Tak terasa sudah sebulan aku berada di tempat terpencil ini, aku Vanesa Intan sedang berdiri di jendela ruang resepsionis klinikku.
Tak seburuk seperti yang aku pikirkan, ternyata kehidupan di desa cukup menyenangkan juga. Aku tak ingin berharap terlalu banyak tapi semua warga di sini semua baik. Entah mereka hanya baik di depan mataku, dan mengunjingkan diriku di belakang mereka. Tapi diriku cukup lega karena mereka menerimaku dengan lapang dada.
Tempat ini begitu sempurna, pemandangan alam yang selalu saja indah. entah saat hari sedang di cuaca buruk, pantai di sini selalu saja indah dan membuat hatiku tenang.
Tapi hari ini aku merasa ada yang janggal, dari pagi aku tak melihat batang hidungnya yang seperti perosotan TK itu.
"Uluhhh uluhhhh... lagi ada yang nahan rindu nihhhh!" celoteh Gisna.
"Bisa diem nggak sih kamu?!" bentakku.
Entah kenapa Gisna suka sekali mengodaku akhir-akhir ini.
"Kalau Rindu jangan ditahan, kata Dilan! Beratttttt!"
Gisna tampaknya sudah punya hobi baru semenjak di sini. Yaitu ikut camput dengan hubunganku dengan Zidane. Tapi tak akan terjadi apa-apa, aku dan Zidane itu...
Dia bukan teman...
Dia juga bukan sahabat...
Apa lagi kekasih...
Lalu dia itu apa???
Dia Mas Wakil, yaaaa dia hanya Wakil kepala perkumpulan warga desa Pantai Ngobaran ini.
Pintu otomatis di depan klinik terbuka, seorang perempuan dengan dandanan bak biduan dangdut Pantura masuk kedalam klinik.
Semua orang memanggil wanita dengan dandanan nyeleneh itu dengan sebutan Pia Palen. Dia hanya mau dipanggil dengan nama itu.
"Dua nasi ayam gerpek dengan sambal, serta dua kopi susu!" kata Pia Palen dengan gerakan bibir yang dibuat-buat.
Bibir yang dipulasnya dengan warna merah darah itu membuatku ingin melempar sesuatu kearah wajah dengan make up tebal itu.Tapi aku menahannya aku tak mau menjadi Dokter dengan catatan kriminal.
"Nggak biasanya Mbak Pia yang mengantar pesanan sendiri, kemana Mas Wakil!" sebelum aku menanyakan pertanyaan itu Gisan sudah tanya duluan.
"Dia libur!" kata Mbak Pia dia tampak sangat kecewa dengan liburnya Zidane dari kerjaan serabutannya.
"Mas Wakil punya hari libur?" tanya Gisna dia juga tampak sangat kaget.
"Mas Wakil itu hanya bekerja saat dia mau bekerja, dan tiba-tiba libur tanpa memberi tahu! Kan ngeselin!" Mbak Pia malah ngegibah dengan Gisna.
"Nggak profesional banget!" kata Gisna.
"Begitulah, pria tampan selalu seenaknya sendiri!"
"Ini uangnya!" kataku, aku memang mau mengusir biang keributan bernama Mbak Pia itu keluar dari tempatku.
"Trimakasih ya Buk Dokter!
"Pykkkkk, hari ini mataku tak bisa melihat pria tampan!" desah Mbak Pia dia segera keluar dari ruangan depan klinikku setelah menerima uang pembayaran dariku.
"Kenapa semua orang yang tinggal di sini pada aneh-aneh?" desahku, aku segera duduk berbaur dengan Gisna di sofa untuk menikmati makan siangku.
"Mereka biasa saja, malah kamu yang menurutku sangat aneh!" ujar Gisna.
Ni anak memang sengaja menabuh genderang perang dengan ku kelihatannya.
"Kau bilang Mbak Pia itu normal, dan aku aneh?" tanyaku dengan penuh penekanan.
"Mbak Pia itu tak aneh, dia hanya berdandan berlebihan saja.
"Sedangkan kamu...
"Kenapa kau tak bisa santai, sekarang kita hidup di tempat yang indah ini. Bukankah harusnya kamu rileks.
"Klinik kita punya banyak pasien, ada pria tampan yang perhatian denganmu. Bahkan kamu cukup terkenal sekarang!
"Jika kau berjalan di keramaian semua orang menyapamu dengan sopan! Apa waktu kau di Jakarta kau mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu?!" celoteh Gisna.
"Aku jadi Dokter bukan untuk di sanjung!" kataku.
"Aku tau kau menikmatinya, dan berhenti membuat garis batas dengan semua orang.
"Karena semua orang di sini begitu baik padamu!" perkataan Gisna ada benarnya juga, tapi tetap saja aku merasa takut. Sikap baik itu bisa saja akan menjadi petaka bagiku di kemudian hari.
"Mungkin mereka hanya pura-pura baik padaku!" kilahku.
"Untuk apa mereka pura-pura baik padamu, apa kau bisa merubah hidup mereka?
"Kau memang cerdas, tapi kau tak seberpengaruh itu Bu Dokter!" perkataan Gisna membuatku sedikit berfikir lagi.
Anak ini terlihat hanya suka bermain, tapi dia benar-benar sudah tumbuh menjadi dewasa sekarang. Kemana sikap manja dan kekanak-kanakannya.
Meski Gisna dua tahun lebih tua dari ku, dia mempunyai perawakan yang awet muda jadi banyak yang bilang bahwa kita seumuran. Dia juga mempunyai kepibadian yang periang dan ceplas-ceplos jadi banyak yang menyukainya.
Sedangkan aku adalah gadis yang sangat tertutup dan pendiam. Aku adalah tipe orang yang jarang bicara tapi sekali bicara hanya bisa menyakiti hati orang lain.
Meski aku belajar untuk lebih supel dan menekan diri, tapi terkadang aku tak bisa mengendalikan egoku itu. Dan hanya Gisna yang bisa membuatku berfikir positif agar aku bisa terus maju ke depan.
.
.
Seorang lelaki tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kilink kami, padahal di depan aku sudah menaruh papan 'sedang istirahat makan siang'.
Lelaki itu tampak sangat asing bagi kami, aku tak pernah melihat lelaki itu dimana pun sepanjang aku tinggal di desa ini.
"Maaf Pak, kami masih istirahat makan siang. Jika tak ada yang mendesak tolong anda menunggu di depan!" kata Gisna.
"Siapa pemilik kinik ini?" tanya lelaki paruh baya itu.
"Saya, ada apa ya Pak?" tanyaku.
Aku dan Gisna pun berdiri dari tempat duduk kami, karena tampaknya pria yang memakai pakaian lusuh itu ingin berbuat jahat pada kami.
"Serahkan uang kalian!!!" kata pria paruh baya itu.
Aku dan Gisna hanya saling memandang ketakutan, karena lelaki paruh baya itu sudah menodongkan pisau yang panjang ke arah kami.
"Baik Pak!" kataku takut.
Aku sama sekali tak mau jika pria paruh baya itu mengayunkan pisau yang mengkilat itu ke arah kami. Jadi dengan langkah yang hati-hati tanpa melepas pandangan dari mata rampok itu, aku bergerak menuju meja resepsionis yang biasa digunakan oleh Gisna untuk menerima pasien.
"Cepat!" bentak perampok itu.
Kakiku gemetar, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdiri tegak. Aku tak bisa teriak untuk minta tolong.
Lagi pula siapa yang akan menolong kami, kami berada di dalam ruangan tertutup dan hanya ada dua perempuan lemah di dalam sini. Meski perampok itu hanya seorang diri tetap saja kami akan kalah jika melawan, apa lagi rampok itu mengunakan senjata tajam. Jika kami memaksa melawan, mungkin aku dan Gisna akan meninggal hari ini.
Tapi tanpa kusangka-sangka, seorang pahlawan datang. Pahlawan yang memakai pakaian penyelam itu langsung menerobos masuk kedalam klinik kami.
Sebuah tendangan dari pria berpakaian penyelam itu segera menghempaskan tubuh kekar perampok itu hingga mencium lantai.
Dengan nafas yang hampir putus pria berpakaian penyelam itu terus melayangkan tinjunya pada perampok yang sudah tergeletak di lantai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Ꮇα꒒ҽϝ𝚒ƈêɳт
Okelah, Bang Zid..😌🤸
2021-09-19
0