" Untukmu yang menjadi tulang punggung keluarga, mungkin tak mudah dalam perjalanan yang kau lalui. Namun percayalah mendung tak akan selamanya singgah di langit "
Kata Google
Tak terasa waktu terus berputar, semua karyawan mengerjakan bagian masing masing.
Begitu juga dengan Metta, beberapa berkas sudah dia selesaikan.
Sesekali melihat ulang hasil kerjanya, tak ingin ada kesalahan sedikitpun.
Dalam pekerjaan Metta memang teliti, selalu bekerja dengan hati hati, tidak ingin ada kesalahan yang akan menyebabkan kerugian untuk dirinya sendiri.
Baginya pekerjaan adalah segala sumber kehidupannya. Bahkan merelakan masa mudanya dia lalui begitu saja.
Bagaimana tidak dari hasil bekerja ini lah Metta menopang keluarganya, menjadi tulang punggung keluarga semenjak Ayahnya meninggal dunia.
Menanggung beban berat dipundaknya, memenuhi semua kebutuhan keluarga nya, seorang ibu dan kedua adiknya.
Bahkan melarang ibunya kembali bekerja untuk membantunya. Cukup sudah rasanya sang ibu berjuang untuk menghidupi 3 orang anak seorang diri dari dulu.
Dan tak pernah sekalipun dirinya memperlihatkan kelelahannya didepan keluarganya.
"Eugh, badan gue berasa remuk " Metta merentangkan tangannya yang terasa kebas, meregangkan ototnya yang tegang.
" Efek gue jatoh tadi pagi nih kayaknya " Sambil mengurut naik turun tangan mungilnya, tak lama Metta mengecek ponselnya, melihat apa saja notifikasi yang masuk, membuka aplikasi chat sejuta umat dengan lambang berwarna hijau, membaca satu persatu chat yang masuk. Dan tak lupa membalasnya chat yang menurutnya penting.
Kang listrik..!
Kang galon..!
Kang gas..!
Hayoo siapa lagi..
Tak lupa juga Metta membuka aplikasi yang lainnya, entah apa yang dicari nya.
Kembali kemudian membuka aplikasi chat sejuta umatnya, menscroll keatas lalu kebawah lagi, mencari nomor baru yang belum ada dikontaknya.
Bahkan membuka riwayat panggilan berharap ada nomor baru yang dia harapkan segera menghubunginya.
Yaaa, Metta teringat orang yang menjadi penyebab hari nya bertambah buruk, bocah yang membuat dirinya berantakan hari ini, bocah yang tingkat ketampanan nya diatas level.
Eeh..
Metta menepuk bibir nya dan bergedik geli.
"Kenapa bocah itu belum juga ngehubungin gue yaa" batin metta.
"Jangan jangan dia mau lepas tanggungjawab, kabur begitu saja. Meninggalkan bebeb gue entah dimana.
Atau..
"Ah bebeb gue "
Metta mengacak rambut dengan frustasi, teringat bebeb kesayangan nya, tanpa bebebnya itu hidup nya akan terasa hampa.
Yaa gimana motor itu lah satu satunya alat transfortasi yang Metta gunakan kemana mana.
Sedangkan menurutnya angkutan umum akan membuat dirinya malah semakin repot saja.
"Sha loe kenapa, kerasukan setan loe "
" Kenapa hah, tuh muka sama rambut dah kek orang setres loe" cerocos Dinda yang tiba tiba sudah berada di pinggir meja kerja Metta.
Metta membulatkan matanya dengan kesal.
"Sialan loe sembarangan tuh mulut" ketus Metta.
"Yaa lagian loe kenapa si, bikin gue tambah penasaran aja.
"Mppph, jangan jangan loe udah ternoda yaa, gak suci lagi yaa, siapa"
"Siapa yang sudah merenggutnya "
"Bapak loe peak, gue mau jadi emak tiri yang mau nyiksa loe PUAS" jawab Metta dengan menekankan kata terakhir sambil menjambak sedikit rambut sahabatnya.
Sementara Dinda menatap heran, melihat dari atas kepala hingga ke ujung kaki Metta. Meringis kemudian mengusap kepala hasil jambakan sahabatnya itu.
"Sakit ogeb"
"Loe bercanda kan Sha"
"Laa iyaa laah gue bercanda ahahah "
"Shaun"
teriaknya kemudian.
Metta tertawa lalu beranjak meninggalkan Dinda yang mematung, membiarkan sahabat ogebnya itu terpaku dengan fikiran konyolnya.
"Ehh, sohib sialan loe " seru Dinda baru tersadar. Setengah berlari menyusul Metta yang
berlalu keruangan Fotocopy.
Dengan berkas berkas menumpuk ditangan nya, membuat Metta sedikit kewalahan. Berjalan pelan karena pandangan nya tertutup berkas. Hingga tak sengaja dia bertabrakan dengan seseorang Pria tegap hingga berkas itu berhamburan.
Bruuk..
" Aw "
.
.
Metta mengedarkan pandangan pada berkas yang berhamburan. Kini dia kesal karena harus menyusun nya berkasnya kembali, sementara pria tegap yang diam tak bergerak itu hanya memandangnya saja tanpa bicara.
" Apa kau tidak melihat " seru Alan dengan ketus.
" Kacau sekali "
" Maaf pak, tapi sepertinya Bapak yang salah bukan saya " sahut Metta
" Kau menyalahkanku?" Bentaknya.
" Hei, jaga bicaramu nona " seru seorang wanita yang berada dibelakang Alan.
" Cintya, tidak usah kau ladeni " Ujar Alan memperingati sekretarisnya.
" Cih berani juga dia " batin nya.
" Memangnya kenapa, orang bener dia yang salah, sudah tau ada orang yang kerepotan bukannya bantuin kek malah dia yang marah "
batin Metta.
" Bukan, eng "
Sudahlah percuma saja.
Dengan bibir tersungut Metta membereskan berkas yang berhamburan itu, sementara pria yang menabrak nya, ah bukan, pria itu yang ditabraknya itu hanya diam tak bergeming.
"Dasar manekin, jangan kan membantu, meminta maaf saja tidak." Batin Metta.
" Cepat bereskan, lambat sekali " seru wanita yang Metta duga Sekretaris sang manekin.
"Sha, lo kenapa lo gak apa apa kan " Dinda bergegas menghampiri Metta yang tengah membawa satu persatu berkas yang berhamburan itu.
" Pak Alan, selamat siang Pak" tukas Dinda dengan membungkukkan badannya ke arah Alan.
" Cih, rupa nya hanya dia yang mengenaliku saja"
" Hem" jawabnya datar.
Siapa tadi ..
" Alan " batin Metta.
"Loe kenapa Sha sampe berurusan dengan dia" bisik Dinda ke arah Metta.
" Sudah minggir " Suara bariton Alan mengagetkan mereka.
" Ini kantor bukan tempat untuk bergosip".
Alan pun berlalu dari sana, jelas mereka tau bahwa hari ini ada Meeting dengan klien dan saat ini mereka yang sedang membereskan berkas.
"Siapa dia? tanya Metta
" Dia itu Pak Alan, masa lo gak tau Sha?"
" Dia CEO kita!!"
" CEO, CEO dia itu manekin hidup "
Dinda membungkam mulut Metta dengan tangannya.
" Sutthh, lo gila kalo kedengeran tamat riwayat lo "
" Awas aja kalo ketemu lagi" ujar Metta.
" Mau apa emang loe kalo ketemu lagi sama dia" Dinda berkacak pinggang.
" Emang lo berani "
Metta sungguh kesal,
" Gantengnya dia " ucap Dinda merangkul lengan Metta.
" Fikir lo pake otak, kayak dia dibilang ganteng"
Metta menggidig melihat Dinda yang tergila gila pada Alan.
" Lo gak tau sih, dia itu ganteng, cool, keren, dan misterius." Menyebutkan satu persatu dengan jarinya.
" Bodo amat "
"Dah ayoo gak kelar kelar ini kerjaan kalo ngomongin dia terus "
" Nih berkas ditungguin Pak Bas "
Metta dan Dinda kemudian melanjutkan pekerjaan nya yang terhenti, mengcopy berkas yang dibutuhkan hingga selesai.
" Gue aja yang anterin ke ruangan Meeting Sha"
seru Dinda.
" Terserah, loe ada maksud sampe pengen nganterin kesana segala"
" Yaa eela, namanya juga usaha Sha"
" Terserah lo aja"
Metta kemudian memberikan berkas itu pada Dinda yang dengan iklasnya mengantarkan, dengan begitu Dinda bisa melihat Alan lagi.
" Eh Sha kira kira Pak Alan udah punya Pacar belum?"
" Mana gue tau " Metta mengerdikan bahunya.
" Tanya aja langsung "
.
.
.
🍁🍁
Happy reading, terima kasih untuk like dan komennya, semoga kalian suka.
.
Salam geje😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Is Wanthi
heran deh sama Mera Alan yg CEO, gak ad rasa takut takutnya,
2022-12-09
0
🌹🪴eiv🪴🌹
apa artinya"geje"
berilah daku pencerahan author, beneran nggak tahu aku
2022-11-18
2
Bzaa
tanya langsung aja kl berani😆
2022-07-04
1