Mall

Setelah menikmati makan malam berdua yang jarang terjadi, kini dua wanita berbeda generasi itu bersantai sambil menikmati siaran televisi.

Dengan posisi Jessy yang tidur dengan kepala berada di pangkuan Mariam, dan menikmati tangan sang Nenek yang sedari tadi membelai rambutnya.

"Nenek tidak menyangka kamu akan menginap di sini." Mariam yang memulai obrolan. "Karena dulu waktu kecil kamu selalu tidak mau jika Nenek mengajakmu menginap disini."

"Nenek! Sudah Jessy bilang, Jessy tidak menginap tapi akan tinggal di sini." ingatkan nya.

"Oh... ya ampun, Nenek lupa. Mungkin karena faktor usia," Mariam terkekeh.

"Dan... Nenek tidak usah pura-pura terkejut Jessy tinggal di sini, pasti Papa sudah memberitahu Nenek." tebaknya.

"Ha ha ha, apakah akting Nenek sangat jelek?"

"Sangat." jawab Jessy cepat.

"Tapi, Nenek benar-benar bahagia kamu mau tinggal di sini. Karena melihatmu, Nenek merasa melihat Ibu mu di dalam dirimu." Bibir Mariam tersenyum tapi tidak dengan mata nya yang terlihat sendu.

Jessy menggenggam tangan Nenek yang berada di kepalanya. "Percayalah Nek, meskipun Jessy tidak berada di sini, tapi Mama akan selalu ada untuk menemani Nenek." hiburnya.

Mariam tersenyum mendengar ucapan cucunya. Meskipun Jessy sering membuat ulah, tapi nyatanya ia sangat sayang kepadanya.

Hingga akhirnya cucu dan nenek itu terlibat percakapan ringan hingga larut malam.

*

*

"Jessy!" teriak Nenek dari luar kamar Jessy. "Ayo bangun, apa kamu tidak sekolah?"

Saat matahari mulai meninggi, nyatanya gadis cantik itu masih nyaman dengan tidurnya. Karena menurutnya ini adalah kesempatan bangun siang setelah tidak bersekolah.

Ketika Jessy mendengar pintu kamar nya di gedor dengan keras oleh Mariam, maka ia semakin bergulung di bawah selimut.

Hingga beberapa saat kemudian, akhirnya Jessy membuka matanya. Karena nenek nya rupa-rupanya tidak menyerah untuk membangunkan nya.

Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu kamarnya, dan saat pintu itu terbuka terlihat Mariam berdecak pinggang.

"Nek, ini masih pagi kenapa berisik sekali?" ujar Jessy dengan setengah kesadaran nya. "Nenek melebihi berisiknya Rembo."

"Rembo? Siapa!" Mariam yang tidak tahu.

"Ayam Tok Dalang," jelas Jessy.

Mata Mariam membulat, kurang ajar sekali cucunya itu menyamakan dirinya dengan ayam.

"Aaaa ... ampun, Nek." Jessy memegang telinganya yang di jewer oleh Mariam.

"Kamu itu anak gadis bangun siang, nanti rezekinya di patok ayam." Mariam yang gemas masih menjewer telinga Jessy.

"Nanti tinggal tukar tambah sama cacing, Nek. Biar di balikin rezekinya sama ayam," jawab Jessy.

"Ya ampun," pekik Nenek. Kemudian menarik kuping Jessy dan berjalan menuju kamar mandi. "Sekarang kamu mandi."

Mariam kemudian membiarkan Jessy di kamar mandi, dan menuju ruang makan untuk sarapan.

Sarapan pagi yang kesiangan itu akhirnya terjadi setelah Jessy menyelesaikan ritual mandinya.

"Jessy kamu tidak sekolah?" Tanya Nenek di selah-selah acara sarapan mereka.

"Nenek kan tahu, Jessy sudah di keluarkan dari sekolah." Jessy rasa Neneknya sudah tau dari papa nya.

"Dikeluarkan bukan berarti tidak sekolah, kamu masih bisa cari sekolah lain."

"Tapi Jessy masih ingin di rumah," pintanya dengan raut wajah memelas.

Nenek menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kalau kamu tidak sekolah, maka Nenek akan jual si banteng."

Jessy mecebikkan bibirnya, mana mungkin ia tanpa motor kesayangan nya yang ia beri nama banteng.

"Nenek sudah mencarikan sekolah untukmu, nanti kamu bisa melihatnya." Putus Mariam.

"Nenek!" rengek Jessy.

"Apa!" balas Mariam galak dengan mata melotot.

Jessy hanya bisa mengerucutkan bibirnya, kalau sudah begini ia bisa apa.

Siang hari ia mengendarai motornya, seperti perintah Mariam tadi pagi. Ia meninjau sekolah yang sudah di pilihkan Neneknya.

Dengan membawa secarik kertas yang bertuliskan nama sekolah serta alamatnya.

Hingga beberapa saat kemudian motor Jessy berhenti tak jauh dari lokasi sekolah SMA. Ia mengambil kertas yang berada di sakunya dan mencocokkan nama sekolah itu, dan ternyata benar.

Ternyata letak sekolah baru itu tidak terlalu jauh dari rumah Nenek. Dan kelihatan nya rata-rata siswa yang sekolah di sana adalah anak orang kaya.

"Bukankah ini sekolah...?" gumam Jessy yang menebak.

*

*

Setelah Jessy melihat sekolah pilihan Mariam, ia memutuskan untuk pergi ke mall. Sudah lama ia tidak pergi ke sana.

Hingga hari beranjak petang Jessy masih betah berputar-putar di mall. Bukan untuk berbelanja, tapi menghabiskan waktunya untuk memainkan semua wahana permainan yang ada di sana.

Hingga akhirnya, ia memutuskan pulang saat jam pergelangan tangan nya menunjukkan pukul 18.30. Mungkin Nenek nya sudah menunggu di rumah untuk makan malam.

"Ya ampun lapar sekali," Jessy mengusap perut datarnya sembari berjalan menuju parkiran untuk mengambil banteng.

Saat hampir sampai di mana banteng berada, mata Jessy melihat tiga gadis yang bertengkar. Ia terus saja melangkahkan kakinya, karena tidak mau ikut campur.

"Aku mohon jangan ambil itu, itu pemberian terakhir Ibu ku. Ambil saja yang lain nya," ujar salah satu gadis.

"Lo pikir gue peduli? Gue cuma mau yang ini!" Salah satu di antara mereka menarik gelang yang di pakai tadi.

Dan gadis satunya ternyata ikut membantu gadis yang ingin merebut gelang itu.

Jessy yang tadinya tidak ingin ikut campur, tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mengetahui duduk permasalahan nya.

"Apa kalian anak kecil? Jadi harus berebut sesuatu?"

Ketiga gadis itu menoleh, ketika tau-tau Jessy berada di sana.

"Apa? Lo jangan ikut campur!" hardik gadis yang tadi menginginkan gelang. "Pergi lo," usir nya.

"Ck." Jessy berdecak sembari mengusap telinganya, ternyata suara gadis itu cukup melengking.

Gadis yang akan di ambil gelang nya, melihat kesempatan itu seketika berlari menghampiri Jessy dan bersembunyi di belakangnya.

"Mau kemana akh--"

Gadis itu berteriak kesakitan. Ketika ia akan menarik gadis pemilik gelang, justru Jessy lebih dulu mencekal tangan nya dan memelintir nya ke belakang. "Lepas!" teriaknya.

Teman gadis itu tidak tinggal diam, saat akan memukul Jessy. Nyata nya ia lebih dulu tersungkur setelah mendapatkan tendangan dari Jessy.

Kemudian Jessy mendorong gadis yang masih ia pegang hingga terjatuh bersama teman nya tadi. "Kalau tidak bisa memiliki apa yang kalian inginkan, maka jangan merebut milik orang lain."

Setelah mengucapkan itu Jessy kemudian pergi menuju tempat banteng dan di ikuti gadis yang di tolong nya.

"Awas lo... " teriak dua gadis yang masih terduduk di lantai parkiran.

Tapi Jessy dan gadis tadi sudah pergi dari sana.

Ketika motor Jessy sudah melaju cukup jauh dari mall, ia menepi di bahu jalan. "Turun," ujar Jessy.

Sebenarnya tadi Jessy tidak berniat mengajak gadis yang ia tolong pulang bersama nya. Tapi gadis itu naik begitu saja, jadi mau tidak mau Jessy membawa nya juga.

"Gue bukan tukang ojek," jelas Jessy.

Gadis yang berada di jok belakang banteng langsung turun dan berdiri di samping Jessy. "Terima kasih," ucapnya tulus dengan senyum lebarnya.

"Iya."

"Oh ya, aku Meili." Dengan mengulurkan tangan nya.

Belum sempat Meili mengetahui nama Jessy, Jessy sudah melesat dari sana.

"Ya ampun, dia seperti pahlawan super." ujar Meili yang hanya bisa melihat punggung Jessy yang kian menjauh.

...----------------...

...Sidoarjo, 22.15...

...Selamat malam semuanya, semoga sehat selalu....

...Sidoarjo beberapa hari ini hujan terus....

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Kan Jessy udah pindah jauh dari rumah Danu,Jadi kenapa Jesy nisa sekolah bahlan satu kelas dengan anak tiri Danu?

2024-12-10

0

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

diih Jessy 🤪🤪🤪🤪🤪 please jgn bikin nenek pusingg

2025-01-21

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

Lha si Jessy main pukul itu para ciwi.. gak taunya besok ketemu di sekolah yg sama terus jd musuhan deh..

2024-06-01

1

lihat semua
Episodes
1 Pronolog
2 Di Keluarkan Dari Sekolah
3 Tinggal Bersama Nenek
4 Mall
5 Sekolah Baru
6 Satu Sekolah
7 Nathan
8 Hukuman
9 Ketua OSIS
10 Angkringan
11 Berpelukan
12 Bertemu Mama
13 Saudara
14 Kamu menikah ya?
15 Hukuman Lagi
16 Pikir-pikir dulu
17 Makan Siang Bersama
18 Apa Pria Tua?
19 Setuju
20 Calon Suami
21 Pemaksaan
22 Teman kecil
23 Roti Sobek
24 Sekolah Lama
25 Curang
26 Membela Diri
27 Percikan Api
28 Main
29 Persiapan Hampir 100%
30 Jalan Lain
31 Dua Hari Lagi
32 Malu
33 Meminta Restu
34 Andai
35 H-1
36 Sah
37 Pergi tanpa doa
38 Takut Khilaf
39 Pulang
40 Nafkah
41 Suami
42 Siti
43 Rencana Liburan
44 Naik Motor
45 Liburan
46 Liburan 2
47 Secuil Rindu
48 Kembali
49 Gadis Yang Sama
50 Kesal
51 Terjawab Sudah
52 Rasa Nyaman
53 Apa Lo Kecewa?
54 Di Hukum Bersama
55 Undangan Makan
56 Seseorang
57 Makan Malam
58 Sakit Tak Berdarah
59 Rumah Sakit
60 Lelah
61 Salah Tingkah
62 Perlu Gue Bantu Lepas?
63 Pulang
64 Kejutan
65 Menyentuh Lainnya
66 Tragedi Pagi Hari
67 Memperbaiki Hubungan
68 Terima Kasih
69 Bekal
70 Pelajaran Biologi
71 Mencicipi
72 Promosi
73 Berbagi Suka Dan Duka
74 Malu
75 Nathan yang Nakal
76 Panggilan Baru
77 Kesal
78 Kamu
79 Kado Tasya
80 Kejutan.
81 Minta Maaf
82 Menjaganya Untuk Ku
83 Cacar Air
84 Penjelasan
85 Fiesta
86 Meili Dalam Bahaya
87 Hening
88 Haruka
89 Sangat Sulit
90 Tidak Yakin
91 Sorry
92 Rasa Sakit
93 Jarum suntik
94 Lodeh Menjadi Rendang
95 Merindukanmu
96 Piktor
97 Ide Gila Jessy
98 Memberi Semangat
99 Akhir Ujian
100 Rumah Makan Mariam
101 Tidak Suka
102 Menghindar
103 Untuk Mama
104 Hancur
105 Pantai
106 Publish
107 Hari Patah Hati
108 Prom Night Spesial
109 Hak Milik
110 Vila
111 Baby
112 Berubah
113 Drama Jessy
114 Pengakuan
115 Hamil?
116 Rugi
117 Takut
118 Istri Menyebalkan
119 Butik
120 Firasat
121 Kenyataan Pahit
122 Kritis
123 Tidak Berasa
124 Nenek Sadarkan Diri
125 Mengakhiri
126 Masa Lalu
127 Bertemu Kembali
128 Suasana Tegang
129 Baby Boy?
130 Kembali
131 Pindah
132 Aku Baik-baik Saja
133 Penyesalan Yang Terlambat
134 Mencoba Ikhlas (END)
135 pengumuman
Episodes

Updated 135 Episodes

1
Pronolog
2
Di Keluarkan Dari Sekolah
3
Tinggal Bersama Nenek
4
Mall
5
Sekolah Baru
6
Satu Sekolah
7
Nathan
8
Hukuman
9
Ketua OSIS
10
Angkringan
11
Berpelukan
12
Bertemu Mama
13
Saudara
14
Kamu menikah ya?
15
Hukuman Lagi
16
Pikir-pikir dulu
17
Makan Siang Bersama
18
Apa Pria Tua?
19
Setuju
20
Calon Suami
21
Pemaksaan
22
Teman kecil
23
Roti Sobek
24
Sekolah Lama
25
Curang
26
Membela Diri
27
Percikan Api
28
Main
29
Persiapan Hampir 100%
30
Jalan Lain
31
Dua Hari Lagi
32
Malu
33
Meminta Restu
34
Andai
35
H-1
36
Sah
37
Pergi tanpa doa
38
Takut Khilaf
39
Pulang
40
Nafkah
41
Suami
42
Siti
43
Rencana Liburan
44
Naik Motor
45
Liburan
46
Liburan 2
47
Secuil Rindu
48
Kembali
49
Gadis Yang Sama
50
Kesal
51
Terjawab Sudah
52
Rasa Nyaman
53
Apa Lo Kecewa?
54
Di Hukum Bersama
55
Undangan Makan
56
Seseorang
57
Makan Malam
58
Sakit Tak Berdarah
59
Rumah Sakit
60
Lelah
61
Salah Tingkah
62
Perlu Gue Bantu Lepas?
63
Pulang
64
Kejutan
65
Menyentuh Lainnya
66
Tragedi Pagi Hari
67
Memperbaiki Hubungan
68
Terima Kasih
69
Bekal
70
Pelajaran Biologi
71
Mencicipi
72
Promosi
73
Berbagi Suka Dan Duka
74
Malu
75
Nathan yang Nakal
76
Panggilan Baru
77
Kesal
78
Kamu
79
Kado Tasya
80
Kejutan.
81
Minta Maaf
82
Menjaganya Untuk Ku
83
Cacar Air
84
Penjelasan
85
Fiesta
86
Meili Dalam Bahaya
87
Hening
88
Haruka
89
Sangat Sulit
90
Tidak Yakin
91
Sorry
92
Rasa Sakit
93
Jarum suntik
94
Lodeh Menjadi Rendang
95
Merindukanmu
96
Piktor
97
Ide Gila Jessy
98
Memberi Semangat
99
Akhir Ujian
100
Rumah Makan Mariam
101
Tidak Suka
102
Menghindar
103
Untuk Mama
104
Hancur
105
Pantai
106
Publish
107
Hari Patah Hati
108
Prom Night Spesial
109
Hak Milik
110
Vila
111
Baby
112
Berubah
113
Drama Jessy
114
Pengakuan
115
Hamil?
116
Rugi
117
Takut
118
Istri Menyebalkan
119
Butik
120
Firasat
121
Kenyataan Pahit
122
Kritis
123
Tidak Berasa
124
Nenek Sadarkan Diri
125
Mengakhiri
126
Masa Lalu
127
Bertemu Kembali
128
Suasana Tegang
129
Baby Boy?
130
Kembali
131
Pindah
132
Aku Baik-baik Saja
133
Penyesalan Yang Terlambat
134
Mencoba Ikhlas (END)
135
pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!