Lembayung jingga sudah menampakan diri. Awan cerah sedikit sedikit memudar.
Seolah menghindar tak berani.
Deburan angin berhembus dengan pelan. Mengganti rasa hangat yang kelelahan karena sedari pagi.
"Din gue nebeng yaa" Seru Metta ketika jam kerja sebentar lagi selesai.
Dinda mengangkat jari jempol dan telunjuk yang sudah membentuk bulat ke hadapan wajah Metta.
"Nyoook bos." Seru Dinda.
"Sekalian loe ikut gue yaa, anterin gue nyari sesuatu di mall buat hadiah ponakan gue Sha"
"Ah loe palingan kelilingan doang"
"Kagak, beneran Sha gue mau nyari hadiah "
"Gak percayaan amat loe sama gue Sha"
"Musrik tau gak, kalo sampe gue percaya sama loe" Metta bergidik kemudian berlalu meninggalkan Dinda.
"Ah, peak loe mana ada kayak gitu" seru Dinda bergegas menyusul Metta.
"Oke, tapi bentaran doank yaa"
Dinda mengangguk. Mereka berjalan kearea parkir, menuju mobil Dinda.
Sementara ditempat yang sama, seorang anak manusia bersandar pada mobil, mendekapkan kedua tangan nya didada. Matanya mengikuti langkah kedua perempuan itu.
Farrel berjalan dengan cepat menghampiri Metta yang hendak membuka pintu mobil, dengan cepat Farrel menahan pintu agar jadi terbuka lebar,
Dug...
Kemudian menutup kembali pintu mobil dengan sedikit kasar. Menyebabkan Metta tak bisa masuk.
.
"Eh..
"Eh," Metta terkaget tanpa melihat Farrel.
"Ma..aa" Metta mendongkakkan kepala dan melihat orang yang sudah berada di hadapan nya.
"Elu," ucap Metta dengan kasar, namun secercah rasa lega menghampiri dirinya ketika melihat Farrel terdiam menatap nya. Berbeda dengan tadi pagi ketika mereka bertemu, saat ini Farrel terlihat lebih tampan. Fikirnya
"Ah mungkin karena gue emang nungguin ni bocah aja " batinnya
Sekejap Metta tersadar, menggigit lidah kecilnya didalam karena dirinya lagi lagi malah mengagumi.
"Maaf buk, kalo gak begini nanti ibu keburu pergi" sahut Farrel.
"Akhirnya loe datang jugaa."
" Oh yaa kenapa loe baru muncul sekarang?"
" Mana motor gue?"
"loe kesini nganterin motor gue kan"
Cerocos Metta kemudian.
"Em... ituu..mag..."
" Sha, panggil Dinda dengan suara berbisik tiba tiba membuat Farrel terhenti mengucap. Tak kalah dengan Metta, Dinda pun diam diam memperhatikan Farrel.
"Gilaa ni orang cakep banget, imut banget mukanya." batin Diana.
Metta menoleh ke arah sahabatnya, menarik tangan Diana hingga berbalik membelakangi Farrel.
"Din sorry kayaknya gue gak jadi ikut loe balik yaa, bebeb gue udah ada" tukas Metta setengah berbisik.
"Jadi dia orang yang nabrak loe tadi pagi"
Metta mengangguk pelan.
" Kalo gini mah ditabrak tiap hari juga gue mau"
bisik Dinda
Metta tak habis fikir, tentang sahabatnya itu.
" Ngomong apa sih, sembarangan loe kalo ngomong "
"Loe mau gue temenin?"
"Gak perlu Din gue bisa urus sendiri"
"Loe yakin?"
Metta menganggukan kepalanya dan juga tersenyum.
"Udah loe gak usah khawatir" meyakinkan Dinda.
"Yaa udah kalo gitu gue duluan yaa Sha"
Metta mengangguk sesaat kemudian berbalik mengarahkan tubuhnya menghadap Farrel.
Dinda menatap Farrel dan Metta bergantian, Kemudian berbalik dan berjalan memutar menuju arah kemudi.
"Sha, Sha, hubungi gue kalo ada apa apa" teriaknya lagi namun tatapannya kini beralih pada Farrel dengan ketidak percayaan.
Metta yang tersentak kaget kemudian menoleh dan mengangguk.
Farrel yang sedari tadi terdiam mematung memperhatikan kedua nya berdecak.
"Tak hanya satu orang yang memandang buruk dirinya, malah bertambah satu orang lagi. Mereka sama saja. Fikirnya
"Hem, jadi dimana loe parkirin motor gue " tanya Metta.
Tanpa basa basi sesaat melambaikan tangan ke arah mobil sahabatnya yang sudah berlalu pergi. Membuat Farrel tersentak
" Itu dia masalahnya" farrel terhenti sesaat.
"Saya kesini justru ingin kasih tau kalau motornya, Farrel terdiam lagi sambil tersenyum menatap Metta yang kali ini terlihat mengerutkan dahinya.
"Motornya rusak parah dan perlu beberapa hari buat memperbaikinya" lanjutnya.
Metta terlihat geram. Memandang tajam Farrel yang terlihat seakan tidak merasa bersalah itu.
"Saya gak diberi kesempatan buat ngejelasinnya" Farrel menyeringai seakan tau magsud sorot tajam Metta.
Metta menghembuskan nafas dengan kasar.
"Tahan Sha tahan emosi loe" Metta terlihat menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. Berusaha menahan diri.
"Jadi butuh berapa hari.?" ucap metta.
"Mungkin seminggu?" balas Farrel dengan menarik sudut bibirnya.
.
.
Flashback on🍁
.
.
Farrel yang telah menyelesaikan kelas kedua nya kini berada di kantin bersama Doni, yang ternyata masih setia menunggunya.
Doni memberitahukan perihal paperbag titipan dari Tasya yang berujung menjadi miliknya itu.
Namun Farrel hanya Fokus pada hal yang membuatnya menarik, kemudian mengutak atik ponselnya sambil tersenyum.
Tring...
Selesai, ucap Farrel membuat Doni mendecak heran.
"Gila loe yaa,? tanya Doni.
Entah sudah berapa kali kulit kacang itu mengenai wajah Farrel begitu pun sebaliknya.
Farrel hanya mengangguk dengan senyuman yang lebih lebar lagi.
Drett..
Drett..
Suara ponsel tiba tiba berbunyi. Doni dan Farrel sama sama melihat kearah ponsel mereka masing masing. Ternyata punya Farrel lah yang berbunyi, terlihat layar ponsel menyala menampilkan nama BENGKEL OM GALING.
Farrel segera mengangkatnya.
"Halo "
"Bos motor sudah beres, mau diantarkan kemana bos? Tanyanya.
" Simpan dulu aja disitu om" tukas Farrel.
" Wah kenapa malah disimpan bos"
" Antarkan nanti kalo udah seminggu ya om ".
" Temen saya yang punya motor lagi keluar kota, jadi motornya suruh disimpan dulu"
Kemudian Farrel menutup ponselnya dengan seringaian di bibir tipisnya.
🍁Flashback Off🍁
" Seminggu? Metta kembali menatap tajam kearah Farrel. Farrel mengangguk dengan raut muka tak terbaca.
"Seminggu heii apa kabar nasib gue, cx bakal tambah repot gue kagak ada bebeb gue itu"
"Bisa tekor gue" lagi lagi metta hanya berfikir tentang pengeluaran yang sudah sedemikian hemat itu, bulan ini harus rusak gara gara dia" batinnya.
" Tidak ada pilihan lain, karena memang motornya rusak parah"
Berbagai alasan diungkapkan Farrel hanya untuk bisa dekat dengan Metta. Hingga Metta pun tidak punya pilihan lain.
.
.
Grep..
.
.
Tiba tiba Farrel menarik lembut tangan Metta, melangkah menuntunnya berjalan menuju mobil, masih menggenggam tangan Metta. Membuka pintu mobil nya dan berbalik.
"Jadi selama seminggu ini aku akan mengantar dan menjemput kakak" ucap Farrel lembut.
Metta menatap Farrel tak bergeming, entah apa yang sedang dipikirkan sekarang. Hanya saja Metta sudah tidak ingin berkata kata.
"Kakak Masuk lah" ucap Farrel lebih lembut dari dari sebelumnya.
Metta mengangguk kemudian mendaratkan bokongnya di kursi depan yang sedari tadi terbuka.
Mungkin karena fikirannya yang sedang kacau ditambah perlakuan yang tiba tiba dari Farrel membuat otak Metta tidak bisa berfungsi dengan baik.
"Apa yang terjadi denganku" batin Metta.
"Apa tadi katanya."
"Kakak "
" Apa aku tak salah dengar?"
" Kenapa tiba tiba memanggil kakak"
.
.
.
.
🍁🍁
Jangan lupa like dan komen disetiap bab nya yaa,, karena like dan komen dari kalian sangat berharga buat aku yang receh ini.
Makasih yang udah selalu setia nungguin up
😘🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Yuli Ana
😎😎kakak..dr ibu td pagi😁😁
2023-05-09
0
Mbah Edhok
Kakak ... Kakak ...
2023-03-16
0
🌹🪴eiv🪴🌹
boljug nich modusnya rel ta api 🤣🤣🤣
2022-11-18
1