakak iparmu " ledek Alan .
" Sialan, awas saja kalo berani mengambil milikku" sinis Farrel kembali ke mode anak manja yang tidak mau berbagi.
Alan terkekeh melihat perubahan yang ditunjukan Farrel.
" Apa kau sudah yakin"
Farrel mengangguk dengan yakin.
"Tapi sepertinya tidak akan mudah mendapatkannya" tukas Alan.
" Hm aku tau"
" Tapi aku akan berusaha keras"
" Jangan terlalu keras kamu masih kecil hahaah" tukas Alan sambil tertawa.
" Sialan otak mesum" Farrel ikut tertawa.
Denting waktu terus bergerak, seolah tak perduli, tak mau menunggu siapa pun barang sejenak, walau terkadang benak bisa mengelak namun raga tak mampu bergerak.
Farrel keluar dari ruangannya setelah selesai dengan laporan yang menumpuk tadi. Melirik jam tangan yang melingkar ditangannya, berlalu menuju lift, meski di gedung utama terdapat lift khusus untuk pemilik perusahaan, namun Farrel jarang menggunakan nya, dia akan menggunakan lift yang biasa di pakai oleh staf dan bawahan nya. Karena tentu saja belum banyak orang diperusahaan yang mengetahui dirinya, Farrel yang memang tidak pernah memperlihatkan dirinya sebagai Presiden direktur.
Sementara digedung yang lain
" Sha gimana motor loe udah kelar kan?"
ujar Dinda
Metta menggelengkan kepalanya.
"Lah kenapa kan kemaren tuh orang yang loe bahkan gak tau namanya dateng kesini" Dinda terkekeh.
" Dia hanya bilang motor gue rusak parah"
" Trus loe pulang gimana sekarang"
" Loe tenang aja din gue udah order taxi online koq"
" Loe gak mau bareng gue aja, ntar duit tabungan loe habis buat taxy online" Dinda semakin terkekeh ketika mengucapkannya.
" Sorry Din gue gak bilang kalo gue bakal dianter jemput tuh bocah" Batin metta
" Yaa gapapa, dari pada ikut sama loe yang gak searah, trus loe ntar mesti putar balik , malah lebih tekor loe entar sardin" cibir Metta lalu tertawa.
Dinda pun tertawa " iyaa jugaa sih yaaa "
Mereka berjalan keluar dengan tawanya yang belum berhenti.
Sementara dari kejauhan berdiri seseorang yang memperhatikan mereka dibalik mobil.
" Kalo gitu gue duluan yaa sha"
Dinda melajukan mobilnya berlalu meninggalkan Metta.
Metta mengangguk dan melambaikan tangannya kearah Dinda.
saat hendak melangkah tiba tiba ada suara yang memanggil namanya. Suara yang sangat dikenalinya, Metta bergeming, hatinya meragu untuk menoleh kearah suara yang memanggilnya. Hingga derap langkah kaki semakin mendekat.
" Sha.."
" Mas Faiz" lirih Metta memejamkan mata namun Metta enggan berbalik. Metta masih bergeming di posisi membelakanginya.
" Bisa kita bicara sebentar"
Metta mengepalkan tangannya, deru amarah tiba tiba tersulut dalam dirinya, merekatkan giginya menahan amarah yang membara dengan cepat.
" Apa yang ingin kau bicarakan"
"Lebih baik kau pergi dan tak usah kemari lagi"
ujar Metta tanpa merubah posisinya.
" Tentang kita"
Kali ini Metta berbalik, beradu pandang dengan wajah orang yang dulu sangat dicintainya, orang yang pernah membuat dirinya berada di ruang kasmaran, orang yang memenuhi rongga hati dan fikirannya, tapi juga menjadi orang yang membuatnya hancur tak berkeping, yang mengubah segala fikirannya. yang membuatnya kehilangan arah, Meninggalkan luka yang menganga lebar. Faiz Dinandra
" Untuk apa kau kembali " ucap Metta tajam.
" Apa yang kau magsud dengan kita" tanya Metta dengan tatapan mata yang seakan ingin menerkam habis menyisakan tulang belulang.
" Apa hal itu penting, Kurasa sudah tidak penting lagi " ucapnya kemudian berbalik.
Namun Faiz mencekal tangan Metta hingga membuat metta berbalik, tubuh mungilnya yang tidak seberapa itu menghempas dada bidang milik Faiz, kedua tangan Metta berada di atas dada Faiz, menahan tubuhnya agar menjauh, namun tangan kekar Faiz menahan erat pinggang Metta, sedikit menariknya lebih dekat. Terlihat mereka sedang berpelukan, meski kenyataan nya tidak begitu.
Tatapan mereka saling beradu, menyimpan sejuta kata kata yang tercekat di tenggorokan. Banyak tanya yang ingin terucap di mulut Metta namun hati dengan cepat menolaknya.
Metta menggerakan kedua tangan nya dengan kasar, mendorong Faiz hingga mundur beberap langkah. Darahnya kini semakin mendidih, bara api terlihat begitu kentara di hatinya.
" Sha aku mohon.."
" Sudahlah tidak ada yang perlu kita bicarakan bukan"
" Dengar kan aku dulu.."
" Aku tau aku salah, aku minta maaf "
" Maaf.. segampang itu kau meminta maaf hah.."
"Kemana hati nurani mu"
" Ahkkk..sudah lah kau bahkan tidak punya hati."
Metta kembali berbalik, dan hendak melangkah. Ingin segera pergi menjauh dari sana.Sekuat tenaga Metta menahan air mata agar tidak tumpah saat itu juga.
Faiz kembali mencekal tangan Metta, kali ini lebih keras dari tadi. Hingga Metta meringis.
" Lepas..lepaskan aku" teriak Metta dengan menarik tangannya.
" Dengarkan aku dulu..ku mohon" lirih Faiz enggan melepaskan metta dan menarik metta hingga hampir terhuyung.
"Lepaskan dia"
🍁🍁
Aku ingin bilang terima kasih buat kakak Dessy, kakak Reni, kakak syifa reader pertama yang selalu kasih aku jempol berharganya.
Terima kasih yaa kalian💕💕
Salam Geje😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Bzaa
hempaskan mantannn😉
2022-07-04
0
Nanda Afriany
hempaskan Sha 😠
2022-06-20
1
Pipit Sopiah
lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut
2022-02-23
1