Sementara di rumah sederhana
Ceklek..
"Assalamualikum, Ibu aku pulang" Metta menghempaskan tubuhnya di sofa, memutar bola matanya kesekeliling rumah.
"Cx pada kemana ni orang orang, tumben sepi amat, ini lampu mana belum pada nyala lagi.."
Metta merogoh ponselnya didalam tas, membuka benda pipih itu dengan cepat. Membuka aplikasi sejuta umatnya.
Matanya bergerak dengan lincah seiring gerakan kedua jari jempol kiri dan kanannya, tak lupa berselancar di dunia tipu tipu dengan lambang huruf berwarna biru.
Sesekali terlihat tersenyum dan sesekali mengerutkan dahi.
Ceklek...
" Aaaa..."
"Han....han...hantuuu"
Metta menoleh kearah teriakan dari balik kamar adiknya.
Gedebrug...
."Aww.." terdengar suara kesakitan dari kamar.
" Apaan siih, mana ada hantu " sahut Metta dari luar.
Metta mencari sekeliling ruangan, tak lupa menyalakan lampu, kemudian berjalan gontai ke arah kamar adik lelakinya.
Andra adik lelaki satu satunya Metta yang masih berusia 18 tahun. Layaknya remaja seusianya, dia gemar bermain game, seperti saat ini.
Ketika disuruh ibunya menjaga rumah, jangankan menjaga, mengunci atau menyalakan lampu saja tidak.
" Apaan sih ndra heboh banget" seru Metta.
Sambil mematikan ponselnya Metta membuka pintu kamar dan terlihat Andra yang sedang menelengkup di atas ranjang memegangi lututnya.
"Gue barusan liat hantu kaa diruang tengah, tapi yang gue liat cuma muka nya doank,! segede gaban lagi nyengir untung gak lagi liatin gue hiiii." celoteh Andra dengan mengedikan bahunya.
" Hantu apaan loe,? kebanyakan maen game loe jadi halu tuh."
" Beneran kak," ujar Andra meyakinkan kakaknya.
" Nih bentukan rambutnya persis kayak rambut loe kak" ucap Andra menyentul rambut Metta dan menarik nariknya.
" Aw, lepas sakit tau gak" sahut Metta.
" Gue pan takut ka, mana Ibu lama banget gak pulang pulang, rumah ini kenapa jadi ada hantu nya sih yaa " celoteh Andra lagi.
" Itu gue peak " seru Metta menoyor kepala Andra sambil ikut berbaring di sisi Andra.
"Ah, sakit onyon " teriak Andra.
" Loe jadi hantu, eeh jadi hantu itu loe"
Andra terduduk sambil melihat lututnya yang memerah.
" Gue yang loe anggep hantu peak" sahut Metta kesal.
"Gara gara loe lutut gue nih cidera, nabrak sudut lemari noh "
" Yee nyalahin gue, loe yang salah juga ngapain loe lari gitu" tukas Metta
" Kok loe balik gak kedengeran bebeb loe kak "
" Panjang cerita nya gue males bercerita" Metta mulai memejamkan matanya.
Andra terlihat mengedikan bahu.
" Yaa elaa tinggal ngomong doank loe " lanjutnya.
" Heh Kaa loe jorok banget deh belum bersih bersih loe baru balik juga, dah sana ke kamar loe, ngapain malah tiduran dikamar gue" tukas Andra dengan menggerakkan tubuh Metta.
" Bentaran doank juga, lagian kamar loe juga gak bersir bersih amat"
" Udab deh, gue juga rapihin ini kamar tapi tetep aja kayak gini, yaa maklum lah namanya juga kamar cowok kan" Andra menaik turunkan alisnya.
" Terserah, pokonya kalo loe gak rapihin nih kamar sendiri, gue kurangin jatah jajan loe" tukas Metta sambil beranjak dari ranjang.
" Yaa elu, jangan donk jatah gue udah dikit malah makin dikit."
" Biarin," Cibir Metta.
"Ibu sama Nissa kemana nyon" ujar Metta masih dengan terduduk diteoi ranjang.
" Kerumah bu asti tadi bantuin masak katanya besok ada syukuran "
Metta terlihat memajukan bibirnya beberapa senti hingga membentuk huruf Oo..
Metta pun beranjak pergi dari kamar adiknya dan menuju kamarnya.
"Gue ke kamar dulu."ucap Metta.
" Terserah loe" sinis Andra kembali berbaring
Dengan handuk dibahunya Metta berjalan keluar kamar menuju ke kamar mandi, yaa kamar mandi dirumahnya hanya ada satu dan digunakan bergantian dengan semua anggota keluarganya.
Tidak seperti yang sering di lihat di tv atau di novel favoritnya yang terdapat bathtub mewah disetiap bathroomnya.
Setelah selesai dengan rutinitas bersih bersihnya Metta berjalan ke arah meja makan dan melahap sepiring nasi beserta lauk yang sudah tersedia.
" Kaa loe tau gak tadi bang Faiz kesini"
Metta berhenti mengunyah dan menoleh ke Andra.
" Mau ngapain dia"
" Gak tau tadi ngobrol sama ibu"
" Yaa terserah lah, lagian gue udah gak peduli"
Metta mengerdikan bahunya.
" Yakin loe kak"
Metta mengangguk dan melanjutkan makannya.
Disela makan nya Metta memikirkan perkataan Andra, gak perduli?
Metta sebenarnya ingin melupakan, namun sakit dihatinya masih saja belum kering. Antara cinta dan benci yang berpadu didalam hatinya.
Ceklek
.
Dari arah luar datang ibu dan Nissa, adik permpuan bungsunya yang berusia 16 tahun.
"Lho kamu udah pulang ternyata, kok ibu gak liat motor kamu didepan Sha " ujar ibunya sembari membereskan barang yang dibawanya barusan.
" Ceritanya panjang katanya bu, dia lagi males nyeritain nya " Andra menyembulkan kepalanya dari balik lemari es.
" Abang kebiasaan deh yang ditanya siapa yang jawab siapa" tukas Nissa menepak bahu Andra.
"Biarin wee " cibir Andra dengan menjulurkan lidah ke arah adik bungsunya.
" Ih dasar punya abang koq kampret" tukas Nissa.
"Aww.." Nissa meringis karena jambakan Andra di sebagian kecil rambutnya.
" Buu, lihat abangnya " lirih Nissa mengusap usap rambutnya.
" Sudah kalian ini kerjaanya ribut terus " tukas Ibunya dengan jeweran ditelinga keduanya.
" Ayo kalian berdua sekarang tidur, lihat tuh udah jam 9, besok harus sekolah " ujar sang ibu sambil menunjuk jam dinding.
" Ay ay kapten.." ucap keduanya dan berlalu ke kamar masing masing dengan saling beradu lengan.
Sementara Metta yang sedari tadi hanya diam dan tersenyum memperhatikan keduanya. Inilah yang selalu Metta rasakan.
Sebuah kehangatan yang selalu ada dikeluarganya, meskipun Metta berlelah diri demi kehidupan keluarganya, menggantikan sosok ayah yang sudah tiada, namun dia tidak pernah keberatan sedikitpun. Justru Metta merasa bahagia.
" Sha.." ujar sang ibu melangkah mendekat dan duduk disamping Metta.
"Iyaa bu.."
"Kamu kenapa,mikirin apa hem " ucap ibu mengusap rambut Metta dengan lembut.
"Enggak mikirin apa apa koq bu "
" Sha, kamu itu anak ibu! ibu yang melahirkanmu, jelas ibu bisa tau apa yang anak ibu alami."
" Gpp bu, beneran"
" Faiz tadi datang kesini, meminta maaf pada ibu dan juga kamu" lirih ibunya.
Metta menundukan kepalanya, ingin menangis namun ditahan nya, dia tidak ingin membuat ibunya sedih juga.
" Sudah waktunya kamu memikirkan diri sendiri Sha, kamu sudah banyak mengorbankan diri untuk keluarga kita." Ucapnya sambil membelai rambut Metta.
" Jika Faiz meminta maaf dan kamu mau memaafkan nya, ibu juga tidak akan melarang Sha "
" Tidak bu, aku tidak akan pernah kembali pada mas Faiz meski dia kembali."
" Carilah kebahagianmu sendiri nak"
Ibu ngomong apa sih, aku sudah bahagia kok, buat aku kalian lah sumber kebahagian " Metta mengelus lembut tangan ibunya yang kini tersenyum.
" Yaa sudah terserah kamu Sha, apapun itu ibu akan selalu dukung kamu"
Metta mengangguk, dan tersenyum memeluk Ibunya.
" Tadi ibu ketemu mba Nita pas ibu jalan pulang, dia bilang kamu dianterin pulang sama pria nak" ucap ibu melembut.
Metta yang tengah menegak air digelas tersedak..
" Pria..? bu.." Metta mengingat beberapa part yang lalu.
"Ahk, bocah itu" batin nya.
" Iya bu, enggak, eem magsudnyaa itu iya dia abang driver online, yaaa driver online doank kok bu."
Sang ibu hanya terlihat beroh ria, kemudian beranjak.
" Yaa sudah kalo gitu kamu istirahat yaa.."
ibu juga mau istirahat."
.
.
.
😋 Tega banget tor gue dibilang driver onlen..
🍁yaa dari pada bilang kang gali kubur yeeekan.
😋 Tambah parah lo..
🍁Dah sana siap siap cari orderan, besok gue bikin yang ordernya cewe cantik
😋 Ah..mau banget
.
Aku juga mau dong like dan komen dari kalian biar aku semangat ngetiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Debbie Teguh
ade2nya meta kok gt ya gak sopan
2023-01-11
0
Bzaa
ngojek bang EL, ngorder tanpa aplikasi😁
2022-07-04
1
Pipit Sopiah
lanjut
2022-02-23
1