"Ajian jagat saksana : kusuma jiwa," Shintadewi mengarahkan telapak tangannya ke arah Arya Puntadewa dan Wijaya Kusuma. Aura emas menyelimuti tubuh Arya dan wijaya, seketika energi mereka kembali bahkan bertambah sepuluh kali lipat.
Shintadewi menggendong dan mengantarkan Wijaya Kusuma ke kamar keputrenan miliknya, bagaimana pun juga Wijaya masih kecil ia tertidur lelap staminya terkuras habis. Meskipun energinya kembali sepuluh kali lipat tapi stamina tubuhnya masih hanya seorang bocah kecil.
Shintadewi kembali ke kamar pengobatan Angga dan Adiningrum, Arya pun belum keluar dari kamar. Shintadewi duduk menceritakan panjang lebar kejadian semuanya, hingga tak terasa sudah tengah malam.
"Ayahanda, ibunda, dan paman bolehkah Wijaya aku angkat menjadi anaku?, dan menjadi bagian dari pamilya Puntadewa dan juga kerajaan Brabang sari" pinta Shintadewi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kalau Ayahanda boleh saja," ucap Angga menyetujui.
"Ibunda juga boleh," kata adiningrum menyetujui.
"Maaf Shintadewi bukannya paman menolak, Namun nama Wijaya Kusuma itu terlalu mencolok. Pertama kamu mengambil nama Pamilya terbesar dan terkuat di kedua Kekosawaan yaitu Pamilya Wijaya di kekosawaan majapahit dan Kusuma di kekosawaan Siliwangi. Kedua jika ingin menjadi Pamilya Puntadewa harus mampu setia dan mengabdikan diri serta harus melewati ujian dari pamilya Puntadewa. Ketiga jika ingin menjadi bagian Brabang sari syaratnya satu jangan manjakan anakmu itu, minimal harus di tahap bintara dan memilih werka (pekerjaan/job/class). Untuk memiliki Werka nanti paman akan mendaftarkan Wijaya ke perguruan akademi. Untuk yang pertama paman akan menggelar rapat internal kerajaan ketika kakaku sudah pulih benar, untuk yang kedua pun kita meminta persetujuan dewan atau sesepuh pamilya Puntadewa," ucap Arya menjelaskan dengan gamblang. Sebagai penasihat kerajaan Arya sanga cakap dalam strategi perang dan politik jadi wajar saja ia mempertimbangkannya.
"Baik, terima kasih aku menyetujuinya. Sebagai seorang ibu aku juga khawatir tapi aku percaya dengan keputusan paman," kata Shintadewi membungkuk hormat pada Arya, Adingrum dan Angga.
Angga dan Adiningrum pun berisitirahat kembali, Arya kembali menuju kamar tidurnya, begitu pula Shintadewi kembali ke kamar tidur dan memeluk anak kesayangannya itu.
*Keesokan pagi*
"Hooooaaam, segar sekali udara pagi ini," Wijaya Kusuma sambil meregangkan tubuhnya.
Di tempat tidur sudah tersedia baju kebangsawanan ukuran anak 15 tahun, Wijaya Kusuma tak sadar jika tubuhnya yang kemarin kecil kini tumbuh dewasa sangat cepat. Badan kekar berotot, perut yang sixpack, rambut acak sedikit panjang, hidung mancung mata sedikit sipit dengan pupil mata hitam pekat.
Wijaya bergegas ke kamar mandi, karna ia harus pergi ke alas apuy penangsang secepatnya.
Begitu ia mau memakai baju bangsawan itu ia kaget karna baju itu menurutnya kebesaran, "ibunda, kenapa bajunya malah kebesaran aku kan masih kecil?." tanya Wijaya. "Pfffft, sudah pakai saja itu sangat cocok untukmu nak,"Shintadewi menutup mulut menahan tawanya. Shintadewi sudah tahu jika tubuh Wijaya Kusuma telah bertumbuh semalam karna efek pembangkitan dua ajian kitab jagat buana, jadi ia sengaja menyuruh pelayan kerajaan untuk membawakan baju ukuran anak 15 tahun." Baiklah, ibunda aku akan memakainya,"kata Wijaya sedikit mengangguk.
Setelah memakai baju Wijaya merasa aneh bajunya bisa pas dengan ukuran dirinya yang 5 tahun. Ia kemudian berkaca ke cermin dan tersentak kaget."Wadidaw, apa yang terjadi dengan tubuhku ini kenapa jadi lebih tinggi dan lebih tampan?, ya sudahlah aku juga bingung."
Shintadewi dan Wijaya menuju ruang makan, sudah ada Arya, Angga, dan Adiningrum yang sudah duduk di meja makan menunggu mereka berdua.
Mereka bertiga kaget,"Eeeeeh, siapa ini?, sangat tampan sekali."
Mereke bertiga melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala, mereka terpana dan mengingat-ingat siapa pemuda yang di hadapannya tapi wajahnya begitu familiar meskipun lebih mempesona dari sebelumnnya.
"Ini Wijaya Kusuma, masa ayahanda, ibunda dan pama tidakmengenalinya?" ledek Shintadewi.
"Mengagetkan saja," ucap mereka bertiga serentak.
Mereka lalu makan bersama tanpa ada suara sedikitpun bahkan suara jam pun terdengar keras, karena terpana dengan ketampanan Wijaya Kusuma.
Mereka tidak bertanya akan hal itu, karna mengerti asal usul Wijaya Kusuma yang telah di ceritakan oleh Shintadewi sebelumnya.
Akhirnya mereka selesai makan," Kakek Angga, kakek Arya, nenek, dan ibunda aku akan segera pergi ke alas apuy penangsang mencari sarang bleta permoda," tegas Wijaya.
"Baik, kakek akan menyediakan kuda untukmu," ucap Angga
"Kakek Angga tidak perlu aku bisa berlari cepat kesana, sekalian aku ingin melatih perkembangan ajian baladewa brabata naga milikku sudah sejauh mana," sanggah Wijaya dengan wajah penuh kebanggan dan senyum bodonya.
"Aaiiiiih, baiklah, baiklah, paman hari ini sudah mengirimkan surat untuk para bangsawan kerajaan Brabang Sari untuk mengadakan rapat internal terkait dirimu, surat untuk sesepuh pamilya Puntadewa untuk meminta izin identitasmu dan surat untuk mendaftarkan kamu ke perguruan kerajaan brabang sari," kata Angga.
"Mohon maaf paman aku tak mengerti, aku percayakan semuanya pada paman. Satu hal yang pasti aku akan melindungi semua keluargaku dan kerajaanku, aku akan belajar dan berlatih sungguh-sungguh agar aku bisa melindungi orang-orang yang aku cintai," tegas Wijaya Kusuma.
"Padahal Wijaya bukan anggota keluargaku ataupun lahir dari kerajaan ini,tapi kenapa ia rela melakukan itu semua. Sudahlah mungkin ikatan cinta ini yang bisa membuatku percaya padanya," batin Arya dengan mata terbelalak.
Arya memberikan lencana brahmacaraka tingkat V seperti punya Shintadewi, menandakan status Wijaya Kusuma sekarang adalah seorang pangeran kerajaan Brabang Sari. " Ini lencana kebangsawanan brahmacaraka tingkat V bawalah!, aku akan mengawasimu nak dan berikan surat ini pada balakosawa Sarja di perbatasan!" kata Arya dengan sorot mata tajam.
"Baik kakek!" Wijaya mengangguk pelan.
Mereka bertiga pun menghantarkan Wijaya Kusuma di depan pintu gerbang Istana.
"Hati-hati nak, kembalilah pulang," Shintadewi memeluk Wijaya Kusuma. "Baik ibunda," ucap Wijaya Kusuma.
"Kakek Angga, kakek Arya, dan Nenek Adiningrum aku pergi dulu," Wijaya memberikan salam perpisahan."Hati-hati di jalan ya cucuku, kembalilah kami semua merindukanmu," ucap mereka bertiga serentak dan mencium keming Wijaya Kusuma bergantian.
"AJIAN KANURAGAN BANDHAYUDA: BALADEWA, WIEL AKSA," Wijaya Kusuma merapal ajiannya."SRIING," Pupil mata wijaya berubah hitam legam dikelilingi tujuh tomoe berwarna merah."AJIAN BALADEWA : BRABATA NAGA," Wijaya Kusuma berlari melesat cepat,"SHUAA..SWUSSH." Hanya ada bayangan hitam yang terlihat.
"Dasar bocah gemblung, edan,gila," ucap mereka berempat serentak, karna rambut mereka berdiri dan acak-acakan gara-gara Wijaya Kusuma.
"Pfffft," para ksatria binting yang menjaga menahan tawa dengan menutup mulutnya, karna melihat raja, ratu, penasihat raja dan putri seperti itu.
*Di perbatasan*
Setelah 20 menit berlari dengan ajian baladewa brabata naga, Wijaya Kusuma sampai di pos penjagaan perbatasan, namun saking fokusnya berlari ia lupa mengerem langkah kakinya, akibatnya ia menabrak pintu pos penjagaan. " SHUA, SWUSHH, BRAK," Pintu ruang pos penjagaan ambruk dan Wijaya Kusuma telungkup di atas pintu.
Balakosawa Sarja melihat itu hanya tertawa terbahak-bahak," hahahahahaah, lumayan ada hiburan gratis." Sarja biasanya hanya melakukan rutinitas seperti biasa yang membosankan, melihat hal seperti ini tentu baginya mendapat sedikit hiburan.
"Ada apa ini balakosawa?, kami mendengar ada suara keras pintu ambruk?" tanya para Ksatria binting yang mendekat karna suara pintu yang ditabrak Wijaya Kusuma.
"Sudah tidak ada apa-apa, kembali berjaga," tegas balakosawa.
"Sendiko, balakosawa," Ksatria binting hormat membungkuk.
"Wahai pemuda ada apa kamu kemari?" tanya Sarja.
Wijaya berdiri dan menepuk seluruh bajunya yang terkena banyak debu, lalu menyerahkan lencana dan surat dari Arya. Setelah melihat lencana dan membaca suratnya Sarja langsung paham, "Wijaya kamu mau masuk ke bagian dalam alas apuy penangsang?, ambillah peta ini akan sangat berguna untukmu. Wilayah yang ada tanda silang merahnya adalah daerah berbahaya dan tanda silang hitam juga sangat berbahaya, sebaiknya kamu hindari. Wilayah yang ada silang biru itu adalah wilayah yang banyak tanaman obat dan racun, hati-hati jangan salah ambil tanaman," jelas Sarja.
"Baik, terima kasih kakek, sudah mengkhawatirkanku." kata Wijaya membungkuk hormat dan mencium punggung tangan Sarja.
"Sebelum pergi aku akan memberikan hukuman untukmu, karna sudah merusak pintu pos penjagaan. Hukuman pertama perbaiki pintu pos penjagaan, Hukuman kedua bantu pos penjagaan menghadapi serangan besar siluman buas satu minggu lagi," tegas Sarja.
"Baik, kakek aku akan memperbaikinya segera!. Tentu aku akan membantu kakek, bagi diriku kerajaan Brabang Sari adalah tempat aku di lahirkan dan ibuku tinggal disini. Aku akan melindungi tempat tinggal orang-orang yang aku cintai, meskipun nyawaku taruhannya." tegas Wijaya Kusuma.
"Bocah gemblung, apa-apaan dia ini. Kenapa aku malah mempercayainya. Aiiiih, sudahlah aku juga bingung." batin Sarja dengan mata membelalak.
"Kenapa kakek? ada yang salah denganku?" tanya Wijaya.
"Hmm, tidak ada cucuku, ya sudah hati-hati di jalan, kembalilah nak,aku menunggumu," Sarja Sambil mengelus kepala Wijaya dengan lembut.
Wijaya pun melesat cepat dengan ajian baladewa brabata naganya,"SHUA...SWUSHH."Menuju wilayah yang bertanda silang biru di peta.
"SHUA...SWUSHH...KRESEKK..." Sepuluh menit kemudian, Wijaya sampai di sebuah danau dengan air yang bening. Di ujung danau ada sebuah gua kecil dengan diameter 5 meter, sekeliling danau banyak tanaman obat dan tanaman racun.
Dengan segera Wijaya mengaktifkan ajian jagat saksana : Reinka Aksa. Pupil mata Wijaya berubah berwarna jingga dan tujuh tomoe berwarna jingga juga."AJIAN JAGAT SAKSANA : BRAMA SUMARA, SRIIING", Wijaya Kusuma mengedarkan pandanganya pada seluruh tanaman obat. Wijaya menemukan banyak sekali tanaman obat diantaranya rumput bintang untuk membuat pil penyembuh luka luar dan dalam, jahe emas untuk pil penguat tubuh dan jahe merah untuk pil penguat tulang, serta kamboja biru untuk membuat pil pengembali energi sekaligus pil racun saraf. Kemudian ia melihat hal menarik yaitu Daun naga apu dan Daun kalajengking hijau." Sungguh menarik daun naga Api, Aku bisa membuat bola peledak, tinggal aku mencari sedikit batu yang bisa menguatkan ledakannya. Daun kalajengking ini juga berguna hebat aku bisa membuat bola peledak berbau sangat busuk, ajib,ajib,ajib," Wijaya tertawa dengan muka bodoh sambil menari kegirangan.
"Hmmm, tinggal satu lagi madu hitam dari sarang Bleta permoda dan inti jiwa kakek serta nenek yang dikurung di dalam sarang mereka. Tapi aku tak bisa terbang dan juga berjalan di atas air, bagaimana ini?" pikir Wijaya Kusuma.
Wijaya melihat peta, ada sebuah jalan dengan wilayah silang tanda merah yaitu kerajaan siluman yang di pimpin Maung Bodas," Mungkin aku akan menjadi temannya," gumam Wijaya.
Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan. jika suka silahkan klik tombol favorit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments